My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Savage Yoan Greeting


__ADS_3

Tak ada perbincangan dari mereka sejak tadi, Haara merasa gugup sekali kala mengingat ia sedang di gendong oleh Yoan.


Haara baru menyadari jika ia berlari sangat jauh, hingga ia berada di dekat hutan.


Haara memundurkan tubuhnya kebelakang, ia menjaga jarak dengan pria yang saat ini menggendongnya.


Sedangkan Yoan merasa jika tubuh Haara semakin berat,


"Apa kau membawa makhluk halus? kenapa tubuhmu semakin berat?" tanya Yoan,


"Ap apa? jangan mengawur!" sahut Haara memukul pundak Yoan


"Aa Hya!! Aku hanya bertanya, kenapa memukul!" sahut Yoan kesal,


"Jaga ucapanmu! ini disamping hutan~" seru Haara memerhatikan sekitar,


"Kenapa kau memundurkan tubuhmu?" tanya Yoan menghela nafas menyadari jika Haara memundurkan tubuhnya,


"Aku sedang jaga jarak" sahut Haara gugup,


"Menjaga jarak? lucu sekali!" decih Yoan,


"KYAAA!!!!"


Yoan terkejut saat Haara teriak, sontak Yoan membungkukkan tubuhnya, menghindari jika Haara terjungkal kebelakang.


Spontan Haara terpejam dan langsung memeluk leher Yoan dengan kencang,


"O oi! kau ingin membunuhku!!" ringis Yoan saat Haara mencekiknya,


"Ya ampun! maaf aku tak sengaja! tadi aku kaget ada serangga yang terbang di dapan wajahku" sadar nya mengangkat kedua tangannya dan memundurkan tubuhnya, namun ia terlalu berlebihan memundurkan tubuhnya.


Haara memegang lengan atas sebelah kiri Yoan dengan mencengkram,


Yoan meringis saat Haara mencengkram lengan atas sebelah kiri,


"A apa aku mencengkramnya terlalu kencang??" merasa bersalah Haara dengan cepat ia melepaskan cengkramannya,


Yoan menghela nafasnya kasar


"Bisa kah kau tenang?!" kesal Yoan terdengar sedikit membentak,


Haara terkejut saat mendengar Yoan membentaknya


"A aku .. Aku minta maaf~" gemetar Haara,


"Aku tidak bermaksud membentakmu, maaf" seru Yoan cepat,


"Mm, tidak! ini salahku~" seru Haara merasa bersalah,


Yoan menghela nafasnya,


"Tak perlu menjaga jarak denganku sampai segitunya, kau tahu bukan? aku ini siapa mu sekarang?" tanya Yoan pelan,


Jantungnya berdegup kencang saat Yoan mangatakan itu,


"Kenapa diam? aku sedang bertanya padamu" seru Yoan menghentikan langkahnya,


"Eh, i iya, aku tahu kok, tapi apa tidak apa apa aku .. "


"Asal kau tak mencekik leherku lagi" sela Yoan menyindir kejadian tadi,


"Aku tadi refleks ada serangga" sahut Haara malu,


Yoan tak menyahut lagi,


Perlahan lahan Haara memeluk leher Yoan dan meletakkan kepalanya di sebelah kepala Yoan,


Yoan berdehem menetralkan tenggorokannya dan melanjutkan langkahnya.


Haara menarik nafasnya, ia dapat mencium parfum khas pria itu dan juga wangi tubuh pria itu, hal itu membuat fikirannya benar benar diluar kendali.


"Mm Yoan" panggil Haara ragu, ia berniat untuk mengalihkan fikiran buruknya,


"Hm?"


"Soal sarapan yang kau buat kemarin .. Maaf aku tak memakannya" seru Haara ragu,


"Kenapa tidak memakannya? apa kau masih marah denganku?" tanya Yoan cuek,


"Tidak! mengenai itu .. aku sudah memaafkanmu, kenapa kau tak jelaskan dari awal saja, kenpa menjelaskannya lewat pesan?" kesal Haara,


"Mau menjelaskan tapi kau mengusirku, apa kau tak ingat? kau berkata tidak ingin bicara dengan ku?" sindir Yoan,


"Karena ucapanmu benar benar keterlaluan, ucapanmu terlalu blak blakkan, aku jadi malas bicara denganmu"


"Aku lebih suka bicara sesuai faktanya"


"Bisakah kau diam? aku baru ingin mengajarimu!"

__ADS_1


"Mengajariku? apa yang ingin kau ajarkan padaku?"


"Menjaga ucapanmu agar tak menyakiti perasaan orang! kau tahu? ucapanmu benar benar menyakiti hatiku, apa sebelumnya ada korban sakit hati karena ucapanmu?! berapa orang yang kau lempar dengan lontarkan blak blakkan mu itu?! " geram Haara,


"Entahlah"


"Jangan pura pura tak mengingat!"


"Bukan tak ingat, tapi tak terhitung"


Haara tertohok mendengar jawaban Yoan,


"Tak terhitung?? apa ada juga seorang wanita?"


"Hm"


"Dalam masalah apa kau mengatakan jawaban menyeletuk padanya saat itu?"


"tak perlu dibahas"


"hee??! ayolah beritahu~" rengek Haara


Yoan menghela nafasnya sebelum menjawab,


"Sering mendapat pernyataan cinta dari wanita yang tidak ku kenal sama sekali" seru Yoan,


"Menyatakan cinta? lalu kau jawab apa?" penasaran Haara,


"Aku tidak mengenalmu dan aku tidak tertarik denganmu" sahut Yoan.


Haara ternganga mendengarnya, ucapannya benar benar menyeletuk sekali,


"Apa sebelumnya menolak wanita kau itu memakan cabai? pedas sekali!"


"Aku tidak suka makanan pedas" sahut Yoan cuek,


"Lalu?" tanya Haara,


"Lalu apanya?" bingung Yoan,


"Mm, apa ada pernyataan dari orang lain yang lebih gila" penasaran Haara,


"Mm .. Ada beberapa wanita yang melamarku hingga mengajakku menikah, cih!padahal aku tak mengenalnya, apa yang ada difikiran mereka? bodoh"oceh Yoan jika mengingat kejadian itu,


"Melamar??menikah??"tak percaya Haara,


Haara tertawa miris mendengarnya,


"Apa ada yang lucu dari ucapanku sampai kau tertawa?"


"Mm tidak sih, hanya itu semua benar benar gila"


Haara benar benar tak menyangka mendengar cerita pria itu, tak dapat di pungkiri memang, suaminya memang memiliki wajah tampan menawan, berwibawa dan juga pesona nya tak dapat dibohongi,


"Padahal .. Kau juga tak mengenalku awalnya, kenapa tak menolakku juga?" tanya Haara ragu,


"Hingga saat ini aku belum mengenalmu"sahut Yoan,


"Apa? kau tak mengenalku? hoi! bahkan kau tahu siapa namaku! dan kau tahu aku itu anak dan adik dari siapa!" kesal Haara tak bisa diam,


"Diamlah, nanti kau jatuh" seru Yoan,


Haara pun kembali tenang,


"Aku memang tahu siapa kamu, tapi aku belum mengenalmu lebih jauh" sahut Yoan pelan,


Jantung Haara berdegup kencang saat mendengar jawabannya,


"Kenapa kau tak memakan sarapan yang kubuat waktu itu?" tanya Yoan,


"Mm, aku tidak tahu, saat itu aku telat, mengetahui kau sudah berangkat, aku pun ikut berangkat" jelas Haara,


Yoan tak menyahut lagi,


"Mm apa masakanmu kau buang? saat aku pulang, aku mendapatimu sudah ada di Penthouse" tanya Haara ragu,


Yoan berdehem yang berarti jawabannya 'YA'


"Maaf telah membuatmu marah dan juga terima kasih sudah membantuku belajar" seru Haara malu,


Yoan mengangguk,


"Kau bertemu pria kurang ajar itu dimana?" tanya Yoan,


Haara langsung mengetahui siapa pria kurang ajar yang Yoan maksud


"Mm saat naik bus, saat itu bus terus menaiki penumpang, membuatku sulit untuk bergerak, karena kesal aku turun dari bus, saat bus itu melaju pergi tak lama kembali berhenti, dan ia turun dari bus yang ku tumpangi itu juga" jelas Haara,


"Apa kau tak menghiraukan ucapanku? sudah ku bilang jangan naik bus" seru Yoan serius,

__ADS_1


"biasanya kan aku kalau berangkat sekolah di antar kak Anna~ tidak naik bus~"


"kenapa tak naik taksi?"


"mm, lebih baik naik bus, aku akan menabung uangnya" kekeh Haara


Yoan menghela nafasnya kasar, kebingungannya sudah terjawab sekarang, tentang gadis yang ia gendong ini selalu naik bus.


"sekarang aku tak punya uang, biasanya setiap hari mama memberiku uang, aku hanya mengandalkan uang tabunganku, sampai sudah 3 hari ini aku berhutang pada Alka dan Riza untuk jajan di kantin" jelas Haara merajuk,


"Menghutang??"


"Iya,aku tak sempat pulang untuk minta uang jajan ke mama"


"Kenapa minta ke mamamu?" bingung Yoan,


"Karena jika minta uang jajan ya ke mama"


"Tak perlu minta ke mama lagi"sahut Yoan,


"Lalu bagaimana aku bisa jajan?"


"Minta saja padaku"


"Eh?minta padamu?" terkejut Haara,


"Hm"


"Memang tak apa aku minta uang padamu?? aku suka jajan banyak lho?" becanda Haara,


"Sebanyak apa? itu tak akan membuatku bangkrut" ucap Yoan yang bisa disebut menyombongkan diri,


"Baiklah tuan Yoan, tak perlu menyombongkan diri"


"Aku tak menyombongkan diri"


"Mm ~Jika aku minta uang jajan sehari 5 juta rupiah apa tak masalah untukmu??" antusias Haara,


"Apa kau berniat untuk menghamburkan uang??" tanya Yoan tak percaya,


"Hehehe, bercanda, lebih baik uang nya di tabung" kekeh Haara,


Yoan merutuki kebodohannya yang terpancing dengan candaan gadis di gendongannya ini, ia baru menyadari jika ia dikerjainya,


"Ku dengar kau mendapat surat beberapa hari belakangan ini diloker, kau kemanakan surat surat itu?" tanya Yoan


Haara tercegang, tidak salah lagi!


Yifan!


ia merutuki Yifan yang benar benar mengadu,


"Aku .. Simpan" sahut Haara meringis,


"Kenapa disimpan? kau berniat untuk kencan dengan si tukang pos itu?"


"Tukang pos?"


"Pengantar surat yang tak jelas siapa itu"


"Ah ,eh? tentu saja tidak!"


"Mengkoleksi surat?" tanya Yoan,


"Tidak juga"


"Mau mengumpulkan sampah? Jika surat itu tak berarti, kenapa tidak dibuang saja?"


"Buang? Tapi .."


"Terserah kau saja, algi pula tak ada urusannya denganku" sahut Yoan


Mereka pun telah tiba di depan rumah makan, Haara bingung kenapa Yoan membawa nya kesini.


Secara perlahan Yoan menurunkan Haara, ia baru menyadari jika ia sudah berdiri didepan mobil pria itu,


Yoan membukakan pintu untuk Haara,


Haara menatap Yoan,namun pria itu mengisyaratkan untuk masuk.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...


Hai Readers dan Author Author keren dan hebat😍 terima kasih sudah membaca ceritaku😇 jangan lupa Like, Vote, Rate dan juga komentarnya ya kakak🤗❤

__ADS_1


__ADS_2