
Yoan menatap Haara dalam.
"Kau tak akan pernah bisa berbohong atau menyembunyikan apapun dariku, aku akan tahu sangat mudah bagaimana gelagat dan cara bicaramu saat bohong dan menyembunyikan sesuatu dariku." sahut Yoan menyelipkan rambut Haara di belakang telinga.
Haara terdiam.
"Apa yang sedang kau fikirkan, katakan padaku, aku tak ingin kau stres memikirkan sesuatu hal yang tak penting." tebak pria itu lagi benar.
Haara menghela nafasnya sebelum ia menatap mata coklat pria itu.
"Bagaimana menurutmu tubuhku yang sekarang?" tanya Haara.
Yoan menatap Haara dari bawah keatas sambil mengangguk-angguk.
"Kau terlihat gemuk." sahut Yoan jujur.
Haara yang mendengarnya sedikit merasa kesal dengan kejujuran Yoan.
"Bahkan ini akan jalan empat bulan usia kandunganku, bagaimana jika kandunganku sudah menginjak umur delapan atau bahkan sembilan bulan, aku akan semakin berisi, apa kau akan masih ..." -Haara.
"Sudah ku duga, kau memikirkan suatu hal yang tak penting, bahkan ini jauh sangatlah tidak penting sekali." sela Yoan menekankan kalimatnya.
Haara kembali membisu.
"Setiap bulan kau terus bertanya mengenai apa aku akan masih mencintaimu apa tidak, kau beralasan jika tubuhmu yang berisi, Kau tahu? Aku sangat bosan mendengarnya." seru Yoan lagi.
Haara menunduk, ia meremas piyama tidurnya kuat.
Yoan mengacak-acak rambutnya, ia mengunci pergerakan Haara, ia mengurung Haara dengan kedua tangannya.
"Seperti ini saja, giliran aku bertanya padamu sekarang, tolong jawab serius dan jujur." seru Yoan serius.
"Aku ingin tanya, apa kau tak yakin jika aku mencintaimu?" tanya Yoan tajam.
"Ha?"
"Apa kau meragukan diriku yang mencintaimu?" tanya Yoan tajam.
"Yoan, bukan itu maksudku, aku hanya ..."
"Bertanya? hanya bertanya? AtHaara~ apa kau tahu? Pertanyaanmu yang terus-terusan seperti ini itu membuatku sedih dan tersinggung."
Haara yang mendengarnya membelalakkan matanya.
"Apa aku masih belum cukup memberikan bukti jika aku sungguh mencintaimu melalui sikap dan perlakuanku padamu?" tanya Yoan sendu.
"Yoan tidak Yoan, ba-bahkan sikap dan perlakuanmu padakj sangatlah membuktikan jika kamu mencintaiku, hanya saja aku merasa takut." sahut Haara cepat.
"Takut apa?" tanya Yoan tajam.
"Takut dengan perubahan tubuhku, kau akan merasa terganggu dengan tubuhku yang seperti sekarang~" sedih Haara.
"Teruslah berfikir negatif seperti ini, apa kau tahu dampak berfikir sensitif seperti ini? Itu akan memperngaruhi kesehatan mu dan anak kita." hela nafas Yoan kasar.
Haara yang mendengarnya menunduk, ia dapat membenarkan ucapan Yoan.
"AtHaara apa kau tak sayang dengan anak kita?" tanya Yoan datar.
Sontak Haara menatap Yoan terkejut.
"Bicara apa kamu! Tentu aku menyayangi nya! Aku mencintainya!" sahut Haara emosi.
"Jika kau sayang dan cinta dengan anak kita, buktikan dengan cara kau menghilangkan fikiran sangat negatif terutama perubahan tubuhmu." sahut Yoan tajam.
Deg!
"Kau selalu membahas perubahan tubuhmu karena kehamilanmu di depanku, jika kau sayang dan cinta pada anak kita, cintailah dirimu apa adanya, aku akan tetap mencintaimu karena kau adalah AtHaara ku." seru Yoan melangkah pergi ke kamar mandi.
Haara seketika tersadar dengan fikiran negatif nya ini membawakan perdebatan baginya dengan Yoan, entah kenapa ia sangat berfikir negatif sekali.
Ia merasa jika dirinya yang sangat bersalah kali ini, ia seperti telah meragukan perasaan Yoan, dan juga membuat dirinya memiliki beban fikiran yang bisa memengaruhi kesehatannya dan calon bayinya dan seperti menyalahkan pertumbuhan anaknya.
Ts!
Haara terisak saat itu juga.
"Maafin mama sayang, mama sangat bodoh!" isak Haara.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Sinar mentari telah menunjukkan jati dirinya untuk menyinari bumi.
Bias demi bias cahaya telah membias menembus ke tirai transparan di kamar.
Perlahan Haara menbuka matanya karena terganggu dengan sinar terang dari matahari, ia perlahan membuka matanya.
Ia menepuk-nepuk kasur di mana tempat bagian Yoan tidur.
kosong.
Haara membuka matanya sempurna saat ia sadar tak ada Yoan di sampingnya.
"Yoan??" panggil Haara.
Haara mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Apa ia di kamar mandi ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, ia pun turun dari kasur nya melangkah ke kamar mandi.
Tok tok!
"Yoan??"
Tak ada sahutan.
Ia melirik jam dinding di kamarnya, jam telah menujukkan jam setengah enam pagi.
"Masa iya dia ke kantor sangat pagi dan juga ... ia tak membangunkanku??" bingung Haara.
Ia pun mengambil ponselnya di atas nakas, namun tak ada notifikasi dari pria itu.
"Sepertinya ia di bawah, lebih baik aku mandi dulu." gumam Haara.
●•●•●•●•●
• • •
Haara menutup pintu kamarnya, ia merasa jika Yoan masih marah padanya hingga pria itu memilih bangun pagi agar tak di bangunkan olehnya.
"Pagi Haara!"
Haara terheran-heran kali ini saat melihat siapa di depannya.
"Riza?? Alka??"
"Kau ... sudah bangun ya?" tanya Alka.
"Masih tidur Alka." sahut Haara datar.
"Ahahha!" tawa kaku Alka.
"Kalian ... Kenapa bisa di penthouse?" tanya Haara bingung.
"Kak Yoan suruh kami jaga kamu seperti biasa, ia akan pergi keluar kota." sahut Riza.
"Ap-apa!!??" terkejut Haara.
Tak!
Alka mdmukul pundak Riza karena bicara langsung blak-blakkan.
"Mana dia??!!" tanya Haara.
"Sudah pergi setengah jam yang lalu." sahut Alka ragu.
"Kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku!! Bahkan ia tak membangunkanku!! Jahat sekali dia!!" histeris Haara kesal.
"Hey hey Haara, mungkin kak Yoan ada urusan mendadak." sahut Alka panik.
"Tapi harusnya dia izin padaku!! Jika sudah keluar kota dia pasti akan pergi berhari-hari baru pulang!! Huwaaaa~" histeris Haara menangis.
"Kena marah kita nanti, kita turun ke bawah yuk? Ada yang ingin kami beritahu padamu." seru Riza lembut.
"Beritahu apa sih??!" kesal Haara.
"Turun dulu, ayo kau pasti senang." ajak Alka.
Haara yang bingung dan penasaran pun mengikuti Alka dan Riza turun ke lantai bawah.
●•●•●•●•●
Haara mengerutkan keningnya bingung saat melihat ada Yifan, Yuu, Hanabi, Anna, dan Ammar juga disana.
Namun juga, mama papa, hingga mama papa mertuanya juga turut ada di sana.
Haara sungguh kebingungan.
Tuk!
Haara sedikit kaget saat ia menendang sebuah ...
"Balon? ... Ya ampun!" terkejut Haara, ia hampir lupa sesuatu.
Hari ini tepat tanggal 30 Juni adalah hari ...
"HAPPY BIRTHDAY ATHAARA!!"
Haara menutup mulutnya tak menyangka sama sekali saat ini, bahkan kehadiran mereka semua adalah untuk merayakan hari ulang tahunnya.
"Happy birthday to you~
happy birthday to you~
happy birthday, happy birthday,
happy birthday AtHaara~"
Haara semakin terharu dan sukses membuatnya menangis.
Haara terisak saat melihat Yoan tersenyum manis padanya sambil membawa cake ulang tahun dengan lilin angka 19 di atas cake itu.
Haara menatap Yoan yang berdiri di depannya, ia menatap Yoan terharu sekaligus sedih.
"Selamat ulang tahun yang ke 19 tahun AtHaara istri kecilku." seru Yoan.
"Hiks! Jadi ... Yoan ga marah sama aku?? Yoan ngerjain aku??" tanya Haara terisak.
"Tidak, aku marah sungguhan denganmu, aku benci jika dirimu terus berfikir negatif." sahut Yoan.
__ADS_1
"Yoan maafin aku~ aku salah~ huwaa!!" tangis Haara.
"Aku maafin, dengan syarat jangan lagi berfikir negatif lagi, paham?" seru Yoan serius.
"Paham Yoan~" isak Haara mengusap air matanya.
"Ya sudah, sekarang hari ulang tahunmu, jangan bersedih, berbahagialah, ayo tiup lilinnya." senyum Yoan.
Haara mengangguk dan meniup lilinnya.
Sorak gembira dan tepuk tangan kini meramaikan ruang santai di penthouse nya kali ini.
Ucapan demi ucapan terus ia dapatkan, tak hanyalah itu, kado demi kado ia dapatkan dari semua orang di ruang santai itu.
"Terima kasih semuanya, hiks~ aku cinta kalian semua, huhu~" histeris Haara kembali menangis karena terharu.
Hal itu membuat semua orang tertawa melihat tingkah Haara yang menangis.
●•●•●•●•●
• • •
Yoan menatap mama nya dan mama mertuanya kini sedang berbincang dengan Haara mengenai calon bayi mereka, di ikuti dengan Anna, Hanabi yang ikut berbincang bersama.
Dan juga ia melihat Yifan, Yuu, Riza dan Alka sedang asyik bermain PS miliknya.
Papa dan papa mertuanya kini pergi ke kantor karena ada rapat penting.
"Sepertinya dua minggu setelahnya kau harus lihat jenis kelamin calon bayi kalian." seru Ammar.
"Bagaimana dengan anak kalian berdua? Apa jenis kelamin calon bayi kalian?" tanya Yoan.
"Seorang perempuan." kekeh Ammar.
"Aku berharap ia menuruni Anna." sahut Yoan.
"Kenapa hanya menuruni Anna?" tanya Ammar.
Yoan menatap Ammara meledek.
"Tidak apa, aku tak mau mengatakannya." sahut Yoan mengurungkan niatnya.
"Lebuh baik kau jangan mengatakan apa-apa, sahabat laknat kau!" kesal Ammar.
Yoan terkekeh menanggapinya.
Ammar dan Yoan menatap Anna dan Haara yang duduk bersebelahan.
Yoan mengerutkan keningnya merasa ada yang mengganjal saat ini.
"Yoan, sungguh usia kandungan Haara akan jalan empat bulan?" tanya Ammar.
Yoan menatap Ammar yang juga menyadari hal mengganjal itu.
"Benar, kenapa?" tanya Yoan.
"Perut Haara ... Jika di lihat-lihat kenapa lebih besar dari Anna? Padahal usia kandungan Anna akan jalan 6 bulan." heran Ammar.
Benar saja tebakkan Yoan, jika Ammar terfokus pada besar perut Haara yang lebih besar dari Anna.
'Apa aku yang salah dengar dengan usia kandungan Haara atau Haara yang salah berucap?' batin Yoan heran.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."happy birthday Haara😍 tapi hal mengganjal yang Yoan maksud kira-kira apa Haara berbohong ya tentang usia kandungannya?🤔"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐