My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Teringat Malam Itu


__ADS_3

Haara merebahkan dirinya di kasur, ia menghela nafasnya kasar.


"Kamu tidak belajar?"


Haara menatap Anna yang entah sejak kapan berdiri di samping kamar nya.


"Aku sampai lupa." sahut Haara menduduki dirinya.


"Yoan ingin aku untuk selalu mengawasi dirimu belajar dan tidur tidak terlalu malam, tanpa di minta tolong pun aku akan lakukan itu." seru Anna.


Haara terkekeh.


"Ya sudah, aku akan belajar." ucap Haara menduduki dirinya di meja belajar.


"Mau kakak buatkan minuman hangat? Dan cemilan?" tanya Anna.


"Tidak usah kak, kakak langsung tidur saja, kakak pasti lelah, baby pasti ingin mama nya segera istirahat, aku akan langsung tidur jika jam telah menunjukkan jam sembilan malam kok." senyum Haara.


"Bisa saja, ya sudah, kakak ke kamar ya? langsung tidur jika sudah jam sembilan, jangan bergadang, biar besok kamu fresh saat ke sekolah." seru Anna memegang kenop pintu.


"Siap kakak." senyum Haara.


Haara tersenyum senang saat melihat buku catatan latihan soal-soal yang Yoan berikan saat itu.


"Yosh! Jika tulisan tangan Yoan sendiri yang memberi contoh soal-soalnya aku jadi semangat belajarnya, ayo AtHaara! Semangat!!" seru nya.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Keesokan harinya.


Haara mematung seketika saat melihat soal-soal yang ia lihat di kertas soal-soal saat ini.


'Ke-kenapa beda!!' batin Haara.


Haara memijat pelipis nya pening saat membaca satu soal dan terus mengulang nya lagi dan lagi, ia sama sekali tak paham dengan soalnya itu.


...'Jika ada sebuah soal yang tidak kau bisa, jangan terfokus pada satu soal yang sulit itu, kerjakan soal yang lain, cari soal yang sekiranya kau pahami dan kau bisa, jangan habiskan waktumu untuk merenungkan satu soal yang sulit, paham?'...


Haara membuka matanya perlahan, ucapan Yoan terngiang di benaknya.


Ia pun mengembalikan fokus nya dan mencoba membaca soal-soal berikutnya.


Kertas coretan kini telah di penuhi coretan dan berbagai rumus Kimia yang sangat memusingkan jika sekali lihat, gadis itu terus mencoba fokus dan mengerjakannya sebaik dan semaksimal yang ia bisa.


Puluhan menit terus berlalu kini waktu akan terhitung habis, namun banyak sebagian murid yang seperti murid pintar, mereka sudah selesai dengan waktu yang masih tersisa banyak, mereka selesai lebih awal.


"Waktu nya 5 menit lagi." seru guru pengawas.


Haara yang mendengarnya pun mencoba mengecek lagi hasil isian nya dan soal pilihan ganda nya.


"Yang sudah boleh tinggalkan kertas kunci jawabannya di meja, sedangkan kertas soal di kumpulkan di meja saya sesuai kode." seru pengawas.


Tanpa bising mereka semua pun mengikuti intruksi.


●•●•●•●•●


"Huwaa!! Kimiaaa~ aku benci pelajaran Kimiaaa!!" keluh Alka yang menidurkan kepalanya di meja kantin.


"Tidak sesuai dengan yang di pelajari, hanya ada separuh saja, itu menyebalkan." seru Riza meminum air jeruk nya.


"Aku pun kesulitan, fikiranku kalang kabut saat melihat awal soal tak ada yang ku pahami, aku sampai takut nilai ujian Kimia ku itu nol!" keluh Haara juga.


"Oh iya AtHaara, ku dengar dari Yifan, kak Yoan dan kak Ammar pergi ke Korea untuk mengurus cabang perusahaan baru kak Yoan ya?" tanya Riza.


"Iya, semalam mereka berangkat." sahut Haara.


"Ha?? Sungguh??" terkejut Alka.


"Hm, mereka disana selama beberapa bulan, entahlah beberapa bulan itu kapan." senyum Haara.


"Beberapa bulan?? Sepertinya kamu baru bicarakan hal ini ya?" tanya Alka heran.


"Aku baru cerita ke kalian." kekeh Haara.


"pantas saja."-Riza.


"Aku mau sekali cerita kemarin-kemarin, tapi saat kemarin-kemarin itu aku perang dingin dengan Yoan, bukan! Maksudku aku yang memulai perang dingin padanya, aku mendiaminya karena aku marah padanya, karena dia baru cerita padaku akan pergi ke Korea." jelas Haara kesal.


"Lalu? Akhirnya kalian damai, kan? kemarin?" tanya Riza.


"Hm, sebelum perang dingin aku melarang keras ia pergi, tapi setelah di fikir-fikir aku terlalu egois dan tak memahami siapa dia, kami damai dua hari lalu." kekeh Haara.


"Baguslah, setidaknya kak Yoan merasa lega jika sudah di maafkan dan dapat izin darimu." sahut Alka.

__ADS_1


"Ah! Iya." seru Haara teringat sesuatu.


Dengan cepat ia menghidupkan ponselnya yang semalam ia sengaja matikan.


"Ada apa?" bingung Riza.


"Aku minta Yoan mengabariku jika sudah sampai sana, pasti dia tiba dini hari di sana." senyum bahagia Haara.


Riza dan Alka mengangguk paham.


Senyum Haara mengembang saat itu juga.


"Sudah sampai kan?" tanya Alka tersenyum.


"Sudah!" sahut Haara antusias.


"Hmm? Padahal ia mengirim pesan jam sembilan pagi, tapi dia bertanya bagaimana ujian ku?" bingung Haara.


"Sepertinya kak Yoan mengirim pesan padamu sebelum kak Yoan sibuk deh." seru Alka.


"Bisa jadi." sahut Haara.


●•●•●•●•●


Sepulang sekolah.


Haara mengecek ponselnya dengan senyum cerahnya, namun tak lama senyumnya memudar saat hal yang ia harapkan tak sesuai dengan yang ia fikirkan.


"Mungkin dia sibuk." senyum simpul Haara memakai tas nya.


"AtHaara, kamu pulang di jemput siapa?" tanya Riza.


"Sama supir ku." sahut Haara melangkah keluar dan di ikuti Alka dan Riza.


"Ha? Supir?"-Alka.


"Yoan menyewakan dua bodyguard untukku kemarin, dan dua bodyguard ku salah satu nya aku meminta agar mereka menjadi supir pribadiku." kekeh Haara.


"Woah! Sungguh?? So sweet~" takjutb Alka.


"So sweet dari mana? Yang ada aku serasa gak bebas!" kesal Haara.


"Kak Yoan itu mungkin khawatir denganmu, sehabisnya kau itu selalu bertindak ceroboh dan selalu membahayakan dirimu." sahut Riza.


"Apa katamu?? Aku ceroboh??" tak terima Haara.


"Yap! Satu contoh saat kau mengiyakan permohonan dari jebakan pria bernama Mikki itu, kau tahu? Itu sangat membahayakan, berujung nya kau menyesal dan juga menangis karena di cuekin kak Yoan." jelas Riza.


Haara jadi teringat di malam itu, sungguh sangat menyeramkan sekali.


Fikirannya sungguh tak bisa berfikir jernih saat itu, ia terlali sibuk memikirkan apa yang akan Yoan fikirkan jika hal itu benar-benar terjadi.


Namun, ia merasa senang sesaat saat Yoan datang menolongnya dan menghajar Zen seperti orang kerasukan, hingga dirinya pun kena ucapan menusuk dari pria itu.


'Dan malam itu, Yoan berlaku lebih parah daripada Zen malam itu.' batin Haara melamun.


'Aku sungguh tak mengenal sosok Yoan malam itu, rasanya benar-benar beda, bahkan aku masih trauma namun Yoan melakukan hal yang lebih parah dari apa yang Zen lakukan padaku malam itu.' batin Haara lagi.


Ingatan saat itu terus terngiang di ingatannya saat Yoan mengambil keperawanannya dengan paksaan.


Jantungnya berdegup kencang saat itu juga.


'Tapi ... Saat Zen hampir memperkosaku, yang ku fikirkan adalah Yoan, dan disaat Yoan memperkosaku yang ku fikirkan apa saat itu?' batin Haara bingung.


Gadis itu terdiam sejenak memikirkan apa ketakutannya saat itu.


'Perasaan nya, ya~ yang ku fikirkan adalah perasaannya dan keluhan hatinya saat melihat ku hampir di perkosa oleh Zen, itu sungguh sangat menyakitkan bagiku.' batin Haara mengetahui jawabannya.


'Namun, aku akhirnya bisa yakin memberikan diriku sepenuhnya malam kemarin lusa padanya, karena diriku telah yakin sepenuhnya jika dia mencintai diriku melebihi apapun, dan aku telah yakin ia tak akan meninggalkanku.' senyum Haara.


Riza menatap Alka sekilas, mengisyaratkan untuk menatap Haara yang melamun dan tersenyum sendiri.


"Biarkan dia asyik dengan lamunannya." bisik Riza.


'Jika di ingat-ingat malam kemarin lusa membuatku malu sendiri~ huwaa~ kenapa aku berekspresi seperti itu saat Yoan melakukannya, huwaa~ malunyaaaa~' batin Haara berteriak, ia menutup wajahnya malu.


'Dan juga, kenapa aku mengeluarkan suara-suara vulgar malam itu~ apa Yoan berfikir aku terlalu berlebihan ya malam itu??' batin Haara lagi.


Seketika ia merinding hingga terasa ke wajahnya yang panas.


'Apa suaraku kedengaran sampai lantai bawah ya?? Ah gila! Tidak tidak! Kau berfikir terlalu jauh AtHaara!' batin Haara menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.


ia pun mencoba mengingat sekencang apa suara yang ia keluarkan malam itu, ia benar-benar takut terdengar hingga ke lantai bawah, meski itu sangay tidak mungkin, ia mengkhawatirkan satu hal itu.


'Lagi pula aku di suruh Yoan juga agar tak menahan suaraku! tapi apa Yoan menganggap suara menggelikanku malam itu berlebihan ya?? Huwaaa! Aku takut di sangka akulah yang paling menginginkan nya daripada Yoan! Apa yang ada di fikiran Yoan jika benar seperti itu! pasti Yoan berfikir aku yang menggodanya dan memancingnya? Mati aku!' gerutu Haara dalam hati.


'Kenapa aku baru kefikiran hal ini?? Memalukaaaan!!' umpat Haara membatin.


"Nyonya Zhao AtHaara?"

__ADS_1


Lamunan Haara buyar.


"H-ha iya??" kikuk Haara.


"AtHaara, Melamun saja, sekarang senyum-senyum tak jelas, haduhh~ mikirin apa sih?" tanya Alka heran.


"Ah? Ahahaha, mikirin Yoan lah, apalagi coba." sahut Haara malu.


"Uuu~ pantas saja, ini lihat, mereka berdua bodyguard kamu bukan?" tanya Riza.


"Ah, benar." senyum Haara.


"Mari nyonya ..."


"Stop! Jangan panggil saya nyonya, huwaa bahkan itu terdengar tua untukku~" komentar Haara.


"Tapi nyonya Zhao AtHaara adalah ..."


"Stt! Saya tahu, tapi saya mohon, ini sekolah, jika ada yang dengar gawat karena margaku berubah menjadi Zhao dan di panggil nyonya, panggil saya nona AtHaara saja." pinta Haara.


"Baik nona AtHaara, silahkan masuk ke mobil, kami akan antar pulang." dengan sopan.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Haara membaca buku nya dan sesekali mengingat rumus Matematika yang terakhir kali ia hafalkan.


Ia mencoba mengisi contoh-contoh soal dan juga menghafal mata pelajaran ujian kedua.


"Kepalaku terasa penuh dengan rumus, pusingnya kepalaku."


Haara bangkit berdiri dan melangkah ke arah balkon kamarnya, mengihup udara malam yang sejuk dan angin dingin yang menusuk ke tubuh.


Gadis itu menghidupkan layar ponselnya, ia tak mendapat notifikasi apapun dari pria itu, hal itu membuat semangatnya memudar.


"Dia masih sibuk bekerja atau sudah di apartemen dan tidur ya? disini sudah jam sembilan malam, disana sudah jam sebelas malam, huft~" hela nafasnya panjang.


Ia mengetikkan sebuah kata demi kata dan menjadi sebuah kalimat u tuk ia kirim pesan pada Yoan dan mengirimnya ke nomor ponsel pria itu.


AtHaara:


'Aku baru saja selesai belajar untuk ujian besok, aku akan pergi tidur karena kak Anna melarangku untuk bergadang, hehe~ selamat malam Yoan.'


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."menuesal tiada guna Haara, fikiran nya udah kalang kabut aja deh, malu sendiri setelah di ingat-ingat tuh whaha😆"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2