
Seperti biasanya Anna mengantar Haara kesekolah, jam telah menunjukkan jam 07:30, tepat 15 menit lagi upacara akan dimulai.
"Kau tak turun? 15 menit lagi bel masuk, kakak juga ada rapat lho." seru Anna yang menatap heran adiknya yang tak kunjung turun dari mobilnya,
"Kak Anna, kakak akan ke kantor Yoan untuk menemui kak Ammar kan?" tanya Haara,
"Sepertinya tidak jadi."
"Lho lho lho, kenapa?"
"Rapatku seharusnya sore ini, tapi karena ada pertemuan keluarga sore ini, jadi rapatnya di majukan pagi ini" jelas Anna,
Haara menghembuskan nafasnya lesu,
"Kenapa memangnya?"
"Tadinya jika kakak kesana, aku ingin menitipkan hoodie Yoan kepada kakak untuk dikembalikan padanya~" seru Haara,
"Nanti malam saja kau titipkan pada kak Ammar."
"Aku sudah membawa hoodienya, ku kira kakak jadi ke kantor Yoan." sedih Haara,
Tatapan Haara terfokus pada Alka yang menyadari jika di dalam mobil ada dirinya dan juga kakaknya.
Gawat!
Dengan cepat Haara memasukkan papperbag berisi hoodie Yoan kedalam tasnya,
Gawat jika Alka akan bertanya-tanya tentang calon istri Yoan kepada Anna,
"Ya sudahlah, aku bawa lagi, terima kasih kakakku sayang, aku pergi, bye bye!" seru Haara panik, ia turun dari mobil Anna dan berlari menghampiri Alka.
"ada apa dengannya?" bingung Anna.
●•●•●•●•●
Waktu telah menjelang siang, istirahat pun telah tiba, makan di rooftop dengan angin yang bertiup di siang hari dengan cuaca yang berawan cukup menenangkan.
"Jadi kau masih belum bertemu kak Ammar ya~" sedih Alka,
Haara teringat dengan ucapan Yifan padanya tempo hari, Haara memang sangat mempercayai kedua sahabatnya, tapi ia bingung cara mengatakannya, ditambah ia belum meminta izin kepada Yoan untuk memberitahu kedua sahabatnya.
"Mm tapi .."
Riza menatap Haara yang tak kunjung melanjutkan ucapannya,
"Tapi?" -Riza,
"A-aku .. Juga harus minta izin pada tuan Yoan mengenai hal ini." seru Haara terbata-bata, bahkan ia baru menyadari jika dirinya menyebut nama Yoan dengan embel embel 'tuan'.
"Eh? jadi kau tahu siapa calon istrinya?" tanya Riza,
"Serius kau tahu Haara??" beritahu aku Haara kumohon~aku janji jika di depan tuan Yoan, aku pura-pura tak tahu, please~" mohon Alka,
"Alka~ Haara kan sudah bilang, dia juga harus izin kepada tuan Yoan." seru Riza menenangkan Alka,
"Hahh, apa tuan Yoan jika sudah marah ia sangat menakutkan seperti Yifan katakan ya?" sedih Alka,
"Ee ... aku tidak tahu, tapi ... Aku juga takut jika tuan Yoan marah." tawa palsu Haara,
jujur saja, Haara takut Yoan marah, meski ia sedang marah dengan pria itu, ia kefikiran dengan perkataan Yifan, Yoan jika sudah marah itu menyeramkan.
●•●•●•●•●
Anna memparkirkan mobilnya di garasi rumahnya, melihat jika Ammar sedang memperhatikannya.
Benar saja, Ammar menghampiri Anna.
"Mama papa mu sudah datang?" tanya Anna.
"Hanya mama yang sudah datang dan juga tante stephannie."
"Lho? tuan Tao Ming dan papamu?"
"paman Tao Ming dan papaku sedang ada pertemuan klien, jadi agak telat sedikit."
"Ahh~ Haara belum pulang? padahal sudah jam empat lewat lima belas?"
"Belum, dari tadi aku diluar rumah tak melihat Haara sudah pulang,"
"Hahh, apa ada eskul ya?" seru Anna melihat jam tangannya.
"Ada apa memangnya?"
"Pagi tadi aku mengantarnya ke sekolah, ia mengira jika aku akan ke kantor Yoan, ia ingin menitip hoodie milik Yoan untuk dikembalikan pada Yoan, takutnya nanti ia akan pulang petang, aku menyuruhnya agar menitipkannya padamu nanti dirumah." jelas Anna.
"Hoodie milik Yoan?" tak percaya Ammar,
"Iya, kemarin ketumpahan es kopi milik Haara, jadi gitu atas permintaan maaf, Haara berniat ingin mencuci hoodie milik Yoan." jelas Anna lagi,
__ADS_1
"Calon istri yang baik." kekeh Ammar.
"Karena itu juga mereka berdua bertengkar!"
"Lho kenapa?"
"Yoan buat kesal Haara, ku kira Yoan tak bisa jahil pada Haara, tapi dugaanku salah, ia sudah harus mencuci hoodie nya malam-malam, dan karenanya membuat adikku keramas malam-malam karena Yoan meletakan hoodie dengan noda kopi itu diatas kepala Haara." geram Anna,
Ammar tertawa mendengar cerita Anna tentang Haara dan juga jahilnya Yoan,
"Ahahahaha!! berarti mereka sudah dekat ya?"
"Kurasa, Yoan tak akan ada di mode jahil jika ia belum dekat dengan seseorang kan?" tanya Anna,
"Ya! aku sependapat denganmu, pantas saja Yoan tadi pergi, saat ku tanya akan kemana ia menjawab 'menyiram api kemarahan' begitu," seru Ammar.
"Baguslah, Haara benar-benar tak berhenti mengumpat saat sedang mencuci hoodie milik Yoan dan juga saat ia selesai keramas." kekeh Anna.
●•●•●•●•●
Haara dengan cepat membereskan peralatan nya dan memasukkannya kedalam tasnya.
"Haara ..." -Riza,
"Riza, Alka, aku harus bergegas pulang, karena ada hal penting yang tak boleh ku lewati, maaf ya aku pulang duluan!"
"Tapi Haara ..." -Alka,
"Sampai jumpa!" seru Haara memakai tasnya susah payah dan pergi,
"Padahal aku ada perkumpulan klub memasak." -seru Alka menatap Haara pergi.
"Aku juga ada perkumpulan klub Voli, baru saja aku ingin menyuruhmu dan Haara pulang duluan." seru Riza.
"Kau juga? aku pun begitu, baru saja ingin meminta maaf tidak bisa pulang bersama." sahut Alka.
• • •
Haara berjalan terburu-buru, karena ia ingin cepat-cepat pulang agar bisa menyaksikan acara keluarga, tepatnya pertunangan kakaknya dan juga kakak angkat baginya, Ammar. ia berfikir tak boleh telat!
"Oi~ calon kakak ipar!" seru Yifan yang bersandar di pilar aula,
Haara membalikkan tubuhnya mencari asal suara itu,
"Yifan!! sudah ku bilang . ." - sulut emosi Haara.
CTAZZ!!
"Yo-Yoan???" tanya Haara pelan,
"Iya, dia mencarimu tadi, dan aku disuruh mencarimu." seru Yifan melangkah mendekati Haara,
"Untuk apa mencariku? aku sibuk, aku buru buru!" tolak Haara mencoba untuk pergi,
"Oi! jangan buat aku susah, ikut aku!" seru Yifan menahan tangan Haara, dengan cepat ia menarik pergelangan tangan Haara dan menyeretnya entah kemana.
• • •
"Yi-Yifan!! Kau ingin membawa ku kemana!? ini arah kantor kepala sekolah!" seru Haara geram.
Yifan tak menggubris ocehan Haara,
Tanpa mengetuk pintu Yifan masuk kedalam kantor kepala sekolah,
"E-hey! Yifan bodoh kenapa ...,"
"Hahh ini, kubawa calon istrimu, aku pergi, aku ada perkumpulan OSIS." seru Yifan melepaskan tangan Haara, dan pergi meninggalkan mereka berdua.
• • •
Haara enggan menatap Yoan, masih terlihat jika Haara masih kesal, dapat terlihat jelas raut Haara yang sangat kesal.
Yoan menatap Haara didepannya tanpa sedikitpun berniat membuka pembicaraan,
Cukup lama sekali mereka terdiam, Haara benar benar geram sekali karena pria di depannya ini nggan sedikitpun membuka pembicaraan.
"Buang-buang waktu!" seru Haara membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, Yoan benar benar membuatnya naik pitam.
Dengan cepat Yoan menahan tangan Haara,
Haara mematung saat Yoan menahannya, dengan perlahan Yoan melangkah mendekati Haara.
Jantungnya benar-benar berdetak kencang, ia merasa jarak pria itu kini berdiri tapat dibelakangnya sangat dekat,
"Wanginya berubah menjadi aroma Stoberi, bukan kopi lagi."
Dengan cepat Haara membalikkan tubuhnya dan melangkah mundur untuk memberi jarak antara mereka.
Haara melihat Yoan memegang rambut panjangnya, pria itu sedang mencium wangi rambutnya.
__ADS_1
Yoan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, sambil menatap Haara yang membulatkan matanya.
Wajah Haara memerah seketika,
"Ap-apa yang kau lakukan tadi!?" gelagap Haara memegang rambut belakangnya,
"Mencium wangi rambutmu, apa baunya sudah berubah atau belum." seru Yoan tersenyum menegejek,
"Itu semua karena kamu! aku benar-benar geram sekali denganmu!!" kesal Haara,
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut sekali~" seru Billy kepala sekolah disekolah itu dan juga pamannya Yoan dan juga Yifan, ia baru saja menyelesaikan urusannya dengan para amggota OSIS di sekolah itu.
"Pa-pak Billy, saya minta maaf! saya telah membuat keributan di ruangan bapak!" panik Haara yang berkali-kali membungkuk meminta maaf.
"Tidak apa-apa, pasti karena Yoan membuatmu kesal ya?" kekeh Billy mendekati Yoan,
"Ah se-seperti itulah~hehe." gugup Haara,
"Ahahaha, saya tidak menyangka jika calon istri Yoan adalah salah satu murid di sekolah ini, namamu AtHaara .. Martin kan?"
"I-iya pak, saya AtHaara Martin." senyum kikuk Haara,
"Benar-benar tidak disangka sekali, karena ini keputusan kepala keluarga, aku akan memperbolehkan satu murid disekolah ini sudah berstatus bersuami nanti, dan juga akan merahasiakan hal ini nanti tentunya." jelas Billy.
"Benarkah pak Billy? terima kasih pak!" senang Haara, ia sangat antusias.
"Ahahaha, Yoan lihat lah calon istrimu, benar-benar mengundangku untuk tertawa atas tingkahnya." tawa Billy melihat tingkah Haara yang antusias.
Yoan tersenyum terkekeh mendengar ucapan pamannya itu,
"Yifan ada diluar, paman?" tanya Yoan,
"Ia berada di kebun Biologi." sahut Billy,
"Kau tunggu aku disana dengan Yifan." seru Yoan pada Haara.
"Ha? kenapa aku harus menunggumu??" sewot Haara.
Yoan menunjukkan benda persegi di tangannya,
"Po-ponselku?? kenapa ada padamu??!" tak percaya Haara panik mengecek tasnya. benar saja, salah satu resleting yang biasa ia menyimpan ponselnya terbuka.
"Benda ini ada padaku, jika kau menginginkannya, tunggu aku diluar." seru Yoan dengan wajah kemenangannya.
Haara mengumpat dalam hati, ia menatap tajam pria itu, tentu Yoan tak memperdulikan tatapan itu.
"Saya permisi pak Billy." seru Haara, lalu ia pun keluar.
• • •
Haara terus mengumpat mengata ngatai Yoan.
ia melihat Yifan, sesegera mungkin ia menghampiri pria itu.
"Menyebalkan!!" geram Haara duduk disebelah Yifan yang duduk sila di kursi di kebun Biologi, pria itu sibuk bermain game diponselnya.
"Seperti nya kau akan darah tinggi berhadapan dengan kak Yoan terus." seru Yifan.
"Dia sama menyebalkannya denganmu!" sahut Haara,
"Aku sedang tidak membuatmu kesal bukan? kenapa aku ikut disalahkan?"
"Karena kau dan Yoan itu satu server!" sahut Haara,
Yifan tak menimpali ucapan Haara, ia fokus bermain gamenya itu.
"Lihatlah! kau sibuk dengan game mu, kau benar-benar satu server!" seru Haara mengeluarkan hoodie milik Yoan di dalam tas nya, ia benar-benar tidak leluasa saat duduk karena tas nya yang sangat besar.
"Lalu aku harus menimpali ucapanmu dengan apa? aku tak ingin kena sambar oleh amarah mu." sahut Yifan enteng.
"Seharusnya ...,"
"Kalian berdua sedang apa disini?"
Haara mengalihkan pandangannya kepemilik suara itu,
"Alka? .. Ri-Riza??" seru Haara tercegang,
Mendengar nama Riza disebut Yifan mengalihkan pandangannya untuk menatap Riza,
"Za?!"
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1