
Haara ingin sekali merentangkan tubuhnya, ia merasa sangat pegal sekali saat ini.
Pria itu masih tertidur di paha nya.
"Ahw~ Yoan kapan kamu bangunnya? Aku pegal, huhu~" keluh Haara.
Hari telah menjelang sore, pria itu tertidur di paha nya selama 3 jam lamanya, membuat dirinya bosan bukan main.
"Yoan? Bangun sudah sore." seru Haara menyingkirkan rambut pria itu yang menutupi wajah pria itu.
"Yoan bangun~"
"Mm~"
"Bangunlah, sudah sore, kamu tidur sudah lebih dari dua jam lho." seru Haara lembut.
"..."
"Yoan?"
"aku masih mengantuk AtHaara~" keluh pria itu.
"Bangun sudah sore, bahan masakan habis, apa kau bisa mengantarku untuk beli bahan masakan?" tanya Haara.
Perlahan Yoan menduduki dirinya,
Haara merapihkan rambut pria itu yang berantakan.
Mata pria itu terpejam dalam keadaan duduk membuat Haara merasa gemas sekali dnegan pria itu.
Puk!
Pria itu meletakkan keningnya di pundak Haara.
"Yoaaan~ ayo bangun, jangan tidur lagi." seru Haara.
"Sebentar." seru pria itu serak.
"Sebentar sebentar nanti tidur lagi, ayo bangun kalau tidak aku pergi saja sendiri ya?" seru Haara mengancam pria itu.
Tanpa disangka pria itu mengalungkan tangannya di leher gadis itu.
"Sebentar saja, 5 menit." sahut Yoan begumam.
Haara merasa jika pria ini semakin kesini semakin berlaku manja sekali padanya, benar-benar di luar dugaan sekali pria ini benar-benar terlihat sangat 'bucin' padanya.
Haara menatap jam di ponselnya, jam telah menunjukkan jam setengah lima sore, ia akan memberikan pria itu 5 menit untuk tidur.
• • •
Haara menghela nafasnya menahan kesal.
"Yoan bangun tidak?"
"..."
"Aku marah ya?" ancam Haara.
"..."
"Yoan!? Bangun! Ayo kita belanja bahan masakan!" kesal Haara mendorong tubuh pria itu.
"..."
"Aku hitung sampai tiga ya! Satu! Dua! Ti .."
Cup!
Pria itu sukses membuat gadis itu terkejut.
Yoan mencium pipi gadis itu!
"Tiga~" sela Yoan dengan suara serak dan wajah bantalnya, ia bangkit berdiri dan pergi untuk ganti baju.
Haara masih terdiam, ia perlahan memegang pipinya yang di cium pria itu.
"Yooo ... aaaan!!"
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Haara melirik Yoan yang fokus mengemudi.
Ya, pria itu mengemudi.
Ia mendapat pinjaman mobil dari pamannya.
Mata pria itu terlihat sayu, pria itu terlihat masih mengantuk.
Baju hitam, celana panjang hitam dan topi berwarna hitam.
Pria itu terlihat sangat santai sekali.
"Berhati-hatilah, kau jangan mengantuk saat mengemudi." seru Haara mengingatkan.
Yoan mengangguk.
●•●•●•●•●
Haara melangkah mendekati Yoan yang menunggunya di belakang mobil.
Pria itu terlihat merenggangkan tubuhnya, pria itu pun mengusap wajahnya gusar.
"Masih mengantuk?" tanya Haara menghampiri Yoan.
Pria itu mengangguk.
"Semalam aku pulang tengah malam, aku tak langsung tidur karena mendapat telefon dari papa tentang perusahaan yang saat itu di retas." jelas Yoan.
"Lalu? Jam berapa semalam kau tidur?" tanya Haara berjalan beriringan dengan Yoan.
"Hmm~ jam 2 pagi." sahut Yoan berfikir.
Tak!
Yoan terkejut saat Haara memukul tangannya kencang.
__ADS_1
"Kenapa memukulku??" tanya Yoan polos.
"Kenapa semalam kau pulang tengah malam??" introgasi Haara.
"Karena aku ingin membantu paman~" sahut Yoan takut.
"Bantu sampai tengah malam??" tak percaya Haara.
"Tidak." sahut Yoan membuang wajahnya.
"Lalu??" tanya Haara menghentikan langkahnya
"Sebenarnya aku pergi minum dengan paman semalam." sahut Yoan ragu.
"Dengan paman??"
"Aku meminta paman menemaniku untuk pergi minum." sahut Yoan jujur, pria itu hanya menunduk tak berani menatap tatapan maut istrinya itu.
"Pergi minum?? Lalu kau mabuk??"
"Tentu aku mabuk." sahut Yoan.
"Lalu bagaimana kau pulang??"
"Di antar paman sampai depan pintu apartemen, aku melarang paman untuk mengantarku sampai ke dalam."
"Lalu kenapa kau memutuskan untuk minum??"
Yoan terdiam sejenak.
"Karena aku .. Terus kefikiran rasa bersalahku padamu." sahut Yoan menatap Haara.
Haara bungkam.
"Kepala ku pening, jadi aku pergi minum." sahut Yoan lagi.
"Lain kali jangan mabuk, aku tak suka! itu tak baik untuk kesehatan kamu." seru Haara menunjukkan wajah tak suka.
"Aku tak akan pergi minum jika aku tak memiliki beban fikiran, kemarin itu aku baru pergi minum lagi setelah sekian lama." kekeh Yoan.
"Sulit di percaya." tak percaya Haara melangkah meninggalkan Yoan.
"Aku serius!" sahut Yoan mengejar Haara.
"Tunggu dulu, kau dapat mengingat hal-hal yang terjadi saat kau mabuk??" terkejut Haara.
"Ah, aku ketahuan." kekeh Yoan menggaruk tengkuknya.
"Kak Ammar pernah bilang kau jika sudah mabuk itu tak mengingat hal-hal yang telah terjadi." seru Haara.
"Aku pura-pura lupa, aku berbohong." sahut Yoan terkekeh.
"Kenapa?"
"Hal yang aku lakukan saat mabuk itu memalukan, aku lebih banyak bicara saat mabuk." sahut Yoan malu.
Haara terkekeh.
"Cukup kau yang tahu, jangan beritahu siapapun, paham?" seru Yoan serius.
"Sepertinya kau takut sekali, aku jadi penasaran hal apa yang kau lakukan saat mabuk sampai kau takut sekali ketahuan bohong." tawa Haara.
Haara terkekeh saat pria itu terlihat malu.
●•●•●•●•●
"Apa kita butuh telur?" tanya Yoan berhenti mendorong trolinya.
"Ya, pilihkan telur ayam." sahut Haara sibuk memilih sayuran.
"Jangan salah pilih, pastikan pilihanmu benar telur ayam, jangan tertukar seperti mana garam dan mana gula." peringat Haara.
"Hmm." sahut Yoan malas.
"Jangan tertukar seperti mana lobak mana wortel seperti waktu itu, masa lobak di bilang wortel kekurangan zat melanin." seru Haara lagi mengungkit kepolosan pria itu.
Terdengar pria itu menghela nafasnya kasar.
"Hahhhhh~"
Haara menahan tawanya saat pria itu mencoba sabar dengan ucapannya yang mengungkit-ungkit kepolosan pria itu.
"Zhao Yoan Ti En?" panggil seseorang.
Haara menatap seseorang yang memanggil nama suaminya itu.
Haara sedikit terkejut saat yang memanggil suaminya itu seorang wanita.
"Jessi?" seru Yoan.
"Oh my god, how are you? It's been a long time since we saw each other.
(Ya tuhan, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tak berjumpa.)" senang wanita bernama Jessi itu.
"Im fine, you?"
(Aku baik, kamu?)" senyum tipis Yoan.
"Me too! Ah, I really miss you, really want me to hug this old friend of mine, but you always refuse.
(Aku juga! ah, aku sangat merindukanmu, ingin sekali aku memeluk teman lamaku ini, tapi kau selalu saja menolak.)" kekeh Jessi.
Haara menghela nafasnya malas, ia yakini jika gadis eropa ini adalah teman Yoan.
Dirinya merasa menjadi obat nyamuk saat ini, suaminya sangat asyik sekali bicara pada wanita bernama Jessi itu.
Haara pun berfikir akan meninggalkan mereka berdua, namun ...
"I'm married, and she is my wife.
(Aku sudah menikah, dan dia adalah istriku.)"
Haara menatap Yoan dan Jessi bergantian.
"Dia adalah teman ku saat di SMA, dia berasal dari Amerika dan menjadi murid pertukaran saat itu." seru Yoan menjelaskan pada Haara.
"Ah, hello! I'm AtHaara, I am his wife Yoan.
(Ah, halo, aku AtHaara, aku adalah istirnya Yoan.)" senyum manis Haara.
"Ah, hello ~ is she really your wife ?? She looks so young, you're not kidding, yes?"
__ADS_1
(Ah, halo~ dia sungguh istrimu?? Dia terlihat maaih kecil, kau tak bercanda iyakan?)" tanya Jessi memandang Haara rendah.
"I am not kidding, she is my wife, what's wrong?
(Aku tidak bercanda, dia adalah istriku. Apa yang salah?)" tanya Yoan.
"No, she is very beautiful! May I have your cell number, Yoan? I want to talk to you a lot of things.
(Tidak ada, dia sangat cantik! Boleh aku meminta nomor ponselmu, Yoan? aku ingin bicara banyak hal padamu.)" senyum Jessi.
Yoan menatap Haara.
"Apa?" tanya Haara datar.
"Dia meminta nomor ponselku, boleh aku memberikannya?" tanya Yoan pada Haara.
"Untuk apa?" tanya Haara sinis.
"Dia ingin mengajakku berbicara lain waktu sepertinya." sahut Yoan ragu.
"Terserah kau! aku mau beli bahan-bahan lainnya!" sahut Haara ketus meninggalkan Yoan dan Jessi.
"AtHaara??" panggil Yoan.
Haara mendengus kesal, nafasnya naik turun saat Jessi memandangnya rendah, wanita itu membuatnya sangat emosi.
"Hey Haara, kenapa kamu tiba-tiba pergi?? Jika kau tersesat bagaimana??" panik Yoan.
"Nyasar tinggal pulang, kenapa harus pusing!" sahut Haara ketus.
"Kamu kenapa sih??" tanya Yoan menahan senyumnya.
"Ngga apa-apa! Aku mau pulang!" sahut Haara melangkah pergi.
"Hey, kita baru beli telur." cegah Yoan menahan Haara.
"Aku mau kembali ke apartemen kau pergi belanja saja sendiri!" sahut Haara ketus.
"Mana aku ngerti apa saja yang harus di beli." kualahan Yoan.
"Minta bantuan sama mbak Jessi saja sana!" kesal Haara.
Yoan yang mendengarnya tersenyum simpul.
Srett!
Bruk!
Haara terkejut saat Yoan menariknya dan kini ia menubruk dada bidang pria itu.
"Ih! Yoan!" malu Haara mendorong tubuh pria itu, namun pria itu memeluknya erat.
Haara melihat sekitar, orang-orang yang lewat menatap nya.
"Yoan! Ini tempat umum! Banyak yang liatin! Lepasin!" kualahan Haara.
"Kamu ... cemburu ya?"
Haara mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Lepas gak?"
"Jawab dulu, kamu cemburu ya?" tanya Yoan menahan senyumnya.
"Tidak, untuk apa aku cemburu!" sahut Haara ketus.
"Lalu kenapa kamu seperti ini? Marah-marah tak jelas, hm?" tanya Yoan.
"Itu karena si mbak Jessi itu menatapku rendah, kesal aku dengannya!" sahut Haara kesal.
"Sungguh hanya karena itu?" tanya Yoan kecewa.
"Ya, bisa kah kau lepas? Aku tak ingin jadi bahan tontonan." seru Haara pelan.
Yoan perlahan melepaskan pelukannya.
"Jawaban yang mengecewakan." kecewa Yoan.
"A-aku kesal karena dia mengataiku seperti itu, jadi aku memutuskan pergi meninggalkan kalian berdua." seru Haara mencoba menjelaskan.
"Lalu apa kau tak masalah aku berbicara lama dengannya?" tanya Yoan pelan.
"Dia teman SMA-mu, pasti kalian sudah lama tak bertemu, tidak masalah." sahut Haara pelan.
"Jika aku memeberikan nomor ponselku padanya kau tak masalah?"
"Tidak." sahut Haara santai.
Yoan terdiam.
"Karena aku percaya padamu." seru Haara lagi.
Yoan yang mendengarnya terdiam sejenak.
"Aku akan mengambil troli yang ku tinggal tadi, kau tunggu sini." seru Yoan pergi.
...•...
...•...
...Author : "say hello! kepada pendatang baru kita, mbak Jessi.😵"...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋...
...Hai, kakak-kakak author👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
...See you tomorrow😇...
__ADS_1