
Entah waktu yang berjalan cepat atau dirinya lah yang tak terlalu memperdulikan waktu yang berlalu secara normal.
Yoan larut dalam fikirannya, ia sedang mengingat hal-hal yang lampau.
Ia jadi teringat saat dimana kali pertama dirinya bertemu dengan Haara, meski pertemuan saat itu terkesan sangat menakutkan, tapi pertemuan itu adalah pertemuan yang berarti baginya.
Yoan kembali merasakan perasaan tenang saat kejadian beberapa tahun lalu saat pertemuannya dengan Haara, seketika ketakutannya waktu itu saat pelariannya dari Finn pun hilang, lenyap tanpa tersisa sedikitpun.
Rasa ketakutannya lenyap saat dirinya mendengar suara seorang gadis yang terdengar sungguh sangat menenangkan dirinya meski terdengar nada kalimat itu mengutarakan kalimat kepanikan dan kekhawatiran, namun entah kenapa ia merasa suara seorang gadis yang menolongnya itu seperti menghipnotisnya.
Wajah khawatir bercampur panik gadis itu, sentuhan hangat yang berikan gadis itu juga seolah memberikan isyarat 'semua sudah baik-baik saja'.
Bersandar di pundak gadis itu, kayakinan jika dirinya berhak untuk hidup pun timbul di dalam hatinya.
Seolah ingin waktu berhenti, Yoan mengiginkan waktu berhenti berlalu saat bersandar di pundak gadisnya saat itu.
Namun, kejadian seperti mimpi tapi nyata, keyakinan dalam hatinya menjadi nyata, ia masih hidup!
Tetapi, dirinya juga harus kehilangan sosok gadis yang membuatnya nyaman, ia telah kehilangan kehangatan itu.
Merasa jika harus mencari keberadaann gadis itu, Yoan pun mencarinya selama setahun lamanya.
Dan tanpa di duga,
Sebuah pertemuan kembali terjadi, akhirnya dirinya kembali bertemu dengan gadis itu, gadis SMA bernama AtHaara Martin.
Seperti sebuah takdir yang telah merencanakan semuanya, kini takdir menginginkan dirinya bersama dengan Haara, hingga saat ini.
Yoan mencerminkan dirinya, perlahan tangannya membuka satu persatu kancing kemejanya.
Perut sixpack dengan goresan panjang di perutnya, seakan memberikan makna jika kenangan buruknya tak akan pernah lenyap dalam dirinya maupun ingatannya.
Srett!!
Yoan tersenyum saat melihat tangan yang mungil melingkar di tubuhnya.
"Hm? Kenapa kau membuka kancing baju mu??"
Yoan membuka bajunya, hal itu membuat Haara sedikit gugup.
"Kamu lama sekali." seru Yoan membalikkan tubuhnya, ia menyelipkan rambut Haara ke belakang telinga.
"Aku baru saja selesai mandi, kamu tumben pulang cepat?" tanya Haara.
"Aku merindukanmu." senyum Yoan.
Haara yang mendengarnya terkekeh.
"Pakai bajumu, kenapa di buka? Kau mau mandi?" tanya Haara.
Yoan menggeleng.
"Nanti saja, aku hanya ingin mencerminkan tubuhku." sahut Yoan.
"Mengagumi tubuh sendiri? Aku baru tahu kau suka seperti itu." seru Haara.
"Bukan, aku hanya melihat bekas luka di perutku saja, sepertinya bekasnya tidak akan hilang." sahut Yoan.
Yoan menatap Haara lalu ke tangan gadis itu yang mengusap perutnya, tepatnya mengusap bekas luka jahitannya.
"Sepertinya kau benar, luka ini tak akan pernah hilang, kamu tumben membahas bekas luka jahitanmu beberapa tahun lalu, ada apa?" tanya Haara memeluk tubuh Yoan yang bertelanjang dada.
"Aku tanpa sengaja teringat dengan pertemuan kita di Jepang, dan aku jadi ingin lihat bekas luka jahitanku." sahut Yoan mencium pucuk kepala Haara.
"Kenapa kamu terus teringat kejadian itu??" tanya Haara mendongakkan kepalanya.
"Karena itu pertemuan pertama kita." sahut Yoan.
"Tapi aku tak mau kau mengingatnya, aku pun tak mau mengingatnya, itu sungguh sangat menyakitkan perasaanku." sahut Haara pelan.
"Baiklah aku tak akan mengingatnya lagi." kekeh Yoan.
__ADS_1
"Tubuhmu hangat~" seru Haara memejamkan matanya.
"Dulu kau paling ngga mau menyentuh tubuhku, jangankan menyentuh, melihatnya saja kau tak mau, tapi sepertinya sekarang kau sudah tak sungkan menyentuh dan melihatnya lagi ya?" goda Yoan.
"Sekarang aku sudah tak sepolos dulu." sahut Haara menggelayut manja.
"Hey geli~" tawa kecil Yoan menatap Haara yang masih memeluknya.
"Ah, maaf." malu Haara.
Yoan menatap ke arah luar jendela, langit kembali gelap, hujan akan kembali turun.
"Tak terasa besok sudah tahun baru saja." seru Yoan.
"Kau benar, tahun 2021 penuh dengan sejarah, dan kita akan menempuh lembaran baru di tahun 2022." sahut Haara.
"Kau mau kita kemana? Mumpung mama dan papa kita mau menjaga Yiran dan Sissy, kau mau kita jalan-jalan kemana? Korea? Atau Swiss?" tanya Yoan.
"Sepertinya jangan terlalu jauh-jauh, aku takut rindu dengan Yiran dan Sissy, bagaimana kalau kita ke pantai?"
"Pantai?"
"Iya, ayo kita ke pantai!!" antusias Haara.
"Baiklah, kita ke pantai, kita berangkat hari ini." sahut Yoan.
"Hari ini??!"
"Ya, kita akan di pantai selama 3 hari, aku pun tak mau meninggalkan Yiran dan Sissy terlalu lama." sahut Yoan.
"Sepertinya kita harus beritahu mama dan papa segera deh." seru Haara.
"Ya sudah, beritahulah mereka, aku mau ajak Sissy dan Yiran main." ucap Yoan.
Haara yang mendengarnya pun mengangguk.
●•●•●•●•●
Haara menutup telfon nya.
Suara tawa terdengar bersahutan, siapa lagi jika bukan Yiran dan Sissy yang tertawa karena ulah Yoan yang menggelitik perut kedua anaknya itu dengan rambut Yoan.
Haara ikut tertawa saat mendengar suara tawa dua malaikat kecilnya dan suara tawa dari pria yang sangat ia cintai itu.
"Yoan, kasih jeda ih, mereka nanti sulit bernafas." seru Haara.
"Baiklah, astaga~ kenapa mereka semakin lucu sekali? aku sungguh tak bisa menahan rasa gemas ku pada mereka." gemas Yoan kembali menggelitiki mereka dengan rambutnya.
"Aduh aduh, AtHaara, rambutku." ringis Yoan saat rambutnya di tarik oleh Yiran.
"Ahahahaha!! Tunggu tunggu, kamu jangan bergerak." seru Haara mencoba membantu Yoan.
"Sayang~ jangan di tarik rambut papa nya dong, ayo sayang lepas sayang~" seru Haara sangat lembut pada Yiran.
Seolah paham dengan ucapan Haara, Yiran pun melepaskannya.
"Awh, tarikannya kuat sekali." seru Yian mengusap-usap rambutnya.
"Ahahaha~ kemarilah biar ku rapihkan rambutmu." seru Haara, Yoan menduduki dirinya menghadap Haara.
Sisiran tangan yang sangat enak kini dapat ia radakan dari sentuhan tangan Haara.
"Nah, sudah tampan." senyum Haara.
Cup!
"Terima kasih sayang." seru Yoan mencium kening Haara.
Haara mengangguk senang dengan perlakuan Yoan dan juga pria itu memanggilnya 'sayang.'
"Zhao Yi Ran Ti-En, nakal ya~ rambut papa di jambak ya~" seru Yoan mencium pipi Yiran.
__ADS_1
"Zhao Yu Xi Ti-En juga nakal tadi nendang papa ya~ papa kelitik lagi ya kalian~" seru Yoan lagi, ia pun mencium pipi Yu Xi.
Suara tawa kini kembali terdengar bersahutan dari kedua anaknya, hal itu membuat Haara kembali tertawa.
"Zhao Yiran dan Zhao Yu Xi nakaal yaaa~" seru Yoan terus menggosok-gosokkan wajahnya di perut kedua anaknya.
'Aku berharap kebahagiaan terus berada di antara kami, sungguh pemandangan yang sangat menghangatkan hatiku.' batin Haara tersenyum senang.
"sekarang giliran mama kalian." seru Yoan menatap Haara penuh arti.
seketika senyum Haara luntur, ia mengerjapkan matanya menjaga jarak dari Yoan.
"Yoan, engga Yoan, whahahahha!!!" tawa terbahak-bahak Haara mencoba mendorong tubuh Yoan yang mengelitiknya.
"Whahhaa!! Yoan hentikaaaaan~" mohon Haara tertawa terbahak-bahak, Haara dengans ekuat tenaga membalas Yoan
Yoan tertawa saat Haara mengelitiki nya.
sungguh ini adalah pemandangan yang sangat manis dan hangat.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author:...
..."sungguh sangat bahagia sekali ya😇 sederhana tapi kebahagiaannya sungguh nyata😇"...
...❗"author mau mengingatkan jika besok adalah episode terakhir dari cerita mereka nih😭 huhu sungguh gak kerasa besok sudah tamat😭"❗...
...❗❗❗...
..."setelah tamat, kakak-kakak sekalian setuju gak nih, jika author kasih part bonus tentang Yiran dan Yu Xi yang sudah besar nih? tulis di komentar pendapatnya ya😇"...
...❗❗❗...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1