
Mereka pun telah selesai berbelanja, Haara lebih memilih diam karena ia teringat kejadian tadi saat Yoan mengatainya cemburu atau tidak.
'Hahh~ apa ucapanku menyakiti perasaannya ya? Ini semu gara-gara mbak Jessi itu! Coba saja dia tak berucap merendahkan ku, tak mungkin aku pergi dan marah-marah tak jelas dengan Yoan!' batinnya kesal.
...'Aku akan mengambil troli yang ku tinggal tadi, kau tunggu sini.'...
Haara jadi teringat ucapan Yoan yang memintanya menunggunya untuk mengambil troli.
Pria itu bertanya mengenai apa ia mengizinkan pria itu memberi nomor ponselnya pada Jessi atau tidak, namun ia mrnjawab dengan jawaban 'terserah'.
'Apa Yoan pada saat memgambil troli, ia memberikan nomor ponselnya pada si mbak Jessi itu ya?' batin nya dapat di akui merasa resah.
'Apa aku tanya saja pada Yoan? Ah! Tidak tidak! Nanti Yoan tanya tanya kenapa aku menanyakan itu, padahal aku sudah memberi jawaban terserah padanya, jadi aku tak perlu tahu.' batinnya berdebat.
'Ahh!! Aku penasaran!!' batin Haara lagi kesal.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
keesokan hari nya~
Pagi pun telah tiba.
Langit yang gelap dan tak menampakkan sang mentari membuat siapapun malas untuk bangun dari tidurnya atau malas untuk berkegiatan, pastinya orang-orang akan memilih bersantai di atas kasur, itu lebih terasa santai.
Haara membuka matanya perlahan-lahan, ia merasa sebelah tubuhnya terasa berat.
Ia menatap Yoan yang tidur menindih sebelah tubuhnya sambil memeluknya. itu benar-benar sangat menyesakkan.
Dengan perlahan Haara mendorong tubuh pria itu, namun bukan nya menjauh pria itu makin mengeratkan tangannya untuk memeluk Haara.
"Yoan~" rengek Haara pelan.
Bukan nya bangun pria itu terus mendesak tubuh kecilnya itu.
Haara menepuk-nepuk punggung pria itu berharap pria itu bangun.
"Yoan aku tak bisa bernafas~" rengek Haara mencoba mendorong tubuh pria itu.
Pelukan pria itu perlahan melemah, Haara pun mengerjapkan matanya agar terbuka sempurna dan akan bangkit.
Srett!
Gerakan Haara terhenti saat Yoan melingkarkan tangannya di perut gadis itu.
"Yoan~"
"Mau kemana?" tanya Yoan pelan dengan suara serak.
"Aku mau mandi dan buat sarapan." sahut Haara.
"Nanti saja aku belum lapar, kembalilah tidur." seru Yoan mengeratkan lingkaran tangannya pada perut gadis itu.
"Aku yang lapar, jika kau masih ingin tidur, tidurlah. Aku mau mandi lalu buat sarapan." tolak Haara.
Yoan melepaskan lingkaran tangannya pada perut gadis itu.
Haara menatap Yoan yang menatapnya sayu.
"Ada apa?" tanya Haara.
Pria itu memutar tubuhnya membelakangi Haara dan kembali tidur.
Haara tak mau ambil pusing, ia pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Yoan menduduki dirinya di kursi makan, pria itu terlihat tak bersemangat.
"Sehabis sarapan aku ingin jalan-jalan, kamu temani aku ya?" seru Haara menduduki dirinya di kursi hadapan Yoan.
"Diluar sepertinya akan turun salju, mau jalan-jalan kemana?" tanya Yoan bingung.
"Kemana saja~"
"Hahh, lebih baik kembali tidur." sahut Yoan dengan mata sayu nya.
"aku bosan sekali selama 5 hari belakangan ini itu di apartemen tahu! Sedangkan kau meninggalkan ku bertemu dengan paman saat aku sedang marah sama kamu." seru Haara kesal.
"Maafkan aku."
"Hahh~ tak apa deh, tak jadi saja."
"Kenapa?"
"Tidak, mungkin lain kali saja, sepertinya ucapanmu benar, salju akan kembali turun." senyum tipis Haara mulai memakan sarapannya.
• • •
Singkat waktu.
Mereka telah selesai sarapan.
Haara bangkit berdiri, seperti biasanya, setelah makan pergi mencuci piring.
Haara menatap Yoan yang juga bangkit dan melangkah pergi ke kamar.
__ADS_1
Ia menghela nafasnya, pria itu terlihat akan kembali tidur.
"Jalan-jalan saat di Indonesia saja tak boleh pergi sendiri, apalagi sekarang berada di China?" hela nafas Haara melangkah ke washtafel.
• • •
Langit yang gelap, tak memberikan sebuah bukti dan kepastian kalau pagi ini akan turun salju atau tidak.
"Haaahh~ Aku seperti putri Rapunzel saja, tinggal di menara dan tak boleh keluar, dan Yoan jadi nenek sihirnya." seru Haara cemberut.
"Tak ada nenek sihir itu pria." seru Yoan yang tiba-tiba datang.
"Eh, Yoan? Kamu tak kembali pergi tidur?" tanya Haara menatap Yoan dari atas kebawah.
"Seperti nya kamu .. Tadi pergi mandi." seru Haara lagi karena melihat wajah Yoan yang terlihat lebih segar.
Yoan mengangguk.
Haara melihat jaket yang di pakai pria itu dan satu jaket lagi yang di bawa pria itu.
"Kamu pakai jaket dan bawa jaket juga, mau kemana?" tanya Haara.
"Tadi katanya mau jalan-jalan keluar, ayo." seru Yoan lembut.
Mata Haara berbinar.
"Sungguh??! Yoan mau ajak aku keluar??" tanya Haara senang.
"Tadinya, aku sakit hati karena aku di samakan dengan nenek sihir, itu terdengar kejam." seru Yoan melangkah akan kembali ke kamar.
"E-eh Yoaaan~ maaf! kamu bukan nenek sihir deh, kamu pangerannya, ya? ya ya??" bujuk Haara menahan tangan Yoan.
"Tak ada seorang pangeran di kartun Rapunzel." sahut Yoan.
"Kamu sebagai pria pencuri yang datang ke menaraku saja, dan kau mengajakku untuk melihat lampu terbang diluar sana! Yeyy!!" antusias Haara.
"Hahh, mengecewakan di samakan menjadi seorang pencuri, jangan memukulku dengan alat penggorenganmu dan memasukan ku ke dalam lemari, aku itu berniat baik, aku mau membawa mu pergi keluar." seru Yoan menyambung dalam alur cerita kartun Rapunzel.
Haara tertawa kecil.
"Darimana kau tahu sedetail itu ceritanya? Hm? Apa jangan-jangan kau suka menonton film princess ya? Apa kau juga suka menonton kartun Princess??" tanya Haara tertawa.
"Tidak suka sama sekali, aku lebih suka menonton anime Naruto atau One Piece." sahut Yoan.
"Lalu bagaimana kau bisa tahu ceritanya sedetail itu?" bingung Haara
"Saat itu Xi Cha mengajakku nonton bersama di laptop." sahut Yoan.
Haara mengangguk-angguk paham.
"Baiklah, apa kau akan membawa aku keluar dari menara ini dan menajakku mengenal pemandangan indah diluar sana?" akting Haara.
Yoan terkekeh.
"Ihh jawab dong~" rengek Haara.
"Awh, sakit!"
Yoan yang melihat ekspresi Haara saat kesal padanya terkekeh.
"Pakai dulu jaketnya." seru Yoan lembut.
Haara tersenyum sennag saat pria itu berinisiatif merentangkan jaketnya untuk dirinya pakai.
●•●•●•●•●
Haara tersenyum senang saat melihat suasana kota saat jalan-jalan di pinggir jalan, itu sangat menyenangkan.
Tatapan Haara terus terfokus pada couple-couple muda seumuran dengannya yang lewat di sebelahnya atau di sudut tempat.
"Besar sekali~" kagum Haara.
Yoan mengikuti arah pandang gadis itu, gadis itu terfokus pada seorang gadis yang di berikan lolipop rainbow besar oleh pacarnya.
"Yoan, aku mau itu~" rengek Haara menarik-narik jaket pria itu.
"Tidak." sahut Yoan.
"Ihh~ kenapa??" kecewa Haara.
"Itu terlalu manis dan besar, nanti gigimu sakit atau berlubang bagaimana?" seru Yoan menunduk menatap Haara yang lebih pendek darinya.
"Lolipop rainbow nya lucu, besar begitu~" rengek Haara lagi.
"AtHaara, dengar aku tidak?" seru Yoan tegas.
Haara melepaskan jaket Yoan yang ia tarik-tarik tadi.
Haara cemberut, gadis itu merajuk.
"Pelit!"
Yoan menghela nafasnya, ia kini sedang berhadapan dengan Haara mode anak kecil.
"Permen sebesar itu nanti bisa membuat masalah pada gigimu AtHaara, nanti jika gigimu sakit bagaimana?"
Haara tak menjawab.
"Boleh beli lolipop rainbow, asalkan yang kecil." seru Yoan.
"Yang kecil tapi beli nya yang banyak ya?" antusias Haara.
"Tidak, itu sama saja bohong."
"Huwaa~ Yoaaan~ aku mau lolipooopp rainbooow~" histeris Haara menahan kesal.
"Iya, akan aku belikan tapi hanya satu saja, bagaimana?" Tanya Yoan.
__ADS_1
"Hanya satu???"
"Jika tak mau aku tak memaksa juga, aku malah senang kau tak beli sama sekali." seru Yoan.
"Iya iya, ya sudah satu saja~" pasrah Haara.
●•●•●•●•●
"Xièxiè." seru Yoan berterima kasih pada penjaga toko.
Yoan melangkah mendekati Haara yang menatap keluar jendela.
Yoan menahan senyumnya karena keputusan gadis itu.
Gadis itu memilih berdiri di depan toko menunggu Yoan daripada ikut pria itu memilih lolipop rainbow di dalam toko.
Gadis itu bilang, jika dirinya ikut masuk, nanti ia takut tergoda dengan lolipop rainbow ukuran besar dan kembali merengek di belikan lolipop rainbow ukuran besar yang jelas-jelas Yoan larang.
"Ini." sodor Yoan.
Haara menatap Yoan di sebelahnya, senyuman gadis itu mengembang.
"Eh? Ada dua?"
"Kali ini saja aku biarkan kamu makan dua lolipop rainbow, tidak untuk hari selanjutnya." peringat Yoan.
Haara yang mendengarnya sangat senang.
"Yeee!! Terima kasih Yoan!" senang gadis itu menghamburkan pelukan pada Yoan.
Yoan terkejut saat dipeluk Haara secara tiba-tiba, tubuhnya tak seimbang hingga dirinya seloyongan kebelakang.
"AtHaara~ kamu ini, buat aku terkejut saja." seru Yoan menatap Haara yang memeluknya.
"Hihi, maaf~ aku senang dapat satu lolipop lagi dari mu." senang Haara mendongakkan kepalanya menatap suaminya itu.
Yoan terkekeh mendengarnya.
"Sesenang ini kah kau saat aku memebelikan satu lolipop lagi untukmu hm?" tanya Yoan memeluk Haara erat.
Haara mengangguk cepat.
"tak hanya itu, kau membelikan lolipop rainbow nya ini yang ukurannya sedang! bukan ukuran kecil!" senang Haara menunjukka dua lolipop rainbow yang ia pegang itu tepat di depan wajah Yoan.
"Sampai sedetail itu kau tahu ukurannya." kekeh Yoan.
"Tentu saja aku tahu~" senang Haara.
●•●•●•●•●
Kini mereka telah kembali ke apartemen, karena di luar salju mulai berturunan dari langit.
Yoan membuka pintu apartemen nya dan melangkah masuk.
Mereka berdebat sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, hingga sampai di dalam apartemen.
Mereka berdebat karena Haara terus mengatakan jika permen lolipop rainbow tak membiat gigi berlubang kalau tidak di makan setiap hari.
"Tapi kan, aku tak memakan permen lolipop setiap hari Yoan." bingung Haara berjalan mengikuti Yoan melangkah di depannya
"Tetap tak boleh." sahut Yoan sabar, ia mengambil air botol di meja bar dapurnya, tenggorokkan nya kering karena terus menyahut dan berakhir berdebat hal permen lolipop rainbow.
"Kamu ini mirip sekali dengan papaku." cemberut Haara.
"Sungguh?" tanya Yoan meminum air botol nya.
"Ya, sangat mirip, kau itu seperti papaku sekarang." sahut Haara memakan lolipop rainbow nya.
"Tak masalah, lagi pula aku akan menjadi seorang ayah dari anak-anakku darimu nanti." seru Yoan menatap Haara.
DEG!
Gerakan Haara saat memakan lolipop rainbownya terhenti,
Yoan membungkukkan tubuhnya menatap Haara lebih dekat.
"Kau ini sekarang sedang bertingkah seperti seorang anak kecil, dan aku kini sedang belajar untuk memberi perhatian pada anakku nanti, benar begitu bukan?"
Glek!
"Bagaiman menurutmu? Apa aku sudah terlihat dan pantas menjadi seorang papa? Hm?" tanya Yoan mengedipkan sebelah matanya menggoda Haara.
...•...
...•...
...Author : "Yoan sih udah pantes jadi seorang papa, karena umurnya udah tua😆 tapi harus inget juga, Haara masih anak sekolahan😆"...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋...
...Hai, kakak-kakak author👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
...See you tomorrow😇...
__ADS_1