My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sikap yang Aneh


__ADS_3

"Hm, aku lebih suka kau yang bertingkah agresif padaku." bisik Yoan.


Deg!


Tak!


Haara memukul tangan pria itu.


"Mulai deh! dasae mesum!" seru Haara.


"Tak apa-apa, aku lebih suka berfikir mesum jika bersamamu, bahkan kau lebih menarik daripada aku harus menonton film dewasa." seru Yoan pelan.


"Yoan!"


Wajah gadis itu memerah saat itu juga, tubuhnya terasa merinding mendengar ucapan Yoan itu.


"Fikiranmu! Kotor! Kesal deh aku sama kamu!" salah tingkah Haara.


"Tak boleh kesal sama suami sendiri, apalagi membahas hal seperti ini." goda pria itu.


"Ah! Mulai tak beres! Aku mau kembali saja lah ke Villa!" seru Haara kesal.


Yoan tertawa kecil dan menyusul Haara yang jalan cepat meninggalkannya.


●•●•●•●•●


Malam hari kemudian~


mereka baru saja selesai mengadakan pesta barbekyu setelah pesta barbekyu selesai.


Alka mengerutkan keningnya saat mendapati Haara yang tiduran di kamar nya dengan Riza.


"Lho? Ngga sama kak Yoan?" tanya Alka.


"Kesal aku dengannya." sahut Haara ketus.


"Kesal kenapa?" tanya Alka naik ke atas kasur.


"Kalian! Aku ingin cerita~ tapi please jangan bocorkan lagi padanya~" rengek Haara.


"Gapapa seru lho~" sahut Riza.


"Huwaa! Apa kalian tahu ucapan kalian waktu itu saat kalian membuat lelucon tentang bulan madu, kalian membahayakan ku!"


"Bahaya gimana??" tanya Alka.


"Dia hampir menerkamku! Huwaa!! aku belum siap~" histeris Haara.


"Ha? Sungguh??" terkejut Riza.


"Iya! Tolong mulai sekarang jangan mengajaknya bercanda mengenai itu. jika tidak, habis aku~" seru Haara memohon.


"Baiklah baiklah, bahaya jika kelewat batas, maaf ya Haara~" kekeh Alka.


"Iya~ please jangan di ulangi lagi." cemberut Haara.


"Dan juga, dia sangat pandai sekali mengganti topik pembicaraan dan berujung kembali lagi membahas hal-hal mesum, itu membuatku was-was!" curhat Haara menutupi tubuhnya.


"Kalian ... tidur satu kamar?" tanya Riza.


Haara mengangguk.


"Hahh! serius??! yang ada kau yang mendekati bahaya!" seru Riza terkejut.


"Kenapa tidak tidur berpisah dulu sampai kau lulus?? Pria dewasa itu berbahaya lho." seru Alka.


"Aku tak tega menolaknya, dia ingin tidur bersamaku." sahut Haara pelan.


"Kalian hanya tidur saja kan? Dia tak macam ..."-Riza.


"Kepalamu! Dia itu tidur selalu memelukku tahu! Coba kalian rasakan di posisiku, pasti jantung berdegup tak sehat karena was-was." kesal Haara.


"Boleh memangnya?" tanya Alka terkekeh.


"Hm? Boleh apa?" tanya Haara balik.


"Katanya rasakan di posisimu, di peluk kak Yoan, aku mau dong~" seru Alka.


"Tidak! Ku tarik ucapanku!" sahut Haara cepat.


"Minta jaga jarak saja, bahaya lho, nanti jika kak Yoan lepas kendali bagaimana? Selebihnya pasti dia berfikirnya kalian sudah sah pasti ia berfikir tak masalah melakukan hal itu." jelas Riza.


"Saat itu pernah aku menyuruhnya untuk jaga jarak, tapi dia tak mau."


"Wah! Bucin parah dia sama kamu." takjub Alka.


Haara salah tingkah saat itu juga.


Tok! Tok! Tok!


Riza, Alka dan Haara dengan kompak menatap ke arah pintu.


Ceklek!


"Eh kak Yoan, hello! Cari AtHaara ya~" seru Alka.


"kenapa kau tak bilang dia di sini, Alka? Bahkan kau tahu tadi aku sedang mencarinya." seru Yoan menatap Alka datar.


"Ya ampun! Iya juga! Ahaha! Maaf kak Yoan, aku lupa!" kekeh Alka.

__ADS_1


Yoan menghela nafasnya pelan.


"Katanya mau jalan-jalan di pinggir pantai, ayo." seru Yoan pada Haara.


"Eh iya! Aku lupa! Yey!" antusias gadis itu.


Haara meletakkan telunjuknya di bibirnya untuk Riza dan Alka, dengan artian harus tutup mulut mengenai apa yang ia ceritakan tadi.


"Riza, kau tahu Yifan kemana?" tanya Yoan.


"Yifan pergi mengantar kak Yuu tadi." sahut Riza.


Yoan mengangguk-angguk paham.


"Jika dia menemuimu, bilang aku mencarinya." seru Yoan menarik tangan Haara pergi.


"Baiklah." sahut Riza.


●•●•●•●•●


Angin malam yang dingin berhembus kencang, air laut yang surut dapat telihat jelas sekali perbedaannya dengan tadi saat matahari masih menunjukkan sinarnya.


Haara berpindah dari sebelah kiri Yoan ke sebalah kanan.


"Kenapa?" bingung Yoan.


"Seram ombaknya, besar sekali!" seru Haara menatap ombak yang terus berdatangan.


"Tentu saja, ini malam hari, ombaknya akan besar karena angin malam yang berhembus lebih kencang." jelas Yoan.


Haara tersenyum menatap Yoan yang sedang menjelaskan seperti seorang guru.


Pria itu menghentikan langkahnya saat gadis itu berhenti.


Srett!


Yoan sedikit terkejut dengan Haara yang memeluknya erat, tanpa berfikir panjang, Yoan membalas pelukan Haara.


Cup!


Satu kecupan di pucuk kepala gadis itu di berikan oleh pria itu.


"Dingin ya?" tanya Yoan lembut.


Haara menggeleng.


"Aku hanya ingin peluk Yoan seperti ini, nyaman~" sahut Haara.


"Peluk saja aku sesuka mu." sahut Yoan memejamkan matanya dengan senyuman yang mengembang.


"Baiklah, hahh~ aku merasa tenang sekali di pelukkanmu, jadi gak mau lepasin~" seru Haara menikmati momen itu.


"AtHaara, kenapa kamu jadi manja sekali denganku? Hm?" tanya Yoan.


"Akupun tak tahu." sahut Haara memejamkan matanya.


Yoan menunduk menatap Haara yang mendongak menatapnya.


Terlihat gadis itu mengangkat sebelah tangannya, gadis itu mengelus-elus pipi pria itu sayang.


Yoan memejamkan matanya menikmati elusan lembut pipinya dari gadisnya itu.


"Kenapa kau tampan sekali, Yoan?" seru Haara.


"Mana ku tahu, tanya mama kenapa anaknya tampan sekali." kekeh Yoan.


"Mama pasti juga akan jawab yang sama seperti ucapanmu." kekeh Haara juga.


Haara mengusap alis tebal yang terukir tegas pria itu, lalu menyentuh bulu mata pria itu, berlanjut lagi menyentuh hidung mancung pria itu.


"Kau tahu? Dulu aku berfikir bagaimana type ideal pria yang aku suka?" tanya Haara.


Yoan berfikir keras.


"Seperti Ammar, mungkin." jawab Yoan


Haara menggeleng cepat.


"Bukan? Padahal saat itu kau pernah mengaku jika Ammar itu pacarmu." seru Yoan bingung.


"Bukan, aku lakukan itu juga demi diriku sendiri agar diriku berhenti di usik teman-teman pria di sekolahku." jawab Haara.


"Ah, iya juga. Lalu seperti apa pria ideal mu?" tanya Yoan.


"Kamu." sahut Haara tersenyum.


"Aku??"


Haara mengangguk.


"Saat dulu aku ingin sekali memiliki pacar, namun aku ini adalah gadis yang pemilih, tak mudah aku menerima seseorang di hatiku kecuali aku menyukainya." seru Haara.


"Aku awal nya sangat tak percaya akan di jodohkan oleh mu, bahkan kau adalah pria idealku sekali, apa sungguhan? Namun semua sungguhan, itu membuat aku sangat senang sekali." jelas Haara jujur.


Cup!


"Terima kasih ya karena menjadikan aku type ideal mu." seru Yoan mencium kening Haara.


Haara membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Entah kenapa, Haara merasa ingin terus bermanjaan dengan Yoan sekarang ini, ia merasa ada perasaan tak enak dalam hatinya yang tiba-tiba hadir.


Hal itu membuatnya terdorong untuk memeluk pria itu erat dan mengutarakan semuanya.


Rasa nyaman dan tenang pun menyelimuti dirinya saat itu juga, perasaan takut dan tak enak perasaan dalam hatinya seketika lenyap begitu saja.


Yoan terdiam saat melihat kedua tangan gadisnya melingkar di lehernya.


"Yoan, kamu percaya padaku, kan? Jika aku sudah kembali mencintaimu." seru Haara dengan raut serius.


"Tentu aku percaya padamu AtHaara, semua nya bahkan telah tergambar jelas dari sikap perlakuanmu padaku." sahut Yoan mencubit hidung Haara.


"Kamu cinta sama aku juga kan, iyakan?" tanya Haara lagi dengan raut takut.


Yoan mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang aneh dengan gadis nya ini sejak tadi.


"Aku mencintaimu AtHaara, sangat mencintaimu." sahut Yoan.


"Kamu kenapa sih?" tanya Yoan tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Aku? Kenapa? Tidak apa-apa."


"Tidak, pertanyaanmu membuatku bingung, apa kau ..."


Cup!


Ucapan Yoan terhenti, ia terkejut saat Haara mencium bibirnya tiba-tiba.


"Aku tak apa-apa Yoan, hanya saja aku merasa aku semakin dalam mencintaimu." seru Haara.


Deg!


Yoan mematung saat mendengarnya, ini sebuah kejutan yang sangat membahagiakan sekali untuknya.


"Benarkah? Kau hampir membuat jantungku berdegup tak normal." seru Yoan tersenyum.


Gadis itu hanya tersenyum malu.


"Bisakah kau berikan aku ciuman lagi, AtHaara?" tanya Yoan dengan suara beratnya.


"Tentu." sahut Haara berjinjit dan kembali mencium bibir pria itu, hal itu pun membuat Yoan memeluk Haara erat.


Bersamaan mereka memejamkan mata, menikmati penautan bibir mereka berdua.


Pergerakan lum*tan demi lum*tan mereka berdua terlihat sangat kompak, tentu mereka menikmati pemberian satu sama lain.


'Aku tak bisa membohonginya, aku sungguh menyukai ciuman ini.' batin Haara mengeratkan lingkaran tangannya pada Yoan.


'semoga perasaan tak enakku ini tak mengartikan hal buruk apapun.' batin Haara.


...•...


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author: "kira-kira Haara kenapa ya begitu? ada perasaan yang membuat hatinya resah entah kenapa begitu?🤔"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...🚨Please penilaiannya ya kakak-kakak semua🚨...


...karena itu semua sangat berharga untuk author sendiri😇🙏...


...Hallo kakak-kakak Readers dan kakak-kakak author hebat😍...


...Terima kasih telah setia membaca karya pertama ku ini ya😇...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2