
3 hari telah berlalu, persiapan untuk Try Out kini telah menghantui murid-murid kelas 12.
Kini tak ada waktu main-main, yang ada mereka pun harus serius untuk belajar lebih keras dan lebih giat lagi.
Mengenai masalah Zen Nakayama, masih belum bisa di pungkiri.
Pria itu sukses membuat Haara merasa sangat terganggu atas kehadiran mantannya itu.
Pria itu terus menerus mengganggunya, mau itu bertemu langsung maupun lewat spam chat, Kadang pria itu juga menelfonnya berulang kali.
Ia ingin sekali mengadu dan bercerita pada Yoan mengenai kehadiran Zen,
Namun semua tak pernah bisa di ungkapkan.
Yoan selalu pulang lembur entah jam berapa pria itu pulang, dan mendapati pagi harinya Yoan yang terlelap disamping gadis itu sambil memeluknya erat.
Bahkan Haara sampai tak tega membangunkan Yoan setiap paginya karena melihat wajah lelah pria itu terus tergambar jelas di wajah tampan suaminya itu.
Ia selalu mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Yoan, terus terang pada Yoan, curhat pada Yoan, dan meminta solusi dari Yoan.
Hatinya merasa tak kuat karena Zen terus menganggunya.
Alka dan Riza tak tahu jika Zen itu adalah mantan kekasih Haara, melainkan yang mereka tahu Zen itu salah satu penggemar berat Haara dalam pandangan pertama.
Yifan pun turut memantau Haara dalam diam tanpa ia ketahui juga jika Zen mantan dari kakak iparnya itu.
Namun, saat Yifan bertanya tentang siapa sebenarnya Zen, Haara selalu memberi alasan lain dan mengatakan ia tak mengenal Zen sama sekali sejak awal.
Saat Alka, Riza maupun Yifan ingin melaporkan pada Yoan, Haara selalu melarang keras, Haara sungguh tak ingin mengganggu kefokusan pria itu sampai urusan pria itu benar-benar selesai.
Tanpa sungkan Haara mengancam Yifan, Alka dan Riza jika mereka sampai mengadu pada Yoan tanpa sepengetahuannya, dirinya akan berlaku di luar dugaan mereka.
Tentang kebohongannya mengenai jika Yifan adalah tunangan nya pun terbongkar karena Zen menyelidiki tentang Haara dari siswa-siswi lain.
Sangat menyebalkan!
Ingin sekali ia menelfon Yoan dan menyuruh pria itu pulang cepat dan menumpahkan semua rasa kesal dan takut di hatinya pada pria yang ia cintai itu.
Ia inginkan itu!
• • •
Dapat dilihat jelas, Haara berjalan sangat hati-hati sambil melihat sekitar nya, ia tak ingin Zen melihatnya, ia ingin lolos dari pria itu.
"AtHaara."
Langkah Haara terhenti, hatinya mencelos seketika.
Sret!
Dengan cepat Haara menghempaskan tangan Zen yang memegang tangannya.
"Galaknya, aku antar pulang yuk!" seru Zen tersenyum.
"Berapa kali sih saya bilang! Saya tidak mau! Menjauhlah dari saya!" seru Haara meninggikan suaranya.
Grep!
Zen mencengkram tangan Haara erat, membuat Haara menghentikkan langkahnya.
"Jika anda tak lepaskan, saya akan berteriak jika anda melecehkan saya!" ancam Haara.
Bruk!
Zen menyeringai, Zen menyudutkan Haara di dinding.
"Apa yang ingin anda lakukan?!" takut Haara mencoba mendorong tubuh Zen.
"Apa kamu memang ingin aku macam-macam padamu ya?" goda Zen.
Haara yang mendengarnya bergidik takut.
Zen menarik dagu Haara dan bersiap akan mencium Haara, namun ...
PLAK!!
Zen terkejut saat Haara menampar pipinya kuat.
"Brengs*k! Dasar hama penggangu!! Bahkan anda lebih buruk tingkatnya dari para hama!! pria gila!!" teriak Haara kesal mendorong tubuh Zen kuat hingga Zen terhuyung ke belakang.
Haara dengan cepat lari dengan tubuh gemetar hebat.
Dia hampir di lecehkan oleh Zen, jika saja kesadarannya telat, pria itu akan mendapatkan sebuah ciuman yang selalu ia persembahkan untuk suaminya seorang.
Ia butuh seseorang untuk melindunginya sekarang.
Ia tak bisa mengharapkan Riza dan Alka, mereka kini sedang mengikuti rapat klub mereka masing-masing.
Jika Yifan? Dia tak tahu pria itu dimana.
"AtHaara, tunggu!" panggil Zen mengejar Haara.
Lagi dan lagi Haara terkejar oleh Zen.
"Lepaskan aku!" emosi Haara bergetar hebat.
Ia merutuki sekolahnya yang sudah sepi sekali. tentu saja, bahkan anak kelas 10 dan 11 di pulangkan lebih awal.
Duk! ... Bruk!!
Haara sontak menatap Zen yang terjatuh di atas aspal, pria itu meringis kesakitan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Yuu~" seru Haara dengan air mata menggenang di pelupuk matanya nya.
"Sial, siapa kau! Pengganggu!" seru Zen kesal.
Pandangan Haara terfokus pada Yifan yang lari menghampiri nya dengan wajah kelelahannya.
"Hah~ hah~ untung ada kau kak Yuu." seru Yifan membungkuk kelelahan.
"AtHaara, kamu tak apa-apa??" tanya Yuu khawatir.
Haara menggeleng.
"Pergi kalian! Jangan ganggu urusan ku." seru Zen yang mencoba menarik tangan Haara.
Dengan cepat Haara bersembunyi di belakang Yuu dan Yifan.
Haara mencengkram baju Yuu dan Yifan kuat hal itu membuat Yuu dan Yifan kesal mengetahui Haara ketakutan.
"Dia siapa sih?pemaksa sekali, Kau kenal??" tanya Yuu pada Yifan.
"Dia guru pembimbing untuk kelas 12 disini, dia itu selalu mengganggu Haara." seru Yifan dengan tatapan fokus pada Zen.
"Cih! Apa kau pria sewaan Haara juga? Apa kau akan mengaku jika kau tunangannya Haara? Cih, menggelikan." kekeh Zen.
"Perlu anda tahu, saya dan Yifan ini, saudara dari tunangannya Haara." seru Yuu menatap Zen tajam.
"Hahh~ ternyata kau memiliki bodyguard ya AtHaara, tunanganmu bayar berapa mereka berdua." remeh Zen.
"Melindungi calon kakak ipar kami itu adalah keinginan kami sendiri dari para pria tak berlogika seperti anda." seru Yuu savage.
Haara hanya diam, ia larut dalam fikirannya, ada satu nama yang ia butuhkan kehadirannya saat ini.
Ia membutuhkan Yoan~
"Aku tak ingin buat keributan disini, pergi!" seru Yuu membentak.
Zen menggertakkan giginya.
"AtHaara, aku hanya ingin minta maaf padamu aku telah membuatmu takut dan hampir berlaku hal yang tak kau suka, maafkan aku." seru Zen melangkah pergi.
Yuu menghela nafasnya mencoba menghilangkan emosinya.
"AtHaara??" panik Yifan saat mendapati Haara menangis.
Yuu pun ikut panik saat itu juga.
"Haara, apa yang dia lakukan padamu tadi??" tanya Yuu.
Haara tak menjawab, gadis itu semakin terisak histeris.
"Kak Yuu, bagaimana ini?" tanya Yifan.
"Kak Yoan sedang sibuk belakangan ini, sudah empat hari ini kak Yoan hanya mengantar Haara kesekolah tanpa menjemputnya pulang." jelas Yifan.
"Ha? Apa dia tak perduli sama sekali dengan istrinya??" tak sangka Yuu.
"Ak-aku tak mau ganggu Yoan, aku gak mau Yoan yang sudah lelah dengan urusan pekerjaannya itu kembali terbebani oleh masalah ini~" isak Haara.
"Tapi AtHaara, mau apapun itu, kamu harus tetap bilang pada Yoan." seru Yuu tak habis fikir.
"Aku kira aku bisa menanganinya sendiri, tapi aku gagal." sahut Haara sesenggukan.
Yifan dan Yuu saling bertatapan.
"Aku mau pulang~" isak Haara.
"Ah, baiklah, kami antar kamu pulang ke rumah ..."-Yuu.
"Ke penthouse!" sela Haara menolak keras.
"A-ah, baiklah ke penthouse, ayo Yifan." seru Yuu.
●•●•●•●•●
Kini mereka telah tiba di apartemen, mereka kini masuk ke dalam lift khusus.
Yifan kini tengah berusaha mengajak bicara Haara yang hanya diam membisu sejak tadi.
Sedangkan Yuu yang sedang dalam sebuah panggilan telefon dari Yoan kedua kalinya.
Yoan kembali menelfon Yuu untuk menanyakan kabar Haara lagi.
"Iya, tubuh kakak ipar terlihat gemetar sekali, sepertinya ia sangat ketakutan." sahut Yuu di panggilan telefon dengan Yoan.
"Ya, cepatlah, dia tak ingin bicara, dia inginnya kamu cepat pulang, dia ingin kamu pulang katanya, pulanglah cepat." jelas Yuu melirik Haara di sampingnya.
"Iya cepatlah." seru Yuu mengakhiri panggilan.
Ting!
Pintu lift pun terbuka.
• • •
Yifan memberikan segelas air putih untuk Haara, ia merasa takut kena marah dengan Yoan saat ini, terlebih telah ikut menyembunyikan hal sebesar ini dari kakak sepupunya yang garang itu.
"Minumlah." seru Yifan.
Dengan perlahan Haara mengambilnya dan meminumnya.
Ceklek!
__ADS_1
Yifan dan Yuu pun dengan kompak menengok ke arah pintu dan mendapati Yoan yang datang dengan raut menahan kesal.
Tatapan Yoan bertemu dengan Yuu, Yuu pun menunjuk Haara yang duduk di sofa dengan dagu nya.
Yoan pun langsung menatap Haara yang duduk di sofa membelakanginya.
Yifan melangkah menjauh untuk memberikan ruang untuk Yoan.
Yoan melangkah mendekati Haara yang sedang minum, dapat dilihat gadisnya itu melamun, gadis itu belum menyadari jika sudah ada kehadirannya.
"AtHaara??" panggil Yoan sangat lembut.
Perlahan Haara tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia menatap Yoan yang berdiri di sampingnya.
Sontak Haara berdiri langsung memeluk Yoan erat.
Yoan pun membalas pelukkan Haara, dapat terdengar jelas Haara isakkan pada mulut gadisnya.
"Yoan~ aku takut Yoan~" isak Haara, tangis nya pecah dalam pelukkan Yoan saat ini juga.
"Apa yang telah ia lakukan padamu??! Siapa dia??!" tanya Yoan menahan emosi.
"..."
Haara diam membisu.
Yoan pun menatap Yifan meminta penjelasan.
"Dia ... dia adalah guru pembimbing di sekolah." sahut Yifan takut.
"Ha??? guru pembimbing?!!" terkejut Yoan.
"Yoan." panggil Haara.
"Hm? Ada apa?" tanya Yoan menunduk untuk menatap Haara.
"Maafkan aku." seru Haara pelan.
Yoan mengerutkan keningnya bingung.
"Maaf? Kenapa kamu minta maaf AtHaara??" bingung Yoan.
"Ak-aku minta maaf karena masih menutupi nya darimu~" seru Haara dengan suara yang sangat sedih.
Yoan semakin kebingungan, ia menatap Yuu dan Yifan bergantian.
"Apa yang kau bicarakan AtHaara??" semakin bingung Yoan.
"Di-dia ... dia bukan sekedar guru pembimbing seperti yang lainnya, aku mengenalnya." seru Haara.
"siapa dia?" tnaya Yoan datar.
"Dia adalah Zen Nakayama, mantan kekasihku." seru Haara.
Sontak Yoan, Yuu dan Yifan terkejut bukan main.
"Ma-mantanmu????!!" terkejut Yoan.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "semakin kurang ajar saja Zen, bagaimana respon Yoan selanjutnya ya??🤔"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1