My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sikap Dingin


__ADS_3

Yoan menutup pintu kamar nya dengan hati-hati, namun yang ia dapati Haara baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung merebahan diri di kamar, gadis itu tidur membelakangi Yoan.


Raut wajah gadis itu terlihat datar tak menunjukkan ekspresi apapun saat melewatinya, jujur Yoan benci di saat keadaan seperti ini.


Tanpa fikir panjang Yoan ikut merebahkan dirinya di sebelah Haara, menyelimuti dan memeluk erat pinggang ramping gadis itu.


Tak ada respon sama sekali dari gadis itu, gadis itu tak menolak atau apapun.


"AtHaara?" panggil Yoan.


"..."


"Hey, AtHaara?" panggil Yoan lagi.


"Aku mengantuk ingin tidur." sahut Haara cepat.


"Ah, baiklah." sahut Yoan.


Cup!


Yoan mengecup rambut Haara lama, ia menggenggam erat tangan Haara dan mulai tertidur.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Pagi hari kemudian.


Yoan melirik Haara di sebelahnya mengalihkan pandangannya sebentar saat mengemudi.


Gadis itu hanya diam dan fokus menatap kearah luar jendela, gadis itu lebih menarik melihat lalu lalang kendaraan di luar jendela mobil daripada membuka pembicaraan dengannya.


Sunyi.


Hingga mereka telah tiba di depan gerbang sekolah pun mereka masih diam.


"Aku turun, berhati-hatilah saat berkendara." seru Haara menatap Yoan datar dan akan bersiap untuk turun.


"AtHaara, tunggu." cegah Yoan menahan tangan Haara.


" ... apa?"


"mm~ hari ini aku tak akan lembur, aku akan menjemputmu nanti." seru Yoan.


"Hari ini setelah pulang sekolah ada pelajaran tambahan dari guru pembimbing selama seminggu sebelum ujian, tak perlu menungguku aku akan pulang naik taksi, kau pulang duluan saja, tak perlu menungguku." sahut Haara dingin melepaskan genggaman Yoan dan turun.


Yoan menghela nafasnya kasar saat melihat respon Haara yang sangat datar dan dingin sekali padanya, benar-benar menusuk hati.


Yoan menginjak gas mobilnya menjauh dari area sekolah.


●•●•●•●•●


Haara mencengkram kuat tas nya menahan kesal, mood nya sedang tidak baik sekali saat ini, perasaannya bercampur aduk sekali.


"Yo, AtHaara." panggil seseorang.


"Yifan." seru Haara lesu.


"Kenapa dengan wajahmu? Ini masih pagi lho." seru Yifan.


Haara tak menjawab dan memilih meninggalkan Yifan.


"Hoi tak sopan, mencuekiku." seru Yifan.


"Jangan ajak aku bicara, aku sedang tidak mood, jangan ganggu pergilah, dasar dua saudara yang menyebalkan!" gerutu Haara melirik Yifan yang jalan di sebelahnya.


"Wah! Salah apa aku sampai ikut di marahi denganmu, padahal niatku baik, kecewa aku." tak percaya Yifan.


"Kalian itu memang sama-sama menyebalkan, tiga saudara yang menyebalkan!" sahut Haara datar.


"Aku masih berbaik hati menawarkan diri untuk jadi teman curhatmu ya, aku itu jelas berbeda dengan kak Yoan savage itu, kakak ipar!" seru Yifan.


"Zhao Yifan!"


"Sepi, maka dari itu aku berani memanggilmu kakak ipar." sahut Yifan.


Haara menghela nafasnya sabar, ia melangkah masuk ke dalam kelas nya.


"Ada apa dengan kalian? Mau cerita dengan sepupu suamimu ini? Hm?" tanya Yifan dengan suara berbisik mencoba menatap Haara.


"Masuk ke kelas mu sana, tak terima tamu di kelasku, dasar kalian berdua itu sama-sama menyebalkan ." tolak Haara menduduki dirinya di kursi nya.


"Aku kena sambar lagi." hela nafas Yifan menduduki dirinya di depan kursi Haara.


"Lho? Yifan? Kamu ngapain disini?" tanya Alka.


"Tak masuk ke kelas? Jangan bilang kau salah masuk kelas lagi?" tanya Riza.


"Tidak kok, aku sedang menawarkan diri untuk mendengarkan keluh kesahnya, ia bertengkar dengan kakak sepupuku, tapi aku tak terima aku kena sambar nya, marah dengan siapa aku yang kena marah, menyebalkan." jelas Yifan.

__ADS_1


"Kalian berdua memang sama-sama menyebalkan, hush hush!" usir Haara.


"Hey, ada apa sih? AtHaara?" tanya Alka.


Haara menenggelamkan kepalanya ditumpukkan tangannya, ia menggeleng cepat.


"Ya sudah, aku mau ke kelas saja, Haara, kak Yoan tadi kirim pesan padaku untuk jadi teman curhat mu mengenai kemarahanmu sama kak Yoan, jika kau butuh teman curhat datang ke kelasku." seru Yifan pergi.


"Ha?"-Haara tak menyangka.


"Kau sedang marahan dengan kak Yoan?" tanya Alka.


Haara mengangguk,


"Aku yang marah sama dia, mengenai ucapan Yifan tadi, itu bermaksud karena Yifan memahami kak Yoan, bukan berarti aku tak menganggap kalian ya? Maaf." seru Haara tak enak.


"Tidak apa, memang kami tak tahu mengenal lebih kak Yoan, melihat kau mendapat teman curhat yang tepat kami senang." seru Riza.


Haara tersenyum senang mendengarnya.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Singkat waktu, hari telah menjelang sore, jam pulang sekolah pun telah tiba, bel pulang pun telah nyaring berbunyi.


Haara memasukkan bukunya ke dalam tas nya, ia mengecek ponselnya saat ponselnya berdering ada pesan masuk.


...'Aku menunggumu di depan gerbang sekolah.'...


Haara menyimpan ponselnya tak berniat membalas pesan pria itu.


"Dari kak Yoan?" tanya Alka.


"Hm, dia menunggu di luar gerbang, padahal aku sudah menyuruhnya pulang duluan biar aku naik taksi." sahut Haara.


"Sungguh? Jadi dia lebih memilih menunggumu dong?" tanya Riza.


"Dia lakukan itu karena aku sedang marah dengannya, coba saja jika aku tak sedang marah, pasti dia akan lembur." seru Haara melangkah keluar.


"Tak boleh seperti itu lho, aku memang tak tahu masalahmu dengan kak Yoan, coba kamu balas saja pesannya." seru Alka.


"Ngga, malas." sahut Haara mengambil buku khusus bimbingan belajar di loker nya.


"Hey, kita akan pulang petang lho, kau yakin tak akan membalas pesannya?" tanya Riza.


Haara perlahan mengambil ponselnya, ia membenarkan ucapan kedua sahabatnya.


Haara:


"Sudah ku bilang pulang duluan saja, aku kemungkinan akan pulang petang menjelang malam, jadi tak usah menungguku."


Yoan:


"Tak akan ku izinkan kau pulang hingga menjelang malam naik taksi, aku akan menunggumu."


Haara menghela nafasnya kasar saat membaca balasan pesan dari Yoan.


"Apa katanya?" tanya Riza.


"Dia tak mengizinkanku pulang naik taksi kalau akan pulang hingga malam katanya, dia akan tetap menungguku." jelas Haara.


"Huhuhu, sweet nya~" seru Alka.


"Sweet apanya? Sudah ku bilang dia begitu karena aku sedang marah." sahut Haara ketus.


"Hahh, bingung aku mau menanggapi apa." seru Riza.


Haara kembali memainkan ponselnya untuk membalas pesan Yoan.


Haara:


"Aku akan lama, pulang saja lebih dulu, aku akan pulang dengan Yifan atau dengan Alka."


Yoan:


"Tidak."


Haara:


"Terserah kau saja."


Haara langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas nya dan melangkah masuk ke dalam kelas bimbingan.


●•●•●•●•●


1 jam ... 2 jam ... Telah berlalu.


Jam telah menunjukkan jam setengah tujuh malam.

__ADS_1


Rasa tak enak di hati Haara semakin menjadi-jadi saat ini.


Hingga dua jam lama nya, dia masih mengikuti kelas bimbingan belajar.


"Baiklah, kelas berakhir hari ini."


Semua nya bernafas lega dan bersiap-siap untuk pulang.


'Apa dia masih menungguku? Semoga dia sudah pulang.' batin Haara.


Alka dan Riza yang melihat tingkah Haara saling berbisik dan terkekeh.


"Lho? Yifan mana Za?" tanya Alka.


"Dia bilang tunggu di luar gerbang, katanya mau nemenin kak Yoan di luar." seru Riza mencoba melihat perubahan wajah Haara.


Benar saja, wajah gadis itu terlihat berbeda, Haara melangkah cepat keluar gerbang sekolah.


Haara menggerutu dalam hati saat melihat Yoan sedang asyik berbincang dengan Yifan.


'Kenapa dia menungguku? Ahh! Keras kepalanya dia!' batin Haara menghampiri dua saudara bermarga Zhao itu.


"Sudah selesai?" tanya Yoan saat menyadari Haara yang melangkah menghampirinya.


"Aku sudah menyuruhmu pulang lebih dulu, kenapa kau tetap menungguku??" tanya Haara tak menyangka.


"Tadikan sudah ku bilang di pesan, aku tak akan izinkan kamu pulang naik taksi saat hari akan menjelang malam seperti ini." sahut Yoan.


"Tapi tadi sudah ku bilang juga aku bisa pulang dengan Alka." sahut Haara.


"Hoi hoi hoi, sudah sudah, jangan bertengkar. Haara, kak Yoan jangan di marahin lagi, dia sengaja menunggumu itu atas keputusannya sendiri lho." seru Yifan.


"Tapi kau pasti lelah habis sepulang kerja Yoan, setidaknya kau pulang dan menjemputku saat aku akan pulang, tak harus menungguku hingga ber jam-jam." seru Haara mengucapkan kalimat kekhawatiran.


Yoan yang mendengarnya terkekeh.


"Tak ada yang lucu." seru Haara ketus, ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya kasar.


Brak!!


hal itu membuat Riza, Alka, Yifan dan Yoan terkejut.


"aduh, bisa patah itu pintu." seru Alka bergidik ngeri.


"Hey AtHaara pelan-pelan. Nanti jika kau terjepit gimana??" seru Yoan masih terkekeh.


Tanpa di sangka gadis itu menutup jendela mobil sepenuhnya.


"Wah, yang ada pintu mobil mu rusak kak Yoan." seru Yifan mengerjapkan matanya tak menyangka.


"Katanya juga jika rusak aku bisa beli lagi mobil baru." sahut Yoan.


"Ya ya ya, teeserah apa katamu." sahut Yifan mengiyakan.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."bagaimana dengan part kali ini? tulis di komentar bagaimana pendapatnya ya😇"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...

__ADS_1


...see you next tomorrow❤...


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2