
"Sudah malam, Yoan lebih baik kau kembali ke ruang rawatmu, beristirahatlah." seru Anna.
Tak ada sahutan, Anna melirik Yoan.
"Pantas saja tak menjawab ucapanku." seru Anna.
Terlihat Yoan kini tengah asyik berbicara dengan baby twins, dapat terlihat jelas raut Yoan terlihat sangat senang sekali.
"Yoan?" panggil Haara.
"Hm?" sahut Yoan tanpa menatap Haara.
"Yoan, ini sudah malam, lebih baik sekarang kamu kembali ke kamarmu, dan istirahat ya?" seru Haara lembut.
"Tapi aku masih ingin disini." sahut Yoan.
"Ayo kak Yoan biar ku antar, setelah itu kami akan pulang." seru Yuu.
"Pulang tinggal pulang, aku akan tidur disini." sahut Yoan santai.
"Mau tidur dimana kamu?? Di sofa?? Yang benar saja??" tak percaya Anna.
"Tak apa tidur di sofa juga." sahut Yoan tanpa beban.
"Yoan, jangan mengulur waktu, aku harus bergegas pulang, takut jika anakku kebangun, aku takut Ammar kualahan, ayo." hela nafas Anna sabar.
"Pulang tinggal pulang saja ku bilang, aku tidur disini, tak masalah juga jika tidur di sofa." sahut Yoan tetap terfokus pada kedua anaknya.
"Tak apa kak, Yoan tidur disini, kamar rawatku juga agak lega kok, dia akan tidur satu kamar denganku." senyum Haara.
"Nanti tanpa sadar kalau salah satu dari kalian jatuh bagaimana??" khawatir Anna.
"Tidak akan kok kak, paling jika jatuh, Yoan yang akan terdorong jatuh." bisik Haara cekikikan.
"Dia baru pulih lho, jangan bicara seperti itu." bisik Anna terkekeh.
"Ayo pulang." seru Yifan membuka pintu ruang rawat Haara.
"Kami pulang ya." pamit Anna.
"Sampai jumpa." tambah Hanabi.
"Sampai jumpa~" senyum cerah Haara.
●•●•●•●•●
Haara menduduki dirinya di tepi kamar rawat nya ia menatap Yoan dengan mata berbinar melihat kedua bayi mereka.
"Jangan di gangguin Yoan, nanti mereka bangun." peringat Haara.
"Ahh~ aku gemas sekali dengan mereka berdua." seru Yoan gemas.
Haara melangkah menghampiri Yoan yang tersenyum cerah, ia memeluk Yoan dari belakang.
"Yoan, apa kamu sudah kefikiran siapa nama mereka berdua?" tanya Haara.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Yoan membalikkan tubuhnya.
"Mereka kembar, tapi mereka perempuan dan laki-laki, apa ada sebuah nama yang terlintas di benakmu?" tanya balik Haara.
Yoan menatap dalam anak perempuannya.
"Mm~ Zhao Yu Xi Ti-En, mengartikan ... Mandiri dan bebas, bagaimana menurutmu?" tanya Yoan.
"Yu .. Xi? Bagus, aku tak sangka kau memberi nama dengan arti yang bagus! Lalu panggilannya apa? Yu Xi?" tanya Haara.
"Yu Xi atau bisa juga Xi ... Sissy." sahut Yoan.
"Yu Xi dan Sissy? Aku suka namanya!" antusias Haara.
"Sekarang kamu, siapa nama anak laki-laki kita?" tanya Yoan menyisir rambut Haara ke belakang.
"Bagaimana kalau ... Zhao Yi Ran Ti-En? Panggilannya Yiran, artinya ... aku pernah cari di internet, artinya itu ... penuh minat dan selera." sahut Haara.
"Yi .. Ran?"
"Ya! Yiran, aku ingin dia itu seperti dirimu, karena arti nama Yiran itu sungguh sangat menggambarkan kepribadianmu hehe~" jelas Haara merangkul tangan Yoan.
Yoan terkekeh.
"Yiran, aku suka dengan nama dan makna nya." sahut Yoan.
"Sissy dan Yiran, aku pun suka." seru Haara menduduki dirinya di tepi kasur, namun tak lama Yoan ikut menduduki dirinya di sebelah Haara.
Tuk!
Yoan menundukkan kepalanya saat Haara bersandar di dada bidang nya.
"Yoan~"
"hm?"
"kau sungguh jahat karena telah membuatku sedih selama 3 hari belakangan ini." seru Haara pelan.
"Tiga ... Eh??"
"Kau kritis selama 3 hari Yoan~" sahut Haara.
"Ha??!"
"Kau kehilangan banyak darah, kenapa kau sangat ceroboh sekali Yoan~" kesal Haara.
Yoan masih tak menyangka jika dia kritis selama 3 hari, ia mengira jika ini masih di hari yang sama saat ia pingsan di ruang UGD, ternyata hari demi hari telah berlalu.
"Maafkan aku, jika saja aku tak ceroboh, aku tak akan membuatmu sedih."
Haara memeluk Yoan posesif.
"AtHaara?"
"Iya Yoan?"
"Bisakah ... Kau ceritakan padaku dimana saat kau kembali ke dunia ini?" tanya Yoan ragu.
__ADS_1
Haara menghela nafasnya pelan.
"Aku mau tiduran." seru Haara.
"Tiduran??"
"Tiduran di kamar rawatku tapi denganmu." sahut Haara melepaskan pelukkannya.
"Tapi ... Jika aku ikut tiduran bersamamu kau akan merasa sempit, tidurmu nanti tak nyenyak." prihatn Yoan.
"Mau kamar lega maupun kamar sempit sama saja, saat tidur di Penthouse kau selau memotong jarak denganku, apa bedanya?" sindir Haara.
Yoan tertawa kecil mendengarnya.
"Baiklah, ayo kita tiduran." sahut Yoan lembut.
Yoan membantu Haara merebahkan dirinya, lalu giliran pria itu mengatur posisi nyamannya menghadap Haara.
Yoan terkekeh saat Haara kembali memeluk nya cukup posesif, bergelayut manja di dada bidangnya.
"Ahh~ sayangnya aku~" seru Yoan terkekeh, hal itu mendapat respon kekehan juga dari Haara.
"Jadi? Bisa kau mulai bercerita sekarang? Hm?" tanya Yoan mencium pucuk Haara sekilas.
"Yang ku ingat ... saat itu aku merasa perutku sangat sakit sekali, saat aku membuka mataku, aku sudah berada di rumah sakit, ternyata saat itu sudah waktunya aku melahirkan, lalu dokter dan perawat datang menghampiriku." jelas Haara.
"Itu sungguh sangat menyakitkan sekali, sangat menyakitkan, aku seperti merasa tulang punggung ku hampir patah Yoan, sakit sekali." keluh Haara.
"Jadi, kau melahirkan secara normal?" tanya Yoan tak menyangka.
Haara mengangguk.
"Aku merasa senang sekali bahwa aku bisa melahirkan mereka berdua secara normal, dan bahkan membuat mereka lahir ke dunia ini, aku sangat bangga sekali pada diriku sendiri." senyum Haara.
Yoan menarik dagu Haara agar Haara menatapnya.
"Aku pun bangga sekali." seru Yoan menyelipkan rambut Haara di belakang telinga, Haara membalas dengan senyuman.
"Aku sungguh bingung saat itu, karena aku sama sekali tak mendapati dirimu, aku bingung kau tak ada disisiku." seru Haara pelan.
"Dan tanpa ku sangka, mama dan kak Anna memberitahuku jika kamu sedang kritis tepat saat aku mengharapkan kehadiranmu untuk melihat kedua anak kita, hatiku sakit sekali mendengarnya." isak Haara.
Yoan mengusap air mata Haara lembut.
"Ak-aku sungguh tak kuat sekali saat melihatmu di pasangkan alat-alat aneh, aku sungguh tak kuat melihatnya, aku sangat takut jika kau meninggalkanku, aku tak mau itu~" isak Haara.
"Jangan berfikir seperti itu hey, aku tak mungkin meninggalkanmu." seru Yoan menenangkan Haara, ia mengusap air mata Haara yang terus menetes.
"Aku takut~" sesengukan Haara.
Cup!
Satu kali kecupan singkat di bibir Haara.
Cup!
Dua kali kecupan singkat.
Ciuman ketiga, Yoan mengecup bibir Haara agak lama.
"Sudah cukup pembahasannya ya? Jangan di bahas lagi, oke?" seru Yoan lembut.
Haara mengangguk.
Cup!
Lagi, Yoan mencium bibir Haara, kali ini berbeda pria itu mencium Haara sangat menuntut.
Haara di buat mabuk dengan ciuman yang Yoan berikan, hal itu membuat Haara melingkarkan tangannya di leher Yoan, ia ingin Yoan memperdalam ciuman mereka.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Keesokan harinya kemudian.
Matahari kini sudah menunjukkan jati dirinya, cerah menderang.
Haara membuka matanya perlahan, ia merasa jika pundak nya terasa agak berat.
Siapa lagi kalau bukan Yoan yang memeluk dirinya.
Haara menahan senyumnya senang.
Ia tak mempermasalahkan itu, karena ia menyukainya.
Haara menatap tangan kekar Yoan yang melingkar di perutnya, dengan perlahan ia mengangkat tangan pria itu agar ia bisa memutar tubuhnya menghadap pria itu.
Gadis itu sedikit terkejut saat Yoan menarik tubuhnya, pria itu bergelayut manja di tangan Haara.
Haara terkekeh saat melihat tingkah manja Yoan padanya.
Tatapan gadis itu terfokus pada luka yang di perban tepat di pelipis sebelah kiri pria itu.
Dengan perlahan Haara menyisir rambut Yoan ke belakang karena rambut pria itu telah menutupi mata pria itu.
"Lagi tidur saja tampan sekali~" gumam Haara mengelus pipi Yoan dengan hati-hati.
Haara merasa ini adalah kesempatan untuk bisa mengagumi wajah Yoan dari jarak sedekat ini, jantungnya berdegup sangat kencang saat ini.
Jarinya kini menjelajah dari kedua alis tebal yang terukir tegas milik pria itu, lalu bulu mata yang sedikit lentik milik pria itu.
Hidung mancung, dan bibir yang ...
'Bibir ini lah yang membuatku mabuk kepayang semalam~' kekeh Haara menyentuh bibir Yoan.
Deg!
"kyaa!" terkejut Haara.
__ADS_1
Yoan terkekeh saat mendengar teriakan tertahan Haara.
"iii!! Yoan! ke-kenapa jariku di jilat!" gelagap Haara.
"Hm~" dehem pria itu menggenggam tangan Haara yang berada di depan wajahnya.
"apa yang sedang kau lakukan? Jarimu ... Geli sekali." seru Yoan dengan suara baritonnya.
Haara pun langsung menatap kedua mata coklat tua milik pria itu, tatapan sayu dan suara serak bariton khas pria itu bangun tidur membuat tubuh Haara merinding.
"Cuma pegang saja, aku suka." sahut Haara malu, ia masih syok saat Yoan menjilat jarinya.
Tanpa di sangka, Yoan dengan gerak cepat mencium punggung tangan Haara.
"Eh? Yo-Yoan!"
"Gigit ya tanganmu?" tanya Yoan menatap Haara menggoda.
"Ih, ngga! La-lagian kotor ih, kenapa gigit-gigit sih~" takut Haara mencoba menarik tangannya.
"Ya sudah, gigit ini boleh?" tanya Yoan.
Haara mengerjapkan matanya saat Yoan menunjuk bibirnya.
"Ngga ngga, aku belum sikat gig ... Mmpph!" bungkam Haara.
Ckit!
"Ahw~ ihh! Yoan sakit!" kesal Haara mengusap bibir bawahnya, pria itu sungguh menggigit bibir nya.
"Sakit?? Sini aku cium biar hilang sakit nya." seru Yoan mencoba mencium Haara namun Haara menutup mulutnya.
"Ngga! Aku bilang aku belum sikat gigi!" tolak Haara.
"Tapi semalam kita sikat gigi bersama." sahut Yoan mengunci Haara di bawahnya.
"Ngga mau, Yoan! Nanti kalau ada yang masuk bagaimana??" panik Haara.
"Mereka pasti akan ketuk pintu, ayolah."
"Oeekk~ oeeek~"
Haara melirik ke samping kanan, Yiran dan Sissy menangis.
Cup!
Haara dengan cepat mencium bibir Yoan sekilas, dengan cepat ia keluar dari kurungan Yoan dan menghampiri Yiran dan Sissy.
"Sudah bangun ya anak mama dan papa~" seru Haara menggendong Yiran yang menangis.
Yoan menghela nafasnya sabar.
Tok tok tok!
Haara menatap ke arah pintu, perlahan ia turun dari atas kamar rawatnya.
"Masuk." seru Haara.
Ceklek!
"Nyonya, kami kesini untuk memandikan kedua bayi nyonya dan mengantar kan sarapan untuk anda dan tuan Yoan." seru salah satu perawat.
"Terima kasih, ah! mereka sudah bangun kok, saya minta tolong ya suster." sahut Haara lembut.
"Baik nyonya."
Haara menatap Yoan yang kini sedang menatap nya, pria itu merajuk.
'Hahh~ dia merajuk.' hela nafas Haara.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author:...
..."ga kenal tempat ya😆 di rumah sakit pun jadi ya Yoan, ga di turutin Yoan ngambek lho itu Haara, ayoloo~ Yoan merajuk lho Haara😆"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1