
Yoan menatap Haara di pangkuannya dengan tatapan penuh kemenangan, karena keinginannya tak sesulit yang ia bayangkan.
"Yoaaan!!" teriak Haara gelagapan.
Bukannya menjawab Yoan terus menatap Haara dalam.
"Yoan! lep ..."
"Apa AtHaara sayang~" sahut Yoan dengan nada lembut.
Wajah Haara terasa sangat panas kali ini, sudah dengan posisinya yang duduk di atas pria itu, pria itu pun menatapnya dengan menggoda dan sekarang memanggil namanya di tambah kata 'sayang'.
"Nyebelin kamu ya!! Lepaskan tanganmu dari pinggangku!!" seru Haara mencoba ingin lepas.
"Tidak, aku ingin kau tetap di pangkuanku, tetap lah diam duduk di pangkuanku." sahut Yoan memeluk tubuh Haara.
Haara merasa tubuhnya merinding, ia terus berusaha memberontak, namun tak kalah saing dengan pendirian Yoan yang terus menahan Haara.
"Yoan lepaaaass!!" teriak Haara memukul pundak Yoan beberapa kali.
"Aw aw sakit! Awh~" ringis Yoan, bahkan pukulan gadis itu sangat kuat membuat denyutan kuat di pundaknya.
"Eh eh? Apa aku memukul nya terlalu keras??" tanya Haara sedikit panik.
"Awh, sakit~" keluh Yoan.
"Maaf maaf, aduh aku tak sadar memukulnya terlalu kencang." seru Haara mengusap-usap pundak Yoan.
Yoan memejamkan matanya saat merasakan gerakan tubuh Haara yang panik di pangkuannya, itu membuat dirinya merasa tubuhnya sensitif sekarang.
"AtHaara, jangan banyak bergerak." seru Yoan dengan suara tertahan.
"Eh?? Kamu kenapa??" panik Haara melihat ekspresi Yoan yang sedang memejamkan matanya seperti menahan sesuatu.
"Apa sangat sesakit itu?? Apa memar ya?? Coba biarkan aku ambil minyak ..."
Belum selesai Haara berbicara, Yoan kembali memeluk Haara lebih erat.
"Yoan? Kamu baik-baik saja?" panik Haara mencoba melihat wajah pria itu.
"hey ,Yoan~" panggil Haara memaksa agar pria itu menunjukkan wajahnya.
"AtHaara, sudah kubilang jangan membuat banyak pergerakkan." seru Yoan tertahan.
"Tapi kamu kenapa?? Kamu sakit??" panik Haara terus mencoba melihat wajah Yoan.
Dapat terasa nafas tersegal-segal pria itu terdengar jelas di indra pendengaran Haara saat ini.
"Hey Yoan?? Jangan menakutiku ih! Hey coba tatap aku!" panik Haara.
Haara merasakan jika Yoan mencengkram baju punggungnya kuat.
"Yo ..."
Srett! Bruk!!
Haara membelalakkan matanya terkejut saat Yoan dengan tiba-tiba menjatuhkan dirinya di atas kasur.
Haara menatap Yoan di atasnya yang mengunci pergerakkannya, wajah pria itu terlihat sayu dengan nafas tersegal-segal.
"Sudah ku bilang jangan membuat pergerakkan di atasku, kau telah membuat pertahananku runtuh, AtHaara." seru Yoan menatap Haara seperti akan menerkam.
Haara hanya diam, gadis itu tanpa sadar telah menunjukkan wajah yang membuat pertahanan sisa yang Yoan miliki runtuh sepenuhnya.
Perlahan Yoan memegang kedua pipi Haara dan ...
Cup!
Dengan cepat Yoan mencium hingga ******* habis bibir Haara membuat Haara kualahan tak bisa mengimbangi gerak bibir dan lidah liar Yoan di dalam mulutnya.
Suara decakkan telah mebuat bising di kamar mereka, kesunyian kini tergantikan.
Tangan Yoan kini tengah sibuk membuka baju seragam yang masih Haara kenakan dengan cepat.
Haara perlahan membuka matanya saat Yoan menghentikan semuanya secara tiba-tiba.
Ia menatap Yoan di atas nya yang kini sedang menatap nya tajam.
"Kenapa kau tak melawan?" tanya Yoan.
Haara hanya diam tak berniat menjawab.
"Apa kau sadar jika kau diam seperti tadi itu akan membuat aku benar-benar melakukan hal itu." seru Yoan.
"..."
Yoan mendecih saat melihat Haara di bawahnya dengan wajah yang polos.
"Apa-apaan raut wajahmu, apa kau sadar saat ini raut wajahmu yang akan kembali membuat kewarasanku hilang??" tanya Yoan tak habis fikir.
"Kenapa dengan wajahku?" tanya Haara polos.
__ADS_1
Yoan meyakinkan satu hal dalam hatinya saat ini saat melihat reaksi polos gadis itu, gadis nya benar-benar polos.
"Apa jangan-jangan kau takut untuk memberontak di saat aku hampir lepas kendali seperti tadi??" tanya Yoan tajam.
"Ti-tidak." sahut Haara gugup.
Yoan semakin bingung saat ini, ia benar-benar tak paham dengan semua ini.
"Kau tak takut denganku yang hampir lepas kendali tadi???"
"Tidak Yoan."
"Jika kau tak takut, kenapa kau tak memberontak? Setidaknya menamparku atau mendorongku dengan tenaga yang kau punya, ada banyak cara nya AtHaara."
"Kenapa aku harus lakukan itu? Aku tak akan menamparmu." tanya Haara mengalihkan pandangannya.
"Kenapa katamu?? Apa kau tak takut aku akan membuatmu hamil?? Bahkan aku tak memiliki persediaan obat pencegah kehamilan seperti saat darurat kemarin untukmu, AtHaara." seru Yoan serius.
Tanpa di sangka Yoan terkejut saat Haara mengalungkan tangannya di lehernya dan ...
Cup!
Gadis itu tanpa di sangka menciumnya hingga ******* bibir Yoan lembut.
Haara menatap Yoan yang terkejut.
"AtHaara??" mematung Yoan.
"Ji-jika kau menginginkannya, la-lakukanlah, ak-aku akan memberikan tubuhku tanpa perlawanan malam ini." seru Haara dengan wajah tersipu merah.
Deg!
Yoan terkejut bukan main saat mendengar ucapan Haara yang terlalu mengejutkan untuknya.
"H-Ha?" tak menyangka Yoan.
"aku ... ak-aku akan berikan tubuhku malam ini untukmu, anggap ini adalah bukti jika aku benar-benar mencintai Yoan." seru Haara gugup.
Yoan masih terdiam menatap Haara dibawahnya dengan ekspresi masih terkejut.
"Yoan?" panggil Haara.
"aku akan beli ..."
"ta-tak usah Yoan." sergah Haara.
"tak usah?" bingung Yoan mengerutkan keningnya.
"se-sebenarnya aku telah meminum pil pencegah kehamilan yang kau buang saat itu." jelas Haara sama sekali tak berani menatap Yoan, jika ia menatap pria itu, hati nya berdegup sangat kencang.
"Hm, sudah Yoan." senyum tipis Haara perlahan menatap Yoan yang tak berkedip sedikitpun menatapnya.
"Kenapa kamumemandangku terus?" tanya Haara takut.
"Kau ... sungguh mengizinkanku melakukan hal ini?" tanya Yoan tajam.
Haara mengangguk.
"Lakukanlah, aku tak akan melawan seperti saat itu, lakukan sesukamu." sahut Haara lembut.
Yoan yang mendengar ucapan Haara tak bisa menahannya lagi, gadis nya kini dengan sendirinya dan tanpa terpaksa memberikan izin sesungguhnya padanya.
"Aku milikmu Yoan, lakukanlah aku akan memberikan diriku malam ini." seru Haara tersenyum tulus.
"Jika kau sudah berkata seperti itu, aku akan lakukan apa yang kau katakan, aku berharap kau jangan minta berhenti saat di pertengahan." seru Yoan dengan suara tertahan.
Haara mengangguk.
Deg!
Haara membulatkan matanya terkejut.
Bagaimana tidak?
Ia kini mendapat sebuah serangan yang membuat dirinya gelagapan saat itu juga, hal itu membuat dirinya terkejut dan kualahan bukan main saat Yoan benar-benar mulai menerkamnya.
Haara sampai sempat mengira pria itu seperti kerasukan saat ini.
Gadis itu hanya bisa mencengkram seprei nya kuat dan mengeluarkan semua rintih dan desah nya yang tidak dapat ia tahan lagi.
'Apa ucapanku terlalu berlebihan?? Bahkan aku merasa aku terancam tubuhku akan remuk dan tidak akan dibiarkan tidur malam ini!' batin Haara merutuki dirinya sendiri.
●•●•●•●•●
Haara menghela nafasnya yang tertahankan tadi.
Ia mengelus-elus rambut Yoan pelan yang kini pria itu jatuh di pelukkan nya, nafas mereka sangat tidak teratur sekali saat ini.
Yoan bangkit secara perlahan.
hari telah menjelang dini hari, Yoan menghentikan aksinya saat melihat Haara tertidur kelelahan tanpa ia sadari.
__ADS_1
"sudah terlelap ternyata." senyum tipis Yoan.
pria itu menyelimuti tubuh nya dan tubuh Haara yang sudah berada di pelukkannya saat ini.
Cup!
"sepertinya aku terlalu berlebihan" kekeh Yoan mengecup kening Haara.
"Mmh~ Yoan~" panggil Haara dengan suara serak nya.
"Hm? Ada apa?" tanya Yoan lembut.
"Aku haus~" rengek Haara dengan mata masih terpejam.
"Aku ambilkan minum untukmu di bawah ya? Kamu tunggu sebentar ya?" tanya Yoan, gadis itu mengangguk.
Yoan mengusap rambut Haara sayang dan setelah ia berpakaian dan melangkah keluar dari kamar.
Tak menunggu lama Yoan telah kembali membawa segelas air putih.
Pria itu tersenyum saat melihat Haara sudah terduduk dan berusaha menutupi tubuhnya saat menyadari kehadirannya.
"Ini, minumlah." seru Yoan.
"Terima kasih Yoan." senyum Haara.
Yoan memerhatikan Haara yang meminum air nya hingga habis setengah.
"Yoan, kamu haus?" tanya Haara.
"Tidak, aku sudah minum di bawah." senyum Yoan mengembang.
"Baiklah, jika seperti itu aku habiskan air nya." seru Haara meminum air nya hingga habis.
"Yoan, tolong simpankan di atas nakas." seru Haara menyodorkan gelas nya.
"Yoan." panggil Haara.
"Iya ada apa? Suka sekali memanggil namaku." kekeh Yoan.
"Hehe, mm~ apa kau tak takut dengan ancaman papa?"
Perlahan Yoan berhenti terkekeh, senyum pria itu perlahan luntur.
"Papa bisa saja menyunatmu lho, bahkan di sunat dengan papa sendiri." seru Haara usil.
Glek!
Yoan mengerjapkan matanya beberapa kali, ia merasa saat ini tenggorokkan nya pun kering.
'Kenapa harus bahas ini, argh~ AtHaara~' gerutu Yoan dalam hati.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."tanpa diduga lang****s**ung dapat lampu hijau dari Haara nih😁 ehh si Haara malah ngingetin Yoan sama ancaman papa nya, habis sudah😆**"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐