
Haara bersenandung sambil memakai tas nya, ia mencermin kan dirinya,
"Dikuncir apa tidak ya? Hahh, kuncir saja deh" ucapnya mengikat rambutnya,
Ia pun tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
"Tinggal buat sarapan, sarapan apa ya? Omelete kah" serunya melangkah keluar.
Haara menutup pintu kamarnya, suara pintu tertutup terdengar kedua kalinya, Haara dengan cepat membalikkan tubuhnya,
Haara mengerjapkan matanya saat melihat Yoan yang baru keluar dari kamar mengenakkan baju kemeja berwarna hitam, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk,
'Apa Yoan sungguh suamiku? Sungguh sempurna sekali dirinya' batin Haara menangis,
Rambut yang basah, baju lengan kemeja yang di lipat dan kancing baju atas yang hemm~ terbuka, hal itu membuat Haara menelan ludahnya berat.
Kaki jenjang pria itu akan melangkah ke arah ruang kerja, saat pria itu menyadari ada Haara yang juga baru keluar dari kamar, ia hanya melirik Haara dengan raut khas nya yang dingin dan datar, hanya sekilas~ tanpa berniat menegur gadis itu.
Suara pintu ruang kerja tertutup terdengar, Haara mendecih
"Cih! untung suka! kalau tidak aku cakar wajahnya yang datar dan dingin itu, mana aku tega juga ya mencakar wajah tampannya itu, menyebalkan sekali dia!" gerutu Haara pelan
"Awuh! Laptop! Berat sekali tas ku!" keluh Haara.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Hari telah berlalu 3 hari
hari ini adalah hari Senin, jam menunjukkan jam 16:34
Seperti 3 hari yang lalu hingga sekarang, tak ada perbincangan basa basi diantara mereka.
Haara memakai tasnya bersiap untuk turun dari mobil, namun saat akan membuka pintu mobilnya, pintu mobil itu terkunci.
"Yoan, ini terkunci" seru Haara menatap pria disampingnya yang membuka sabuk pengaman
Pria itu tanpa menyahut menekan tombol membuka pintu yang terkunci dan turun lebih dulu,
Haara mendengus kesal, ia menatap tajam Yoan yang sudah keluar dari mobil,
Dengan cepat Haara keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil pria itu dengan kasar dan kencang.
"Apa kau berniat merusak pintu mobilku?" tanya Yoan menatap Haara dengan sedikit meninggikan nada bicaranya
"Rusak tinggal ganti pintunya! Atau sekalian saja mobil mobilnya saja ganti dan di buang dirongsokan! Bahkan kau bisa membeli puluhan mobil! " sahut Haara ketus dan meninggalkan Yoan pergi.
• • •
Haara mendengus kesal saat masuk kedalam lift, entah kenapa ia merasa ada yang aneh 3 hari belakangan ini,
Sudah 3 hari belakangan ini pria itu cuek padanya, entah kenapa itu ia benci sekali.
"Apa aku membuat salah padanya? Sampai ia mendiami ku seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri,
"Namun salah apa aku? Bahkan aku tak tahu apa salahku" hela nafas Haara, ia merasa sangat sedih sekali,
Pintu lift terbuka, dengan cepat ia menempelkan kartunya pada sensor di samping pintu dan pintu terbuka,
Haara membuka sepatunya cepat, dan melangkah ke dapur untuk menyiapkan bahan bahan makan malam untuk ia masak nanti.
●•●•●•●•●
Haara baru saja tiba di lantai atas penthouse nya, saat akan masuk kedalam kamar, tatapannya teralih pada Yoan yang keluar dari kamar pria itu sendiri.
Haara terkejut dan bingung saat melihat kedalam kamar pria itu,
"Kau mau kemana??" tanya Haara terkejut dan tak sabaran,
Haara dapat melihat koper dan beberapa baju dan jas yang ada diatas kasur pria itu,
Yoan melirik ke dalam kamarnya sekilas dan kembali menatap Haara,
"Besok aku akan ke Jepang untuk mengurus sesuatu disana" sahut Yoan,
"Ha?!" terkejut Haara,
"kenapa tiba tiba sekali??" tanya Haara tak menyangka,
"ada masalah di sana, aku harus menyelesaikannya disana" sahut Yoan
Haara tertunduk saat mendengarnya,
__ADS_1
"Kenapa kau tak memberitahuku??" tanya Haara bingung,
"Aku lupa" ahut Yoan enteng,
Haara yang mendengarnya menahan agar dirinya tak marah,
"Berapa lama kau disana?" tanya Haara pelan,
"Aku tak dapat berjanji padamu" sahut Yoan
Haara menatap Yoan yang menatap dirinya datar, ia merasa bingung dengan jawaban pria itu
"Apa maksudmu?" tanya Haara,
"Aku tak tahu kapan akan kembali, aku tidak ingin memprediksinya seperti saat itu" jelas pria itu,
Haara paham maksud dari ucapan pria itu, pria itu pernah mengingkari ucapannya saat pria itu berada di China tepat beberapa hati mereka akan menikah,
Haara menghela nafasnya pelan dan mengangguk, wajah nya menunjukkan ketidak sukaan,
"Untuk sementara kau akan tinggal dengan kedua orang tuaku, mengingat orang tuamu berada diluar kota, jadi persiapkan pakaian dan juga buku bukumu" jelas Yoan pergi,
Haara mengepalkan tangannya kuat, ia pun masuk ke dalam kamarnya dengan emosi,
"Lupa? Bahkan ia lupa mengatakkan padaku jika dirinya akan ke Jepang, dianggap apa aku sampai ia lupa memberitahuku!" emosi Haara memeras kerah bajunya kuat.
Haara melangkah ke arah lemarinya, ia mengambil koper dan mulai memilih pakaian hingga seragam seragamnya.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Haara menatap Yoan yang mengeluarkan koper miliknya dari dalam mobil, pagi pagi sekali mereka telah tiba dirumah orang tua kedua Haara,
Jujur saja ia sedang menahan emosinya pada pria itu, entah ada hal apa yang membuat sikap dan sifat pria itu berubah 4 hari belakangan ini.
"Berapa lama kamu disana Yoan?" tanya Tao Ming
"Aku tidak tahu" sahut Yoan,
"Jaga dirimu baik baik disana ya, Ammar pun ikut bersamamu?" tanya Stephannie merangkul Haara,
Yoan menghela nafasnya pelan
Stephannie mengangguk paham,
Yoan menatap Haara yang membuang pandangannya dengan raut datar,
"Aku pamit mama, papa. aku titip Haara dengan kalian" seru Yoan,
Tao Ming dan Stephannie mengangguk,
"Aku berangkat, jaga dirimu baik baik, jangan membuat masalah sewaktu aku tak ada, paham?" seru Yoan,
"Iya" sahut Haara singkat,
Yoan pun melangkah masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
"Ayo masuk sayang" seru Stephannie,
Haara tersenyum masam dan menarik koper nya masuk ke dalam rumah.
• • •
Jam telah menunjukkan jam 07:12, Tao Ming mengantar Haara ke sekolah, padahal gadis itu telah menolaknya, namun Tao ming memaksa untuk diantarkan saja, mau tak mau ia pun menuruti.
"Mm, paman" panggil Haara,
"Paman?" tanya Tao Ming bingung,
"Ah, papa Tao Ming maksudku" cengir Haara,
"Ahahaha, ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Tao Ming lembut,
"Mm begini pa, Yoan .. Ada urusan apa ya disana?" tanya Haara,
"Lho? Memangnya anak itu tidak memberitahumu?"
"Sudah sih, ia bilang ada masalah pekerjaan disana yang harus diselesaikan" sahut Haara,
"Itu sudah tahu~" sahut Tao Ming terkekeh,
Haara terdiam, ia larut dalam fikirannya
__ADS_1
"Tenang saja, anak itu selalu mengatakan hal yang benar apa ada nya, anak itu tidak bertemu siapapun, atau .. seorang wanita" seru Tao Ming menggoda Haara,
"Ha? A aku tak curiga padanya kok papa" gelagap Haara malu,
"Ah? Benarkah?" tawa Tao Ming,
"Iya papa aku tak curiga kok~" sahut Haara malu,
"Dikira kamu curiga, tenang saja anak itu tak pernah dekat pada wanita mana pun, papa sama mama sempat takut awalnya jika dia itu akan menjadi penjaka tua, tapi teringat akan ada nya perjodohan dari keluarga, kami merasa tenang" jelas Tao Ming
"Tak pernah??" tanya Haara tak percaya,
"Iya, dulu papa pernah bertanya saat beberapa bulan surat wasiat perjodohannya akan di beritahukan, apa kau sedang dekat dengan seorang wanita?, ia menjawab 'aku tidak punya waktu untuk itu' dasar!~"
Haara mengangguk paham, ia pun membuang wajahnya sambil tersenyum senang,
"Tapi .. Dulu ia pernah dekat dengan seorang wanita, wanita itu adalah sumber masalah untuknya, papa dan mama tak mrnyukai wanita itu, namun sebelum papa dan mama melarang agar Yoan dan wanita itu memiliki hubungan dekat, wanita itu memilih meninggalkan dirinya" seru Tao Ming,
Haara sontak langsung menatap Tao Ming terkejut,
"Meninggalkannya?? Kenapa??"
Tao Ming hanya tersenyum
"Apa .. Yoan sangat mencintainya?" tanya Haara penasaran,
"Bahkan semua ucapan wanita itu selalu ia patuhi, Yoan terlihat sangat ceria dari hari kehari selanjutnya saat bersama wanita itu, bahkan ia lupa waktu jika sudah dengan wanita itu"
Haara yang mendengar ucapan Tao Ming senyumnya langsung luntur,
"Apa Yoan masih mencintainya hingga saat ini papa?" tanya Haara tanpa menatap Tao Ming,
"Ahaha, ia sudah memilikimu, untuk apa ia masih mencintai wanita itu" sahut Tao Ming tertawa kaku,
"Hahaha, mm lalu dimana wanita itu sekarang? Maksudku tinggal dimana wanita itu sekarang? Apa mereka masih contact an?" tanya Haara tertawa hambar,
Tao Ming terdiam sejenak,
"Papa?" tanya Haara lagi,
"Wanita itu .. Sudah meninggal"
Haara sontak tercegang mendengarnya, ia menutup mulutnya terkejut,
"Me meninggal??" seru Haara terkejut,
Tao Ming mangangguk,
Haara sangat syok mendengarnya,
'jadi wanita yang Yoan cintai meninggalkan Yoan selamanya?' batin Haara,
Tao Ming menghentikkan mobilnya, menyadari jika mereka sudah tiba di sekolah.
"Sudah sampai, belajar yang rajin ya" seru Tao Ming,
Haara menatap Tao Ming dengan ekspresi yang masih syok
"Kamu kenapa Haara?" tanya Tao Ming panik,
"A aku, aku syok papa, aku syok sekali mendengarnya" seru Haara tertawa hambar,
Tao Ming menghela nafasnya menatap Haara yang terlihat syok,
"Aku berangkat ya papa, hati hati di jalan" pamit Haara turun dari mobil,
Tao Ming mengangguk
Haara melangkah masuk ke area sekolah,
Haara mengambil nafasnya dalam dalam, entah kenapa hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan Tao Ming tentang gadis yang Yoan cintai,
Haara meremas bajunya, rasanya sangat menyakitkan sekali.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
__ADS_1
...dan komentarnya 💭😊...
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...