
Haara mencerminkan keningnya di kamera ponselnya,
Keningnya benar benar merah~
Haara menghela nafasnya,
"Mama Stephannie kemana ya? Aku tak mempunyai minyak kayu putih, ya ampun~"
Sofa yang ia duduki pun bergerak, ia melirik siapa seseorang yang duduk di sampingnya,
Yoan menatap Haara tanpa ada niat bicara,
Haara pun ikut terdiam, ia kembali fokus pada kamera ponselnya sambil mengusap keningnya,
Haara mendengar Yoan yang menghela nafasnya pelan, ia membulatkan matanya saat dagunya ditarik ke sebelah kirinya,
Haara mengerjapkan matanya, kini wajahnya telah ke arah pria itu,
Yoan mengambil minyak kayu putih di saku celananya,
Yoan menuangkan sedikit minyak kayu putih di tangannya sendiri,
"Bi biar aku saja" seru Haara mencoba mengambil minyak kayu putih itu di tangan Yoan namun dengan cepat tangan pria itu menghindar,
"Biar aku saja" seru Haara lagi, ia mencoba mengambil minyak kayu putih itu dari tangan Yoan,
Yoan menjauhkan minyak kayu putih itu dan menarik tangan Haara agar diam,
Yoan kembali menarik dagu Haara agar menatap dirinya,
"Diamlah, biar aku saja, anggap ini permintaan maaf ku" seru Yoan menatap Haara serius,
Deg!!
Jantungnya berdetak kencang saat ini, Yoan memajukan tubuhnya, jarak mereka terbilang sangatlah dekat sekarang
Yoan mengusap dikit demi sedikit minyak kayu putih itu di kening Haara,
Dapat ia rasakan usapan lembut pria itu sangatlah ia sukai.
"Nanti malam kita pulang ke penthouse, nanti rapihkan pakaian mu" seru Yoan yang tanpa mengalihkan pandangannya ke kening Haara,
"Iya" sahut Haara singkat,
Haara menatap Yoan, ia melihat mata pria itu yang sangat fokus,
Bulu mata pria itu terlihat tebal saat dilihat dari dekat,
Tatapan mereka bertemu, Yoan menatap Haara sebentar, tatapannya kembali fokus pada kening Haara
"Kenapa menatapku?" tanya Yoan yang kembali mengoles minyak kayu putih ke kening Haara
"Kenapa bulu matamu tidak setebal sewaktu kau kecil?" tanya Haara memerhatikkan Mata Yoan,
"Aku memotongnya" sahut Yoan
"Kenapa memotongnya? Bahkan aku ingin memiliki bulu mata setebal waktu kau kecil" tanya Haara bingung,
Yoan menjauhkan tubuhnya, ia mengangkat kaki kanannya menjadikan tumpuan tangannya
"Darimana kau tahu aku memiliki bulu mata yang tebal saat kecil?" tanya Yoan menatap Haara,
"Mama menunjukkan album fotomu saat kecil padaku" cengir Haara,
Yoan mengangguk angguk paham
"Coba deh lihat ini" seru Haara menunjukkan foto diponselnya,
Yoan mengerutkan keningnya saat melihat foto yang ditunjukkan Haara adalah foto dirinya masih kecil,
"Untuk apa kau mengambil fotoku?" tanya Yoan,
"Karena .. Aku benar benar menyukai fotomu saat kecil, kau lucu" sahut Haara malu,
Yoan menghela nafasnya malas,
"kau tahu, sewaktu kau kecil matamu sangat bulat sekali, dan tak terlihat seperti sekarang" seru Haara
__ADS_1
"lalu? apa aku harus semirip saat aku masih kecil?" tanya Yoan
"tidak juga sih, kebanyakan anak kecil memang memiliki mata bulat yang lucu dan menggemaskan" kekeh Haara
Yoan tak menjawab
"Kau .. Tak marah kan? aku memotret foto albummu waktu kecil?" tanya Haara ragu,
"Simpan saja, terserah" sahut Yoan bangkit berdiri,
"Ehh kau mau kemana? Kau marah??"
"Aku mau mandi" sahut Yoan pergi,
"ohh, kukira mau lanjut tidur" kekeh Haars
"tidak"
Haara menatap Yoan yang melangkah makin menjauh,
Haara tersenyum saat melihat foto Yoan waktu kecil diponselnya.
• • •
Haara memakan potongan melon sambil menonton acara di televisi,
Sesekali ia terkekeh saat melihat acara di TV,
Matanya tak sengaja menatap Yoan yang turun tangga, pria itu menyampirkan handuknya di kepalanya,
pria itu mengusap usap rambutnya yang ia yakini pria itu habis keramas
ia jadi penasaran tentang cerita Stephannie mengenai rambut hitam Yoan akan luntur sehabis keramas, karena pasalnya rambut pria itu aslinya berwarna coklat.
"Mama potong melon untuk papa dulu ya sayang" seru Stephannie,
Haara yang sedang menatap gerak gerik Yoan dengan berat menatap Stephannie sambil mengangguk,
Haara cepat mengalihkan pandangannya saat Yoan menatapnya balik,
"Apa yang kau lihat?" tanya Yoan duduk disamping Haara, ia memakan potongan melon di atas meja
"Hm~" sahut Yoan mengeringkan rambutnya dengan handuk,
"kamu tahu tidak Yoan kenapa Haara memerhatikan mu dari tadi?" tanya Stephannie,
sontak Haara menatap Stephannie, ia ketahuan,
"dia memang selalu memerhatikan ku diam diam, entah apa alasannya" sahut Yoan memakan melon lagi
"eh?!" terkejutnya, nyatanya ketahuan dengan orang yabg selalu ia perhatikan itu lebih memalukan nyatanya.
"kenapa kau menatapku?" tanya Yoan lagi melirik Haara disampingnya
"eh ti tidak" gelagap Haara,
"Haara itu mau lihat warna asli rambutmu Yoan, bagaimana Yoan dengan versi rambut berwarna coklat" seru Stephannie menggoda Haara
Haara yang mendengarnya terkejut,
"Eh mama~" malu Haara,
"Ahh, pantas saja dari tadi kau menatapku tanpa henti, mungkin kau akan terus menatapku jika aku tak membalas menatap mu" sindir Yoan panjang lebar,
Haara yang mendengarnya malu, Stephannie melangkah pergi meninggalkan mereka di ruang keluarga berdua,
"A aku waktu itu pernah lihat kamu setelah mandi dengan rambut basah, saat kau berpapasan denganku~ aku keluar dari kamar, kamu juga keluar, tapi aku tak menyadari jika rambutmu berwarna coklat" jelas Haara,
Yoan yang mendengarnya mendecih, namun pria itu menatap Haara tersenyum tipis
Haara melihat Yoan yang menurunkan handuknya dari kepalanya,
Haara terkejut saat melihat rambut pria itu benar benar berwarna coklat terang
"Saat itu yang kau lihat saat aku baru selesai menyemirnya, aku baru membilas bekas semirannya" jelas Yoan
Haara yang mendengarnya pun paham,
__ADS_1
"Mama juga memberitahumu?" tanya Yoan
"Mama mengiranya aku sudah tahu, aku melihat fotomu saat kecil dengan rambut berwarna coklat, itu membuatku bingung, nyatanya rambut hitammu lah yang palsu" jelas Haara,
Yoan kembali menggosok gosokan rambutnya dengan handuk,
"Kenapa harus menyemirnya menjadi warna hitam? Bahkan aku menyukai rambutmu yang berwarna coklat" tanya Haara,
"Apa aku terlihat tak cocok dengan rambut berwarna hitam?" tanya balik Yoan
"Ah bukan seperti itu, cocok kok"
"Aku lebih suka rambut berwarna hitam, jika kau menyukai warna rambutku yang saat ini, kenapa kau tak mewarnai rambutmu saja sendiri menjadi warna coklat?" titah Yoan
Haara yang mendengarnya mendengus kesal,
"kenapa kau jadi menyuruhku mewarnai rambutku sendiri?"
"karena kau menyukainya" sahut Yoan cuek
"ih, aku itu sedang membahas rambutmu tahu, kenapa rambutku yang kena?" protes Haara
Yoan tak menghiraukan ia asyik memakan potongan melon
"memangnya kau izinkan aku mewarnai rambutku? aku akan warnai rambutku berwarna ungu" seru Haara kesal
"aku tidak menyukainya"
"lalu? apa .. warna hijau"
"tidak"
"warna biru?"
"tidak"
"berarti kau menyukai ku jika mewarnai rambut coklat sepertimu? seperti itu?" tanya Haara
Yoan menghela nafasnya
"anak sekolahan sepertimu masih ada kefikiran untuk mewarnai rambut? jangan macam macam, aku tak suka jika kau kena teguran dari sekolah" jelas Yoan
"tadi kau menyuruhku untuk mewarnainha jika aku suka, bagaimana sih?" protes Haara
"jika kau sudah lulus aku izinkan kau merubah warna rambutmu menjadi coklat, namun tidak dengan warna lain" seru Yoan
"hahh, tadinya mau aku mau mewarnai rambutku berwarna abu abu" sedih Haara
"rambutmu sudah bagus berwarna hitam" sahut Yoan
"kalau warna lain?"
"tidak suka semuanya selain coklat dan hitam" sahut Yoan kembali memakan melon
Haara menahan dirinya agar tidak tersenyum
"aku mau rapihkan bajuku untuk di masukkan ke koper" seru Haara bangkit berdiri,
"hm" dehem Yoan.
Haara dengan hati senang dan berat, ia meninggalkan Yoan di ruang keluarga.
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
__ADS_1
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤