
semua siswa berhamburan keluar dari area sekolah, tawa dan suara percakapan terdengar campur aduk saat itu juga.
Haara mengatur nafasnya karena dirinya dengan cepat lari menuju gerbang untuk sesegera mungkin bertemu dengan Yoan.
ia tersenyum tipis saat melihat Yoan yang tersenyum padanya.
"Bagaimana pelajaran hari ini?" tanya Yoan.
"Sulit sekali." sahut Haara menghela nafasnya kasar.
"Sulit?"
"Hm, ada satu materi yang tidak aku bisa." sahut Haara.
"Materinya apa?"
"Hmm~ aku lupa, yang ku ingat itu cos, sin, tan, materinya tentang itu." sahut Haara.
"Sepulang nya kita ke penthouse aku akan ajarkan kamu bagian yang tak kau pahami itu." seru Yoan menyelipkan rambut Haara kebelakang telinga.
"Kau ... Bisa???" tanya Haara tak percaya.
"Itu mudah, asal kau memiliki tabel rumus setiap derajat nya, aku sudah tak begitu ingat." sahut Yoan mencoba mengingat.
"Aku punya, tolong ajarkan aku sepulangnya!" senyum Haara merangkul tangan Yoan.
Yoan tertawa kecil.
"Tentu saja akan ku ajarkan."
"Tapi ... Apa kau tak sibuk?" tanya Haara.
"Mengajarimu belajar untuk ujian itu lebih penting." sahut Yoan.
Haara yang mendengarnya tersenyum malu.
"Baiklah, ayo pulang." seru Haara naik ke dalam mobil.
Yoan mengangguk dan melangkah ke seberang lalu naik ke dalam mobil.
●•●•●•●•●
Anna menyimpan secangkir kopi di meja ruang santai dan menduduki dirinya di sebelah Ammar yang baru saja pulang kerja.
"Yosh!!! YES!!" teriak Ammar berdiri.
Hal itu membuat jantung Anna hampir loncat karena terkejut bukan main karena suaminya itu.
"Ammar!!" teriak Anna.
"Ya?"
"Apa apan kamu! tiba-tiba teriak! Apa kau berniat ingin membuat anak di dalam perutku ikut terkejut atas teriakkan mu?!" seru Anna emosi.
"Bicara apa kamu, ah! Maafkan aku." kekeh Ammar kembali menduduki dirinya dan mengusap perut Anna sebentar.
"Kenapa sih?! Tiba-tiba teriak begitu?? Kaget aku." tanya Anna emosi.
"Aku menang melawan Yuu dan Yifan." kekeh Ammar takut.
Tak!
"Ahw~" ringis Ammar.
"Hanya sebuah game! Ingatlah umurmu! Masih saja menggilai game! Jika Yifan dan Yuu itu masih wajar, tapi kau! Samanya dengan Yoan! Gameee teruuusss!!!" sulut emosi Anna.
"Maaf maaf, aku terlalu senang karena aku menang dari mereka, biasanya aku selalu kalah." seru Ammar ragu.
"Aku jadi ragu jika anak kita lahir bagaimana sikapmu nanti, apa kau akan lebih asyik dengan game daripada menggendong anak kita nanti." merajuk Anna.
"Hey~ bicara apa kamu, tentu saja tidak."
Drrt! Drrt!
Tatapan mereka terfokus pada ponsel yang bergetar, dan terpampang ada pesan masuk di ponsel Ammar.
"Apa itu? Membahas game lagi??" tanya Anna ketus.
"Bu-bukan, ini pesan dari Yoan." sahut Ammar takut.
"Yoan? dia mau ajak kamu main game!?" tanya Anna sinis.
"Bukan, ini bahas tentang .. kapan penerbangan kami." seru Ammar.
"Ahh~ jadi Haara benar-benar mengizinkan Yoan akhirnya." hela nafas Anna.
"Ya, jadi aku akan jadi pergi beberapa bulan dengan Yoan." seru Ammar tersenyum tipis.
"Aku berharap kalian cepat menyelesaikannya dengan cepat, jangan terlalu santai, dan jangan terlalu keras juga, kalian harus menjaga kesehatan juga." seru Anna merangkul tangan Ammar.
"Akan ku ingat pesan mu." senyum Ammar.
"Jadi? Kalian akan terbang ke Korea kapan?" tanya Anna.
●•●•●•●•●
Hari telah menjelang malam, jam telah menunjukkan jam 20:14 malam, setelah makan malam, Yoan kini mengajarkan Haara belajar.
Gadis itu bersikeras ingin belajar di kamar, gadis itu mengeluh ingin belajar santai di kamar, dan beralasan jika dia mengantuk tinggal tidur.
"Sudah selesai, coba kau lihat, benar tidak?" tanya Haara menyodorkan bukunya pada Yoan yang duduk di kasur, tepat di atasnya, gadis itu duduk di permadani kamar mereka.
Haara menatap Yoan dengan wajah fokus nya, bahkan pria itu rela menunda pekerjaannya di laptopnya demi melihat hasil jawaban soal yang pria itu berikan pada gadis itu.
"Hm, ini benar semua." bangga Yoan.
"Sungguh? ahh~ akhirnya aku paham juga." seru Haara menghela nafasnya lega.
"Kau sudah menghafal rumus nya? Jika sudah hafal saat lupa kau akan mudah menghafalnya lagi." seru Yoan.
"Sudah, huft~" hela nafas Haara lagi.
__ADS_1
"Bagus." seru Yoan.
"Yoan?"
"Hm?"
"Kapan kamu akan terbang ke Korea?" tanya Haara.
Yoan terdiam sejenak.
"Besok malam."
Haara terkekeh.
"Besok ya? Hahh~ cepat sekali." senyum miris Haara bangkit berdiri.
Yoan mengerutkan keningnya saat melihat Haara melangkah ke arah lemari.
"Kemarilah, beritahu apa saja yang kau butuhkan, dan berapa setelan jas yang kau butuhkan." seru Haara.
Yoan tersenyum dan menghampiri Haara.
"Kau juga siapkan pakaian mu." seru Yoan.
"Aku gampang, kamu lebih penting." sahut Haara fokus mengambil kemeja-kemeja Yoan.
"Baiklah, yang lebih penting topi untukku." seru Yoan menduduki dirinya di dekat koper.
"Vitamin lebih penting untuk kau bawa, topi untuk apa? Apa kau ingin menyamar menjadi seorang idol disana?" tanya Haara fokus menyusun pakaian Yoan dalam koper.
"Idol?"
"Hm, ahh~ kau memang butuh topi, jika tidak, pasti ada banyak agensi yang memberikan kartu nama untuk mengikuti audisi danmenjadi trainee idol."
Yoan yang mendengarnya tertawa.
"Kenapa kau bisa berfikir sejauh itu?" tanya Yoan tak menyangka dengan hal yang di fikirkan Haara.
"Karena wajahmu, wajahmu tampan, kau berkharisma dan kaya akan pesona, pasti banyak yang akan terpesona dengan kharisma dan visualmu." sahut Haara jujur.
"Wah, apa kau berharap aku akan menjadi seorang idol di Korea Selatan??" tanya Yoan menunjuk dirinya sendiri.
"Bagaimana denganmu? jangan sampai kau diam-diam ikut audisi, dan saat kau pulang ke Indonesia kau membawa wartawan dari Korea ke Indonesia." sahut Haara.
Tawa Yoan lepas saat mendengar ucapan mengawur Haara.
"Bicara apa kamu, seperti nya mereka yang teliti dan akan mengurungkan niatnya saat melihat aku memakai cincin pernikahan." seru Yoan menunjukkan tangannya.
"Hehe, benar juga, dan kau! Jaga dirimu dan tatapanmu! Wanita di Korea itu cantik-cantik! Awas kau bermain di belakangku!" ancam Haara.
"tenang saja, lagi pula aku sudah mendapatkan satu wanita Korea, ia memiliki darah Korea dari papa nya, dia istriku sendiri, kau tahu?" seru Yoan terkekeh.
Haara pun ikut terkekeh.
Waktu terus berjalan, kini Haara telah beres mengemas keperluan suaminya sendiri, kini ia beralih membereskan pakaian, seragam, hingga buku-buku nya.
"Yoan, aku berpesan padamu, kau anggap saja ini adalah syarat dariku karena aku mengizinkan mu terbang ke Korea." seru Haara serius.
"Oleh-oleh nya aku ingin kau kembali dengan sehat bugar dan jangan sampai terlihat kurus! Mengerti?!"
Yoan mengangguk.
"Akan aku terapkan di ingatanku." sahit Yoan.
"Dan juga! Jangan memaksakan dirimu, jangan sampai kelelahan, aku tak mau kau sakit di saat kau jauh dariku, meski dekat pun kau juga wajib menjaga kesehatanmu, selalu minum vitamin mu agar kamu tetap sehat, paham?" tanya Haara mengingatkan.
"Akan aku ingat lagi, akan aku terapkan dalam ingatanku." senyum Yoan.
"Suami yang baik! dan tidur tepat waktu itu paling penting, dan jangan mabuk-mabuk disana, aku tak suka! Jangan sampai kau sakit disana, aku akan pastikan kak Ammar akan menjadi rekan ku untuk memantaumu, Paham?!"
Yoan terkekeh melihat kecerewatan Haara.
"Kok ketawa sih? Kamu denger apa yang aku ucapkan tidak!? Paham ga?!"
"Iya, aku paham sayaaang~" seru Yoan masih terkekeh.
"Apaan sih~ sayang~ sayang~" seru Haara menutup resleting koper nya.
"Yang berawal manggil aku sayang siapa?" tanya Yoan.
"Kamu." sahut Haara malu.
"Ha? Sungguh? Bahkan ku ingat ada yang memanggilku sayang sewaktu mau membujuk diriku yang marah karena cemburu, siapa lagi yang akan memanggilku sayang selain kamu." seru Yoan menjelaskan.
Haara tertawa mendengarnya.
"Iya iya, itu aku~" sahut Haara mengaku.
"Tapi ... Kamu cemburu karena apa saat itu?" tanya Haara.
"Cih, lupa dia, aku cemburu saat kau memirip-miripkan aku dengan idola mu saat kita di ..."
"Ahh!! Dengan Kris Wu! Hey tuan, bahkan kau memang mirip dengannya." seru Haara baru teringat.
"Mirip?? Aku dengan idola tercintamu yang bernama Kris Wu itu??"
"Idola ku itu ada banyak! aktor dari Jepang, aku suka dengan sahabatmu saat Kuliah yang namanya Akito Sakurada, tak hanya aktor! Aku juga suka idol dari Korea aku suka BTS, mereka adalah tujuh pangeranku! Aku suka mereka bertujuh!"
Yoan yang mendengar itu telinganya terasa panas.
"Dan yang terakhir itu adalah aktor dari China, dia adalah, Kris Wu! Ya ampuuuuunnn aku cinta diaa!!" antusias Haara.
"Cinta dia?" tanya Yoan datar.
Haara baru tersadar dengan apa yang dia ucapkan.
"E-eh! Maksudku cinta sebagai seorang penggemar!" panik Haara.
"Cih, menyebalkan." merajuk Yoan bangkit berdiri dan menduduki dirinya di kasur.
"Ahaaa~ Yoan, aku sudah bilang aku itu cinta karena sebagai penggemar saja, percaya padaku~"
__ADS_1
"Kau yakin? Bahkan kau bilang wajah kami mirip." seru Yoan dingin.
"Memang iya! Tapi ...? kau yang terbaik! Karena aku lebih cintanya sama kamu, jangan cemburu seperti itu dong~ yayaya?" bujuk Haara mengerjapkan matanya beberapa kali, gadis itu kini sedang menunjukkan wajah menggemaskan, gadis itu kini sedang memeluk kedua kaki Yoan memohon.
Yoan yang melihatnya tak bisa menahan rasa gemas nya pada istrinya itu, hal itu membuat Yoan terkekeh.
"Apa kau sedang menggodaku, hm?" tanya Yoan membungkukkan tubuhnya.
"Menggodamu?? Ti-tidak!" sergah Haara menyembunyikan wajahnya di kaki Yoan yang ia peluk.
"Wajahmu ini seperti sedang berusaha meruntuhkan pertahananku." seru Yoan menarik dagu Haara.
"Kau sendiri yang mulai membahas topik ini! Kau juga yang membuat pertahananmu runtuh karena pembahasanmu ini!" merajuk Haara.
"Baiklah baiklah, kau begitu polos, aku akan mewajarinya." mengalah Yoan.
"Kemarilah, berdiri." seru Yoan, Haara pun dengan wajah polosnya mengikuti ucapan Yoan.
Puk! Puk!
"Duduklah disini, di pangkuanku." seru Yoan menepuk-nepuk kedua pahanya.
Haara membulatkan matanya dan menggeleng cepat.
"Tidak! aku duduk di sebelahmu saja."
Saat Haara akan duduk, siapa sangka Yoan menggeser tubuhnya membuat Haara mengurungkan niatnya.
"Kemari, aku ingin nya kau duduk di pangkuanku." pinta Yoan.
"Nggaaa!! Posisi itu terlalu vulgaar!! Dasar mesum!!" tolak Haara menolak keras.
Haara mendengus kasar, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Yoan dan melangkah ke seberang kamar.
"Kenapa kau mengikutiku tuan? tempat bagianmu tidur disana." seru Haara menunjuk tempat yang Yoan duduki tadi.
Yoan tersenyum licik saat di belakang Haara.
"Awas ada kecoa!!" teriak Yoan.
"mana mana? kyaaa!!" teriak Haara sontak membalikkan tubuhnya memeluk Yoan yang berdiri di belakangnya.
Hal itu membuat Yoan menahan senyumnya.
"Itu itu! Kecoa nya mendekat ke kaki mu awas!!" panik Yoan menunjuk-nunjuk kaki Haara.
"Mana? Mana? Kyaaaa!!" teriak Haara ketakutan.
Yoan tersenyum kemenangan saat Haara loncat ke pelukkannya, gadis itu mengalungkan kedua kakinya di tubuh nya dan memeluk lehernya kuat.
Haara perlahan menatap Yoan yang terdengar terkekeh.
"Ka-kau mengerjaiku ya!!?"
"Ya, hanya sedikit." seru Yoan menduduki dirinya di kasur.
Deg! Deg! ... Deg! Deg!
Jantung Haara berdegup kencang saat Yoan menduduki diri di kasur dengan posisi yang benar-benar sangat vulgar.
"Ahh~ aku suka posisi mu duduk di atas ku seperti ini." seru Yoan menatap Haara menggoda.
Mata Haara membulat, gadis itu mematung saat ini.
Glek!
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."Kris Wu atau Yoan? pilih salah satu Haara😆...
...aduh gimana dengan ide dan tipu daya Yoan nih? seru ga? asyik ga?😆"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1