
Keesokan harinya.
~
Haara menatap kapal yang akan ia naiki untuk memberi penghormatan saat abu sang nenek akan di hamburkan di laut.
Haara tersenyum menatap langit yang teduh, di saat itu juga ucapan Yuu kemarin terlintas di fikirannya.
..."Boleh aku jujur suatu hal padamu?"...
..."Aku itu sengaja membuat Yoan sangat marah dan emosi saat dirimu dekat denganku,"...
..."Aku mengatakan padanya, saat kau sudah kecewa dan tak ingin bertemu denganya lagi, kalau aku akan merebut dirimu dari nya."...
..."Aku tidak serius untuk itu, aku lakukan itu semata-mata hanya ingin memberikan dia sebuah kesadaran dan memberinya sebuah pelajaran, aku ingin membuatnya sadar jika dirimu itu berharga sekali, AtHaara."...
..."Aku hanya ingin Yoan sadar bahwa ada wanita yang lebih baik dari Irene, yaitu kamu."...
"Aku terharu sekali jika mengingat ucapanmu kemarin itu Yuu." seru Haara memejamkan matanya.
..."Ahh, akhirnya! akhir bulan Desember ini aku akan bertemu dengan tunanganku!"...
Haara menghembuskan nafasnya saat mengingat ucapan pria itu lagi, senyumannya semakin melebar karena mengetahui pria itu akan bertemu dengan wanita yang akan di jodohkan olehnya.
Haara mengusap-usap tubuhnya yang merasa kedinginan,
"Gishi~" seru Xi Cha menghampiri Haara sambil tersenyum,
Haara menatap Xi Cha, ia membalas senyumannya.
Terlihat mata gadis itu terlihat lebih sembab dari kemarin, gadis ini masih bisa terlihat tegar didepannya, padahal jelas hatinya sedang sedih karena kehilangan sosok nenek untuk selamanya.
Xi Cha menyodorkan jaket yang ia pegang pada Haara,
"Sepertinya akan turun salju, aku bawa jaket milikku untuk kakak pakai!" seru Xi Cha Semangat.
Haara tersenyum hangat sambil mengambil jaket itu di tangan Xi Cha.
"Terima kasih, Xi Cha chan!" senang Haara memakai jaket milik Xi Cha.
Xi Cha tersenyum, seketika tatapan gadis itu terfokus ke belakang Haara,
Haara pun mengikuti arah pandang Xi Cha.
Terlihat pria yang sudah sangat lama tak ia lihat itu berjalan masuk ke dalam kapal,
Akhirnya, ia dapat melihat pria itu lagi.
"Akhirnya, ia keluar juga dari kamarnya." seru Xi Cha menghela nafasnya prihatin.
"Kakak, bagaimana hubungan kakak dengan kak Yoan?" tanya Xi Cha,
"Hm?"
"Kakak tak akan menggugat cerai kak Yoan, kan?" tanya Xi Cha ragu,
Haara sedikit terkejut mendengarnya.
"Aku mendapat berita ini tadi, aku sangat berharap hubungan kalian kembali membaik, aku menyimpulkan jika kak Yoan belakangan ini seperti itu karena pertengkaran kak Yoan dengan kak Haara." seru Xi Cha melamun.
"Apa menurutmu seperti itu??" tanya Haara,
"Iya, apa kakak tahu? saat itu sewaktu aku tak sengaja mendengar gumamam kak Yoan yang berada di dalam kamarnya, ia menyebut nama kakak saat itu, ku kira kak Yoan itu merindukan kakak yang berada di Indonesia. ternyata bukan itu permasalahannya." jelas Xi Cha sedih.
Haara terkejut sekaligus tak percaya pada ucapan Xi Cha,
"Aku tahu kalau kakak kecewa dengan kak Yoan, kak Yoan mungkin telat menyadari jika kakak itu sangat berarti di hidupnya, sekarang kak Yoan baru merasakan rasanya ketika kakak telah meninggalkannya, ia sangat hampa." seru Xi Cha memegang kedua tangan Haara sambil menatap Haara sendu.
"aku merasa jika perubahan kak Yoan ini lebih parah daripada saat kehilangan kak Irene dulu." seru Xi Cha serius.
Haara mematung saat mendengarnya.
"Su-sungguh??" tak percaya Haara.
"Sungguh kak, aku serius!" sahut Xi Cha menunjukkan wajah serius.
Haara terdiam, ia benar-benar tak percaya. namun, semua ini terdengar memang nyata di telinganya.
"Ahh! dia seperti zombie saja sekarang, setelah nenek meninggal dia malah jadi seperti zombie, mama dan papa pasti masih kecewa dengan kak Yoan atas perlakuannya yang dinilai mempermalukan keluarga dan juga mempermainkan kakak sebagai istrinya" jelas Xi Cha.
"Itu semua adalah kesalah pahaman, Xi Cha." seru Haara menunduk.
"Aku sudah tahu kok kak, aku sudah dengar ceritanya dari kak Yuu," senyum Xi Cha,
Haara menatap Xi Cha,
"Yuu ... sudah cerita padamu?" tanya Haara,
Xi Cha mengangguk.
"Kak Yuu juga sekarang sedang menceritakan kebenarannya pada keluarga kok kak!" senyum Xi Cha.
Haara ikut tersenyum, ia senang mendengarnya.
Haara meyimpulkan, jika ucapan Yoan pada saat itu bersungguh-sungguh padanya, tentang pria itu yang tak ingin berpisah dengannya, ucapan Xi Cha sukses membuat dirinya mulai mempercayai pria itu lagi.
●•●•●•●•●
Upacara untuk menghamburkan abu sang nenek pun di mulai, Haara memerhatikan pria itu di serong kanannya yang agak jauh dari nya.
Pria dengan perawakan tinggi dengan rambut yang sudah terlihat jelas agak panjang, dan juga ... lagi-lagi ia menyadari satu hal ini,
__ADS_1
Pria itu terlihat lebih kurus sekali, bahkan pria itu terlihat lebih kurus.
Haara sungguh sedih melihat pria itu seperti saat ini, terlihat tidak bergairah dan tak ada semangat hidup.
Pria itu terlihat jelas hanya melamun dan memancarkan tatapan kosong.
Hati nya terasa sakit melihat pria itu seperti itu, air matanya tanpa sadar menetes.
Terlihat pria itu melangkahkan kakinya dan menerima kendi yang berisi abu sang nenek dan mulai menaburkannya ke laut.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Semua kerabat telah turun dari kapal,
Yuu menghampiri Haara, ia mengikuti arah pandang gadis itu.
Hembusan angin laut terasa sangat menusuk ke kulit, diperkirakan salju akan segera turun.
Tatapan Haara terlihat fokus pada Yoan yang berada di ujung kapal sambil menatap laut.
"Aku telah menceritakan semua tentang kesalah pahaman antara Yoan dan Rynne pada keluarga, mereka jelas tak menyangka dengan penjelasan yang ku ceritakan, itu terdengar sangat di luar dugaan mereka semua, mereka kini merasa bersalah karena telah menilai kak Yoan sangat buruk." seru Yuu menjelaskan,
Haara menghela nafasnya lega.
"Aku senang mendengarnya, Yuu~" senyum Haara masih terfokus pada pria jangkung itu,
"Ku ucapkan terima kasih banyak padamu Yuu, kau baik sekali~" terharu Haara menatap Yuu terharu.
Yuu tersenyum tulus dan mengangguk,
"Kau tahu Yuu? Kau adalah pria yang baik sekali! aku yakin calon istrimu sangat merasa senang dan beruntung mendapatkanmu." seru Haara tersenyum,
Yuu yang mendengarnya tersipu malu
"Kau bisa saja~" kekeh Yuu menggaruk tengkuknya,
"Aku serius, aku tak mengada-ada, aku berbicara fakta lho~" serius Haara meyakinkan Yuu,
"Kalau seperti itu, terima kasih pujiannya~" malu Yuu,
Haara mengangguk tulus.
"Hahh, lihatlah suamimu itu AtHaara~ bahkan ia tak menangis sama sekali! apa ia tak sakit menahan air matanya dan kesedihan di dalam hatinya? Bahkan aku membayangkannya saja tidak kuat, pasti sangat menyesakkan sekali." seru Yuu menatap Yoan dari kejauhan tak percaya.
"Aku tak kuat melihat dirinya seperti itu, hatiku sakit Yuu~" seru Haara meneteskan air matanya.
Yuu menatap Haara tersenyum,
Haara menatap Yuu sambil mengusap air matanya,
"Aku tak tahu harus berbuat apa, apa yang harus aku lakukan Yuu~"
"Kau tahu apa yang dia butuhkan sekarang?" tanya Yuu,
Haara menggeleng,
"dia sedang mencari seseorang yang tepat untuk mengadu dan melepas semua rasa sakit di hatinya yang tertahan belakangan ini dan saat ini. namun ia merasa tak ada satupun orang yang tepat dan cocok." seru Yuu,
"Namun sekarang seseorang itu sudah hadir, seseorang itu adalah kamu, AtHaara."
Haara sontak terkejut mendengar ucapan Yuu.
"A-aku??" tak percaya Haara,
Yuu mengangguk.
"Rasa bersalahnya pada dirimu masih tertanam sangat dalam dihatinya, namun juga didalam lubuk hatinya yang sangat dalam sekali, ia sangat membutuhkan keberadaanmu saat ini."
Haara menatap Yuu tak menyangka jika pria itu akan berucap seperti itu,
"Temui dia, kami bergantung padamu, kami berharap kau bisa melepas kesedihan yang tertanam di hatinya." seru Yuu mengusap rambut Haara lembut.
Haara menundukkan dirinya, ia pun menekankan tekad dihatinya.
• • •
Xi Cha dan Yifan berhenti berbincang saat melihat Haara melangkah melewati mereka berdua,
Yifan menatap Yuu yang melangkah mendekat ke arahnya dan Xi Cha.
'Hukumanmu telah berakhir, Yoan. aku kembalikan Haara padamu, jadi kembalilah seperti kak Yoan yang ditakutkan seperti saat itu.' batin Yuu tersenyum sendu.
• • •
Haara berdiri beberapa langkah di belakang pria itu, Pria itu sedang melihat indahnya pemandangan laut.
terlihat jelas pria itu yang perlahan memutar tubuhnya, pria itu mulai melangkah sambil menunduk.
Pria itu belum menyadari jika ada Haara di depannya.
Langkah pria itu terhenti saat dirinya menyadari ada seseorang di depannya, dengan gerakan perlahan Yoan menatap seseorang itu.
Mata pria itu membelalak saat menatap Haara,
Haara menghela nafasnya, ia menatap Yoan sendu, pria itu benar-benar terlihat sangat memprihatinkan sekali keadaannya.
__ADS_1
Rasa tak teganya saat melihat pria itu sukses telah melukai hati gadis itu, setelah melihat keadaan suaminya dari dekat seperti ini, hatinya benar-benar hancur! Pria itu benar-benar terlihat hidup dengan separuh jiwa.
Ia merindukan senyum pria itu, ia rindu kejahilan pria itu saat meledeknya dan menggodanya, dan ia juga rindu dengan tatapan tajam pria itu yang di berikan padanya, ia merindukannya~
Tak lama pria itu kembali menunduk dengan tatapan sayu.
Haara meneteskan air matanya sambil menutup mulutnya.
Sudah cukup!
Ia tak tahan lagi!
Ia tak tahan lagi melihat pria itu seperti ini!
Haara melangkahkan kakinya mendekat kearah pria itu dan ...
Srett!
Haara memeluk Yoan erat. tubuh pria itu terasa sangatlah dingin sekali.
'Bisakah Anda memberi saya kesempatan untuk kembali.' batin Haara.
Salju pun kembali hadir dan turun butir demi butir,
"Aku datang, Yoan~" seru Haara lembut.
"..."
"Aku tahu ini menyakitkan untukmu, tapi takdir menginginkan nenek segera mengakhiri rasa penderitaannya di dunia ini, nenek telah merasa senang dan bahagia di sana." seru Haara lembut,
Ia menarik nafasnya, harum khas pria itu~ ia sangat senang karena dapat menghirup harum khas pria itu lagi.
"Nenek itu sangat sayang sekali sama kamu, kamu boleh bersedih, tapi nenek akan sangat sedih melihatmu seperti ini, ku mohon jangan memendam kesedihan dan rasa sakit mu sendirian lagi, itu akan menyakiti dirimu sendiri~" seru Haara menangis dipelukan Yoan,
Tubuh pria itu bergetar kedinginan saat ini, Haara dapat merasakannya.
Ts!
Xi Cha yang melihat Yoan meneteskan air mata terkejut,
"a!? Kak Yoan menangis!" seru Xi Cha terkejut,
Yuu dan Yifan juga menatap Yoan yang berada dipelukan Haara,
"Sepertinya memang hanya Haara yang bisa membuat kak Yoan dapat menumpahkan semua kesedihan dihatinya, syukurlah!" seru Yifan lega.
Haara perlahan melepaskan pelukannya pada Yoan. Namun, ...
Grepp!!
Haara terkejut saat pria itu kembali menariknya kepelukannya, pria itu memeluk dirinya sangat erat.
Yoan menyembunyikan wajahnya di pundak Haara, samar dan menjadi semakin jelas suara isak terdengar di telinganya,
Pria itu menangis.
Haara tersenyum sendu, Haara membalas pelukan pria itu dan mengusap pundak pria itu lembut.
'Ya, jadi akulah yang Yoan butuhkan sekarang, aku lah tempat mengadunya Yoan~'
"Menangislah Yoan mengislah~ keluarkan semua rasa sedihmu padaku~ aku akan selalu ada untukmu dan akan menjadi sandaranmu~" seru Haara lembut sambil memejamkan matanya menikmati moment seperti ini.
Suara isakan itu terdengar semakin keras, itu terdengar sangat menyakitkan di telinga Haara, pria itu memeluknya semakin erat.
'Dia benar benar sangat terluka, sangat~ sangat terluka sekali, aku begitu jahat padanya! Yoan maafkan aku, aku akan menyembuhkan luka di hatimu Yoan, aku akan memperbaikinya, aku janji!' batin Haara memeluk Yoan erat dan sayang.
...•...
...•...
Author: " gimana nih menurut kakak-kakak semua sama part yang satu ini?😭
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak readers dan kakak author-author yang hebat dan keren😍...
...Terima kasih sudah membaca ceritaku🙏...
...❗Jangan lupa untuk❗:...
...✔like,...
...✔vote,...
...✔rate 5 star, dan...
...✔komentarnya yang sellau ku nantikan💐💐💐...
...📜Pesan dari Author:...
..."Selalu jaga kesehatan di saat pandemi seperti ini ya kakak-kakakku❤...
...selalu jaga kebugaran tubuh kalian semua😍...
__ADS_1
...Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua🤗🤗"...