
Entah sudah keberapa kalinya ia menghela nafas,
Fikirannya tak kharuan.
Ia masih mengingat hal semalam yang sangat memalukan baginya,
Wajah Yoan masih teringat di benaknya.
"Argh~ kenapa ia bisa secepat itu merubah raut wajahnya!!" geram Haara yang datang lebih pagi kesekolah.
Namun ada satu hal juga yang mengganggu fikirannya,
Hal yang terjadi semalam~
"Apa dia sudah mengalami trauma itu cukup lama?" gumam Haara,
"Hahh padahal niatku hanya bertanya masa remaja nya saja, aku tak menyangka hal itu membuat traumanya menguasai fikirannya!" batinnya.
Gadis itu berfikir untuk bertanya pada Anna atau Ammar, namun ia teringat perkataan Yoan bahwa itu adalah rahasianya, ia takut jika Anna dan Ammar tidak tahu mengetahui tentang trauma pria itu.
"Hahh padahal aku sudah berkata tak tertarik dengan kisah hidupnya maupun mengenalnya lebih jauh!"
"Calon kakak ipar~" panggil seseorang,
Haara hampir saja terjungkal kebelakang saat ia memutar arah tubunya,
"Stt!!! .. Yifan!! bisakah kau tak memanggilku seperti itu!!" emosi Haara, mata Haara mengintai sekitar,
"Jika ada yang dengar bagaimana?!"
"Hm? memangnya aku memanggilmu seperti itu tidak boleh??" polos Yifan,
"Tidak boleh! ini sekolah!! bahaya jika ada yang dengar!!" geram Haara.
"Haa? berarti jika diluar sekolah aku boleh memanggilmu ...,"
"Tidak boleh juga!" kalang kabut Haara,
Yifan menaikan kedua bahunya dan pergi meninggalkan Haara,
"Menyebalkan!" geram Haara pelan menatap Yifan yang menjauh dari pandangannya.
"Siapa?Yifan?"
Haara memutar lagi tubuhnya, mendapati Alka mendekatinya.
"A-ah? Alka??" gugup Haara,
"Hmm? apa yang kalian bicarakan?" tanya Alka penasaran,
Ia bernafas lega karena Alka tak mendengar pembicaraannya dengan Yifan dari awal,
"Ah! itu, ia bertanya tentang kak Ammar!" kekeh Haara,
"Ah~ o iya, padahal aku tadi melihat Yifan berangkat bersama Riza lho!"
"Serius? mereka sudah berdamai?"
"Entahlah, kita tanya langsung saja, anaknya pasti sudah dikelas, ayo!"
●•●•●•●•●
"Jadi kalian sungguh sudah damai?" tanya Haara,
"Hm, kami juga pacaran."
"PACARAN?!"
"Kau serius?!" -Alka
"Kapan kalian pacaran?!" -Haara
"Kemarin malam, ia bertemu denganku saat aku sedang di minimarket."
"Wahh!! jadi sekarang hubungan kalian sudah jelas!!" seru Haara senang,
"Seperti itulah," seru Riza tersenyum tipis,
"Oh iya, aku masih takjub dengan pertemuan kemarin, jika kemarin Yifan tak datang, aku benar benar tak tahu jika Yifan itu sepupunya tuan Yoan!"
"Aku juga baru tahu," seru Riza,
__ADS_1
"Kau sudah tahu lama ya Haara?" -Alka,
"Ah tidak! aku juga baru tahu."
"Hee~yang benar, bahkan kak Ammar itu kan dekat dengan mu, masa kau tak tahu?" tanya Alka
"Sungguh, aku juga baru tahu~" jujurHaara,
"Baiklah aku percaya padamu. Haara, Riza boleh aku minta bantuan kalian?boleh ya" seru Alka dengan mata berbinar menatap kedua sahabatnya.
"Ee~ membantumu apa?" curiga Haara,
"Untuk Riza, bisa kau minta pada Yifan, dan untuk Haara bisa kau minta pada kak Ammar."
"Minta apa sih maksudmu?" tanya Riza bingung,
"Mintakan foto gadis calon istri atau nama akun sosial calon istri tuan Yoan, please~"
CTAZZ!!
seperti mencelos kejantung Haara mendengar ucapan Alka,
"Aku tidak mau." tolak Riza.
"Ayolah~ Riza~ aku hanya ingin melihat calon istri tuan Yoan, kumohon~" mohon Alka,
"Kau saja yang bicara pada Yifan, lebih baik lagi jika kau tanya langsung ke orangnya." seru Riza tak perduli.
"Kau ini jahat sekali Riza~" seru Alka pura pura menangis,
"AtHaara!" panggil Alka tegas,
"I-iya?"
"Kau satu satunya harapanku! tolong mintakan foto atau akun sosial media calon istri tuan Yoan ya,please~" mohon Alka dengan wajah memelas,
"Eee …,"
"Haara~" rengek Alka memohon,
"Baiklah, a-aku akan minta bantuan pada kak Ammar." sahut Haara ragu,.
"Yeay!!" senang Alka.
"Aku ingin tahu saja kok~" sahut Alka,
Kacau! Itu yang Haara katakan didalam hati sejak tadi.
●•●•●•●•●
Tok Tok Tok Tok!!
Cukup lama membuat seseorang didalam membuka pintu, Ammar kembali mengetuk dengan jerih payahnya.
Ketukan kedua kalinya pun pintu terbuka.
Yoan terbelalak dan melangkah mundur saat melihat Ammar membawa dokumen yang sangatlah banyak,
"Kenapa kau lama sekali membuka pintunya Mr. Yoan!" geram Ammar keberatan dengan dokumen dokumen itu,
"Apa-apaan kau membawa semua dokumen ini keruanganku?!" terkejut bukan main,
Ammar menyimpan semua dokumen itu di meja Yoan dan menarik nafas lega,
"Kau tadi bilang apa? aku tak mendengarnya,"
"Kenapa kau membawa semua dokumen itu keruanganku?!"
"Ahh~ papamu kemarin menelfonku, ia menyuruhku mengambil dokumen ini kerumahnya pagi-pagi, paman bilang kau harus memeriksa semua dokumen yang belum kau selesaikan saat di China."
"Ap-apa?! jangan sekaligus kau membawa semuanya! kau berniat membunuhku!?" keluh Yoan melihat tumpukan dokumen itu sekilas,
"Perintah sudah dijalankan, aku akan kembali menyelesaikan dokumen yang anda perintahkan padaku, saya permisi Mr. Yoan,semangat!" seru Ammar yang tak mendengar keluhan Yoan,
"Oi! Ammar, Ammar!! hahh!! pura-pura tak mendengarku kau ya!!" marah Yoan,
Yoan menenangkan dirinya, ia duduk di kursi kerjanya, ia mencoba membaca dokumen bertuliskan china itu.
• • •
Siang hari kemudian ...
__ADS_1
"Ee ... Yoan? kau baik-baik saja?" tanya Ammar melihat Yoan meletakan keningnya di meja,
"Daging~" seru Yoan dengan suara lesu dan sedikit merengek, ia meletakan dagunya di meja.
"Hee?" terkejut Ammar.,
"Aku ingin makan okonomiyaki dan juga cola~" seru Yoan lesu, berakhir meletakan keningnya di meja lagi.
"A-ah~baiklah, aku akan delivery!" kekeh Ammar mengetahui jika mode kekanak kanakan Yoan tengah 'ON' disaat Yoan kelelahan seperti saat ini,
"Okonomiyaki~" rengek Yoan lagi saat mengetahui Ammar bergegas untuk memesan di ponselnya,
"Iya sedang ku pesan,"
"Jangan lupa colanya~" rengek Yoan masih dikeadaan kening di meja,
"Aku sudah memesan okonomiyaki dan cola."
Tak ada sahutan dari Yoan, pria itu tertidur~
"Hahh, saat seperti ini dia membuatku merinding, beda sekali dengan sikap biasanya,
bagaimana jadinya jika Haara mengetahui Yoan seperti ini jika kelelahan? apa ia akan tertawa seperti Anna saat melihat Yoan mode kekanak kanakan saat ini?" oceh Ammar menatap Yoan.
• • •
Ammar menatap Yoan yang memakan okonomiyaki yang ia inginkan tadi,
"Berhenti menatapku!" seru Yoan tajam,
"Ha? secepat ini kau merubah mode nya?"kecewa Ammar,
"Apa yang kau bicaran?" seru Yoan menatap Ammar tajam,
"Coba merengek seperti tadi, saat kau memintaku membelikan okonomiyaki, ingin ku rekam dan kirim pada Haara." seru Ammar menahan tawa,
Yoan menatap Ammar dengan tatapan mematikan, Ammar yang melihatnya langsung terdiam,
"Lupakan, kembali makan saja," seru Ammar terkekeh,
Yoan kembali fokus memakan okonomiyaki nya,
"Tapi, bagaimana jika Haara melihat hal serupa seperti tadi suatu saat nanti ya?" seru Ammar memakan sushi nya,
"Itu tak akan terjadi,"
"Hahh, kau selalu mengingkar ucapanmu, bahkan kau mengulanginya tepat saat ada Anna, Anna sampai tak berhenti ketawa saat itu" kekeh Ammar,
Yoan tak menyahut ucapan Ammar.
"Ah! kemarin apa saja yang kau dan Haara bicarakan??" tanya Ammar penasaran,
Yoan terdiam mendengar itu, ia menyimpan sumpit nya perlahan,
"Ia melihatku saat traumaku kambuh." jawab Yoan dengan berat,.
Ammar tercegang mendengar hal itu,
"Aku telah membuatnya takut~"
"Apa yang membuatmu kembali trauma Yoan?" tanya Ammar dengan raut serius,
"Karena pembicaraan gadis itu dan diriku mengarah pada masa remaja ku, tanpa ku sangka mengingat sedikit saja, membuat ingatanku menguasai kesadaranku." jelas Yoan.
"Aku telah membuatnya takut, tangan dan tubuhnya bergetar kulihat saat kesadaranku kembali."
"Ia pasti memahami keadaanmu saat ini." seru Ammar,
"Itu yang ia katakan." sahut Yoan.
Yoan telah menghabiskan okonomiyakinya, ia meminum colanya habis,
"Sore nanti aku ingin kau menemaniku."
"Hm? kemana? bahkan pekerjaanmu masih banyak."
"Menemui Dokter Hwang."
...•...
...•...
__ADS_1
...{Bersambung}...
...•...