
Yoan menyodorkan obat pada Haara,
Haara menatap obat itu nggan untuk mengambilnya,
"Aku tak punya permen, tahan pahit nya ya" seru Yoan lembut
Perlahan Haara mengambilnya, ia meminum obat itu sambil mengerukan keningnya merasa pahit
"Minumlah" sodor Yoan memberi air
Haara meminum air itu hingga habis
Yoan menatap Haara yang melamun, mata gadis itu terlihat bengkak
Yoan merenungkan untuk bertanya tentang kenapa gadis itu menangis sangat sedih sekali tadi,
Haara bangkit berdiri meninggalkan Yoan di ruang keluarga tanpa mengeluarkan satu patah kata pun
Yoan yang melihat gadis itu pergi tanpa bicara membuatnya mengerutkan keningnya bingung
"Mungkin aku bertanya saja padanya esok saja" hela nafas Yoan.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
keesokan harinya~
Yoan menutup pintu kamarnya, baru saja akan melangkah turun, ia mendengar suara batuk batuk dari dalam kamar Haara,
Yoan mengernyitkan keningnya bingung, ia pun membuka pintu kamar gadis itu,
Dengan wajah panik Yoan melangkah mendekati gadis itu.
Yoan menduduki dirinya di kasur gadis itu tepat di samping Haara yang masih tertidur menghadap dirinya,
Yoan meletakkan telapak tangannya dikening gadis itu,
Yoan menghela nafasnya gusar, tubuh gadis itu terasa panas
"Haara?" tanggil Yoan menepuk nepuk pipi Haara lembut
"Haara bangunlah dulu"
Haara membuka matanya perlahan, pandangannya yang buram pun perlahan menjadi jelas
Dapat dilihat wajah fresh dengan ekspresi serius yang ia lihat dari pria itu
Haara melebarkan pandangannya, ia menduduki dirinya tiba tiba
"Aku kesiangan! Ini sudah jam berapa?" seru Haara panik
"Hey hey hey, tenanglah Haara, tubuhmu panas, kau sepertinya demam, aku tidak izinkan kamu sekolah untuk hari ini, kita ke dokter sekarang" sahut Yoan menahan Haara agar tidak turun dari kasur
"Aku tidak sakit, aku baik baik saja" sahut Haara mencoba turun dari kasur
Yoan kembali mencegah,
"Tubuhmu sedang tidak baik baik saja AtHaara, aku tak akan izinkan kamu ke sekolah, kita ke dokter" ulang Yoan.
• • •
Haara menduduki dirinya setelah dirinya diperiksa oleh dokter,
Yoan membantu Haara turun tanpa gadis itu minta,
Yoan mengiring Haara untuk duduk di kursi yang dokter sediakan
"Nona AtHaara masuk angin, dan juga ada suatu fikiran yang selalu ia fikirakan yang membuat kepalanya terasa sakit, nona Haara pun terserang flu dan demam" jelas Dokter
Yoan meilirik Haara disampingnya, namun gadis itu hanya melamun
"Apa kerena pengaruh kehujanan di malam hari?" tanya Yoan
"Kehujanan malam hari? Itu bisa jadi penyebab nya tuan" sahut dokter.
Yoan kembali berfikir, masalah apa yang membuat gadis itu seperti saat ini, bahkan ia tak mengetahuinya sama sekali.
●•●•●•●•●
singkat cerita, mereka pun telah kembali ke penthouse, Yoan masih saja di hantui rasa kebingungan karena sikap gadis itu yang aneh
Haara telah menghabiskan bubur yang Yoan belikan tadi, hidung nya benar benar gatal sekali dan matanya terasa sangat berat,
__ADS_1
"Minum dulu lalu .."-Yoan
"Hatcchi!!" bersin Haara kearah lain
Haara menyandarkan kepalanya di sofa, tubuhnya benar benar terasa sangat lemas sekali,
Yoan yang melihat gadis itu benar benar lemah sangat kasihan pada gadis itu
Ia menyodorkan obat pada Haara untuk gadis itu minum,
Haara hanya diam
"Aku akan ambil permen untuk .."
"Kenapa kau tak pergi bekerja?" seru Haara membuat ucapan dan gerakan Yoan terhenti
"Kau sedang sakit, tak ada yang mengurusmu selain aku"
"Aku baik baik saja, jadi pergilah ke kantor" lemah Haara dengan tatapan kosong
"Jangan mengaturku" sahut Yoan
"Pergilah~" seru Haara lemah
"Kau mengusirku?" tanya Yoan
"Aku tak ingin pekerjaanmu menumpuk karena aku, aku bisa mengobati diriku sendiri"
"Kau ini kenapa? Kau sangat aneh AtHaara" seru Yoan kesal,
"Aku baik baik saja, jangan membuatku dilihat tak mampu mengurus diriku sendiri" seru Haara menatap Yoan tajam
Yoan terdiam sejenak
"Minum obat ini"
"Tidak"
"At ..Ha ..ara~" sabar Yoan dengan raut serius
".."
"Kau membuatku kesal, sungguh merepotkan!" kesal Yoan
Haara yang mendengarnya hati nya berdegup dengan rasa sakit
"Jika merepotkan tak usah merawatku!! lagi pula aku tak pernah memintamu merawatku!!" emosi Haara
Tak!
Suara hentakkan gelas di meja kaca terdengar nyaring
Haara menatap Yoan nanar
"Tak usah perdulikan aku, pergilah ke kantor, aku tak butuh rasa kasihanmu" seru Haara lemah dengan tubuh bergetar, ia beranjak pergi ke lantai atas.
Haara menutup mulutnya untuk menahan dirinya agar tak terisak
Yoan mengacak acak rambutnya kesal
"Salah lagi~!" seru Yoan.
●•●•●•●•●
Hari telah menjelang siang, Haara yang tertidur pulas tak ada pergerakkan gadis itu akan bangun
Yoan membuka pintu kamar Haara sambil membawa nampan yang diatasnya ada sup krim jagung instan yang ia buat sendiri,air putih dan obat
Yoan meletakkan nampan itu di atas nakas di samping kamar gadis itu
Yoan menduduki dirinya seperti ia membangunkan gadis itu pagi hari
Ia merasa sedikit ragu untuk membangunkan gadis itu, ia menyadari jika ucapannya waktu tadi keterlaluan.
"Haara?" panggil Yoan pelan
Tak ada pergerakkan dari gadis itu,
"AtHaara~?" panggil Yoan lembut,
Suara erangan pelan terdengar, gadis itu terbangun, tatapan mereka bertemu, hal itu langsung membuat Haara menutup tubuhnya dengan selimut
"Haara~ aku tahu kamu marah sama aku, maafkan aku, ucapanku terlalu keterlaluan padamu, aku minta maaf" seru Yoan serius
"..."
"Aku tak akan mengulanginya, aku janji padamu" seru Yoan lagi
__ADS_1
Tak ada sahutan lagi dari gadis itu
"Aku .. Buatkan sup krim jagung untukmu, walau instan aku harap kau menyukainya" seru Yoan menarik selimut Haara,
Haara menunjukkan dirinya dari balik selimut dan menduduki dirinya perlahan,
Ia menatap Yoan sekilas
"Kau yang membuatnya untukku?" tanya Haara pelan
Yoan berdehem sambil mengangguk, ia mengambil mangkuk berisi sup krim jagung itu di atas nakas
Jujur saja ia merasa tertegun pria itu membuatkan sup krim jagung untuknya, pria itu berusaha membuatkan sup itu untuknya.
Haara menatap Yoan yang menyendokkan sup krim jagung itu dan meniupinya
"Buka mulutmu"
Haara benar benar tak menyangka jika pria itu akan menyuapinya makan, perlahan membuka ia mulutnya,
"Enak?" tanya Yoan ragu
Haara terdiam sejenak dan berakhir mengangguk
Yoan bernafas lega, ia kembali menyendok sup itu dan meniupinya
Haara membayangkan jika dirinya menjadi pria itu,
Ia sendiri akan merasa bingung pada dirinya sendiri karena perubahan sikapnya yang secara tiba tiba
Bagaimana pun juga ia tahu jelas jika pria itu tak mengetahui apapun tentang hal apa yang terjadi pada dirinya, bahkan yang membuat dirinya sendiri seperti ini adalah pria itu sendiri
"Kau sudah makan?" tanya Haara
"Belum, nanti saja"
"Makan dengan apa?" tanya Haara lagi
Yoan mengangkat mangkuknya,
"Sup krim jagung sama seperti mu"
"Biar aku makan sendiri saja, kamu pergilah makan, nanti sup krim milikmu dingin" seru Haara lembut
"Aku bisa menghangatkannya nanti, aku harus melihatmu benar benar meminum obat sehabis makan" sahut Yoan kembali menyuapi Haara
Haara tersenyum tipis mendengarnya
"Sambil makan, bisa kau jawab pertanyaanku?"
Haara mengerutkan keningnya
"Apa?"
"Tentang kenapa semalam kau menangis, apa kau pulang basah kuyup kemarin malam karena kau memiliki masalah?"
Deg!
Haara terdiam, ia bahkan belum memikirkan alasan apa yang akan ia berikan pada pria itu
"Aku sedang bertanya AtHaara, jawablah" seru Yoan menatap Haara sambil meniup sup di sendok
"Ku rasa aku tak perlu berfikir panjang untuk memberitahumu tentang ini dan tak perlu ragu memberitahumu hal ini" seru Haara tersenyum tipis sambil melamun
Yoan mengerutkan keningnya bingung,
"Apa itu?"
Haara menatap mata elang pria itu dalam, hal itu membuat pria itu seakan terhipnotis, Yoan juga ikut menatapnya dalam
"Menurutmu, bagaimana aku menangani perasaanku terhadap sosok seorang pria yang masih sangat ku cintai sampai sekarang?"- Haara.
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
__ADS_1
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤