
Haara memakai kaca matanya dan juga masker sebelum masuk ke dalam apartemen.
Hari ini ia memakai celana panjang hitam dan juga baju panjang hitam, pakaian yang ia gunakan tidak seperti pakaian yang ia gunakan di hari hari biasa, biasanya ia selalu memakai pakaian feminim.
Ia melihat jam tangannya yang diberikan oleh Bastian pada saat itu padanya,
Haara mencuri-curi pandang ke sekitarnya, dengan cepat menempelkan card nya ke sensor di lift itu, secara otomatis pintu lift tertutup.
Haara bernafas lega, ia membuka maskernya, begitu sangat menyesakkan nafasnya,
"Sudah jam 10 kurang, tentu saja dia sudah pergi ke kantor. bahkan aku sampai melihat ke parkiran dan mengecek satu persatu mobil di parkiran, mobilnya sudah tidak ada." seru Haara lega.
"Aku tidak perduli setelah aku membawa barang barangku dan di curigai security di lantai dasar, jelas mereka mengenal aku. lagi pula aku tak sedang mencuri, aku sedang mengambil barang barangku kok." serunya lagi menenangkan dirinya.
Pintu lift pun terbuka, Haara menarik nafasnya dan menyemangati dirinya sendiri. ia pun keluar dari lift dan kembali menempelkan cardlock nya pada sensor di pintu penthouse.
Harum penthouse yang sudah lama tidak ia cium aromanya, ia benar benar merindukan tempat ini, sungguh sangat merindukannya.
"Mungkin ini terkahir kali aku kesini." serunya sedih, ia melangkahkan kakinya naik ke lantai atas penthouse.
• • •
Haara membuka pintu kamarnya, ia tersenyum miris saat melihat kamarnya dan boneka yang pria itu berikan padanya duduk manis di kamarnya.
Haara mengerutkan keningnya,
Kamarnya terlihat rapih tidak sebelum nya yang ia tinggalkan acak acakan.
"Apa ia merapihkan kamarku?" serunya melangkah masuk secara perlahan.
Haara menggeleng cepat,
"Aku tidak perduli! ingat tujuanmu AtHaara, tujuanmu datang ke sini itu untuk apa." serunya menepuk nepuk pipinya.
Dengan cepat Haara mengambil tas sekolahnya dan memasukkan buku buku sekolahnya kedalam tas nya,
lalu ia dengan gerak cepat membuka pintu lemarinya dan mengambil semua seragamnya, melipatnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Buku dan seragam sudah, lalu apa lagi ya? Ah! Sepatuku ada dibawah, aku harus bawa menggunakan papper ...,"
GREP!!
DEG!!!
Gerakan nya terhenti seketika, matanya membelalak! tubuh nya mematung dan juga nafasnya yang terhenti sejenak.
Pelukan erat dari seseorang, memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat.
Haara merasakan jika kepala seseorang itu diletakkan di pundaknya,
Hembusan nafas seseorang itu berhembus dilehernya membuat tubuhnya merasa merinding.
Harum khas yang sudah lama tak ia cium pun tercium di indra penciumannya,
'Harum ini, harum khas dirinya, tidak mungkin!' batin Haara.
"Akhirnya~ kau pulang AtHaara."
'Ini sungguhan! Ini Yoan!!' batin Haara terkejut.
Haara merasa ada satu hal yang aneh saat pria itu memeluknya,
Tubuh pria itu panas!
Bisa Haara simpulkan pria itu sedang sakit.
"apa kau tahu jika aku sedang sakit? hm?"
benar dugaannya, pria itu sedang sakit.
"Aku merindukanmu AtHaara~"
Jantungnya berdegup kencang saat pria itu mengatakan merindukan dirinya,
Ia tak menyangka jika pria itu merindukan dirinya dan mengharapkan dirinya pulang. namun ia tak akan biarkan pertahanan nya runtuh karena ucapan dan keadaan pria itu yang kurang sehat saat ini.
Haara mencoba melepaskan pelukan pria itu, namun pelukan pria itu semakin erat membuat Haara kesulitan terbebas dari pria itu.
Perasaan hatinya kini benar benar tak menentu, sisi lain hatinya merasa senang dan sisi lain terasa sangat sakit. namun rasa ingin terbebas dari pria itu lebih besar di hatinya.
"Rambutmu ..., Kenapa kau mewarnai rambutmu AtHaara??" tanya Yoan terkejut melihat warna rambut gadis itu,
"Lepaskan aku" seru Haara meronta, ia tak mengiraukan pertanyaan pria itu.
"Aku sedang bertanya padamu, kenapa kau mewarnai rambutmu??" tuntut Yoan dengan nada lembut,
__ADS_1
"Bukan urusanmu! ini rambutku! terserah aku ingin mewarnai dengan warna apapun!" sahut Haara meronta, namun pria itu semakin erat memeluknya.
"Lepaskan aku!" seru Haara dengan nada tak bersahabat,
"Aku tak akan melepaskan mu AtHaara~" sahut Yoan dengan suara beratnya.
"Aku bilang lepaskan aku!! Biarkan aku membawa barang barangku dan pergi dari sini!!" teriak Haara meronta,
"Sudah ku bilang! Aku tak akan melepaskanmu!!" seru Yoan meninggikan nada bicaranya.
Haara berhenti meronta, tubuhnya terasa melemah saat pria itu meninggikan nada bicara nya.
"Tak ingin melepaskanku? Lalu kau ingin aku tetap tinggal?" tanya Haara datar,
"Iya, tetap tinggal bersama ku~"
"Lalu? Apa kau ingin melanjutkan niatmu untuk menyakitiku?" tanya Haara tertawa miris,
"Tidak AtHaara~" sahut Yoan dengan nada sedih.
"Cih, aku tak akan termakan kebohonganmu lagi, tuan!" tawa Haara miris,
"Aku tidak berbohong padamu, tolong percaya padaku~" sahut Yoan dengan nada serius.
"Ku ucapkan selamat, aku turut senang saat kau menemukan wanita yang mirip sekali dengan Irene. dia sangat mirip sekali dengan kakaknya ya, tak heran jika kau tidak menaruh cinta padanya, bahkan dia sama cantiknya dengan kakaknya." kekeh Haara,
"Sudah ku bilang aku tak memiliki hubungan apapun dengannya AtHaara, percayalah padaku, aku-"
Tak!!
Yoan terkejut saat Haara menghempaskan kedua tangannya.
Haara memakai tasnya dan mengambil papperbagnya,
Suara pintu tertutup terdengar, membuat Haara sontak menatap pintu kamarnya yang ditutup oleh Yoan.
"Ap apa yang kau lakukan!!" terkejut Haara,
"Aku tak akan membiarkan mu pergi" sahut Yoan dengan tatapan tajam.
"Sudah cukup Yoan!! Jangan menyiksaku lagi!!! Bebaskan aku!!!! Biarkan aku keluar!!!!" teriak Haara dengan mata memerah menahan air matanya agar tak keluar, jujur saja ia merasa takut jika dirinya akan di kurung di Penthouse oleh pria itu.
"Ini tempat tinggalmu AtHaara! Akulah rumahmu! Bukanlah Yuu!!" emosi Yoan.
Yoan terkejut atas ucapan Haara,
"Sekarang Yuu adalah rumahku!" seru Haara mulai terisak.
Yoan menghampiri Haara yang menangis,
"Apa maksud ucapanmu AtHaara??" tanya Yoan sendu dan tak percaya,
Haara tak menjawab.
"Apa maksud ucapanmu? Bahkan kau mencintaiku, dan akulah rumahmu!" seru Yoan menuntut sebuah jawaban,
Haara tertawa hambar saat mendengarnya,
"Cinta? Bahkan cintaku sudah tak ada lagi untukmu, aku sudah membuang perasaanku padamu, apa kau lupa dengan janjiku untuk membuang perasaanku padamu, tuan?" seringai Haara tertawa miris.
Yoan membulatkan matanya terkejut bukan main, tubuhnya membeku.
Haara pun melangkah keluar meninggalkan Yoan di kamarnya.
• • •
Haara memasukkan sepatunya kedalam papperbag nya satu persatu,
"AtHaara~"
Haara tak menggubris.
"Aku berkata jujur AtHaara, bahwa aku tak memiliki hubungan apapun dengan Rynne~" seru Yoan memelas,
"..."
"Jika kau tak suka, aku akan menjauhi Rynne sejauh jauhnya" seru Yoan lagi menunduk.
Haara terdiam sejenak, cekatan dihatinya terasa sakit saat mendengar ucapan pria itu.
"Aku tak akan menemuinya dan berhubungan dengannya lagi jika itu mau mu."
"Dan kau tahu? Secara perlahan perasaanku pada Irene telah memudar AtHaara~" seru Yoan dengan nada lemah,
'Aku tak boleh luluh, tidak boleh! Bahkan cinta tidak akan semudah itu menghilang dari hatinya' batin Haara.
__ADS_1
"dan hal yang kau lihat saat itu tak seperti yang kau lihat, kamu salah paham, aku dan Rynne-"
"Sudah cukup! jangan menjelaskan apa apa lagi, aku tak ingin kembali sakit hati untuk ketiga kalinya olehmu" sahut Haara berdiri menatap Yoan datar.
Haara sungguh tak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dari pria itu, ia tak ingin hatinya luluh dan memutuskan kembali lagi ke sisi pria itu, ia tak mau perasaannya terluka lagi karena pria itu.
Pria itu memejamkan matanya, dapat dilihat Yoan menunjukkan wajah yang sangat sedih.
Haara benar-benar merasa tak tega melihat keadaan pria itu seperti saat ini, wajah pria itu terlihat pucat sekali, sangat pucat.
Rambut yang acak acakkan, wajah yang lesu, dan juga pria itu terlihat kurus seperti saat pria itu sibuk mengurus pembukaan cabang untuk di Korea saat itu.
Pria itu tidaklah makan dengan baik dan tak mengurus dirinya dengan baik, Haara benar benar tak tega melihat pria itu seperti ini.
"Kepala keluarga Zhao akan datang padamu untuk menjelaskan jalan permasalahan ini." seru Haara membuang pandangannya. ia tak ingin mengasihani pria itu, ia ingin mengasihani dirinya sendiri, luka di hatinya belum lah pulih.
"Dia sudah datang padaku kemarin sore." sahut Yoan cepat dengan nada lesu,
"Hm, beliau memintaku memutuskan keputusannya secepat mungkin." sahut Haara pelan.
"Aku tak akan menceraikanmu AtHaara."
Haara terdiam,
"aku tak akan memberikan dirimu pada Yuu atau siapapun." sahut Yoan tajam dan datar,
Haara sontak menatap Yoan tak percaya.
"Meski papa mu memaksaku sekalipun, aku tak akan lakukan itu." seru Yoan menatap Haara dalam,
Haara terdiam sejenak.
"Tolong perhatikan makan mu, minumlah obat dan istirahat yang cukup. jangan menunjukkan dirimu yang menyedihkan seperti ini didepanku lagi nanti." seru Haara pergi.
Haara menghela nafasnya, ia merasa ucapan pria itu terdengar sedikit mengerikan, ia pun melangkah keluar dari penthouse pria itu.
Ts!
Yoan menyadarkan sesuatu, ia mengusap pipinya,
Ia menangis.
ucapan gadis itu yang mengkhawatirkan nya membuat rasa rindu nya akan perhatian gadis itu timbul sangat besar di hatinya.
Yoan tersenyum miris, ia mengingat kapan terakhir dirinya menangis karena seorang wanita, bahkan rasanya lebih sakit saat ini, sungguh sangat sakit.
Ponselnya berdering, ada pesan masuk untuknya.
Yoan mengambil ponselnya di saku celananya,
Pesan itu berasal dari Yifan.
Yoan membelalakan matanya, tubuhnya mematung, tubuhnya gemetar hebat saat itu juga.
Pesan itu membuatnya sukses tak dapat berkata apa apa,
'Aku mendapat kabar jika Finn datang ke Indonesia.'
^^^-Yifan.^^^
...•...
...•...
Author: "omg! Finn tiba di Indonesia!"😫
...♥Bersambung♥...
...•...
...❗❕❕❗...
...Terima kasih sudah membaca part ini kakak Readers dan kakak Author yang hebat hebat!❤...
...Jangan lupa untuk di...
...Like👍...
...Vote🎟...
...Tambah ke Favorite❤...
...Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...Dan komentar yang selalu ku nantikan💭♥...
__ADS_1