
Hari sudah menjelang malam saat ini, semenjak makan siang bersama dengan Yifan, Alka, Riza dan dirinya, pria itu pergi keluar rntah kemana.
Yifan, Alka dan Riza sudah pulang satu jam yang lalu, mereka menunggu kepulangan Yoan, karena lama mereka pulang tanpa pamit kepada pria itu.
Dan juga tak lama mereka pulang, Ammar dan Anna datang berkunjung, mereka pun bertanya tanya kemana pria itu.
Jam menunjukkan jam 7 malam, pria itu belum kunjung kembali, kemana pria itu?itu pertanyaan yang ada dibenak nya.
Haara bangkit berdiri dengan susah payah,ia berniat akan masak saat ini.
Dengan langkahnya sangat pelan dan juga meringis menahan sakit, ia berusaha untuk terlihat baik baik saja, ia tak boleh manja, karena ia harus sadar, sebagai siapa statusnya sekarang.
Tak!
"Atatatatata aw aw aw, huwaa sakkiitt~~!!!!" ringis Haara saat lutut yang terlukanya terpentok meja bar dapur,
"Mau ngapain kamu didapur?"
Haara mencari sumber suara itu,
"Aku lapar, aku ingin masak" sahut Haara kembali fokus menatap lututnya yang malang, ia mengipas ngipaskan luka pada lututnya.
"Tak perlu, aku membeli ramen tadi" sahut Yoan melangkah kearah dapur melewati gadis itu,
Yoan menyadari jika gadis itu menyusulnya dibelakang,
"Kenapa mengikutiku? ramennya di meja makan" seru Yoan menatap Haara datar,
"Mau ambil minumnya" sahut Haara cemberut,
"Nanti aku ambilkan, pergi duduk sana" usir Yoan mengambil minum dikulkas.
Haara pun menurutinya, ia melangkah ke arah meja makan sambil menahan sakit di lututnya,
Yoan membawa dua gelas air putih dan duduk di kursi seberang hadapan Haara,
"Darimana saja?" tanya Haara datar,
"Menghadiri rapat" sahut Yoan cuek,
"Dengan wajah lebammu?" tanya Haara tak percaya,
Yoan hanya melirik gadis di hadapannya dan kembali memakan ramennya,
"Kenapa tak mengompres nya, bahkan lukamu terlihat lebih bengkak" seru Haara serius,
Yoan meringis pelan dan memegang sudut bibirnya yang terasa sakit saat akan membuka mulutnya,
"Lihat! makan saja jadi sulit!" marah gadis itu,
"Aku akan mengompresnya nanti" sahut Yoan cuek, ia membuka mulutnya dengan perlahan,
Haara memakan ramen nya sambil menghela nafasnya kasar.
• • •
Haara bangkit berdiri berniat untuk membuang tempat ramen itu,
Ia menatap Yoan yang secara tiba tiba mengambil tempat ramen miliknya dan pergi ke dapur,
Haara tak menghiraukan, ia pun melangkah ke ruang santai, tatapannya fokus saat melihat Yoan mengompres sudut bibirnya dengan kain yang tipis.
"Kenapa mengompresnya dengan kain yang begitu tipis? ambil handuk kecil dan baskom berisi air hangat sana, mana bisa menahan panas dengan kain itu" oceh Haara kesal,
Yoan tak menyahut, pria itu menuruti ucapan gadis itu.
Tak menunggu lama, Yoan datang dengan perintah gadis itu padanya,
"Berikan padaku" pinta Haara,
"Aku bisa sendiri" sahut Yoan duduk di ujung sofa yang sama dengan Haara,
"Oh ya sudah, lebih baik .."
__ADS_1
Belum selesai ia bicara ia terkejut saat menyadari Yoan melemparnya handuk dan juga ketiba tibaan pria itu duduk disebelah Haara sambil membawa baskom,
"Katanya bisa sendiri?" tanya Haara menatap Yoan yang pandangannya fokus ke depan,
"Kau tadi yang mau mengompres luka lebamku" sahut Yoan cuek,
Haara tak menyahut, ia mencelupkan handuk kecil itu ke dalam baskom dan memerasnya,
"Mm bisa kau .."
Sontak Haara terbelalak saat wajah Yoan menghadap kepadanya,
Haara berdehem untuk menetralkan kegugupannya, dengan perlahan lahan ia mengompres sudut bibir pria itu,
Dapat Haara rasakan hembusan nafas yang teratur pria itu, jantungnya berdegup kencang saat itu juga.
Haara melirik ke mata pria itu, tiba tiba saja tubuhnya merinding,
Yoan sedang menatapnya,
"Ke kenapa menatapku?!" gugup Haara membuang wajahnya,
"Dihadapanku ada kamu, lalu harus ke arah mana mata ku memandang?" sahut Yoan datar,
Haara membenarkan ucapan pria itu, memang benar ucapannya.
Ia terkejut saat Yoan memegang tangannya, hal itu membuat nya menatap Yoan,
"Lukaku disini, bukan di pipiku" seru Yoan membenarkan letak handuk yang Haara pegang ke sudut bibirnya,
"Ah iya maaf"
"Kemana arah pandangmu? apa kau terpaksa mengompres luka lebamku?" seru Yoan,
"Bu bukan itu, itu karena kau yang menatapku" malu Haara yang fokus pada sudut bibir Yoan,
Yoan tak menyahut,
Haara kembali mencelupkan handuk ke baskom, memerasnya dan kembali mengompres luka lebam pria itu.
Haara terkejut dengan ucapan pria itu,
"Ti tidak usah, aku lebih suka naik bus dibanding harus naik mobil pribadi" sahut Haara gugup,
Yoan tak menyahut lagi
"Mm, pundak bawah mu apa terluka juga?" tanya Haara mencoba fokus
"Sepertinya terkilir" sahut Yoan memegang pundak bawahnya,
Haara mengambil sesuatu di tas sekolahnya,
"Gunakan ini dan urut sendiri" seru Haara menyodorkan minyak angin,
Yoan mengambilnya dan menuruti,
Haara ingin bertanya sesuatu dengan nya, mengenai ucapan Yifan tadi benar benar mengganggunya,
Jikalau pria itu menghajar Daniel habis habisan karena ia larut dalam masa lalunya, itulah yang membuat Yoan sangat brutal sekali.
Ia ingin sekali bertanya mengenai masa lalunya, namun ia urungkan hal itu, ia tak ingin pria itu dikuasai bayang bayang masa lalunya.
"Jika boleh jujur, aku merasa takut waktu kau terlihat hilang kendali saat menghajar nya habis habisan tadi" ucap Haara tiba tiba,
Gerakan tangan Yoan terhenti mengusap usap pundak bawahnya,
Yoan tersenyum miris dengan tatapan kosong,
"Terlihat seperti psikopat bukan?"
"Ti tidak, kau terlihat bukan seperti -"
Yoan mendecih mendengar Haara yang akan beralasan,
__ADS_1
"Kau tidak berniat ingin menghiburku bukan?" tanya Yoan mengambil handuk di tangan Haara dan menyimpan nya di meja,
Haara menatap Yoan yang memancarkan tatapan kosong ke arah lain,
"Psikopat sama saja seperti monster pembunuh, cih" decih pria itu,
"Aku tidak pernah menyebutmu seorang psikopat atau seorang monster pembunuh, Yoan!" sahut Haara marah,
Yoan menatap Haara tajam,
"Aku .. Aku hanya khawatir denganmu" seru gadis itu menunduk,
"Kenapa kau khawatir denganku?" tanya Yoan pelan menatap Haara lebih dekat yang tengah tertunduk,
"Kau menghajarnya seperti itu karena kau dikuasai ingatan traumamu kan?"
Yoan terkejut saat mengetahui Haara mengetahui jika kejadian itu ia dikuasai ingatan traumanya,
"Tidak"
"Jangan bohong!" seru Haara masih tertunduk,
Yoan terdiam jika gadis itu benar benar mengetahuinya,ia menyahut dengan deheman,
"Darimana kau tahu?" tanya Yoan datar,
"Aku tahu sendiri, jika itu terus terjadi itu akan mempengaruhimu"
"Cih! jangan seolah olah kau bersikap sudah memahami siapa diriku AtHaara" decih Yoan
"Aku tahu Yoan! ucapanku tak salah! kenapa kau mencoba menutupinya dariku! apa aku tak boleh dan tak pantas tahu siapa dirimu?!" marah Haara menatap Yoan,
Haara terkejut karena jarak wajah mereka terlalu dekat, dengan cepat ia membuang wajah kesamping,
"Apa yang kau ketahui jika traumaku terus menguasaiku?" tanya Yoan menantang,
Haara terdiam,
"Itu .. Akan mempengaruhi mentalmu .. lagi" sahut Haara pelan diakhir kalimat, ia takut jika pria itu marah
Tangan Yoan mengepal menahan amarah,
"Apa yang ada di benakmu sekarang mengenai aku yang dulu memiliki masalah mental?" tanya Yoan berat,
Tubuh Haara bergetar, ini adalah sisi lain dari pria itu,
"Jawab, apa sekarang kau merasa takut denganku?" senyum miris Yoan,
Haara menggelengkan kepalanya, jawabannya tidak.
"Aku berfikir, aku ingin datang ke masa lalu dan menyelamatkan mu, aku ingin kau tak mengalami kejadian yang membuat dirimu trauma seperti sekarang"
Jawaban Haara membuat Yoan melemah saat ini juga,
"Aku memang tak tahu masa lalu apa yang membuatmu trauma, tapi aku akan mencari tahu dan akan membuatmu terbebas dari traumamu" sahut Haara menatap Yoan,
"Dan juga, jangan sebut dirimu seorang psikopat atau seorang monster pembunuh, aku tak suka!"
Yoan tertegun dengan ucapan gadis itu, hatinya terasa lebih membaik saat gadis itu mengatakan 'tak suka'
"Apa kau berniat akan masuk lebih dalam ke kehidupanku? sampai kau berniat ingin mengenal masa lalu ku" seringai Yoan,
Haara mengangguk mantap, Yoan yang melihatnya terkekeh,
"Kau akan menyesal".
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏