My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Hampir Hilang Kendali


__ADS_3

Yoan memijat pelipisnya pening saat mendengar semua cerita panjang lebar dari istrinya itu.


Bahkan ia merasa kecewa pada Haara yang telah menutupi masalah sebesar ini dari nya, bahkan ketidak tahuan pria itu telah membuat peluang untuk Zen, bahkan gadis nya itu kini telah sedikit lepas dari pengawasannya.


"Yoan~ perlu kau tahu aku tak pernah meresponnya~" takut Haara.


Yoan tak menyahut, pria itu larut dalam fikirannya.


Yuu memberi isyarat pada Yifan, dan Yifan pun paham.


"Kak Yoan, Haara, kami pamit pulang, kami tak pantas berada di situasi ini, ini adalah masalah rumah tangga kalian berdua." seru Yifan.


"Yifan benar, selesaikan masalah kalian berdua dengan kepala dingin, bicarakan baik-baik, jangan buat masalah semakin memanas." seru Yuu melangkah mendekati Yoan.


Puk! Puk!


Yuu menepuk-nepuk pundak Yoan.


"Jangan terbawa emosi, dia hanya seorang mantannya kakak ipar, meski aku tak tahu ceritanya, aku harap kalian jangan sampai bertengkar, jangan menakutinya." seru Yuu menasihati.


Yoan mengangguk yang masih memijat pelipisnya dengan mata masih terpejam.


"Ayo Yifan, kakak ipar kami pamit pulang, jelaskan semuanya pada kak Yoan." seru Yuu.


Haara tersenyum sendu sambil mengangguk.


"Berhati-hatilah kalian berdua, terima kasih sudah mengantarku." seru Haara pelan.


"Sama-sama, sampai jumpa." pamit Yifan melangkah pergi dengan Yuu.


• • •


Haara menggenggam erat tangannya sendiri, jantungnya berdegup.


kini Yoan sedang marah padanya.


Pria itu hanya diam tak bergeming sama sekali, terlihat jelas wajah pria itu terlihat sedang menahan emosi.


"Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal, AtHaara??" tanya Yoan dengan nada penuh penekanan.


"A-aku takut ganggu fikiranmu~" sahut Haara takut.


"Mengganggu fikiranku?? Bahkan sekarang aku yang baru tahu seperti ini rasanya kepalaku mau pecah!" seru Yoan mencoba menahan emosinya agar tak meledak di depan Haara.


Tubuh Haara bergetar hebat.


"Maafkan aku Yoan~" seru Haara meneteskan air matanya.


"Selama aku belum tahu, apa yang ia lakukan padamu??" tanya Yoan menatap Haara tajam.


"Di-dia terus mengangguku, ta-tapi Riza, Alka dan Yifan melindungiku di sekolah." jelas Haara gemetar.


"Jadi mereka lebih dulu tahu jika Zen itu mantanmu?? Dan kau lebih memilih menyembunyikannya dariku???" tak percaya Yoan.


"Tidak Yoan~ mereka tidak tahu, mereka tahu nya jika Zen itu hanya guru pembimbing yang menyukaiku." jelas Haara lemah.


"Kenapa mereka menutupi nya dariku!" gumam Yoan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku yang menyuruh mereka tutup mulut."


Sontak Yoan menatap Haara terkejut bukan main.


"Apa???!"


Haara yang melihat Yoan terkejut pun ketakutan.


"Apa yang ada di fikiran mu AtHaara! Kau sunggguh menutupi nya dariku?? Kenapa kau melarang mereka untuk memberitahuku??" frustasi Yoan.


"Aku sudah bilang jika aku tak mau menambah beban fikiranmu, kau sudah cukup terbebani sekali dengan pekerjaanmu yang menumpuk, aku tak mau menambah beban fikiranmu lagi!" jelas Haara menangis.


"Tapi aku tak suka kau menutupi hal sebesar ini dariku!" emosi Yoan.


"Aku tak berniat menutupinya darimu, aku mau cerita! Tapi waktu nya selalu tidak ada Yoan!" tangis Haara.


Yoan terdiam mendengarnya.


"Kau selalu lembur, entah jam berapa kau pulang, dan aku selalu mendapati dirimu yang terlelap di sampingku pada pagi hari, lalu kita paginya harus pergi, kau ke kantor dan aku ke sekolah, dimana aku punya waktu untuk cerita sama kamu~" seru Haara menangis sampai histeris.


Yoan menjambak rambutnya sendiri.


Gadisnya itu tak salah, gadis itu sedang berusaha memahaminya meski ia tak suka gadis itu menutupi sesuatu darinya, mau sekecil apapun itu.


"Belakangan ini aku selalu berusaha untuk menyelesaikannya sendiri, aku tak ingin libatkan kamu untuk sementara waktu, aku tak mau kamu semakin pusing."-Haara.


"Aku tak mau jadinya seperti ini, aku tak mau kamu marah seperti sekarang, aku tak mau, tolong maafkan aku, aku salah Yoan~" isak Haara menunduk sesenggukan.


Yoan menatap Haara sendu, bahkan ia tak sadar tadi ia telah memarahi gadis itu karena merasa kesal dengan mantannya itu, ia tak pernah punya maksud untuk marah pada gadis nya ini.


"Aku tak pernah meresponnya, aku berusaha keras agar ia tak mengantarku pulang atau sampai bertemu mama dan papa ku, aku tak mau! Jika itu sampai terjadi, aku merasa telah mengkhianatimu Yoan~" sendu Haara dengan air mata yang terus berjatuhan.


Srtt!!


Haara terdiam sejenak, Yoan menarik tubuh mungil gadisnya ke dalam pelukannya.


"berhenti bercerita, sekarang dengarkan aku." seru Yoan.


Haara memejamkan matanya dan kembali meneteskan air matanya di dada bidang pria itu.


"Jangan bilang dirimu gagal, kau telah berhasil membuat dirimu sendiri tak berkhianat padaku." seru Yoan mengusap-usap rambut Haara lembut.


Haara yang mendengarnya terkejut.


"Aku sungguh kecewa karena kau mencoba menyelesaikannya sendiri sampai sejauh ini, kau sampai berfikir tak ingin membuatku terbebani dan tak mau melibatkanku, kau itu sangat gegabah." seru Yoan.


Haara yang mendengarnya kembali menangis.


"Terima kasih telah berusaha keras agar fikiranmu mengenai tak mau berkhianat padaku pun terwujud, tapi satu hal yang perlu kau terapkan, jangan lagi menutupi hal apapun dariku, cerita padaku." peringat Yoan.


Haara mengangguk cepat.


"Aku tak akan menutupi apapun darimu, aku janji!" seru Haara tegas.


"Gadis baik!" seru Yoan mengelus rambut Haara.


Haara yang mendnegar pujian Yoan menangis histeris.


Haara pun dengan gerakan tiba-tiba memeluk leher Yoan, hal itu membuat Yoan terkejut dan berakhir Yoan jatuh tiduran di atas sofa.


"AtHaara ..."-Yoan.


"Aku cinta dan sayang sama Yoan~ huwaaa!!"

__ADS_1


"Aku jauh lebih cinta dan sayang sama kamu." seru Yoan terkekeh.


"Aku minta maaf sama Yoan karena aku telah menutupinya~" histeris Haara yang menindih tubuh Yoan, memeluk pria itu erat.


Yoan tertawa kecil dengan tingkah gadis nya itu yang sungguh menggemaskan.


Cup!


Yoan mengecup pucuk kepala Haara dan kembali memeluk Haara yang menindih tubuhnya dengan erat.


"Aku maafkan, tapi ada syaratnya." seru Yoan.


Haara menegakkan kepalanya menatap Yoan cemberut.


"Syarat? Baiklah apa syaratnya?" tanya Haara.


"Berjanjilah lagi jangan berusaha dan berjuang sendiri, kita berjuang bersama." seru Yoan menangkup kedua pipi Haara.


Haara mengangguk cepat.


"Aku janji!" seru Haara.


Yoan tersenyum, ia menyisir rambutnya ke belakang membuat Haara terpesona dengan pesona pria itu yang hanya menyisir rambutnya ke belakang.


Srk!


"Syukurlah senangnya~" seru Haara gugup, ia mencoba memposisikan dirinya agar nyaman, hal itu membuat gadis itu bergerak-gerak di atas atas tubuh Yoan.


"Ngmh~" ringis Yoan memejamkan matanya rapat-rapat.


"Eh? Yoan kenapa??" tanya Haara.


Yoan masih memejamkan matanya rapat-rapat.


Lagi dan lagi Haara bergerak-gerak di atas tubuh Yoan.


"Yo ..."


"AtHaara, jangan bergerak, diam." seru Yoan dengan nafas tertahan.


"Tubuh kamu kenapa?? Ada yang luka??" tanya Haara polos, gadis itu panik dan tak menuruti ucapan Yoan yang menyuruhnya agar jangan bergerak.


Grep!


Yoan memeluk Haara sangat erat, hal itu membuat pergerakan Haara terhenti.


"Kamu, aku menyuruhmu diam." seru Yoan menghela nafasnya panjang.


"Kamu kenapa sih??" tanya Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan.


Nafas pria itu tersegal-segal seperti habis lari.


"Aku sudah bilang jangan bergerak, gadis nakal." seru Yoan yang merasakan sedikit pergerakan dan hal bergejolak di bawah sana.


Haara diam mematung.


Yoan membuka matanya menatap Haara yang menatap nya polos.


"Ahh~ ekspresimu, setelah kau membuat tubuhku sensitif tepatnya bagian bawahku, kau menunjukkan eskpresi seperti itu? apa kau ingin aku lepas kendali, hm?" tanya Yoan dengan tatapan sayu.


Sontak mata Haara membelalak, ia baru sadar posisinya yang menindih tubuh pria itu.


"Ta-tapi biarkan aku bangkit dari atas tubuhmu, aku tak mau terjadi sesuatu!" takut Haara.


Yoan merentangkan tangan nya dan mempersilahkan Haara bangkit dari atas tubuhnya.


Yoan menduduki dirinya dan mengatur nafasnya.


Haara menatap Yoan takut.


Yoan yang sudah agak tenang terkekeh,


Puk! Puk!


"Kemarilah, duduk disampingku, aku ingin tanya sesuatu." seru Yoan.


Haara mengangguk ragu, ia pun menduduki dirinya di samping Yoan meski rasa takut menyelimutinya.


"Tadi, kau menangis dan memintaku untuk pulang, hingga membuat Yuu dan Yifan panik, sebelumnya apa yang ia lakukan padamu hingga membuatmu menangis histeris seperti tadi?" tanya Yoan serius.


Haara menunduk.


"Dia, dia hampir menciumku." sahut Haara pelan.


Yoan yang mendengarnya mengepalkan tangannya kuat.


"Tapi beruntung aku berhasil menghindar, aku menamparnya kencang sebelum kabur, dan saat aku kembali tertangkap, lalu Yuu dan Yifan datang menolongku." jelas Haara.


"Dia tak mencuri ciumanmu? iyakan?" tanya Yoan merasa api amarah kembali berkobar dalam tubuhnya.


"Tidak Yoan, aku tak akan biarkan itu terjadi, memberikan ciuman ku pada pria lain? Bahkan itu menjijikan dan itu akan membuatku jijik pada diriku sendiri." gerutu Haara.


Yoan yang mendengarnya tersenyum.


"Apa aku termasuk pria lain itu?" tanya Yoan.


Haara melirik Yoan di sampingnya.


"Bicara apa kau? pria lain? Bahkan kau suamiku sendiri, tentu kau berbeda, menyebalkan!" gerutu Haara.


Yoan tersenyum bangga mendengarnya.


"Baiklah, berikan aku hadiah." seru Yoan.


"Hadiah?"


Yoan mengangguk.


"Karena aku sudah pulang lebih awal sekali, jadi berikan aku hadiah." seru Yoan.


Haara menunduk.


"Maafkan aku, aku mengganggumu." sedih Haara.


Yoan memutar bola matanya malas.


"Tidak ku maafkan jika kau terus-terusan merasa bersalah seperti itu." seru Yoan tajam.


"Ba-baiklah Yoan." kaku Haara.


"Beri aku hadiah." pinta Yoan lagi.

__ADS_1


"Hadiah apa??"


Yoan tak menjawab, pria itu hanya menaikkan sebelah alisnya, ia ingin Haara tahu sendiri apa yang ia mau.


Dapat dilihat gadis itu tersenyum malu-malu.


Haara dengan gerakan perlahan memotong jarak wajah mereka berdua dan ...


Cup!


Yoan tersenyum senang saat Haara paham apa yang ia mau.


Dapat Yoan rasakan jika Haara ******* lembut bibirnya dengan gerakan sangat hati-hati.


Tanpa Haara sangka, Yoan memundurkan kepalanya membuat Haara membuka matanya menatap Yoan bingung.


"Yoan? Kenapa?"


"Tiduran." seru Yoan berat.


"Ha?"


"Tiduran, cepatlah." perintah Yoan dengan suara tertahan.


Haara pun menurutinya meniduri dirinya di sofa, Haara merasa gugup saat Yoan yang berada di atas nya.


"Julurkan lidahmu." perintah Yoan lagi.


Haara dengan perlahan menjulurkan lidahnya.


Yoan menelan salivanya berat, kini ia merasa tubuhnya panas.


"Biar ku ajarkan trik baru untukmu saat berciuman." seru Yoan menahan nafasnya.


Yoan pun langsung meraup habis lidah Haara dan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Haara.


Deg!


Haara membelalakan matanya.


Sungguh sangat menggelitik di perutnya, sekujur tubuhnya ia merasa merinding bukan main.


Ia pernah merasakan ciuman ini.


Ini adalah ciuman pertama nya yang di rebut Yoan saat pertengkaran hebat mereka di gedung konser.


Haara memejamkan matanya rapat-rapat, tangannya yang mencengkram baju kemeja Yoan pun gemetar.


Suara decakkan terdengar nyaring di ruangan itu.


Haara berusaha untuk bernafas meski rasanya sulit sekali.


Suara rintihan terus lolos dari mulut Haara yang sungguh tidak terbiasa dengan perlakuan baru Yoan saat ini.


Sungguh semakin menggelitik, lidah pria itu sangat mahir bermain di dalam mulutnya, saliva mereka kini telah bercampur menjadi satu.


Pupil matanya mendapati wajah pria itu tepat di depannya.


Sungguh pria itu sangat menikmatinya namun tidak dengannya yang tubuh mungilnya mulai merasa sensitif.


Suara rintihan kembali terdengar dari mulut Haara, sungguh ia tak bisa menahannya untuk mengeluarkan rintihan itu.


Yoan mengakhiri ciuman panas mereka dengan berat hati, pria itu secara tiba-tiba bangkit berdiri dan mengusap bibirnya yang basah.


"Ah, sial aku tak tahan!" rutuk Yoan pada dirinya sendiri.


"Yoan?" bingung Haara ngos-ngosan ia merasa bingung dengan tingkah Yoan yang aneh.


"E-eh? Kamu mau kemana??" tanya Haara melihat Yoan yang tiba-tiba pergi.


"Tetap disini, jangan menyusulku ke atas atau aku akan menerkammu tanpa berfikir panjang." ancam Yoan dengan nafas berat, pria itu melangkah cepat meninggalkan Haara di ruang santai.


Haara menatap Yoan pergi.


Haara mengusap bibirnya yang basah.


"lebih baik aku menurut." seru Haara.


...•...


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author: "awal yang buruk, akhir yang meresahkan😆😆"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...


🎐我的命运是赵先生🎐

__ADS_1


__ADS_2