My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Keponakan Baru


__ADS_3

5 bulan ... 6 bulan ... 7 bulan ... dan kini sudah menginjak bulan yang ke-8.


Waktu kini telah menginjak hari minggu kedua di bulan Oktober.


Dan inilah saat yang sangat mendebarkan, semua keluarga berkumpul di rumah sakit karena Anna telah meradakan reaksi yang tak biasa, ia akan melahirkan tepat hari ini.


Semua merasa tegang dan berdo'a dalam hati u tuk kelancaran Anna dalam bersalin.


"AtHaara??"


Haara yang terpanggil menatap siapa seseorang yang memanggilnya.


"Yoan~" seru Haara yang kesulitan bangkit berdiri.


"Duduk saja, jangan berdiri." respon cepat Yoan dengan cepat menghampiri Haara yang kesulitan berdiri.


Yoan melututkan sebelah kaki nya tepat di samping Haara yang tengah duduk.


"Kamu bilang kamu sedang merasa lemas, ini rumah sakit lho, banyak penyakit ,kenapa kamu ikut??" khawatir Yoan menatap Haara lekat.


"Kak Anna akan melahirkan Yoan, aku tak mau kefikiran jika tak ikut." sahut Haara pelan.


Yoan tersenyum tipis.


"Kamu sudah selesai rapat nya?" tanya Haara.


"Aku batalkan." sahut Yoan.


"Di batalkan??"


"Rapatnya di tunda esok, kakak iparku akan melahirkan, mana bisa aku tetap melakukan rapat di kantor." sahut Yoan terkekeh.


"Adik ipar yang baik~" sahut Haara mencubit pipi Yoan.


Yoan tersenyum saat Haara memujinya.


"Kau sudah tidak mual seperti tadi saat aku masih di kantor, kan?" tanya Yoan.


"Sudah ngga Yoan~ Yoan, aku mau minum es lemon." seru Haara pelan.


"Aku ke kantin beli es lemon, kamu mau apa lagi?" tanya Yoan sangat lembut.


"Aku ... mau coklat!" sahut Haara berninar.


"Coklat? oke, Ada lagi?" tanya Yoan.


"Sudah, itu saja Yoan." sahut Haara senang.


Yoan bangkit berdiri.


"Ya sudah aku ke kantin dulu ya." seru Yoan mengelus pipi Haara.


"Iya Yoan, makasih Yoan!"


"Sama-sama, aku tinggal ya?"


Haara mengangguk sambil tersenyum lebar menatap Yoan yang melangkah pergi.


Tatapan Haara kini terfokus kepada mama papanya dan juga kedua orang tua Ammar yang sedang berbincang serius dengan Ammar.


"Tapi mah, Anna terus memaksa ingin melahirkan secara normal~" seru Ammar pada Lucy.


Haara mengerutkan keningnya bingung saat mendengarnya.


Dengan sedikit sulit, Haara bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Lucy dan Juan.


"Mah, pah, kak Anna kenapa??" tanya Haara.


"Kak Anna tiba-tiba saja drop karena panik, dokter kini merekomendasikan agar kak Anna melahirkan secara caesar, tapi kakakmu menolak ,bahkan Dokter bilang itu bisa mengancam keselamatannya jika terlali dipaksakan~" jelas Lucy sedih.


Haara yang mendengarnya pun merasa jantungnya berdetak menyebekan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Papa akan temui dokternya, Ammar ikut dengan papa." seru Juan pergi.


Ammar pun pergi mengikuti.


Haara meremas bajunya kuat, seketika ia pun merasa sangat takut.


• • •


Satu bulan~


Tepat satu bulan lagi, ia akan melahirkan seperti Anna.


Ia berfikir apa ia akan drop seperti Anna saat ini??


Haara memijat pelipis nya pening.


"Hey, kamu kenapa??"


Haara menatap Yoan yang memegang kedua pundak belakangnya yang seloyongan.


"Sayang?? Kamu baik-baik saja??" tanya Lucy panik.


"A-aku baik-baik saja kok mah." sahut Haara tersenyum tipis.


Haara menarik Yoan sedikit menjauh, hal itu membuat Yoan sedikit kebingungan.

__ADS_1


"Yoan, aku takut." seru Haara memeluk Yoan.


"Hey~takut kenapa hm??" tanya Yoan.


"Kak Anna, kak Anna drop karena panik, kini dokter merekomendasikan agar kak Anna beralih untuk persalinan Caesar, tapi kak Anna menolak, aku takut kak Anna kenapa-kenapa, bahkan Dokter bilang jika itu bisa berbahaya untuk kak Anna~ dan ... dan aku juga takut jika aku seperti kak Anna~" jelas Haara gemetar.


Yoan yang mendengarnya ikut merasa takut kali ini.


"Hey, AtHaara tenanglah, inilah yang aku takutkan jika kau kesini kau akan ikut panik saat mendengar hal-hal yang tak seharusnya kau dengar." seru Yoan panik.


"Tapi aku ikut kesini agar aku tak panik di rumah, aku juga tak mau sendirian dirumah Yoan~" isak Haara mencengkram baju bagian dada bidang Yoan dengan kuat.


"Stt stt stt stt! Jangan di fikirkan lagi ku mohon, itu akan membuatmu memiliki beban fikiran, aku tak mau itu~" ucap Yoan menyembunyikan Haara di pelukkannya.


"Hiks hiks~" terisak Haara.


"Ku mohon jangan menangis, dengar ucapanku tidak AtHaara??" tanya Yoan.


"Dengar Yoan, tapi aku terus kefikiran~"


"Sudah jangan menangis, aku bawakan es lemon dan coklat yang kau mau, dimakan yuk!" bujuk Yoan tersenyum.


Haara mengangguk pelan.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Sunyi.


Semua berdo'a di dalam hati untuk kelancaran Anna untuk bersalin.


Dengan tekad yang bulat, Anna terus memaksa agar dirinya ingin bersalin secara normal.


Hal itu membuat mereka semua yang sudah takut semakin takut kali ini.


Ammar yang tengah menutup matanya rapat-rapat dengan Yoan yang menenangkan sahabatnya itu agar tak berfikir negatif.


Deg!


"Oeeek!! Oeeekk!!"


Seketika semua bisa bernafas lega setelah mendengar suara tangis bayi yang terdengar jelas.


"Syukurlah~" seru Lucy menutup wajahnya terharu.


Ammar pun ikut bernafas lega, namun kali ini fikirannya di penuhi oleh keadaan Anna.


"Dokter bagaimana dengan persalinan istri saya??" tanya Ammar cepat.


"Nyonya AtHanna yang terus memaksa untuk salin secara normal, dan syukur sekali nyonya AtHanna dengan tekad bulat nya ia tetap bersalin secara normal dengan lancar, istri dan anak tuan baik-baik saja." jelas Dokter tenang.


Semuanya pun merasa sangat lega dan senang saat mendengarnya.


"Boleh saya melihat istri saya?" tanya Ammar dengans enyuman mengembang di bibirnya.


"Silahkan tuan."


Dengan cepat Ammar masuk ke dalam.


●•●•●•●•●


Yoan melirik Haara dengan mata berbinar menatap ke dalam ruangan dimana keponakan baru nya dari balik jendela.


Pipi yang merah yang gembul, bulu mata yang samar-samar terlihat lentik dan bibir yang merah sungguh terlihat sangatlah menggemaskan hingga membuat Haara merasa gemas sendiri.


"Yoan~ lucu sekali~" seru Haara terus menatap keponakan barunya itu.


"Aku jadi ingin menggendongnya, lucunya~" gemas Hanabi yang baru tiba.


"Kak Hanabi! Kakak benar, gemas nya~ cantik sekali~" jujur Haara.


"Aku yakin, dia akan cantik secantik Anna." seru Yuu terpesona.


"Kalian baru tiba?" tanya Yoan.


"Baru tiba, aku kesini menunggu kak Hanabi dan kak Yuu dari kampus." sahut Yifan.


"Huwaa~ gemas nya~" seru Haara menarik-narik tangan Yoan dengan tatapan masih terfokus pada keponakan kedilnya yang tertidur cantik.


"Sabar AtHaara, nanti juga kita juga punya dua bayi lucu." seru Yoan terkekeh.


"iya Yoan, tak sabarnya~ aku boleh gendong tidak sih ya? Aku mau gendoong~" seru Haara.


"Jangan ganggu! dede bayi nya lagi tidur!" sahut Yuu menatap Haara mengejek.


"Cuma gendong saja, lagi pula aku tak punya niat menjahili keponakanku!" sahut Haara kesal.


"Tak boleh, nanti kalau nangis di marahin dokter lho." seru Yuu.


"Yang ada di gendong sama kamu nanti dede nya nangis! Karena wajahmu jelek!" sahut Haara tajam.


"Ha?? Jelek?? Kau mengataiku jelek?? Astaga, bahkan aku adalah pria populer, apa kau tak salah berucap??" tanya Yuu bertelak pinggang.

__ADS_1


"Pria populer yang konyol, itulah julukanmu!" sahut Haara membuang wajahnya.


Belum sempat Yuu menimpali, ucapannya terhenti saat Yoan menatapnya tajam.


"Zhao Cheng Yuu." seru Yoan datar.


"Iya iya tak akan aku ajak debat lagi." sahut Yuu takut.


Haara menjulurkan lidahnya meledek Yuu.


Yuu yang tak terima ingin membalasnya, namun ...


Tak!


"Kamu! Suka sekali mengejek AtHaara, hentikan! Jangan bertingkah seperti anak-anak Yuu!" kesal Hanabi memukul lengan Yuu.


"Iya Hana-Chan tidak lagi." tunduk Yuu.


Haara tertawa saat melihat Yuu yang takut dengan Hanabi.


Namun, tawanya terhenti saat merasa Yoan menggenggam tangannya.


"Jangam berdebat lagi." seru Yoan lembut.


Haara yang patuh pun diam.


"Habisnya dia ngeselin sih! Malas aku lihat muka Yuu lebih baik lihat dede bayi lucu saja." sahut Haara membuang wajahnya sombong.


"Pusing kepalaku, kak Yuu, bisakah kau ganti hobimu yang suka mengajakku dan Haara berdebat dengan hobi lain??" tanya Yifan.


"Ahahah! Tak bisa." sahut Yuu santai.


"Haara, lain kali kita serang Yuu bersamaan, aku yakin ia akan kalah dua lawan satu." seru Yifan.


"Setuju Yifan, jangan temani Yuu, menjauhlah dari Yuu!" seru Haara menarik tangan Yifan menjauh dari Yuu.


"Kalian!" kesal Yuu.


Hanabi menghela nafasnya kasar saat ini giliran Yifan dan Haara membuka perdebatan.


Sisi lain, Yoan terfokus menatap bayi mungil yang Haara tatap tadi, anak dari kedua sahabatnya.


Ia merasa ikut gemas melihat nya.


'Satu bulan lebih, usia kandungan Haara akan tepat menginjak waktunya untuk persalinan, hatiku merasakan takut, aku merasa siap tak siap, lalu aku akan bergantian posisi di posisi Ammar tadi.'


batin Yoan.


'Anna bahkan tak di prediksi lemah, namun tanpa di sangka ia bisa drop karena panik saat akan persalinan.' batin Yoan cemas.


Yoan melirik Haara yang kini sedang berdebat dengan Yuu di bantu dengan Yifan di sebelahnya.


'Lalu? Bagaimana dengan Haara yang sudah di prediksi jika dia lemah? Dia akan melahirkan kedua anak kami sekaligus, apa ia akan memaksa seperti Anna yang ingin melahirkan secara normal dengan keadaan fisiknya yang lemah??' batin Yoan merasa takut.


Yoan mengepalkan sebelah tangannya kuat.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author:...


..."semakin dekat saja, bahkan itu membuat Haara ketakutan lebih dulu, Yoan pun hanha bisa menyembunyikan kekhawatirannya😭 bagiaman pendapatnya nih di part kali ini kakak-kakak?? tulis di komentar ya😇"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2