My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Pertengkaran


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tak ada perbincangan, inilah yang terjadi antara mereka berdua.


Haara merasa jika Yoan mendiaminya.


Haara tak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Pria itu hanya bertanya jika pria itu mau dan menjawab pertanyaan yang Haara lontarkan dengan singkat.


'Aku tak tahu harus apa, aku sungguh bingung!' batin Haara kesal.


PRANG!!


Haara terkejut saat mendengar suara pecahan, dengan cepat ia lari ke arah dapur.


"Ya ampun!" terkejut Haara melihat Yoan yang meringis karena tangannya berdarah, pria itu pun mencoba akan memungut pecahan gelas itu lagi.


"Jangan pakai tangan Yoan!" seru Haara cepat.


Gerakan Yoan terhenti.


Haara dengan hati-hati melangkah mendekati Yoan.


Gadis itu menarik tangan pria itu yang terluka dengan hati-hati.


"Kenapa darahnya bisa sebanyak ini Yoan?!" panik Haara menarik Yoan ke wastafel untuk mencuci darah pria itu.


"Tanganmu kenapa merah sekali seperti ini? Ini bukan hanya sekedar darah juga!"


"Gelasnya pecah digenggamanku mungkin karena airnya terlalu panas." sahut Yoan pelan.


Haara menatap pecahan gelas itu di lantai, gelas itu terlihat tipis, pantas saja gelas itu sangat mudah pecah.


"Tetap kena siraman air tanganmu, aku akan ambil air dingin di kamar mandi." panik Haara melangkah hati-hati dan langsung lari ke kamar mandi.


• • •


Yoan menatap Haara yang memegang tangannya menatap goresan panjang di telapak tangannya.


"Tahan ya? aku akan obati dulu dengan alkohol." seru Haara menatap Yoan yang menatap nya datar.


Pria itu tak menyahut.


Haara pun kembali fokus pada telapak tangan pria itu.


Suara ringisan terdengar, dengan cepat Haara meniup luka itu.


Gadis itu pun mengambil obat merah dan mengolesi pada luka di telapak tangan pria itu dengan hati-hati.


"Akh!"


"Sebentar, sedikit lagi ya." seru Haara lembut menatap Yoan sekilas.


Haara kembali meniupi luka yang sudah di obati itu, gadis itu pun langsung memperban luka pria itu.


"Sudah." senyum tipis Haara menatap Yoan.


Yoan menatap tangannya datar.


"Terima kasih." seru Yoan.


"Iya, mm ... Tadi kamu mau buat apa?" tanya Haara.


"Teh."


"Biar aku buatkan ya." senyum Haars melangkah ke dapur.


Tanpa menunggu lama Haara kembali membawa sacangkir teh dan meletakkannya di meja.


"Aku akan bersihkan bekas pecahannya dulu ya."


"Berhati-hatilah." seru Yoan.


Haara mengangguk dan pergi membersihkan beling gelas yang pecah itu.


Yoan meminum teh nya perlahan.


Ia mencuri-curi pandang ke arah Haara yang sedang membersihkan pecahan gelas di dapur.


Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat.


Ia merasa menyesal karena bertanya tentang riwayat percintaan gadis nya itu.


'Apa ini yang Haara rasakan dulu saat aku masih menyimpan rasa pada Irene? Benar-benar sangat menyakitkan.' batin Yoan.


'Aku tak tahu harus percaya dengan ucapanmu tentang masih mencintai mantanmu itu atau tidak, ini benar-benar membuatku gila!' batin Yoan lagi menahan kesal.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Malam hari kemudian.


Setelan jas berwarna biru tua, kemeja biru muda, dasi berwarna merah dan sebuah kacamata yang pria itu pakai, itu adalah gambaran penampilan pria itu malam ini.


Ya, malam ini mereka akan menghadiri acara pameran seni.


Ting!


Pintu lift terbuka, Haara menatap Yoan yang jalan mendahuluinya keluar dari lift melangkah keluar dari apartemen.


Haara hanya membuntuti pria itu dengan baju dress berwarna hitam.


Mood Haara benar-benar tak baik sekali karena Yoan masih mendiaminya, ia merasa seperti orang bodoh sekarang karena tak bisa berbuat apa-apa.


Bruk!


Suara pintu mobil tertutup, Haara melirik Yoan yang duduk di sampingnya.


Pria itu fokus menatap ke arah luar jendela mobil, pria itu benar-benar telah mengibarkan bendera perang dingin padanya.


Haara pun membuang pandangannya menatap keluar jendela mobil.

__ADS_1


'Apa ia menyerah untuk memperjuangkan ku? Entahlah kepalaku pusing.' batin Haara menghela nafasnya pelan.


• • •


Sebuah sambutan dan beberapa kamera menyorot dirinya dan Yoan, ah ralat! Semua kamera menyorot pada Yoan seorang, bahkan jaraknya dengan pria itu terbilang berjauhan.


Haara mencoba sabar atas sikap pria itu yang benar-benar mencuekinya, ia akan hargai pria itu yang marah dengannya, tidaklah masalah.


Dapat di lihat pria itu menghentikkan langkahnya memutar tubuhnya menunggu gadisnya yang ia cueki itu melangkah ke arahnya.


Haara mendongak, terlihat pria itu mengulurkan tangannya padanya.


Dengan gerakan perlahan Haara menerima uluran tangan pria itu, pria itu menggenggam erat tangannya dan membawa nya melangkah masuk ke dalam gedung.


"Jangan jauh-jauh dariku, tetap disampingku." seru Yoan datar.


Haara mengangguk.


• • •


Dapat telihat banyaknya seroang pria berwajah eropa yang turut mengagumi lukisan hingga patung-patung disana.


"Yoan." panggil seseorang,


Yoan dan Haara menatap siapa orang yang memanggil pria itu.


"Dà jiù?(paman?)" bingung Yoan.


"Hello, Mrs. Zhao AtHaara! We meet again!" senang sang paman


"Ah, yeah." sahut singkat Haara kaku.


"very artsy, i really like it! (sangat berseni, saya sangat menyukainya!)" takjub sang paman.


"Look! Yoan, do you think this design is suitable for the interior in the lobby in a new building?


(Yoan, menurutmu apakah desain ini cocok untuk interior di lobi gedung baru?)" tanya sang paman pada Yoan.


Yoan menatap serius desain di depannya.



"Nice, i like it." sahut Yoan terkagum pada desain ide pamannya.


Segerombolan pria paruh baya menghampiri Yoan dan sang paman dan memberikan jabatan tangan untuk memberi sambutan pada Yoan.


Haara menghela nafasnya lelah, ia berfikir untuk menikmati lukisan-lukisan di depannya tanpa berniat menghampiri Yoan yang jaraknya beberapa langkah dari nya.


"Nǐ xǐhuān zhè fú huà ma?"


Haara menatap pria di sebelahnya, pria itu tersenyum padanya.


"Sorry .. I don't speak chinese." seru Haara kaku menatap pria berpakaian seperti para panitia di pameran seni ini.


"Ah! Sorry, where do you come from?" tanya pria itu menatap Haara keatas hingga bawah, tatapan pria itu membuat Haara bergidik takut.


"Indonesia." sahut Haara melihat sekeliling, Yoan tak ada di sampingnya.


"You are alone? (kamu sendirian?)" tanya pria yang terlihat seumuran dengan Yoan.


"No, I ..."


"Don't touch me.(jangan sentuh aku.)" seru Haara takut melangkah mundur.


"Sorry, I didn't mean to scare you.(maaf, aku tak bermaksud menakut-nakutimu.)" kekeh pria itu.


Haara mencari keberadaan Yoan, namun ia tak mendapatinya.


"it's very crowded here, let's talk elsewhere, what do you think?


(di sini sangat ramai, mari kita bicara di tempat lain, bagaimana menurutmu?)" ajak pria itu memegang pundak Haara.


"Don't touch me!" seru Haara membentak.


"Come on follow me.(ayo ikut aku.)" seru pria itu menarik tangan Haara.


"No! Don't ..."


BUGH!!


Haara membelalakan matanya terkejut.


Yoan datang tiba-tiba dan langsung menghajar wajah pria yang mau memaksanya pergi itu.


Semua orang pun ikut terkejut dan mempertontonkan perkelahian Yoan dan pria itu.


BUGH!


Satu pukulan kembali di daratkan di pipi pria itu membuat pria itu tersungkur jatuh.


Sret!!


Yoan mencengkram kuat kerah kemeja pria itu yang menatap Yoan terkejut.


"Mr. Yo-Yoan!!?" terkejut pria itu.


"Nǐ zěnme gǎn pèng wǒ lǎopó!!!


(Beraninya kau menyentuh istriku!!!)" sulut emosi Yoan,


"Yoan! Sudah cukup Yoan! Sudah!!" panik Haara menarik Yoan yang bersiap akan menghajar pria itu lagi.


"Yoan, calm down." seru sang paman mencoba menenangkan Yoan.


Tak!


Yoan menarik name tag pria itu dan bangkit berdiri karena Haara menariknya mundur.


"Cih! Suǒyǐ nǐ shì wěiyuánhuì wěiyuán.


(Cih! Jadi kau adalah seorang panitia.)" decih Yoan menatap tajam pria itu.


Pria itu mengangguk takut.


"Zhè shì shénme? Yoan xiānshēng, zěnmeliǎo?"


(Ada apa ini? Tuan Yoan, ada apa?)" seru direktur penyelenggara pameran seni hadir menemui Yoan.

__ADS_1


Yoan menatap tajam direktur itu membuat direktur itu ketakutan.


"Wǒ yào nǐ kāichú zhège gāisǐ de nánrén, Bìng bàogào zhège nánrén yào sāorǎo wǒ de qīzi!!!


(Saya ingin Anda memecat pria sialan ini dan melaporkan bahwa pria ini akan melecehkan istri saya!!!)" bentak Yoan.


Pria itu gemetar ketakutan,


"Yoan xiānshēng!" seru pria itu ingin mendekati Yoan, namun para penjaga menahan pergerakan pria itu.


"Bàogào tā!(laporkan dia!)"



Pria itu menatap tajam pria itu dan tubuh Haara yang gemetar hebat karena takut.


Yoan membalikkan tubuhnya dan menarik Haara pergi dari museum pameran seni itu.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Yoan kembali menarik Haara paksa setelah tiba di lantai apartemen mereka.


Haara meringis kesakitan karena pria itu mencengkram erat tangannya.


Brak!!


Yoan mentup pintu apartemennya dengan membantingnya.


"Yoan lepas! Sakitt~" seru Haara meringis, ini adalah keluahan dia untuk kesekian kalinya.


Tak!


Genggaman Yoan terlepas atas usaha Haara melepaskan tangannya dari pria itu berhasil.


"Sudah ku bilang tetap berada di sampingku!! Apa kau tak mendengar ucapanku AtHaara!!" bentak Yoan.


Tubuh Haara gemetar takut saat pria itu membentaknya, sekian lama ia kembali mendengar pria itu membentak dirinya seperti saat ini.


"Kau sama sekali tak mendengar ucapanku! Tetaplah disampingku! Apa kau tak mendengarnya?!" emosi Yoan.


Haara menunduk takut, ia tak berani menatap pria itu, matanya pun terasa perih sekarang.


"Apa perlu aku ...!!"


"Berhenti membentakku!!!" bentak balik Haara.


Yoan langsung bungkam saat Haara balik membentaknya.


"Aku paling tidak suka sekali ada orang yang membentakku! Apalagi kau selaku suamiku!" seru Haara menatap Yoan dengan tatapan tajam dan mata yang memerah.


"Kenapa kamu jadi marah sama aku? Bukannya itu adalah kelalaianmu dan ketidakpedulianmu padaku? Aku yang telah hilang pengawasan darimu?" tanya Haara meneteskan air matanya.


"Itu bukanlah salahku, jika aku di ganggu oleh pria lain, wajar saja pria tadi tertarik untuk mendekatiku karena aku sedang sendirian." seru Haara menatap Yoan tajam.


"Kau mengatakan jika aku ini adalah milikmu, kau tak akan mengizinkan pria mana pun mendekati atau menyentuhku, sepertinya itu hanya bualan semata." miris Haara.


"Bukannya seharusnya aku yang marah padamu karena sikapmu padaku itu sangat dingin dan cuek?" tanya Haara.


Yoan menundukkan kepalanya.


"Aku mencoba sabar dengan sikapmu yang cuek dan dingin padaku, aku sabar kau bersikap seperti itu padaku." seru Haara kembali meneteskan air matanya.


"Bercerminlah, disini siapa kah yang salah." seru Haara menekankan kalimatnya.


"Aku benci pertengkaran, maka dari itu aku bersikap seolah-olah kau itu sedang baik-baik saja denganku."


"Apa kau marah dan menyesal karena telah mengetahui cinta masa laluku?" tanya Haara.


Yoan terkejut saat Haara mengetahuinya.


Haara terkekeh sambil memijat pelipisnya.


"Apa kau tidak percaya pada ucapanku? Apa kau mencurigaiku takut aku berbohong padamu??"


Yoan ingin sekali mengangguk, namun tubuhnya lebih memilih untuk diam mematung.


"Kau baru saja tahu sedikit saja tentangku, hanya sedikii ... iit saja, kau sudah bersikap seperti ini dan tak percaya padaku, apalagi kau tahu semua tentangku? Mungkin kau akan menjauh dariku."


Yoan menatap Haara tak percaya dengan ucapan gadis itu.


"Aku itu sudah mengetahui semua tentangmu, bahkan lebih menyesakkan saat itu jika kau masih mengharapkan cinta pertamamu, hatiku mencelos saat kau mengatakan masih mencintai cinta masa lalumu itu, namun aku bisa menahan rasa bimbangku untuk menyerah memperjuangkan mu sendirian tanpa kepastian darimu atau tetap bertahan dan berjuang." lamun Haara.


"Kau berbeda denganku, saat itu aku berjuang tanpa ada kepastian darimu, tapi kau itu hanya perlu berjuang dan sudah mendapat kepastian dariku." seru Haara emosi.


"Apa kau kesal denganku karena aku belum mencintaimu Yoan?" tanya Haara.


Yoan menahan nafasnya, ucapan Haara tadi benar-benar mencekat sekali.


"Jangan-jangan kau akan menyerah untuk memperjuangkan ku? Menyerah untuk membuatku mencintaimu lagi?"


...•...


...•...


Author : "aku tambahin GIF(gambar bergerak) biar makin lancar halu nya😆"


...•...


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak-kakak Readers👋...


...Hai, kakak-kakak author👋...


...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...


...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...


...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...

__ADS_1


...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...


...See you tomorrow😇...


__ADS_2