My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Pantangan Baru


__ADS_3

Deg!


"Se-sembunyikan apa?? Ti-tidak!" gugup Haara.


"Kau itu sangat payah jika sedang berbohong AtHaara, aku tahu sekali dirimu, kau sedang berbohong padaku." sahut Yoan datar.


Haara terdiam, ia sungguh bingung dan takut untuk mengatakan hal sebenarnya yang terjadi.


"AtHaara?" panggil Yoan tajam.


"I-iya Yoan?" takut Haara.


"Ada apa? Jangan mencoba kembali membuat kebohongan padaku, jika kau berbohong lagi, aku akan marah padamu." ucap Yoan mengancam.


'Apa aku harus jujur? Apa aku harus terus terang jika aku hamil?' batin Haara ragu.


'Ya! aku harus jujur! lambat laun Yoan akan tahu, Yoan juga sangat berhak mengetahuinya.' batin Haara bertekad.


"Yoan, sebenarnya aku ..."-Haara.


Tok! Tok!


Haara mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ucapannya, suara ketukan terdengar dari video call nya dengan Yoan, dapat di lihat pria itu menengok ke arah jendela mobil dan mengisyaratkan Haara untuk diam.


Dapat di lihat Yoan turun dari mobil dengan raut serius.


"Mwo!?(apa?!)" seru Yoan terkejut dengan penjelasan seseorang menggunakan bahasa Korea.


"Yoan? Ada apa?" tanya Haara bingung.


Terlihat pria itu memijat pelipisnya dengan raut wajah yang terlihat kepusingan.


"AtHaara, ada masalah yang harus aku selesaikan, aku tutup video call nya ya? nanti jika aku luang aku akan menghubungimu, tak apa-apa ya?" tanya Yoan dengan wajah panik.


"I-iya Yoan, tidak apa-apa, sampai nanti, jaga dirimu baik-baik." seru Haara cepat dan ikut panik.


Yoan mengangguk.


"iya, maaf ya, aku tutup, aku mencintaimu AtHaara." senyum tipis Yoan.


Haara mengangguk dengan senyuman manis.


Tut!


Haara menghela nafasnya kasar, ia menyandarkan kepalanya di dipan kayu kamarnya.


"Berakhir tanpa di inginkan, hahh~" hela nafas Haara.


Haara menatap perutnya, perlahan tangannya menyelinap masuk ke dalam piyama tidur nya dan mengelus perutnya secara perlahan.


"Sepertinya belum saat nya aku memberitahu ada kehidupan baru di perutku kepada Yoan." seru Haara.


Perlahan fikirannya larut dan membayangkan masa yang akan datang.


Dimana lahirlah bayi kecil dan mungil di dalam perutnya ke dunia.


Suara tangisan yang merdu dari seorang bayi lucu yang baru hadir di dunia.


Senyuman pasti akan terukir di wajah Yoan yang sedang menimang anak mereka dan tersenyum senang saat menatapnya.


Ia sempat tak sadar jika ia marah karena ia positif hamil tadi.


Namun, bukan berarti ia benci dan marah pada janin di dalam kandungannya, sama sekali tidak!


Ia merasa bodoh telah berlaku yang tak berguna, menyesali dengan semua yang terjadi, sungguh tak berguna dan sangat bodoh!


"Maafin mama ya sayang~ karena mama marah setelah mengetahui kehadiranmu tadi." seru Haara tersenyum dengan air matanya yang menetes.


"Tumbuhlah dengan sehat hingga saat nya tiba, mama dan papa pasti akan menantikan kehadiranmu di dunia ini." senyum sendu Haara dengan air mata sudah membasahi pipinya.


"Mama dan papa mencintaimu sayang~" senyum tulus Haara memejamkan matanya.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Pagi hari kemudian.


"Hoeeekk~ uhuk! Uhuk!"


Crazzz!!


Suara air kran terdengar nyaring namun tak bisa memudarkan suara muntahan Haara di pagi hari nya yang sudah menjadi kewajiban di pagi harinya.


Haara mengusap bibirnya, tubuhnya terasa sangat lemas saat ini, sangat lemas.


"Hahh~ setiap pagi aku terus mengalami mual, tubuhku sungguh lemas sekali." hela nafas Haara duduk di closet.


"Satu minggu lagi ada tour, aku ingin sekali ikut~" rengek Haara.


"Mungkin aku akan terus terang pada mama, papa dan kak Anna setelah tour." gumam Haara mengelus perutnya.


Haara bangkit berdiri dengan perlahan, tubuhnya sungguh sangat lemas sekali, ia jalan mengendap-endap karena takut terpeleset.


• • •


Haara membuka tudung saji di dapur, namun dengan cepat Haara menutup kembali tudung saji itu.


"Hoe~mm." tahan Haara yang akan muntah mencium bau amis.


"Ikan~ huwaa~ kenapa ikan lagi~ bau nya sangat amis sekali, hoek!" mual Haara mencoba menahan.


Ia menduduki dirinya dengan wajah lesu.

__ADS_1


"Mau makan Spaghetti Carbonara, hm~ semoga ada bahan-bahannya." seru Haara pada dirinya sendiri.


Haara sambil bersenandung pun mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat Spaghetti Carbonara yang nyatanya lengkap, maka itu ia sangat senang hingga bersenandung.


"Hahh~ coba saja ada Yoan, pasti dia akan minta di buatkan agak banyak dan kami makan bersama, huhu~ ingin sekali aku video call an dengannya lagi, huhu." rengek nya saat merebus pasta.


Saat Haara akan mengambil telur di kulkas, pandangannya tertuju pada cola, dengan senyum mengembang ia mengambil cola itu.


"Ada cola! Segar nih!" seru Haara antusias.


Namun, saat akan membuka minuman kaleng itu, ia termenung sejenak.


"Ah! Aku lupa, mulai sekarang aku tak boleh minum minuman bersoda." gumam Haara dengan berat hati menyimpan cola itu di tempat semula.


"Sepertinya aku harus berhati-hati saat akan memakan dan meminum sesuatu, hampir saja." hela nafas Haara lega sambil mengusap perutnya dengan senyuman manisnya.


●•●•●•●•●


Haara menyandarkan punggungnya di kepala kursi makannya, ia baru saja selesai menghabiskan spaghetti Carbonara yang ia buat.


"Ahh~ kenyangnya~" senang hati Haara.


Ia mengambil segelas susu di samping piring nya dan meminumnya hingga habis.


"Ambil beberapa sendok ga akan ketahuan kak Anna, kan? aku minta juga ya kak Anna~ maafkan adikmu, hehe." seru Haara menatap gelas bekas susu ibu hamil yang sudah kosong.


"jika aku terus diam-diam ambil beberapa sendok bubuk susu milik kak Anna, kak Anna akan curiga, aku harus beli susu seperti kak Anna juga, beli online saja deh, tak perlu harus keluar seperti seorang mata-mata." ucapnya dengan lincah tangannya mengetik di layar ponselnya.


●•●•●•●•●


Malam hari kemudian ....


Keseriusan saat menonton acara tv kini dapat di rasakan di ruang keluarga saat ini, Haara ikut bergabung dan menduduki dirinya di sofa di sebelah Anna.


"Wah, nanas." seru Haara.


"Makanlah, kakak tak boleh makan nanas." sahut Anna lembut.


"Tak boleh makan nanas? Kenapa?" tanya Haara bingung.


"Karena kakak itu sedang hamil, ibu hamil itu tak boleh makan nanas, tahu." jelas Anna.


"Ah~ begitu ya." angguk-angguk Haara yang menatap nanas di atas meja, jujur ia baru tahu jika ibu hamil tak boleh makan nanas.


"Jangan hanya di lihatin, makanlah." seru Lucy.


"Aku sedang tidak ingin mah, aku tak suka nanas." sahut Haara tersenyum.


"Sejak kapan? Bahkan kau suka-suka saja dengan nanas." seru Juan heran.


"Sejak sekarang, hehe." kekeh Haara.


Drrt! Drrt!


Haara menatap ponselnya dan mendapati isi pesan dari Ammar.


Ammar:


"AtHaara, kakak hanya ingin menyampaikan pesan dari Yoan, sekarang dia sedang sibuk sekali, ponselnya rusak karena jatuh, sepertinya ia harus beli ponsel baru, jadi ia tak bisa memberimu kabar untuk ke depannya begitupun aku juga akan sibuk, jadi tolong pahami ia ya?"


Ammar:


"Jika ada apa-apa kirim pesan atau telfon nomor kakak saja ya, jika sangat penting, kakak tak tahu kapan ia akan membeli ponsel baru."


Haara:


"Baik kak, tapi Yoan baik-baik saja, iyakan? Kenapa ponselnya bisa rusak?"


Ammar:


"Ahaha~ kau tahu sendiri amarah suamimu sendiri, bukan? Dia emosi karena masalah kemarin dan tanpa sadar ia membanting ponselnya hingga tak berbentuk."


Haara yang membaca isi pesan itu membuat ia menelan salivanya berat dan membayangkan di posisi Ammar, pasti sangat menakutkan sekali.


Haara:


"Emosi?? Dia tak pergi minum iyakan kak?"


Ammar:


"Tidak kok, kamu tenang saja, jika ia akan pergi, aku akan ancam jima aku akan memberitahumu, dia pasti akan takut dan merenungkan niatnya untuk pergi minum."


Haara:


"hehe~ ancam pakai namaku saja kak:D lalu? Sekarang bagaimana? Dia sudah tenang?"


Ammar:


"Aku baru di ajak bicara lagi, itu juga hanya aku disuruh kirim pesan padamu, hahh dia sedang tidak mood bicara, namun sekali nya bicara aku disuruh mengabarimu, hehe."


Haara:


"Sabar ya kak Ammar:D adik ipar mu lagi kesal~ ah iya, kakak dan Yoan sudah makan malam?"


Ammar:


"Belum Haara, aku takut mengajaknya bicara:("


Haara:


"Dia sedang apa sekarang?"


Ammar:


"Kau ingin bicara padanya?"


Haara:

__ADS_1


"tadi katanya ia sedang sibuk, tidak usah deh~"


Ammar:


"sibuknya mulai besok, sekarang dia sedang merenung, kamu ajak dia berbincang saja, pasti mood nya akan kembali."


Haara yang mendengar itu pun sedikit ragu, jujur juga ia merasa takut dengan Yoan yang sedang tidak mood saat bicara, itu menyeramkan.


Drrt! Drrt! Drrt!


Ponsel yang ia pegang hampir terjatuh saat mendapati telfon masuk dari Ammar saat itu juga.


Hal itu membuat Anna, Lucy dan Juan menatap Haara bingung.


"Kak Ammar menelfon sampai seterkejut itu." seru Anna bingung.


"Kaget kak, tiba-tiba nelfon." kikuk Haara.


Gadis itu hanya menatap layar ponselnya, ia ragu untuk mengangkat telfon dari Ammar.


"Angkat dong, siapa tahu penting." seru Anna heran.


"I-iya kak."


"Ha-halo?" seru Haara.


"Lama sekali, sebentar, aku mendekatinya dulu, huft~" hela nafas Ammar kasar.


Haara terdiam sejenak menatap kedua orang tua nya dan Anna.


"Ponsel Yoan rusak karena di banting mah, pah, kak. kak Ammar mau aku bicara pada Yoan yang sedang emosi karena ada masalah disana kemarin, kak Ammar takut bicara sama Yoan, jadi ia minta tolong padaku untuk kembalikan mood nya Yoan." jelas Haara.


Hal itu mendapat pengertian dari kedua orang tua nya dan Anna.


"pasti kembali lah mood nya, yang di ajak bicaranya itu kamu." kekeh Anna, Haara yang mendengarnya ikut terkekeh.


"Menjauhlah, bawa ponselmu menjauh." seru Yoan kesal yang terdengar dari panggilan itu.


"Hey, ini Haara yang nelfon, kau yakin tak mau bicara padanya?" seru Ammar mencoba membujuk.


"AtHaara???" tanya Yoan samar-samar pada Ammar.


"Iya, bicaralah, asal jangan kau banting ponselku setelahnya." takut Ammar, Haara yang mendengarnya terkekeh.


"hm." gumam pria itu.


"aku akan beli makan malam di luar." seru Ammar.


"hm."


Haara sedikit bingung harus memulai pembicaraan dengan kalimat apa saat ini.


"Halo?" seru Yoan dengan suara pelan dan bariton.


Deg! Deg!


"Halo Yoan, ini aku AtHaara."


"Aku tahu." sahut Yoan dengan nada datar.


Haara memejamkan matanya merutuki ucapannya yang tak guna, tentu saja Yoan sudah tahu jika itu dirinya.


'Huwaa~ suasana mencengkram disana kini sangat terasa sekali di hatiku~' batin Haara.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."dan akhirnya tak bisa terus terang😌 suasana mencengkram sampai ke sini juga nih hehe😂"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...


🎐我的命运是赵先生🎐

__ADS_1


__ADS_2