
🇲🇨 Jakarta, Indonesia.
Yoan dan Haara kini telah kembali di Indonesia.
Kini mereka telah tiba di rumah orang tua Haara, rumah kedua orang tua mertua Yoan.
Yoan memutuskan untuk menginap sampai beberapa hari di rumah kedua orang tua istrinya itu sesuai permohonan istrinya itu, mengingat jika barang-barang gadis itu di bawa semua ke rumah orang tua nya ini saat gadis itu kabur dari Penthouse.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kalian tidur ya, pasti perjalanan kalian melelahkan." seru Lucy.
"Terima kasih mama." seru Yoan tersenyum.
"Papa juga akan berangkat, beristirahatlah." seru Juan mengelus rambut Haara sayang.
Gadis itu mengangguk cepat.
"Ya sudah mama juga mau ke Butik terlebih dahulu karena ada partner mama yang datang pagi ini." seru Lucy.
Lucy mencubit pipi Haara gemas dan megusap pundak Yoan sambil tersenyum.
"Mama pamit ya, Yoan Haara." pamit Lucy.
"Hati-hati mama papa~" seru Haara.
"Berhati-hatilah ma, pa." seru Yoan juga.
• • •
Haara menutup pintu kamar nya.
"Bau khas mu tercium jelas sekali di kamar ini." seru Yoan melihat sekeliling.
"Tentu saja, karena ini kamar ku." kekeh Haara.
Tatapannya terfokus pada satu pajangan foto yang membuatnya mengenang masa lalu.
"Kenapa?" tanya Haara.
"Foto mu saat SMP, membuatku jadi teringat pertemuan pertama kita." seru Yoan.
"Eh? Memangnya aku pakai seragam ini ya?" tanya haara mencoba mengingat.
"Ya, aku ingat jelas sekali."
"Ingatan yang bagus, tuan." seru Haara.
Yoan terkekeh.
"Aku mau mandi, sehabis aku mandi,.baru kau mandi." seru Haara mengambil handuk di dalam lemari nya.
"Tunggu dulu."
"Hm?"
"Kau melupakan sesuatu." senyum jahil Yoan.
Haara mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Kiss morning." sahut Yoan.
"Ah!" malu Haara.
Gadis itu pun melangkah mendekati pria itu.
Haara berjinjit untuk menyamakan tinggi nya dengan pria itu.
Cup!
Haara mencium bibir pria itu lama, hal itu membuat Yoan memejamkan matanya menikmati ciuman hangat yang gadis itu berikan.
"Sudah." seru Haara membuang wajahnya malu.
"Masih malu hm?" seru Yoan menggoda Haara.
"Ya, aku belum terbiasa." seru Haara.
"Baiklah, lama kelamaan kau akan terbiasa." seru Yoan.
Cup!
Pria itu mengecup bibir Haara sebentar.
"Terima kasih kiss morningnya." senyum Yoan.
"I-iya, a-aku mau mandi." seru Haara melangkah pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Yoan kembali memancarkan pandangannya ke setiap sudut kamar gadis itu.
Tatapannya terfokus pada sebuah laci yang membuat dirinya tertarik untuk membukanya.
Yoan perlahan menarik laci itu, dan ...
Matanya terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam laci gadis itu.
●•●•●•●•●
Rasa segar kini dapat ia rasakan setelah mandi, sangat menyejukkan.
Ceklek!
Haara membuka pintu kamar mandi nya dengan bersenandung kecil.
Tubuhnya mematung seketika saat melihat Yoan yang duduk di lantai dengan membongkar isi laci meja nya.
Pria itu telah mendapatkan tempat persembunyian kertas-kertas yang seharusnya tak pria itu ketahui.
Di laci itu lah ia menyimpan puluhan surat cinta dari para fans nya.
Glek!
Haara dengan berat menelan air liur nya saat melihat tatapan tajam yang Yoan lemparkan kepadanya.
"Yoan~" seru Haara takut menghampiri pria itu.
__ADS_1
Pria itu mengalihkan pandangannya kembali fokus membaca isi tulisan dari surat itu.
"Cih! Membaca tulisan dari mereka yang kebanyakan membawa sebuah takdir kau jodoh mereka, saat aku membacanya aku merasa mual." seru Yoan menyobek kertas itu dan menggabungkan dengan sobekkan surat yang sudah pria itu baca.
"Yoan, kalai mual, sudah jangan di baca ya?" seru Haara jongkok di samping pria itu.
Tatapan mereka bertemu, pria itu menatap Haara datar.
"Sekarang kamu mandi sana, habis itu kita tidur ya." seru Haara mencoba membujuk pria itu.
"..."
"Yoan."
"Kenapa kau masih menyimpan semua surat ini?" tanya Yoan
Haara terdiam sejenak.
"A-aku tak menyimpannya, aku lupa membuangnya." seru Haara menunduk.
"Kenapa harus di simpan dulu? Apa kau sayang membuang semua surat ini? Kenapa tak langsung buang saja??" tanya Yoan lagi.
"Bu-bukan begitu Yoan, aku sengaja membawa nya pulang, karena aku tak ingin cowok yang memberikan surat ini merasa sakit hati karena aku membuangnya." jujur gadis itu.
"Sungguh seperti itu?" tanya pria itu.
Haara mengangguk cepat dengan wajah serius.
Yoan menghela nafasnya kasar.
"Penulisan surat mereka membuatku merinding untuk umur anak SMA, terlalu berlebihan, hampir semua isi nya puisi, apa mereka akan membuat lirik lagu dengan puisi itu? Menyebalkan." gerutu Yoan.
Haara terkekeh mendengar gerutuan pria itu.
"Nanti akan aku buang kok." seru Haara memeluk tangan pria itu.
"Bakar saja."
Gadis itu tertawa kecil.
"Baiklah, akan aku bakar habis Yoan, sesuai perintah suamiku sendiri." seru Haara terkekeh.
"Hahh, mereka masih memberikan mu surat?" tanya Yoan.
"Hmm~ tidak sebanyak sebelum mereka tahu aku sudah bertunangan denganmu."
"Hm? Sungguh?"
"Ya, bahkan teman-temanku berkata, cowok-cowok yang menyukaiki insecure melihatmu yang tingkat ketampanan nya lebih tinggi dari mereka, aku bahkan menyetujui sekali ucapan temanku itu." kekeh Haara.
Yoan yang mendengarnya merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Yifan mengatakan padaku jika kau juga mendapat bunga juga, ya?"
"Kalau bunga aku tak begitu sering mendapatkan nya, tak sebanding dengan coklat." sahut Haara mengumpulkan surat-surat itu.
"Coklat??"
"Ya, bahkan coklat adalah kesukaanku, tapi jika aku memakan coklat pemberian mereka, aku takut mereka menyangka aku memberi respon pada mereka." jelas Haara.
"Aku kasih ke Alka dan Riza, kadang juga aku kasih ke Yifan juga, padahal dia juga suka dapat coklat dari fans cewek-ceweknya, namun ia memilih untuk memberikan coklat itu pada teman-temannya." seru Haara.
Yoan tersenyum senanng mendengarnya.
"Ah! Bahkan Yifan juga memintaku untuk tukaran coklat, padahal coklatnya sama, namun ia minta tukar, alasannya ia tak mau menerima coklat pemberian fans nya itu."
"Ide yang tak buruk." kekeh Yoan yang menanggapi kejeniusan Yifan.
"Hoaam~ Yoan, mandi sana." seru Haara dengan mata sayu.
"Hm, baiklah." sahut Yoan bangkit berdiri.
"Biar aku ambilkan baju mu di dalam koper dan aku ambilkan handuk baru di lemari, sebentar ya." seru Haara dengan nada sangat lembut.
Yoan tersenyum senang mendengar ucapan perhatian dan nada lembut yang di lontarkan gadis itu, sungguh hal itu sukses membuat jantung nya berdegup tak beraturan.
Pria itu memerhatikan Haara yang sedang membuka resleting dalam koper nya.
"Eh! Aku lupa, semua pakaianmu aku masukkan di dalam koperku." seru gadis terkekeh.
Yoan mengerutkan keningnya bingung, saat melihat Haara membuka koper milik gadis itu dan mendapati semua pakaiannya ada di dalam koper gadis itu.
"Tunggu tunggu, kenapa semua pakaian ku ada di dalam kopermu??"
"Hehe, aku pindahkan semua saat kau sedang mandi kemarin ke dalam koperku." cengir Haara melangkah ke lemari nya.
"Lho?? Kenapa kau pindahkan?? Jika semua pakaian kau masukkan ke dalam kopermu, lalu ... Apa yang aku bawa dalam koperku??" terheran-heran Yoan.
Ia merasa aneh, bagaimana tidak? ia sangat yakin bahwa ia merasakan jika koper nya itu tidak lah kosong.
"Mmm itu ..." gantung gadis itu ragu.
Yoan pun membuka kedua resleting koper nya, dan ...
Pria itu mematung seketika.
"Ke-kenapa koperku berisi ... Pembalut semua????"
Haara membuang wajahnya takut melihat ekspresi terkejut pria itu.
'Tunggu dulu, jangan-jangan saat pemeriksaan di bandara ...' batin Yoan masih mematung.
"Pantas saja, petugas pemeriksa di bandara menatap ku aneh." seru Yoan.
Seketika tubuhnya melemas.
"Yo-Yoan??" panggil Haara ragu.
"At ... Haa ... raaaa~" panggil pria itu dengan tatapan kosong.
"I-iya Yoan?" sahut Haara mencoba tenang.
Pria itu menghela nafasnya gusar sambil menutup wajahnya menahan malu.
"Ahaaaa~ kenapa harus pembalut lagi~ padahal aku hampir melupakan kejadian saat di minimarket, AtHaaraa~" rengek pria itu.
__ADS_1
"Yoan, maaf ya~ maaf sekali aku tak bilang-bilang padamu terlebih dulu, aku tak tahu harus bilang bagaimana~ tapu sebagai balasannya, aku bawakan pakaian mu di dalam koperku kok." tak enak gadis itu.
"Tapi AtHaara ... Haish! Malu nya aku~" rengek pria itu.
Haara dapat melihat telinga pria itu,
Memerah!
Hal ini pun pernah terjadi juga saat pria itu malu karena membeli 3 kantong plastik pembalut saat di China.
Ini adalah kali kedua dia melihat pria itu malu memiliki tanda yang unik.
Bahwa, fakta baru pria itu, bahwa telinga pria itu akan memerah saat merasa malu.
"Yo-Yoaan, a-aku sengaja lakukan itu karena kau tahu sendiri koperku tak sebesar koper milikmu, ja-jadi aku pindahkan di kopermu." jelas Haara.
Pria itu tak menyahut.
"La-lagi pula kau itu memakai masker, mereka tak akan melihat wajahmu lebih jelasnya." seru Haara merangkak mendekati pria itu.
"AtHaara."
"I-iya??"
"Aku akan mandi, setelah itu aku akan menghukummu." seru pria itu datar.
"H-ha??!"
Pria itu bangkit dan pergi masuk ke dalam kamar mandi.
"Oh tidak! Habis aku!!"
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Wajah lelah dan tenang tergambar jelas dari wajah suaminya yang sudah terlelap tepat di depan wajahnya.
Sesuai ucapan pria itu, Yoan menghukumnya setelah pria itu mandi.
Pria itu sungguh membuatnya diam tak berkutik saat menerkam habis bibirnya hingga ke rongga mulutnya.
Tak hanya itu, pria itu pun beraksi membuat tanda merah di leher nya yang bisa di tutupi oleh rambutnya.
'Hahh~ aku tak tahu jadinya tadi jika aku tak memberontak tadi, bisa-bisa ia melebihi batas hingga bisa membuka bajuku!' batin gadis itu memejamkan matanya dengan helaan nafas pelan.
Rasa berdenyut masih terasa di bibirnya dan leher nya, pria itu sungguh suka sekali menggigit.
Gadis itu menarik baju nya ke bawah,
Ya, dengan sangat berani pria itu telah membuat tanda kepemilikkan di dada atasnya.
Ini kali pertama pria itu sampai sejauh ite membuat jejak kepemilikkan di dada atasnya.
'Jika aku tak menolak, bisa saja ia memperkosaku saat itu juga tadi.' batin Haara bernafas lega.
Gadis itu secara tiba-tiba menutup wajahnya malu saat mengingat dimana tadi pria itu memintanya kembali memimpin ciuman mereka.
'Kenapa denganku?? Kenapa sekarang aku merasa sangat menyukai sebuah tautan bibir kami berdua??' batin gadis itu.
Pandangannya tertuju tanpa sadar kepada bibir pria itu.
Glek!
Dengan cepat gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat.
'Apa yang ada di fikiran mu AtHaara!! Kenapa dengan dirimu!! Kenapa kamu jadi berfikir hal yang seperti itu!!' batin gadis itu.
'Yoan ini sungguh bahaya, hukumannya benar-benar tak terduga sama sekali, aku jadi takut!'
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "hukumannya bahaya😋 untung ga sampe kebuka🙊"...
...•...
...Hallo kakak-kakak Readers dan kakak-kakak author hebat😍...
...Terima kasih telah setia membaca karya pertama ku ini ya😇...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, +Favorite, dan komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...Please penilaiannya ya kakak-kakak semua😇...
...karena itu semua sangat berharga untuk author sendiri😇🙏...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
...🎐我的命运是赵先生🎐...
__ADS_1