My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
keputus Asaan


__ADS_3

Haara turun dari taksi, ia menghela nafasnya dan melangkah masuk ke dalam apartemen.


Banyak karyawan yang menatapnya, karena baju seragamnya yang basah kuyup


"Nona muda, anda baik baik saja? tadi tuan Yoan mencari anda, dan tuan Yoan pergi keluar untuk mencari nona" seru satu karyawan


Haara tersenyum tipis sambil mengangguk


"Iya, terima kasih informasinya" senyum Haara, ia pun melangkah masuk ke dalam lift.


Haara menyandarkan dirinya di dinding lift, ia merasa kepalanya pusing


"Aku harus minum obat, aku tak ingin menjadi beban dia lagi" seru Haara memijat pelipisnya,


Jantungnya berdetak kencang, ia tak tahu harus apa nanti saat bertemu pria itu, selebihnya pria itu akan mengintrogasinya


Ia juga berfikir ia tak bisa mendiami pria itu dan bersikap jika dirinya marah, bahkan pria itu tak tahu menahu jika ia telah mengetahui semua pengakuan yang menyakitkan yang ia dengar sendiri dari mulut pria itu.


"Aku harus cepat ganti baju, aku tak tahu alasan apa yang akan ku berikan nanti" serunya


"Hacchi!!~"


Haara mengosok gosok hidungnya setelah bersin, hidungnya terasa gatal.


"Jangan flu ku mohon, jangan buat diriku merepotkan ia lagi, ayolah tubuhku jangan lemah, tunjukkan jika kau akan baik baik saja tanpa perhatian darinya" seru Haara mengusap air matanya yang kembali mengalir.


Pintu lift terbuka Haara melangkah keluar lift dan menempelkan card nya dan pintu pun terbuka


Haara menduduki dirinya dan membuka sepatunya yang basah.


Kepalanya terasa nyeri, mungkin ini efek kehujanan dan menangis,


Haara melirik ke ruang tamu, tas pria itu berada di sana,


Haara teringat dengan ucapan karyawan apartemen ini jika pria itu mencarinya, apa pria itu menyadari secepat itu? jika ia belum pulang sampai tak menyimpan tas nya di ruang kerjanya?


Haara mengusap usap lengannya yang kedinginan


Dengan langkah lemah Haara melangkah ke dapur untuk mengambil air hangat ,ia tak bisa mandi jika tubuhnya kedinginan seperti ini


Suara pintu terbuka terdengar, gerakannya terhenti saat akan meminum lagi air nya


Jantungnya berdegup kencang sekali, ia merasa tak siap


Suara langkah kaki mendekat ke arah nya


"Dari mana!! .. Haara?? Kenapa kau basah kuyup seperti ini??" terkejut Yoan mengurungkan niatnya untuk marah, ia menghampiri Haara dan memegang ujung rambut gadis itu yang basah


Haara tak menghiraukan, ia kembali meminum air nya


"Darimana saja kau??" tanya Yoan tak sabar,


"Jalan jalan keluar" sahut Haara pelan


"Jalan jalan keluar?? Kenapa tak memberitahuku?? Dan kenapa pesanku tak kau balas dan kau juga tak angkat telfonku?! Kau tahu betapa paniknya aku mengenai takutnya kau dalam bahaya?!" marah Yoan


Haara tersenyum tipis,


"Tak perlu mengkhawatirkan ku, aku bisa menjaga diriku sendiri, bahkan aku kembali dengan selamat dan utuh" sahut Haara menyimpan gelasnya


"Kau belum menjawab, kenapa kau tak menghiraukan panggilanku??" tanya Yoan pada Haara yang membelakanginya,


"Ponselku mati"


"Bahkan sambungan sebelumnya tersambung ke ponselmu, jangan berbohong!"


"Ponselku ku simpan didalam tas, aku tak tahu kau menelfonku" sahut Haara mengambil bahan bahan masakan di dalam kulkas


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Yoan


"Melakukan kewajibanku, aku itu sekarang adalah seorang istri bukan? sudah seharusnya aku menjalankan kewajibanku" sahut Haara yang menyindir Yoan, namun tentu tak pria itu sadari,


"Haachi!!" bersin Haara

__ADS_1


"Mandi dan ganti bajumu sana" seru Yoan


"Aku lapar, aku ingin buat makan" sahut Haara cuek,


"Aku akan belikan makanan, tak usah masak makan malam untuk sekarang" seru Yoan


"Tidak perlu" sahut Haara membuka kulkas


"Kau harus mandi, kau habis kehujanan" seru Yoan menutup pintu kulkas itu dan menarik Haara


Haara pun menarik paksa tangannya ,hal itu membuat Yoan terkejut


"Aku bisa sendiri!" bnetak Haara dengan tatapan tajam, ia memakai tas nya dan meninggalkan Yoan


Yoan menatap Haara yang naik ke lantai atas dengan raut bingung.


●•●•●•●•●


Haara mengeringkan rambut nya dan betapa terkejutnya ia melihat Yoan bersandar di kayu pintu kamarnya


"Sedang apa kau di kamarku?" tanya Haara cuek, ia mengambil ponselnya di dalam tas,


"Ayo makan" ajak Yoan


Haara terdiam, ia menyampirkan handuknya di atas kepalanya


"Laparku sudah hilang, aku mau tidur" seru Haara tak bersemangat, ia merapihkan bantal untuk ia tiduri


Haara merasa jika Yoan melangkah mendekatinya,


Haara terkejut saat Yoan menangkup kedua pipinya,


"Hidung mu merah, kau pasti flu" seru Yoan dengan wajah khawatir


Dengan perlahan Haara menyingkirkan tangan Yoan dari wajahnya


"Aku mau tidur, aku mengantuk" sahut Haara menahan dirinya agar tak menangis


"Makan dulu ya, lalu minum obat" seru Yoan melihat wajah gadis itu yang pucat,


Haara mengangguk.


• • •


Haara menatap nasi goreng didepannya yang Yoan delivery tadi,


"Habiskan, habis itu minum obat" seru Yoan lembut,


Haara memakan nasi goreng itu perlahan,


Yoan menduduki dirinya dan ikut makan nasi goreng miliknya,


Yoan melirik gadis nya dengan tatapan bingung, wanita itu selalu melamun sejak tadi


"Kau kenapa? Kau terlihat tak seperti biasanya Haara" bingung Yoan


Haara menggeleng lemah


"Kau punya masalah disekolah?" tanya Yoan lagi


Haara kembali menggeleng


"Kau aneh sekali AtHaara, ada apa denganmu?" bingung Yoan,


"Aku baik baik saja" senyum tipis Haara kembali memakan nasi goreng nya.


• • •


Suara air mengalir terdengar, Yoan berinisiatif untuk mencuci piring dan membiarkan Haara menunggunya selesai cuci piring


Haara menahan dirinya agar tak menatap punggung pria itu, ia mencoba membuat tatapannya lebih tertarik dengan pemandangan malam di kota yang dibasahi air hujan,


__ADS_1


Ia merasa dirinya benar benar tak pantas mendapatkan cinta seseorang yang ia cintai, semua berakhir mengecewakan hatinya,


Bahkan ia sudah mengunci hatinya untuk tidak mencintai siapapun, ia akan tahu apa akibat nya jika ia membukanya kembali, seperti saat inilah rasanya, menyakitkan.


'Perhatian dan kepeduliannya membuatku goyah, membuatku ingin tetap mencintainya meski ia telah menolakku mentah mentah secara tidak langsung'


'Bahkan ia sampai mencari wanita yang mirip dengan Irene ke Russia, cinta nya terlalu besar itu membuatku sulit menggantikkan posisi Irene dihatinya, sangat sulit sekali sepertinya~' batin Haara, air matanya kembali menetes dengan cepat ia mengusapnya,


'Bahkan ini baru awal, aku baru saja ingin berjuang untuk bisa menggantikkan posisi Irene dihatinya, namun tahu jika Irene lebih berarti dihatinya, itu membuatku percuma untuk berjuang, selebihnya jika wanita yang mirip dengan Irene itu hadir di kehidupan Yoan lagi, aku tak lah berarti apa apa lagi' batinnya lagi mendongakkan kepalanya agar tak menangis lagi


'Apa aku menyerah saja? Selagi aku belum begitu lebih dalam mencintainya?' putus asa Haara


'Aku tak bisa menerima akibatnya jika aku terus berusaha dan berjuang mengejarnya, itu membuatku mencintai dirinya semakin jauh lagi nantinya, lebih parahnya, ia akan menjauhiku setelah aku ketahuan menyukainya'


Haara tak dapat membendung air matanya lagi, ia pun terisak dan air matanya mulai membasahi pipinya


"Haara?"


Sontak Haara menghapus air matanya kasar,


"Kau .. Kau menangis??" terkejut Yoan mencoba menatap wajah Haara


Yoan menyimpan air dan obatnya di meja, ia kembali mendekati Haara dan memegang kedua pundak gadis itu


"Kau kenapa??? hey??"


Haara menutup wajahnya, tangis nya semakin menjadi jadi,


"Apa yang membuatmu seperti ini? Katakan padaku Haara~" panik Yoan,


Isakkan terdengar semakin kencang,


Yoan benar benar kualahan, ia menangkup kedua pipi gadis itu dan menyelipkan rambut gadis itu kebelakang telinga gadis itu


"Haara cerita padaku ada apa??"


Haara masih nggan menjawab, Yoan pun memeluk Haara untuk menenangkan gadis itu


Haara ingin menolak, namun tubuhnya terlalu lemah, ia butuh seseorang untuk bersandar saat ini


'Aku benci pada diriku! Aku benci! Aku terlalu bodoh! Hatiku sangat sulit bekerja sama dengan perasaanku! aku benci takdirku'


"Ceritalah padaku, kau terlihat tak baik baik saja, aku sudah curiga sejak awal kau pulang dengan keadaan basah kuyup seperti tadi AtHaara" seru Yoan khawatir,


Tangis Haara semakin menjadi jadi, ia memukul dada bidang pria itu


'Aku benci kamu Yoan, aku benci kamu!' batin Haara sambil memukul dada bidang pria itu


ia mencengkram baju Yoan kuat, membuat pria itu semakin panik akan hal apa yang terjadi dengan gadis itu


"AtHaara, jangan membuatku bingung Haara, ada apa hey??" panik Yoan


'Perhatianmu, membuat pertahananku runtuh, bahkan kau tak bisa bertanggung jawab setelah meruntuhkan pertahananku, kau selalu mencoba menghancurkan pertahanan yang akan aku susun Yoan' batin Haara sesenggukan


"Haara??" panggil Yoan menatap Haara dipelukannya


'Aku akan menutup hatiku, aku akan melenyapkan perasaanku pada Yoan yang baru tumbuh ini' -Haara.


...•...


...•...


...BERSAMBUNG...


...•...


terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍


jangan lupa di :


Like👍


tambah ke favorit❤

__ADS_1


Rate⭐⭐⭐⭐⭐


dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤


__ADS_2