My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Yoan memotong jarak diantara mereka berdua,


"Yo-Yoan???" gugup Haara.


Wangi tubuh dan parfum Yoan yang tercium di jarak mereka sekarang, membuat jantung Haara berdegup kencang.


Srtt!!


Haara terkejut, Yoan meletakan tangannya di keningnya,


"Wajahmu merah, dan gelagat mu aneh, ku perhatikan sejak turun dari taksi,"


Haara mengalihkan pandangannya, ia sangat malu sekali saat ini, ia tak menyangka jika pria itu memperhatikannya sedetail itu.


"Kau sakit??" tanya Yoan,


"Ah ti tidak kok a aku ...,"


Ucapan Haara terhenti saat melihat raut Yoan yang berubah serius.


"Aku?" ulang Yoan,


"A aku ... Hanya gugup!" malu Haara saat mengatakannya,


Yoan menarik tangannya dari kening Haara,


"Kenapa gugup?"


"Mm tak usah dibahas lagi!" seru Haara benar benar tak kuat dijarak mereka saat ini,


Yoan mengikuti Haara yang melangkah lebih cepat dari biasanya,


Yoan terkekeh melihat tingkah Haara,


calon istrinya.


●•●•●•●•●


"Mm masuklah!" seru Haara kikuk,


"Mama? papa?" panggil Haara, ia bingung kenapa rumahnya gelap, ia menghidupkan semua lampu yang biasa dihidupkan saat malam hari.


"Kemana mama dan papa ya?" seru gadis itu mengambil ponselnya di tasnya,


Ia mematikan ponselnya tadi karena ia sedang ulangan harian tadi di sekolah.


"Kemana orang tua mu?" tanya Yoan dengan suara baritonnya yang berdiri dibelakang Haara,


"Yo-Yoan, kau mengejutkan ku!" terkejut Haara mengusap dadanya,


Yoan tak menyahut lagi, ia melangkah kearah bingkai foto besar disana, foto keluarga dan juga foto Haara saat masih Sekolah Dasar dan juga Sekolah Menengah Pertama,


Yoan tersenyum tipis melihat foto Haara saat masih anak anak itu.


"Huwaaa!! mama! papa! kenapa kalian tidak menungguku!!" teriak Haara membuat Yoan terkejut,


Yoan mendekati Haara, ia mengambil ponsel Haara, membuat Haara terkejut kedua kalinya,


"e eh~" -Haara.


Yoan membaca isi pesan yang membuat Haara berteriak tadi,


"Mungkin mereka akan pulang sangat malam."


"Sepertinya seperti itu."


Yoan mengangembalikkan ponsel milik Haara,


Mereka terdiam,


"Jika kau ingin ganti baju dan mandi pergilah," seru Yoan.


"Sungguh tak apa?"


"Hm, pergilah, aku akan tunggu diluar." seru Yoan melangkah keluar.


Haara tersenyum melihat kepekaan Yoan, ia pun bergegas ke lantai atas.


●•●•●•●•●


Yoan tiduran di kursi taman yang terdapat di halaman rumah Haara, ia menatap ponselnya, membaca pesan menyebalkan dari Ammar,


'Dirumah Haara sedang tidak ada orang kata Anna, jadi aku dan Anna berpesan, jangan macam-macam pada Haara. oh iya, ini adalah kesempatan emas yang kuberikan pada kalian untuk bisa mengenal lebih satu sama lain, sukses Mr. Yoan!!'


^^^-Ammar^^^


"Macam-macam?? apa aku pria tak tahu etika? hahh, pasangan yang membuatku darah tinggi!" geram Yoan,


"Maaf lama."


Yoan mencari asal suara itu,


Haara melangkah mendekati Yoan,


Yoan menduduki dirinya, mempersilahkan Haara yang sudah berganti pakaian menjadi baju tidur duduk disebelahnya.


"Apa sudah ada kabar dari kak Anna atau kak Ammar?"


"Sudah, Ammar menunggu Anna meeting, lalu mereka akan kembali ke tempat Anna meninggalkan mobilnya yang diperbaiki montir." jelas Yoan.


Haara bernafas lega mendengarnya,

__ADS_1


Yoan menatap Haara disampingnya, Haara yang merasa diperhatikkan pun menatap Yoan disebelahnya,


"Kenapa?" gugup Haara,


"Tadi kenapa kau gugup?" tanya Yoan tiba tiba,


Pertanyaan Yoan sontak membuat dirinya gelagapan.


"Bahkan sekarang pun kau masih terlihat gugup." tambah Yoan.


"Ka-kan sudah kubilang tak usah di ...,"


"Aku hanya ingin tahu." seru Yoan masih menatap Haara,


Haara terdiam sejenak, ia sedang mengatur nafasnya.


"Tapi .. Jangan marah?"


"Hm,"


Haara mengusap usap tangannya karena ragu,


"Karena .. Sikapmu, sikapmu yang dingin padaku, itu membuatku gugup, aku tak tahu hal apa yang bisa membuat kecanggungan hilang~" tunduk Haara,


" ... "


"Kau seperti mengabaikan ku, ya aku tahu ini adalah pertemuan kita yang baru hitungan jari, ta-tapi ...,"


Haara melebarkan pandangannya melihat Yoan tertunduk,


"Ah! kan sudah kubilang tak perlu dibahas dan juga kau sudah berjanji tidak ...,"


"Aku tidak marah."


Angin malam berhembus hingga membuat rambut mereka berdua berhembus mengikuti alunan angin malam,


"Ahh a-aku ingin sekali eskrim ba-bagaimana kalau kita makan es krim??" panik Haara berdiri,


"Tiba tiba?"


"Mmm tak mau yahh?" bingung Haara menggaruk belakang rambutnya,


"Ayo." sahut Yoan singkat, ia memasukan tangannya kedalam saku celananya.


Lagi lagi degup jantungnya terpompa cepat.


●•●•●•●•●


Yoan ternganga saat melihat banyaknya es krim yang Haara beli, ia hampir menjatuhkan minuman kaleng ditangannya.


"Kau akan memakan semua itu?" tak percaya Yoan,


• • •


Yoan menatap sekitar, karena sangat terasa aneh jika ia makan dipinggir jalan.


Jalanan yang jarang orang lewati.


"Kenapa makan disini?" tanya Yoan bingung,


"Karena nanti akan keburu cair saat sampai rumah, jadi lebih baik makan disini, lagi pula disini cuacanya enak!"


Yoan mengangguk paham dan menyetujui ucapannya,


"Hahh jadi ingat saat bersama teman teman saat study tour tahun lalu, makan es krim bersama sama." seru Haara berucap sendiri menatap es krim nya,


"Ah, jadi seperti ini rasanya." seru Yoan.


"Memangnya ... dimana biasa kau berkumpul dengan teman temanmu?" tanya Haara menatap Yoan,


"Tidak pernah," sahut Yoan tersenyum miris,


"Kau ... Tak memiliki teman?" tak percaya Haara,


"Aku memilikinya, bahkan semua hancur karena suatu kejadian yang mengerikan, aku hanya menghadapi sebuah ketakutan selama beberapa tahun."


Haara tak paham apa maksud dari ucapan Yoan saat ini,


"Tak pernah ada masa remaja yang kualami dulu, hanya ketakutan yang ku alami." seru Yoan menumpu kedua siku tangannya di kakinya.


Haara menatap Yoan bingung,


Ia bertanya-tanya, lalu apa yang ia lakukan saat Yoan remaja? Haara melihat Yoan sangat sedih saat ia membahas tentang masa remaja.


Pandangan Haara lurus kedepan,


Tuk!


"Akh!"


Sontak Haara menatap Yoan, betapa terkejutnya Haara melihat Yoan menutup kedua matanya sambil mencengkram,


Tubuhnya terlihat gemetar seperti ketakutan,


"hei Yoan!? Yoan kamu kenapa Yoan?!" panik Haara memegang pundak Yoan,


Bukannya tenang Yoan terlihat makin gemetar dan histeris,


"Yoan! tenanglah Yoan! ka-kamu kenapa?!" tanya Haara makin panik, ia mencari orang disekitarnya, namun tidak ada orang.


"Yoan jangan seperti ini, Yoan!" gemetar Haara kebingungan,

__ADS_1


Nafas Yoan teregah engah,ingatan dulunya menguasai fikirannya,


Ruangan gelap, dan juga api yang besar itu membuatnya ketakutan saat ini,


Dan juga pria itu timbul dalam fikirannya bergabung dalam ketakutannya saat ini.


"Yoan!!"


Mata Yoan terbuka, mata nya membulat mengetahui semuanya hanya ingatan yang kembali ia ingat telah menguasai fikirannya,


Yoan tercegang melihat Haara didepannya dengan raut khawatir dan juga hampir menangis.


Haara menyentuh kedua tangan Yoan yang menarik rambutnya sendiri, tarikan pada rambutnya melemah, Yoan menatap Haara merasa jika ia membuat gadis itu takut,


"Yoan hentikan, jangan sakiti dirimu seperti ini~" seru Haara dengan suara gemetar,


Yoan tertunduk, ia sudah merasa lebih tenang sekarang.


"Tenanglah, tenangkan dirimu~" ucap Haara lembut,


Yoan terdiam, ia nggan menatap Haara sekarang,


Haara semakin bingung dengan semua hal yang terjadi saat ini,


Tangan nya masih gemetar karena masih bingung dengan hal yang tadi terjadi,


Sesegera itu Yoan menarik tangannya yang Haara genggam, Haara sedikit terkejut saat Yoan menarik tangannya yang Haara pegang.


"Kau baik baik saja??" khawatir Haara,


" ..."


"Yoan?" panggil Haara mencoba menatap Yoan,


"Jangan menatapku," seru Yoan pelan,


"Ke-kenapa? bahkan aku sedang bertanya padamu?"


"Memalukan!" seru Yoan sangat pelan,


"Jangan berkata seperti itu didepanku!" marah Haara,


Yoan menatap Haara dengan tatapan lesu,


"Aku belum sepenuhnya mengenal tentang dirimu, begitupun kau mengetahui tentangku,"


"Aku tidak tahu kenapa kau seperti tadi, tapi jika aku menebak ...," -Haara,


"Kau memiliki riwayat trauma tentang masa lalumu yang sama sekali tidak ku ketahui, jangan berkata itu memalukan, aku memahami semua itu, maaf karena pertanyaanku membuatmu mengingat masa masa mengerikanmu dulu." jelas Haara merasa bersalah.


"aku hanya berniat ingin mengenalmu lebih jauh, ini semua karena diriku, aku minta maaf membuatmu seperti ini," seru Haara membuang pandangannya dari Yoan,


Puk!!


Yoan meletakan tangannya diatas kepala Haara, Haara yang terkejut menatap Yoan yang memancarkan tatapan lesu,


"Aku tak menyangka kau menjadi salah satu orang yang mengetahui rahasia burukku, tadinya aku hanya ingin bercerita sedikit saja tentang masa laluku, meski lambat laun kau akan mengetahuinya, aku tak menyangka hal tadi terjadi secepat ini," jelas Yoan,


"Jika itu membuatmu harus mengingat hal masa lalu, aku tak ingin mendengar cerita darimu kau tak perlu menjelaskannya padaku."


"Sungguh? apa kau sungguh tak ingin tahu?" tanya Yoan tak berekspresi,


"Iya aku serius!"


"Lalu kau mengkhianati ucapanmu untuk mengenalku lebih jauh?" tanya Yoan dengan tatapan yang normal,


"Ap-apa?! ti-tidak!" gugup Haara.


Yoan terus menatap Haara menuntut jawaban sesungguhnya,


Deg!


Tatapannya~ Haara benar-benar tak kuat menatap mata Yoan saat ini.


Haara berdiri tiba-tiba,


"Kenapa kau menatapku seperti itu sih!" seru Haara yang wajahnya mulai memanas, Haara berdiri dan melangkah menjauh membelakangi Yoan.


Haara memegang kedua pipinya, ia merasa wajahnya memerah,


"Aku menuntut jawabanmu, bahkan kau sendiri yang bilang seperti itu tadi."


"maksudku ...,"


Buk!


Wangi tubuh bercampur parfum maskulin yang tercium lebih jelas sekali di indra penciuman Haara.


Ia tak menyadari Yoan sudah di belakangnya, secara ia berbalik menabrak dada bidang Yoan.


"Ceroboh!" seru Yoan dengan suara baritonnya,


Suara Yoan yang membuat nya merinding mendengarnya, ia tak tahu sekarang bagaimana nasib jantung dan wajahnya yang sudah semerah apa.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...

__ADS_1


__ADS_2