
Haara menduduki dirinya di kursi yang berada dibalkon ia mengusap air matanya, entah kenapa cerita Stephannie tentang masa lalu terngiang di benaknya,
Air matanya tak bisa berhenti mengalir
Sangat menyakitkan, sungguh sangat menyakitkan
Hatinya terasa sangat sakit sekali,
"Begitu menderita sekali dirimu dulu Yoan~" isak Haara,
"Aku tidak tahu apa yang kakakmu lakukan saat kau menghilang selama satu tahun Yoan, itu pasti sangat menakutkan sekali untukmu"
Haara memakluminya kenapa pria itu tidak kuat menceritakan masa lalunya sendiri, karena masa lalu yang ia alami sangatlah menyakitkan sekali,
"Haara?"
Haara yang merasa terpanggil memutar tubuhnya
"Papa Tao Ming mama Stephannie" isak Haara,
Tao Ming memeluk Haara, tangis Haara kembali pecah,
"Sungguh menderita nya Yoan dulu papa, kenapa harus seberat itu? aku benar benar tak kuat membayangkan penderitaannya, traumanya juga, aku sungguh tak tega saat traumanya menghantui dirinya papa mama~"
"Papa paham apa yang kau rasakan ,itu juga yang kami rasakan juga, tapi Yoan kini sudah kembali hidup normal dan tak ada lagi penderitaan untuknya" seru Tao Ming,
Haara melepaskan pelukannya,
"Aku janji, aku akan membuat Yoan terbebas dari traumanya, aku janji!" seru Haara bertekad,
Stephannie dan Tao Ming tersenyum senang,
"Kami mendengarnya mohon bantuannya ya menantuku" senyum Tao Ming mengusap lembut rambut Haara,
Haara tersenyum ia mengangguk.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Keesokan harinya.
Di hari Rabu yang ceria, Haara bangun pagi pagi untuk membuat omelete di dapur, Stephannie sangat kagum saat mengetahui Haara sudah membuatkan sarapan untuknya dan untuk Tao Ming,
"Wahh!! Sepertinya enak" seru Stephannie,
"Semoga mama dan papa suka ya" seru Haara malu
"Harumnya enak" seru Tao Ming senang menduduki dirinya di kursi makan,
Haara menghidupkan layar ponselnya, ia menghela nafasnya kasar,
Ia sedang menunggu kabar dari pria itu, nyatanya pria itu tak berniat mengirim pesan padanya,
"Kamu kenapa sayang?" tanya Stephannie,
"Mm tidak mama, ah ayo sarapan" senyum Haara.
• • •
Haara melambaikan tangannya saat Tao Ming pergi dengan mobilnya,
"Uuu, diantar papa mertua ya" seru Alka yang datang tiba tiba,
"Eh Alka, sejak kapan kamu berdiri dibelakang ku?" tanya Haara,
"Saat aku sampai kau pun sampai, oh iya kak Yoan belum pulang dari Jepang memangnya?"
"Kenapa bertanya tentang nya?" bingung Haara
"Ehh jangan bilang kau curiga padaku" seru Alka waspada,
"Tidak kok, aku hanya bertanya, kasihan fans nya kamu dan kak Yoan menanti kemesraan kalian lho" goda Alka
"Ihh, jangan dibahas"
"Kenapa? Apa kau rindu menebar kemesraan dengannya?"
"Tahu ah malas jika ingat dia tuh"
"Lho kenapa?"
"Bayangkan saja ia tak mengabariku dari kemarin hingga sekarang, membuatku sebal saja!" kesal Haara,
"Tak mengabarimu? Jangan jangan dia liburan tanpamu lagi?"
__ADS_1
"Ihh Alka, jangan menakutiku deh" kesal Haara,
"Hehe maaf, mungkin dia lupa"
"LUPA? Wah! Bahkan aku ini adalah .."
"Stt!!" seru Alka menutup mulut Haara,
"Hey, apa kau mencoba membuat gempar sekolah dnegan pengakuanmu?" bisik Alka
"Aduh! Iya juga, bodoh sekali aku" rutuk Haara,
Ponselnya tiba tiba berdering sontak Haara mengambil ponselnya di saku jas dengan cepat,
Alka melihat Haara mengha nafasnya bingung
"Bukan darinya ya?"
"Iya, dari Yuu"
"Yuu?"
"Iya, aku harus beritahu mertuaku agar tak menjemputku" seru Haara pelan,
"Yuu akan menjemputmu?"
"Yuu ingin mengajakku bertemu"
"Wah! Apa kau berniat selingkuh??"
"Ehey! Alka, fikiran macam apa itu, tentu tidak, Yoan lebih baik" seru Haara membanggakan Yoan,
"Becanda ih, tapi Yuu tampan juga"
"Iya tampan, jauh lebih tampan Yoan" seru Haara cuek,
"Sudah berani membelanya terang terangan nih, whahaha!!" tawa Alka,
"Tentu saja, asal jika di depan Yifan dan Yuu aku tak akan seperti sekarang, membela si wajah datar nan dingin itu" seru Haara sombong,
"Baiklah, terserah kau saja" kekeh Alka.
●•●•●•●•●
Singkat cerita, Yuu mengirim pesan pada Haara tadi pagi untuk mengajak gadis itu bertemu di lestoran hamburger dekat dengan sekolahnya,
Haara masuk ke dalam lestoran, ia mencari keberadaan Yuu disana,
"Wah, lama tidak bertemu kakak ipar" seru Yuu
Haara menduduki dirinya di sofa hadapan Yuu,
"Bagaimana kuliahmu?"
"Baru dimulai sangat mslelahkan karena banyak yang menggangguku" sahut Yuu mengehla nafasnya,
"Fans baru?" tebak Haara,
"Wah, kau benar"
Haara terkekeh,
"Ada apa mengajakku ketemu?" tanya Haara,
"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu"
"Hm? Apa itu?" tanya Haara meminum air jeruk yang baru saja datang,
"Be .. Bep itu apa?" tanya Yuu polos,
Haara hampir saja menyemburkan minumannya,
"Terus apalagi ya" seru Yuu melihat ponselnya,
"Mas bucinku .. Itu juga apa?"
Haara batuk saat mendengarnya,
"Apa mahasiswi disana memanggilmu seperti itu?" tanya Haara tak percaya,
"Iya, mereka menyuruhku memanggil mereka be .. Bep bebep, memangnya bebep itu apa?" anya Yuu lagi,
"Apa kau menuruti apa mau mereka??"
"Aku mencuekinya, karena aku takut mereka membodohiku" sahut Yuu meminum teh nya,
"Bagus, akan ku beritahu, bebep itu adalah bahasa gaul remaja artinya itu 'sayang',"
Yuu yang mendengarnya memutar matanya malas,
__ADS_1
"Benar dugaanku"
"Dan mas bucinku itu artinya .. Kakak mungkin ya mas itu? iya kali, mas bucinku artinya kakak yang membuatku gila karena cinta, intinya gitu lah" sahut Haara yang tak pandai menjelaskan,
"Wah, sangat menjijikan" sahut Yuu awal yang terkejut dan santai diakhir kalimat
Haara tertohok saat mendengarnya,
"Ucapanmu benar benar savage sekali" seru Haara,
"Tidak perduli"
Haara menghela nafasnya ,ia menyandarkan dirinya di sofa
"Jadi mas bucin memanggil ku ingin menanyakan hal itu saja?" ledek Haara,
"Aku tidak suka dengan panggilanmu itu yang baru kau ucapkan tadi" sinis Yuu,
"Oke maaf"
"Kak Yoan sudah tahu kau disini?"
"Yoan? Yoan pergi ke Jepang kemarin karena mengurus masalah perusahaannya disana" sahut Haara,
"Ke Jepang?? Lalu kau tinggal sendiri di penthouse??"
"Aku tinggal bersama mama Stephannie dan papa Tao Ming"
"Uu mama~ papa~" goda Yuu
"Mama dan papa yang memintaku memanggil seperti itu"
"Berapa hari ia disana?"
"Entahlah, ia tak bisa memprediksinya"
Yuu terdiam sejenak ,ia mengecek ponselnya,
"Kapan ia terakhir mengirim pesan padamu?"
"Kirim pesan?"
"Itu katanya tak bisa memprediksi pulang nya kapan" tanya Yuu,
"Ia pergi ke Jepang hari Selasa pagi, ia memberitahuku hal itu senin malam" sahut Haara,
"Ia .. Belum mengabarimu?" tanya Yuu ragu
"Hahh dia lupa denganku sepertinya"
"Dia sungguh belum mengabarimu??" terkejut Yuu
"Iya, kenapa sih?"
"Wahh, apa ia melupakanmu?"
Haara terdiam
"Hey bercanda" kekeh Yuu,
"Iya aku tahu, aku hanya membiasakan diri dengan becandamu yang savage" sahut Haara ketus
Yuu menyahut dengan tertawa,
"Ah iya, aku tidak tahu dimana harus membeli buku, hari Sabtu antar aku ke toko buku ya" seru Yuu,
"Toko buku?? Ayo!" seru Haara antusias,
"Senang sekali, apa kau suka toko buku?"
"Ya, aku rindu sekali menghirup suasana toko buku, ada novel yang ingin aku beli juga" sahut Haara senang,
Yuu yang mendengarnya ikut senang.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
❗❗(Oke! untuk part selanjutnya adalah bagian khusus pengenalan tokoh ya❤)❗❗
...Hai, readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
__ADS_1
...dan komentarnya 💭😊...
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...