My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Dia itu Berbahaya


__ADS_3

Dirinya baru saja selesai makan malam bersama tadi,


Keluarganya terkejut sekaligus senang mendengar dan melihat dirinya dan Haara damai dan terlihat dekat,


Itu pun membuat dirinya senang bukan main karena gadisnya mau menerimanya kembali meski cinta gadis itu padanya telah menghilang.


Namun ia akan berusaha untuk membuat gadisnya mencintainya lagi, mengakui jika gadis nya mencintainya sudah cukup baginya, karena ia ingin dirinya lah yang mencintai gadisnya melebihi cinta yang gadis itu berikan padanya.


Saat ini lah dirinya sekarang gantian berjuang.


Yoan menghela nafasnya sambil berjalan bulak-balik dikamarnya,


Sedikit berat saat dirinya melihat Haara yang setelah makan pergi ke kamar Xi Cha untuk tidur bersama adiknya.


Rasanya tak mau membiarkan gadis itu menjauh darinya tapi ia merenungkan niatnya tadi untuk tak melarang istri kecilnya pergi tidur bersama Xi Cha.


"Ah! Aku tak bisa diam saja! " seru Yoan pergi keluar kamarnya.


• • •


Tok!! tok!! tok!!


Yoan melipat kedua tangannya menunggu pintu itu terbuka.


Perlahan pintu pun terbuka.


"Kakak? Ada apa?" tanya Xi Cha.


"Eee~ Xi Cha? Kak Haara mana?" tanya Yoan lembut.


"Ada didalam, kenapa kak?" bingung Xi Cha.


"Tolong panggil dia keluar ya," seru Yoan.


Xi Cha pun menurut.


Tak menunggu lama, Xi Cha dan Haara pun tiba,


"Yoan?? Ada apa?" bingung Haara,


Yoan terdiam, ia menatap Xi Cha tajam.


"Okey, aku masuk~" seru Xi Cha masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa menutup pintunya.


Haara menatap pintu kamar yang ditutup oleh Xi Cha,


"Ada apa Yoan?" tanya Haara lagi bingung,


"Aku ingin kau tidur denganku." seru Yoan gugup.


Jleb!


"Uhuk! uhuk!" Haara tersedak.


"Kau baik-baik saja??" tanya Yoan sedikit panik.


"A-aku baik baik-saja." sahut Haara cepat.


Yoan mengangguk-angguk samar.


"Kamu ... mau kan?" tanya Yoan menatap Haara ragu.


Haara mengerjapkan matanya dan mengangguk malu, Yoan yang melihat Haara mengangguk pun tersenyum.


"Aku ... akan bilang pada Xi Cha dulu ya." seru Haara gugup.


Yoan mengangguk.


Haara pun membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.


Yoan menyandarkan dirinya di dinding, entah kenapa setelah ia berkata jujur tentang perasaannya pada gadis itu, hatinya berdegup kencang saat melihat wajah gadis itu, ia juga ingin terus melihat wajah gadis itu.


"oyasuminasai! kak Yoan kak Haara~(selamat malam!)" seru Xi Cha datang tiba tiba.


Haara teesenyum mendengar ucapan selamat malam Xi Cha pada dirinya dan Yoan


Yoan mengangguk,


"Langsung tidur Xi Cha, jangan bergadang ya?" seru Yoan mengusap rambut adiknya sayang


Xi Cha mengangguk mantap, ia pun menutup pintu kamarnya


Haara mengalihkan pandangannya, ia merasa gugup saat ini


"ayo." seru Yoan yang gugup pun menarik tangan Haara menuju kamarnya.


●•●•●•●•●


Haara berlari kecil saat dirinya sudah berada di dalam kamar pria itu ke sebuah jendela besar di kamar itu.


Ia menatap pemandangan indah kota Tokyo di malam hari sambil tersenyum senang.


Ia masih merasa gugup saat pria itu tiba-tiba datang ke kamar Xi Cha untuk menemuinya dan memintanya tidur bersama, sungguh sangat mengejutkan hatinya.


Haara melirik ke pantulan jendela kaca yang samar memantulkan pria itu melangkah mendekatinya.


Srett!


Deg!


Jantung Haara hampir loncat karena terkejut karena perlakuan pria itu.


Pria itu melingkarkan tangannya di perut langsing Haara dari belakang, pria itu meletakkan dagunya di pundak Haara dengan manja.


Haara mengerjapkan nya beberapa kali, tubuhnya tegang seketika.


Sumpah demi apapun ia merasa ingin berteriak atas perlakuan Yoan saat ini!


"Hm? Kau terlihat tegang AtHaara~ tenanglah~ ini aku~" seru Yoan terkekeh.


"Ah! ini pertama kalinya untukku~" sahut Haara mencoba menenangkan dirinya.


Yoan tersenyum senang saat mendengar pengakuan gadis itu.


"Kenapa tubuhmu sangat kecil AtHaara~" seru Yoan dengan suara beratnya.


"Be-benarkah?" tanya Haara gugup.


"Hmm~ sangat enak sekali untuk di peluk." dehem Yoan dengan ucapan sukses membuat wajah Haara tersipu malu.


Haara tak menyahut lagi, gadis itu mati kata-kata.

__ADS_1


"Jika kau masih belum siap tidur satu kamar denganku, aku akan tidur di sofa." seru Yoan lembut.


"E-eh?? Ti-tidak kok!" sahut Haara cepat.


"tak perlu memaksakan dirimu jika maaih takut." sahut Yoan memiringkan kepalanya untuk menatap Haara.


"a-aku tidak takut! aku hanya belum terbiasa saja." sahut Haara gugup


"Jadi ... kau tak menolak keinginanku untuk tidur satu kamar denganku?" tanya Yoan ragu.


Haara mengangguk.


"Asal jangan macam-macam padaku." seru Haara gugup sambil menatap wajah pria itu yang berada dipundaknya, tatapan mereka bertemu.


Yoan tersenyum senang dan mengangguk lembut.


Haara tersenyum bahagia saat melihat dirinya dipantulan jendela, pria itu memejamkan matanya.


Yoan menarik nafas harum yang selama ini ia rindukan kini terhirup di penciumannya.


"Mm Yoan?" panggil Haara.


"Hm?" dehem pria itu lembut.


"Kau bukannya takut dengan tempat yang gelap ya? Mama Stephannie bilang kamu takut karena ... traumamu~?" tanya Haara takut.


"Aku sudah sembuh, aku sudah terbebas dari traumaku, AtHaara." sahut Yoan santai.


"Su-sungguh?!" terkejut Haara menatap Yoan di pundaknya.


Pria itu mengangguk.


"Ahh~ syukurlah~ aku sangat senang mendengarnya~"


"Terima kasih sudah membantuku untuk menghilangkan traumaku AtHaara~"


"Eh?! A-aku??" heran Haara.


"Hm, karena mu~ terima kasih ya?" seru Yoan.


"Iya Yoan, sama-sama~" sahut Haara tersenyum.


Haara bergidik geli saat ia menyadari pria itu mengendus-endus leher nya.


"Mm~ sejak kapan kau .. Menyukaiku?" tanya Haara yang merasa tak nyaman membuka topik pembicaraan baru,


Ia sengaja membuka topik pembicaraan baru, ia takut sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi.


"Hmm~ sejak ... Aku sibuk mengurus pembukaan cabang perusahaan yang akan dibuka di Korea, ya! saat itu aku menyadarinya." sahut pria itu menatap ke depan,


Haara bernafas lega karena dengan cara membuka topik pembicaraan pria itu tak mengendus endus lehernya lagi.


"Bahkan aku dan kau jarang bertemu saat itu, bagaimana kau bisa menyukaiku disaat itu?" tanya Haara bingung mulai larut dalam topik baru.


"Karena kau dengan tidak sopannya selalu ada di fikiranku, membuatku tak fokus berfikir tentang pekerjaanku saja." sahut Yoan datar.


"Berarti kau sendiri yang selalu memikirkan ku, tahu! kenapa menyalahkan aku? " tanya Haara cemberut.


Yoan terkekeh, Haara pun ikut terkekeh.


"Hm, aku selalu kefikiran ucapanmu tentang cinta pertamamu, dimana kau masih mengharapkannya, itu benar benar mengganggu fikiranku sekali" sahut Yoan datar


Haara melirik Yoan dipundaknya yang tak berekspresi.


Haara tertawa kecil


"Kamu kenapa tertawa?" tanya Yoan bingung


"Itu semua bohong Yoan~" sahut Haara terkekeh


"Hm? Maksudmu?" bingung Yoan


"Aku memang memiliki cinta masa lalu, tapi itu semua tak benar kok." sahut Haara tertawa,


Yoan mengerutkan keningnya bingung.


"Aku itu menyindirmu tahu, mana ada aku menyukai pria lain sampai bertahun-tahun lamanya~ aku menyindirmu karrna ucapanmu yang menusuk saat di rumah sakit saat itu bersama Yuu." jelas Haara.


"Ah! iya, aku baru ingat! pantas saja ucapanmu itu seperti mengarah padaku, padahal jika di fikir-fikir kau tak tahu menahu tentang kebohonganku." sahut Yoan paham.


"Hehe, aku sangat puas sekali menyindirmu." kekeh Haara.


"Kenapa kamu tidak marah padaku? Bahkan aku sudah melukai perasaanmu? namun, aku hanya menyadari satu hal, sikapmu sangat aneh padaku, itu membuatku bingung." tanya Yoan heran menatap wajah cantik istrinya.


"Aku tak ingin hubungan kita merenggang Yoan, aku tak ingin juga kau tahu aku menyukaimu saat itu, aku mengingat perjanjianku padamu agar aku tak menyukaimu." sahut Haara miris.


"Mengenai perjanjian itu, apa kau tahu maksud bahaya jika menyukaiku itu apa?" tanya Yoan.


Haara berfikir namun tak lama ia menggeleng.


"Bahaya karena terus mengejarku dan berusaha membuatku mencintaimu. karena jika kau berhasil, aku tak akan pernah melepaskanmu bahkan memberikanmu pada siapapun, karena aku paling tidak suka milikku di ambil atau di sentuh oleh orang lain, jika itu terjadi aku akan melukai seseorang yang ingin merebutmu dariku, kau paham sekarang?" jelas Yoan dengan nada tajam.


Haara mengangguk takut,


Haara yang mendengarnya sedikit terkejut, karena pria ini benar benar terdengar sangat mengerikan.


"Ucapanmu menyeramkan!" seru Haara.


"Bahkan aku sudah mengingatkanmu untuk tidak menaruh hati padaku, tapi kau nakal!" sahut Yoan mendecih.


"Kau tak akan bisa lari dariku AtHaara, kau milikku." seru Yoan.


Cup!


Haara terkejut saat pria itu tiba-tiba mencium pipinya


"Yo-Yoaaan~" malu Haara menatap pria itu


"Sudah lama aku selalu menahannya" sahut Yoan menatap Haara terkekeh.


"Menahan??" tanya Haara polos.


"Hm, untuk bisa mencium pipimu lagi." sahut Yoan menatap Haara.


"Lagi??!" terkejut Haara mencoba menatap Yoan,


"Diamlah~ aku akan ceritakan kapan awal aku mencium pipimu AtHaara~" seru Yoan mengeratkan pelukannya yang merenggang.


Haara mengerjapkan matanya gugup,


"Ja-jadi kapan?"

__ADS_1


"Saat .. aku pulang lembur dan kita tak pernah berpapas wajah meski tinggal bersama." sahut Yoan.


"Heee??!"


"Setiap malam saat aku menyatakan pada diriku jika aku menyukaimu."


"Ap-apa! Setiap malam!!?"


"Hm~"


"Jangan bilang kau yang berlutut di samping kamarku saat itu!"


"Wah aku ketahuan~ kau mengetahuinya??" kekeh Yoan.


"A-aku waktu itu terbangun karena terganggu dengan suara pintu kamar ku yang terbuka, dan aku melihat wajah wajahmu, aku mengira aku itu hanya bermimpi!" jelas Haara.


Yoan terkekeh,


"Ahh, aku terkejut saat itu kau terbangun dan menyebut namaku saat itu lho~" kekeh Yoan,


Haara menutup wajahnya malu,


"Ahh! Aku tak menyangkanya kau begitu bahaya saat itu~" malu Haara,


"Bahaya? aku hanya cium pipi kanan kiri dan kening saja tak ada larangannya untukku selaku suamimu." jelas Yoan tertawa,


"Huwaaaa~" teriak Haara malu,


Yoan pun tertawa lepas saat itu juga.


"Yoan nyebelin!" seru Haara pura pura merajuk


"Biarin nyebelin, karena aku suka sekali menggodamu!" seru Yoan tertawa kecil.


Haara tak bisa melunturkan senyumnya, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya tidak kembali berteriak.


"Baiklah~ aku tanya padamu, apa kau senang telah menyiksaku belakangan ini?? Dan sekarang aku juga sudah jujur dengan perasaanku padamu di tanggal sekarang?" tanya Yoan menyelipkan rambut Haara ditelinga gadis itu.


"Tentu! Aku sangat senang!! ... tunggu?? Tanggal??" tanya Haara menatap wajah Yoan dipundaknya.


Yoan menatap lurus dan mengangguk.


"Coba, tanggal berapa sekarang??" tanya Yoan lembut.


"Aku .. Ulangan selesai hari Sabtu tanggal ... 12 Desember dan sekarang hari Minggu tanggal 13 ... Ya ampun!" seru Haara menutup mulutnya terkejut.


Yoan terkekeh dan menenggelamkan kepalanya di leher gadis itu membuat Haara kegelian.


"Sudah 3 bulan ternyata ya." seru Haara yang merasa wajahnya memerah karena merasakan deru nafas pria itu dilehernya,


"Happy Anniversary AtHaara~" seru Yoan dengan suara berat,


"Happy Anniversary juga tuan Yoan~" sahut Haara.


Perut Haara terasa menggelitik, Haara terkejut saat merasa lehernya ...


"ngah! Yoan~" rintih Haara.


Tak ada sahutan dari pria itu,


"Yo ... ann~ hentikan!" seru Haara merintih.


lagi-lagi tak ada sahutan.


Hembusan nafas dilehernya sangat membuat dirinya merinding bukan main.


Haara mencengkram baju lengan pria itu kuat, ia tak menyangka jika pria itu akan melakukan hal diluar dugaan seperti saat ini.


Tubuh Haara menegang saat pria itu mengecup dalam kulit lehernya.


Sebuah usapan lembut terasa dilehernya tepat dimana pria itu membuat 'jejak.'


Haara bernafas lega saat itu juga,


Haara membalikkan tubuhnya saat pria itu memutar tubuh gadis itu.


Haara membelalakan matanya saat Yoan mencium bibirnya lembut dan ia merasa jika pria itu melum•t bibirnya dengan lembut.


Haara tak bisa berbuat apa-apa, bahkan tak bisa dan membalas ciuman yang Yoan berikan padanya, ia tak paham tentang berciuman!


Haara menarik nafas dalam dalam saat Yoan melepaskan ciuman mereka,


Yoan mengusap bibir Haara lembut.


"Aku suka bibirmu."


"H-ha?"


"Manis~" seru Yoan dengan mata sayu kembali melahap bibir Haara.


Haara memejamkan matanya rapat-rapat,


'Dia sungguh bahaya jika di diamkan!'


...•...


...•...


Author: "hm hm hm~ whehehehe 🙈"


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak readers dan kakak author-author yang hebat dan keren😍...


...Terima kasih sudah membaca ceritaku🙏...


...❗Jangan lupa untuk❗:...


...✔like,...


...✔vote,...


...✔rate 5 star, dan...


...✔komentarnya yang sellau ku nantikan💐💐💐...


...📜Pesan dari Author:...


..."Selalu jaga kesehatan di saat pandemi seperti ini ya kakak-kakakku❤...

__ADS_1


...selalu jaga kebugaran tubuh kalian semua😍...


...Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua🤗🤗"...


__ADS_2