My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sebuah Izin


__ADS_3

Acara makan malam pun kini berlangsung, tawa canda terdengar meramaikan meja makan.


Cukup melelahkan, namun rasa lelah terganti dengan rasa kekeluargaan yang sangat kental membuat kelelahan itu tergantikan dengan rasa bahagia.


"Mama." panggil Yoan pada Stephannie membuat Haara, Lucy dan Anna yang sedang tertawa sambil beres-beres pun menghentikan tawanya.


"Mama yang mana ini? Mama Lucy atau mama?" tanya Stephannie bingung.


"Kedua mama ku." senyum Yoan.


"Ada apa Yoan?" tanya Lucy lembut.


"Tidak hanya mama Lucy dan mama, namun juga dengan Haara dan Anna, ada yang ingin aku dan Ammar bicarakan, hal yang sangat penting." seru Yoan.


Hal itu membuat Stephannie, Lucy bingung.


Haara melirik Anna, kakaknya itu bersikap biasa saja, tentu saja karena kakaknya sudah mengetahui nya lebih dulu, itu membuat nya penasaran sekali saat ini.


"Aku, Ammar, papa dan papa Juan akan menunggu di ruang keluarga." seru Yoan dan ia melangkah pergi.


"Ada apa ya?" bingung Lucy.


"Sebaiknya kita cepat selesaikan, ah! Anna, kamu itu sedang hamil, jangan terlalu kelelahan." seru Stephannie mengambil lap di tangan Anna.


"Tapi ..."-Anna.


"Lebih baik kamu pergi ke ruang keluarga lebih dulu, pergilah." seru Lucy.


Anna mengangguk dan melangkah pergi.


'Ada apa ini? Kak Anna saja tahu lebih dulu, kenapa Yoan tak memberitahuku lebih awal? Yang ada menyuruhku menunggu.' batin Haara.


●•●•●•●•●


Haara tersenyum saat melihat kedekatan mama nya dan mama mertuanya yang berjalan di depannya, sungguh menyenangkan hatinya sekali.


Tatapannya teralih melihat Ammar, Anna serta suami nya di luar sedang berbincang serius sekali.


Deg!


Haara mengalihkan pandangannya cepat saat tatapan nya dengan Yoan bertemu.


"AtHaara." panggil Yoan dengan senyuman terlukis di wajahnya menghampiri Haara di susul dengan Ammar dan Anna.


Haara menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Di ... luar dingin, kalian bertiga ngapain di luar?" tanya Haara.


"Kami sedang berbincang." sahut Ammar.


"Berbincang?"


"Haara, lebih baik kita ke ruang keluarga sekarang, ada hal penting yang akan Yoan dan Ammar sampaikan." seru Anna mendorong kedua bahu Haara untuk mrlangkah keruang keluarga.


• • •


Disinilah mereka sekarang, semua memerhatikan Ammar, Yoan dan Anna di satu sofa yang sama, itu membuat keempat orang tua itu dan Haara pun penasaran.


"Apa yang jngin kalian sampaikan?" tanya Tao Ming.


"Anna juga? Ada apa?" bingung Juan.


"Aku sudah tahu mengenai maksud Ammar dan Yoan mengapa mengajak berbincang papa, yang akan bicara itu hanya Yoan dan Ammar." jelas Anna.


"Baiklah, kalian berdua bicaralah." seru Lucy.


Yoan menarik nafasnya dan menghembuskannya.


"Mama Lucy dan papa Juan, aku dan Ammar kami sebagai menantu papa dan mama ingin mengatakan hal penting ini." seru Yoan serius.


"Begitu juga dengan mu AtHaara." tambah Yoan menatap Haara.


"Baiklah, apa itu?" tanya Juan.


Yoan memejamkan matanya sebelum bicara.


"Aku dan Ammar akan terbang ke Korea selama beberapa bulan." seru Yoan berat.


Sontak semua terkejut mendengarnya.


"Beberapa bulan? apa untuk mengurus cabang baru di korea mengenai perusahaanmu itu, Yoan?" tanya Lucy.

__ADS_1


"Iya ma." sahut Yoan.


"Tapi ... Ammar! bahkan Anna sedang hamil, kau ingin meninggalkannya bekerja di Korea selama beberapa bulan??" tanya Juan tak habis fikir.


"Melihat keadaan dimana Anna sedang hamil, aku tahu itu papa, tapi aku ..." gantung Ammar.


"Papa tahu posisi mu, kau adalah seketaris pribadi Yoan, tapi apa akan selama itu? Beberapa bulan?? Bahkan itu tak menjanjikan akan hanya satu sampai dua bulan saja." seru Juan.


"Aku tahu papa." tunduk Ammar.


"Papa tak akan izinkan kamu terbang ke Korea mengurus cabang perusahaan baru disana." seru Juan tegas.


"Papa." panggil Anna.


"Aku sudah mengetahui ini semua papa, tapi aku mohon izinkan Ammar ikut dengan Yoan ke Korea untuk mengurus pembukaan cabang perusahaan baru Yoan disana, ku mohon." seru Anna memelas.


"Anna? Jadi maksudmu kau mengizinkan Ammar ikut dengan Yoan dan meninggalkan mu hingga beberapa bulan?" tanya Lucy tak percaya.


" ... Iya ma, aku putuskan ini tanpa paksaan sama sekali, aku berfikir jika Yoan butuh Ammar untuk membantunya disana." sahut Anna.


Juan menghela nafasnya kasar dan larut dalam fikirannya.


"Pa, coba fikirkan, jika Ammar tak ikut, Yoan akan kesulitan disana, dan urusannya disana akan lama selesai, itu akan membuat Haara akan menunggu kepulangan Yoan ke Indonesia memakan waktu berbulan-bulan." jelas Anna.


"Lalu membiarkan mu tinggal di rumah sendirian?? Mama dan papa Ammar kini sedang berada di China, kau tahu itu." kesal Juan.


"Aku tak akan biarkan itu papa." seru Ammar.


"Lalu?" tanya Juan.


"Aku ingin Anna untuk beberapa bulan tinggal di rumah papa dan mama, karena di rumah mama dan papa lah yang sangat aman." seru Ammar.


Juan terdiam, Juan memejamkan matanya rapat-rapat.


"Aku dan Ammar berjanji akan mengurus urusan di sana dengan cepat, beri kami waktu satu setengah bulan papa." seru Yoan serius.


"Lalu, papa ingin tanya padamu Yoan, setelah urusan mu selesai setelahnya apa yang kau lakukan dengan urusan mu di Korea? membawa Haara tinggal disana?" tanya Juan.


Yoan terdiam sejenak, ia menatap Haara yang hanya diam dengan wajah menunduk, gadis itu tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Dan kau pun Ammar, kau pun akan ikut juga dengan Yoan ke Korea dan membawa Anna juga ke Korea?" tanya Juan.


"Aku akan diskusikan itu dengan papanya Yifan, dan juga dengan Zhao Cheng Yuu." seru Yoan pelan.


"Jadi ... bagaimana papa? Papa dan mama mengizinkan kami?" tanya Ammar ragu.


"Yoan bilang satu setengah bulan, itu hal yang mustahil, papa beri kalian waktu dua bulan, jika lebih papa akan beri pelajaran yang tak pernah terlupakan untuk kalian berdua, paham?!" seru Juan tajam.


"Paham papa, terima kasih papa." seru Ammar tersenyum senang.


"Terima kasih pa .."-Yoan.


"Kau tak bertanya padaku selaku istrimu?" tanya Haara buka bicara menunjukkan wajah datar.


"Tentu aku bertanya padamu, bagaimana ke ..."


"Aku tak izinkan kamu terbang ke Korea." sela Haara.


Yoan yang mendengarnya terkejut.


"Tapi, AtHaara ..."


"Sudah ku bilang! Aku tak mengizinkanmu meninggalkan ku untuk terbang ke Korea selama itu!!" seru Haara teriak.


Hal itu membuat semua menatap Haara.


"Terus saja! Terus tinggalkan aku keluar kota hingga luar negeri! Aku sabar dengan itu!" kesal Haara.


"Lembur pulang malam aku masih maklumi, ditinggal keluar kota aku sabar, dan keluar negeri aku menahan diriku agar tak egois, namun sekarang apa?! Meninggalkan mu ke luar negeri hingga beberapa bulan! Apa aku sedang menguji kesabaran ku Yoan!?" sulut emosi Haara menangis.


Yoan hanya diam tak berkutik, ia terkejut melihat kemarahan Haara dan curahan hati istri kecilnya itu.


"Di luar kota saja hanya mengabari lewat video call dengan waktu singkat saat waktu luang mu saja, di luar negeri pun kadang mengabari dua sampai tiga kali saja, itu pun lewat pesan atau lewat telefon pun hanha sekali, bagaimana sampai hitungan bulan Yoan?? Apa kau ingin menyikasaku??!!" histsris Haara.


Yoan melangkah mendekati Haara, saat akan menggenggam tangan gadis itu, tangannya di hempaskan dengan kasar oleh gadis itu, sungguh sangat menyakitkan sekali hatinya.


"AtHaara, tolong pahami aku~" mohon Yoan dengan suara memelas.


"Ya! Aku pahami kamu, tuan CEO internasional yang memiliki banyak cabang perusahaan di setiap negara dan kini sedang membuka cabang baru di Korea, aku tau itu! aku tahu kau adalah CEO yang profesional, aku tahu itu YOAN!" sulut emosi Haara memberi jarak pada Yoan.


Ammar yang melihat itu hanya bisa diam tak bisa ikut campur, ia tak berani buka suara karena mengetahui keempat orang tua di ruang keluarga hanya diam.

__ADS_1


Haara mengusap air matanya kasar.


"Terserah! Terserah kamu mau tetap terbang ke Korea tak masalah! Aku sudah lelah! Aku tak akan melarangmu lagi!" seru Haara mengambil tas nya dan melangkah pergi.


"Hey AtHaara, kamu mau kemana hey??!" panggil Yoan mengejar.


• • •


Haara melangkah gontai, ia terus menghempaskan kasar tangan Yoan yang berusaha menahannya.


Ia menghentikan taksi dan berniat naik ke dalam taksi.


"AtHaara, mau kemana kamu, hey?? Jangan seperti ini, ku mohon!" mohon Yoan kualahan.


"kamu yang buat aku seperti ini!" sahut Haara menghempaskan tangan Yoan kasar.


"AtHaara, kita bicarakan baik-baik ya? jangan seperti ini." lemah Yoan.


"jangan halangi aku, aku mau pulang." seru Haara pelan.


"Pulang?? Pulang kemana, rumahmu itu aku, AtHaara." panik Yoan mendengar ucapan Haara, ia menggenggam tangan Haara erat.


"Lalu dimana lagi rumahku selain kedua orang tuaku? aku mau pulang ke penthouse duluan, aku tak mau pulang satu mobil denganmu, biarkan aku menenangkan diriku." seru Haara mencoba melepaskan genggaman Yoan.


Genggaman Yoan melemah, ia membiarkan Haara naik ke dalam taksi itu.


Tok tok!


Yoan mengetuk jendela mobil supir itu, supir taksi itu pun membuka jendela taksinya.


"Tolong antar dia ke apartemen X, tolong antar di kesana jangan ke tempat lain, saya mohon." seru Yoan serius.


"baik tuan."


Yoan menatap taksi yang di tumpangi Haara menjauh dari pandangannya.


Ia sedikit merasa lega saat gadis itu berfikir tak akan kabur, gadis itu bilang akan pulang lebih dulu ke penthouse, ia dapat bernafas sedikit lega.


"Siaal!! Apa yang harus aku lakukan sekarang?? AtHaara marah besar denganku!" seru Yoan mengacak-acak rambutnya kesal.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."bagaimana dengan part kali ini? masalah mereka tak akan seberat yang lalu-lalu kok, tulis di komentar bagaimana pendapatnya ya😇...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2