
Haara mengekori Yoan yang jalan didepannya, ia sangat gugup sekali saat ini, fikirannya sangat over thinking sekali saat ini.
Saat ia telah masuk di dalam rumah Yifan, terdengar suara tawa dan sebuah kalimat yang tidak ia pahami sama sekali,
Langkah Yoan terhenti saat lengan kemejanya di tarik gadis yang tengah bersembunyi dibelakangnya,
"Kenapa?" tanya Yoan yang bingung melihat gadis dihadapannya saat ini menunjukkan raut gelisah,
"Biasanya jika bertemu itu harus memberi salam, a aku tidak bisa berbahasa mandarin, aku hanya mengetahui beberapa kata, bukan kalimat , ap apa yang harus aku lakukan nanti?" panik Haara gelisah,
"Cukup tersenyum kepada mereka, mengenai kekhawatiranmu, biar aku yang lakukan" seru Yoan,
Yoan merasa jika gadis itu meremas kemeja nya kuat,
"Mereka saudaramu juga sekarang, jangan berfikiran yang membuatmu takut, mereka akan menyukaimu" seru Yoan lembut,
Haara menatap Yoan yang sedang menyemangati nya, ia pun mengangguk menanggapi ucapan pria itu,
Yoan pun membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk, Haara pun jalan beriringan dengan Yoan, ia masih senantiasa memegang lengan baju kemeja pria itu.
Tawa dan percakapan mereka terhenti saat mengetahui jika Yoan dan Haara telah ikut bergabung dengan mereka,
"Yoan, nǐ hǎo ma? Hǎojiǔ bùjiànle wǒ de xiōngdì!"
"(Yoan, apa kabar? Lama tidak bertemu saudaraku!)" seru pria berumur 35 tahunan memeluk Yoan sebentar,
"Wǒ hěn hǎo,Shūshu?"
"(aku baik, paman sendiri?)" tanya Yoan tersenyum,
"Wǒ hěn hǎo"
"(aku baik)"
"Tā shì nǐ de qīzi ma?"
"(apakah dia istrimu?)" tanya wanita berumuran 30 tahunan,
"Shì de, tā shì wǒ de qīzi"
"(ya, dia adalah istriku)" sahut Yoan melirik ke arah Haara sekilas,
Haara terheran heran dan tak begitu paham, semua orang disana menatapnya,
Dalam benaknya ia ingin sekali memperkenalkan diri,
"Dàjiā hǎo, jièshào wǒ de míngzì AtHaara Martin"
"(hallo semuanya, perkenalkan namaku AtHaara Martin)" seru Haara gugup memperkenalkan diri, ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Yoan menatap Haara takjub saat mengetahui gadis itu bisa memperkenalkan dirinya menggunakkan bahasa mandarin,
Haara menatap Yoan dan berbicara berbisik pada pria itu,
"Apa .. Ucapanku benar?" tanya Haara ragu,
"Wa! tā huì shuō zhōngwén!"
"(wow! dia bisa berbahasa mandarin)" seru pria yang terlihat seumuran dengan Yoan,
Haara menggaruk rambutnya yang tak gatal,
"Nǐ hǎo, Wǒ shì nǐ zhàngfū de táng xiōng, Zhao Cheng Yuu"
"(halo, perkenalkan aku Zhao Cheng Yuu, aku sepupu suamimu)"
__ADS_1
Haara mengerutkan keningnya mencoba melafalkan nama pria itu,
"Zhè shì wǒ māmā, Zhao Miya. Zhè shì wǒ de bàba, Zhao Liu Zheng"
"(ini ibuku, Zhao Miya. Ini ayahku, Zhao Liu Zheng)" jelas Cheng Yuu
Haara mengerjapkan matanya polos, ia menatap Yoan perlahan,
"Dia sepupuku Zhao Cheng Yuu, Panggil dia Yuu. Dan ini kedua orang tuanya, dia bibi Zhao Miya, panggil Mǐ yà yímā. dan ini paman Zhao Liu Zheng, panggil saja Liú shūshu" jelas Yoan tenang,
"Yuu, Mǐ yà yímā, Liú shūshu?" tanya Haara memastikan, mereka bertiga pun mengangguk, menatap Haara gemas.
"Mm, bisakah kamu wakilkan aku mengatakan aku senang bertemu kalian?" pinta Haara berbisik,
"Tā hěn gāoxìng rènshí nǐ sān gè"
"(Dia senang bertemu dengan kalian bertiga)" seru Yoan mewakilkan Haara,
"Wǒmen yě hěn gāoxìng rènshí nín AtHaara"
"(kami juga senang bertemu denganmu AtHaara)" sahut Liu tersenyum hangat,
"Mereka juga senang bertemu denganmu" seru Yoan mengartikan
Haara yang mendengarnya pun tersenyum riang, hal itu membuat mereka bertiga terkekeh melihat ekspresi Haara
"Nǎinai zài nǎ?"
"(nenek mana?)" tanya Yoan,
"Kalian berdua tunggu ruang keluarga saja, aku akan panggil nenek yang berada ditaman belakang dengan papaku" seru Yifan yang baru hadir,
Yoan mengangguk, Yoan pun izin kepada saudaranya dan melangkah pergi, Haara membungkukkan tubuhnya pamit dan mengejar Yoan,
"Nàgè nǚhái duōme kě'ài"
• • •
Yoan tiba tiba menghentikan langkah nya, Haara yang bingung pun menatap Yoan.
Yoan menatap tangan Haara yang masih memegang lengan bajunya, Haara pun mengikuti arah pandang pria itu, dengan cepat ia melepaskannya.
"Eh, maaf! Aku lupa"
Yoan melanjutkan langkahnya dan Haara pun menyusul pria itu, mengiringi langkahnya dengan pria itu.
"Darimana kau belajar memperkenalkan diri menggunakan bahasa mandarin?" tanya Yoan
"Kak Ammar mengajariku" sahut Haara terkekeh.
Haara berniat akan menduduki dirinya di sofa namun melihat Yoan duduk lebih dulu ditempat yang ingin ia duduki,
Yoan mendongakkan kepalanya menatap Haara,
"Duduk" seru Yoan,
"Baru saja aku akan duduk, namun dengan cepat kau duduk ditempat yang akan ku duduki!" kesal Haara,
Yoan tak menyahut, ia masih setia menatap gadis itu yang tengah kesal,
Haara mendengus kesal,
"Aku duduk di sana saja!" seru Haara merajuk,
Tak!
__ADS_1
Haara menghentikan langkahnya dan menatap tangannya yang dipegang Yoan, perlahan tatapannya terpancar pada pria yang tengah menahan tangannya,
Yoan menggeserkan dirinya dan memberi isyarat kepada gadis itu untuk duduk disebelahnya,
Haara menatap kearah pintu seperti mengintimidasi,
"Tidak, aku duduk di bagian pojok sofa saja" tolak Haara,
"Terlalu jauh" sahut Yoan datar,
"Memang maunya aku seperti itu lebih baik" seru Haara menatap pintu lagi mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Yoan,
Haara mengalihkan pandangannya kepada Yoan yang tak bergeming,
"Bisakah kau lepaskan genggamanmu?" pinta Haara,
"Apa kau tidak suka duduk bersebalahan denganku?" tanya Yoan datar,
"Bu bukan seperti itu, jika ada yang lihat bagaimana?" panik Haara,
Yoan mengerutkan keningnya bingung,
"Yoan~, bisa lepaskan genggamanmu? Nanti jika ada yang lihat bagaimana?" panik gadis itu,
"Duduk . Disini" seru Yoan menekankan ucapannya,
"Tapi .."
"Apa ada yang salah dengan dirimu? Kenapa kau merasa takut jika ada yang melihat aku menggenggam tanganmu dan juga kenapa harus menjaga jarak denganku?" tanya Yoan tak habis fikir
Haara menatap Yoan terdiam, ia tak lagi memberontak,
"Kau ini istriku, aku minta kau duduk disebelahku, turuti keinginan suamimu, AtHaara" seru Yoan tajam,
Haara tertunduk dan mengangguk perlahan, ia pun menduduki dirinya disebelah Yoan, jarak mereka sangatlah dekat.
"Nenek datang dari Jepang ke Indonesia untuk melihat mu"
Haara menatap Yoan terkejut,
"Apa kau ingin melihat nenek menatapmu aneh karena menjaga jarak denganku?" tanya Yoan melirik Haara,
Haara tertunduk dan menggelengkan kepalanya,
"Maafkan aku" seru Haara merasa bersalah.
●•●•●•●•●
Ammar tersenyum bahagia, ia merasa senang saat mendengar berita jika neneknya Yoan datang ke Indonesia,
Ia pun memberitahu kepada Anna, sontak Anna pun yang mendengarnya antusias senang,
Ammar dan Anna telah menganggap neneknya Yoan itu sebagai nenek mereka sendiri, mengingat saat kecil neneknya Yoan yang selalu memasakkan makanan sepulang sekolah, dan juga neneknya Yoan sangat baik hati dan juga sangat perduli dengan Ammar dan Anna meski mereka bukan cucu dari neneknya Yoan.
"Ammar~ ayo kita kesana~ aku sangat merindukannya~" mohon Anna,
"Ah baiklah kita kesana, akupun merindukkannya" sahut Ammar terkekeh,
Anna dan Ammar pun naik kedalam mobil dan menancap gas dan pergi.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
__ADS_1
...•...
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏