
Yifan menghela nafasnya kasar.
"Kak Yoan? Sampai kapan kau akan menatap kenop pintunya?"
Yoan menarik nafasnya dan menghembuskannya.
"Zhao Yi Fan ... Jadi AtHaara ..." tak menyangka Yoan.
Yifan tersenyum tipis.
"Masuklah, dia selalu menunggumu. saat kau kritis, ia tak henti-hentinya menangisimu yang tak kunjung siuman, dia pasti sangat senang melihatmu yang sudah siuman." seru Yifan lembut.
Tubuh Yoan gemetar seketika, jantungnya berdegup kencang mendengar keyakinan hatinya ini nyata, dengan tangan gemetar Yoan perlahan membuka pintu itu.
Ceklek!
Ruangan yang terang dan putih seketika memenuhi indra pengheliatannya.
Yoan menatap Yifan, sepupunya itu terkekeh melihat ekspresi kakak sepupunya itu yang terlihat sangat polos.
Dengan langkah gontai dan seloyongan Yoan masuk ke dalam ruangan itu dengan secepat kilat.
"Ho-hoi kak Yoan!" terkejut Yifan dengan pergerakan Yoan yang tiba-tiba.
Semua orang yang di dalam ruangan VVIP itu terkejut saat melihat kehadiran Yoan.
"Ya ampun! Yoan!?" terkejut Anna.
Semua orang di dalam sana yang tengah duduk santai pun tiba-tiba langsung bangkit berdiri saat melihat Yoan yang sudah siuman dan kini berada disini.
Mata Yoan menelusur ke setiap sudut, sampai tatapan Yoan terfokus pada satu objek di depannya.
Matanya perlahan terasa perih, air mata nya terasa ingin memberontak keluar saat itu juga.
"AtHaara~" isak Yoan.
Ya, objek itu adalah AtHaara.
gadis itu ada! Gadis itu masih hidup!
Ini sungguh nyata, bukanlah sebuah mimpi.
"Yo-Yoan~" histeris Haara menutup mulutnya tak menyangka.
Haara yang menangis sesenggukan pun dengan langkah cepat menghampiri Yoan.
"Akh!" ringis Yoan memegangi kepalanya, tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
Puk!
"Ya ampun Yoan?? Ka-kamu baik-baik saja??" panik Haara menahan Yoan agar tak jatuh.
'Suara ini~ harum ini ... Dia sungguh AtHaara, wanitaku!' batin Yoan merasa matanya semakin perih.
"Ini nyata! Ini kau! ini kau AtHaara~ syukurlah kau masih hidup~" isak Yoan.
Haara yang mendengarnya tersenyum sendu.
"Iya Yoan, ini nyata, aku masih hidup~" sahut Haara lembut.
"Jangan lagi~ jangan lagi kau mencoba meninggalkanku! aku pasti akan gila jika kau sungguh meninggalkanku! aku tak tahu bagaimana jadinya kedepannya hidupku tanpa sosok dirimu! ku yakin aku tak akan kuat AtHaara~" seru Yoan yang sangat rapuh.
"Hiks~ ak-aku tak akan biarkan itu terjadi Yoan, tak akan pernah terjadi!" sahut Haara dengan suara serak.
"Untuk hari-hari selanjutnya kau tak boleh meninggalkanku, aku tegaskan kejadian lalu menjadi yang pertama dan terakhir! aku tak akan izinkan kamu pergi! aku tak akan izinkan itu!!" seru Yoan memeluk haara semakin erat.
Haara tersenyum sendu.
"Meninggalkanmu? Mana mungkin aku memiliki fikiran untuk meninggalkanmu Yoan~" sahut Haara lembut, membelai rambut Yoan sayang.
"Tapi waktu itu kau ..."
"Hey~ tapi aku telah kembali, kembali untukmu, aku tak memiliki pemikiran sedikit pun untuk meninggalkanmu dan aku yakin jika kau juga tak akan biarkan itu terjadi Yoan~" jelas Haara melepaskan pelukannya dengan Yoan, Haara menatap wajah tampan pria yang ia cintai dengan tatapan sendu.
" kau ... kau benar, kau tak mungkin meninggalkanku! itu tak akan mungkin! Aku tak akan biarkan itu terjadi dan aku yakin kau tak sejahat dan sekejam itu padaku!" seru Yoan dengan suara serak menatap Haara penuh kepercayaan.
"ya, kau harus percaya Yoan, maafkan aku ya? Maaf karena telah membuatmu takut, aku tak akan meninggalkanmu, aku janji padamu!" sahut Haara meyakinkan Yoan.
Yoan mengangguk, pria itu kembali memeluk Haara, pria itu kembali menangis di pelukan Haara.
Hati Haara terasa sakit saat Yoan menangis sejadi-jadinya di pelukkannya, ia merasa pundaknya sudah basah dengan air mata pria itu, namun ia tak mempermasalahkan itu.
"Apa kau tahu? betapa frustasinya aku saat dirimu dinyatakan ... dirimu dinyatakan ..." isak Yoan menyembunyikan wajahnya di leher Haara.
"Stt~ tak perlu di katakan, yang terpenting aku kembali untukmu Yoan, jangan di bahas lagi ya?" seru Haara menenangkan Yoan.
Haara terkejut saat tiba-tiba tubuh Yoan merosot, pria itu memeluk kaki Haara erat.
"Tolong maafkan aku AtHaara! jika saja aku tak menyuruhmu pergi lebih dulu ke rumah sakit, mungkin hal itu tak akan terjadi! Kau akan baik-baik saja! tolong maafkan aku, aku sangat bodoh AtHaara!!" mohon Yoan memeluk kaki Haara erat.
"Yo-Yoan, hey! hentikan! Ap-apa yang kau lakukan??! Berdiri Yoan!" terkejut Haara mencoba menarik tubuh Yoan agar kembali berdiri.
Namun pria itu tak menggubris sedikit pun ucapan Haara.
"Yoan! Berdiri! Jika kau tak mendengar ucapanku, aku akan marah padamu!" ancam Haara.
Genggaman Yoan pada kakinya seketika melemah, Haara menarik Yoan agar berdiri.
"Apa yang kau katakan?! Aku tak suka kau seperti tadi! Lihatlah~ aku sudah baik-baik saja, hanya saja ada beberapa luka, tapi seiring berjalannya waktu, lukaku akan sembuh~" ucap Haara meyakinkan Yoan.
Haara merasakan jika kedua tangan Yoan mengelus lembut pipinya lembut.
__ADS_1
Cup!
Yoan mencium pucuk kepala Haara agak lama.
Haara menatap Yoan sedih, ia mengusap air mata pria itu yang menatapnya lemah.
Yoan memejamkan matanya saat Haara mengusap air matannya lembut.
"Hey, sudah jangan nangis lagi, malu dilihatin mama papa dan yang lainnya lho." kekeh Haara.
Yoan yang terisak pun ikut terkekeh, pria itu telah melupakan mereka jika dirinya kini sedang di pertontonkan.
Yoan membuang wajahnya malu.
"Ehem ehem, kayaknya dia lupa kalau ada kita disini nih." seru Stephannie menggoda Yoan.
Hal itu membuat semuanya menertawai tingkah Yoan.
Haara menahan tawanya saat melihat telinga pria itu memerah, pria itu sungguh sedang menahan rasa malu sekali saat ini.
"Hiks~ ahh, AtHaara, aku lupa ada mama dan yang lainnya di sini." seru Yoan pelan dengan suara serak.
"Sini peluk, sembunyi di pelukanku." goda Haara.
Yoan yang melirik Haara di sebelahnya salah tingkah saat Haara mengatakan itu.
"AtHaara~" rengek Yoan.
Haara tertawa saat mendengar Yoan merengek saat memanggil namanya.
"Ahahahaha!! kemarilah." seru Haara menarik Yoan kepelukkannya
Yoan pun langsung menyembunyikan wajahnya di leher Haara.
"Aku sungguh lupa ada mereka disini, agh! Malunya aku~" seru Yoan dengan suara pelan.
"Uuu~ gemasnya~ padahal sudah jadi papa, gak mau kalah manja dan menggemaskan sama baby twins ya~" gemas Haara.
"Baby ..." gantung Yoan.
"Oeeekk~ Oeeeek~"
Seketika dengan perlahan Yoan melepaskan pelukan Haara, tatapannya terfokus pada dua kamar bayi di dekat kamar rawat Haara.
"Kebangun lagi mereka, sepertinya mereka rindu dengan papanya, mau minta gendong sama papanya nih sepertinya mereka." seru Haara tersenyum menatap kamar si baby twins.
"Kenapa ... Kamu tak bilang mereka disini??" tanya Yoan.
"Kemarilah." seru Haara lembut menarik tangan Yoan.
Tatapan Yoan kini terfokus pada Haara yang menggendong salah satu anak mereka.
"Stt sayang~ lihat! Siapa yang datang, ada papa! Papa datang sayang, kamu pasti sudah tak sabar mau di gendong papa ya~" seru Haara sambil menimang.
"AtHaara, boleh aku gendong?"
"pertanyaan macam apa itu? tentu saja boleh Yoan." sahut Haara cepat, dengan perlahan Haara memindahkan bayi mungil mereka ke tangan Yoan.
Haara kini menggendong bayi mereka yang satunya.
Yoan melangkah mendekati Haara, ia tersenyum cerah saat melihat kedua anaknya kini tertidur dengan wajah yang sungguh sangat menggemaskan.
"Lihatlah! Bahkan ia berhenti menangis saat di gendong kamu!" takjub Haara.
"Kau benar." senyum Yoan.
"Halo anak-anak papa, maaf papa baru bisa menemui kalian ya?" seru Yoan menatap baby twins bergantian.
Haara tersenyum saat mendengar ucapan Yoan.
"Papa ucapkan terima kasih kepada kalian karena telah hadir di dunia ini, mama dan papa senang sekali." senyum Yoan menatap dalam kedua anaknya.
"Dan juga AtHaara, terima kasih telah melahirkan mereka dan membuat impian ku terwujud, maaf aku tak bisa menemanimu saat kau akan berjuang melahirkan anak kita ya?" seru Yoan merasa bersalah.
Haara mengelus pipi Yoan sekilas.
"Impianmu adalah impianku juga, dan tentu saja aku berusaha untuk mewujudkannya disaat kau sedang berjuang melewati masa kritismu Yoan." senyum manis Haara.
"Cantiknya." seru Yoan terpana dengan senyuman Haara.
Haara yang di puji Yoan pun terkekeh.
"Wajah anak kita ini kenapa wajahnya mirip seperti dirimu saat masih bayi ya?" seru Yoan menatap anaknya yang ia gendong sambil terkekeh.
"Kalau anak kita yang ini mirip siapa coba tebak." kekeh Haara.
Yoan menerutkan keningnya sejenak.
"Kenapa ia mirip denganku sewaktu bayi?? Aku seperti melihat diriku sendiri." kekeh Yoan terheran-heran.
"Mama juga mengira nya seperti itu lho, mereka mirip sekali kalian sewaktu kecil." seru Stephannie.
"Jadi seperti lihat Haara dan Yoan waktu bayi ya Stephannie, ahahaha, mirip sekali." kekeh Lucy.
Yoan tertawa kecil.
Yoan melirik Hanabi yang berdiri di sebelahnya, mata Hanabi kini berbinar menatap anak nya di gendongannya.
"Mau gendong?" tanya Yoan.
"Boleh kak??" berbinar Hanabi.
__ADS_1
Yoan mengangguk.
Hanabi yang antusias pun menggendongnya dengan hati-hati.
"Kawaii~ Yuu, lihatlah! lucu sekali~" seru Hanabi menatap Yuu di sebelahnya.
"Kau benar, apa wajah Haara saat masih bayi seperti ini ya?" tanya Yuu heran.
"Kenapa? Tak terima??" tanya Haara ketus.
"Ya, dia ini sangat lucu sekali, masa iya dia mirip sama kamu waktu bayi, kalau anakmu yang kau gendong itu, wajahnya memang mirip dengan kak Yoan waktu bayi." sahut Yuu santai.
"Kenapa kau tak terima jika anakku mirip denganku?? Dia itu anakku! Jelas jika anakku itu mirip denganku! Yuu bodoh!" kesal Haara.
"Hahh mulai deh mereka." hela nafas Anna.
"Kak Yuu, jangan mulai." seru Yifan.
"Stt! Hey Haara, Coba buktikan, tunjukkan fotomu waktu bayi coba." tantang Yuu.
"Baik! Yoan, tolong gendong, akan ku beri pelajaran dia!" kesal Haara perlahan memindahkan kembaran kecil Yoan pada Yoan.
Yoan menghela nafasnya sabar.
"Ha! Ini lihat, mirip iyakan?!" seru Haara menyodorkan foto di ponselnya.
"Mirip lho, ayo mau bilang apa kau kak Yuu." seru Yifan ikut melihat foto Haara waktu bayi.
Seakan tak mau kalah, Yuu terus mengajak Haara debat, hal itu membuat kesabaran Yoan habis.
"Zhao Cheng Yuu!" seru Yoan menatap Yuu dengan tatapan kilat.
" ... Baik, tak akan ku lanjut." menciut Yuu.
"Whahaha! Wleee~" ledek Haara.
"Ahh~ kak Yoan, kau sungguh tak asyik, padahal aku sudah lama tak bisa menjahili Haara lho." merajuk Yuu.
"Hanabi, kalian itu sudah menikah 2 bulan lalu, bisakah kau segera hamil agar anak ini bisa sadar dengan umurnya?" seru Yoan menatap Yuu.
Menikah? Ya.
Yuu dan Hanabi telah menikah 2 bulan lalu.
"Aku ragu kak Yoan, kelakuannya masih seperti anak-anak dia itu." sahut Hanabi cuek.
Yuu mengerjapkan matanya tak menyangka.
"Apa?? Tak terima??" tanya Hanabi menata Yuu tajam.
Haara yang melihat itu, tertawa penuh kemenangan.
"Jadi AtHaara, Yoan, apa kalian sudah kefikiran siapa nama anak kalian berdua?" tanya Lucy.
Haara pun langsung menatap Yoan.
"Nama ya~" seru Yoan larut dalam fikirannya.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author:...
..."hayo~ ngiranya di bawa kemana tuh Yoan sama Yifan😆...
...dibawa ke ruang VVIP ternyata😁 suprise!!🎉 Haara kembali~ masa iya sih author tega buat Yoan sama Haara dan baby twins berpisah, itu ga akan ada dalam kamus author lho😁"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐