
Haara menutup pintu kamarnya dengan tatapan fokus pada sepucuk surat ditangannya yang ia dapat dari Ray entah dari siapa.
Ia menduduki dirinya di kursi meja belajarnya, dan membuka kertas itu.
"Sudah kuduga, ini dari Zen." seru Haara datar.
Haara merasa malas untuk membacanya, namun ia mendapati kata permohonan maaf membuatnya tertarik untuk membacanya.
Haara menghela nafasnya dan mulai membacanya.
__________________________________________
Untuk AtHaara,
Aku merasa sedikit tak percaya diri mengenai surat ini akan di baca denganmu atau tidak, tapi aku berharap besar kau membacanya:)
AtHaara, mantan yang aku cinta dan ku sayang, aku minta maaf padamu atas perlakuanku yang terlalu egois dan terkesan memaksa dirimu.
Bisakah kau memaafkanku??
Aku tersadar akan satu hal yang bodoh yang telah aku lakukan dan membuatmu jengkel dengan sikapku, namun aku sungguh tak berfikir ingin berbuat buruk padamu saat itu, maafkan aku.
Bisakah kau tak membenciku? Aku ingin kita berteman? Apa bisa?
Permintaanku sepertinya terlalu berlebihan dan tak akan mungkin terjadi.
Oh iya, lusa aku akan kembali ke Jepang, aku akan kembali dan memperbaiki rumah tanggaku, terima kasih telah menyadarkanku:)
Jika kau berkenan, aku ingin mengajakmu bertemu, ada satu hadiah kenangan yang ingin ku berikan padamu.
Aku berharap sekali kamu datang, dengan kepastian yang tidak pasti aku akan menunggumu di jalan X di lestoran Jepang satu-satunya di sana, jalanan itu sangat ramai bukan? Tolong pertimbangkan ya~ aku akan menunggumu jam 7 malam disana sampai kau datang.
Mari kita berteman, setelah menjadi mantan tak mungkin harus bermusuhan bukan?
Aku berjanji jika nanti malam kau datang, aku tak akan datang menemuimu lagi.
Zen Nakayama.
__________________________________________
Haara memijat pelipis nya pening.
Isi surat ini, membuatnya sedikit bimbang harus bagaimana.
"Bagaimana aku mengabari Yoan?? Bahkan dia bilang ponselnya tak akan aktif sampai lusa." hela nafas Haara.
"Sepertinya aku akan minta Yuu atau Yifan untuk menemaniku saja, itu lebih aman." seru Haara.
Haara larut dalam fikirannya,
"Apa aku sungguh akan pergi menemuinya?" lamun Haara.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Keesokan harinya.
Seperti ucapannya, saat jam istirahat Haara mengajak Yifan dan Yuu bertemu dan membicarakan hal mengenai surat dari Zen.
Kini mereka sekarang berada di lestoran di dekat sekolah, tempat dimana waktu itu ia makan siang bersama Yoan.
"Nanti malam kalian berdua sibuk?" tanya Haara.
Yifan mengerutkan keningnya berfikir.
"Aku ada urusan nanti malam." sahut Yuu mengingat-ingat.
"Aku juga, aku harus urus persiapan untuk besok, penurunan jabatan OSIS." sahut Yifan.
Haara menghela nafasnya kecewa.
"Ada apa?" tanya Yuu.
Haara menggeleng.
"Nanti malam aku ingin bertemu seseorang di jalan X di lestoran Jepang, tadinya aku ingin minta kalian temani aku." seru Haara ragu.
"Teman? Siapa?" tanya Yifan.
"Kenapa ngajak bertemunya malam?" tanya Yuu menimpali.
Haara terdiam sejenak.
"Karena lusa ia akan terbang ke Jepang." sahut Haara.
Yifan dan Yuu mengerutkan keningnya bingung.
"Dia ... Dia adalah Zen." sahut Haara takut.
Sontak Yifan dan Yuu membelalakan matanya terkejut.
"HA???!"-Yifan dan Yuu terkejut.
Brak!
Haara tergelonjak kaget, ia mengusap dadanya, jantungnya hampir loncat karena terkejut Yifan menggebrak meja.
"Hoi! AtHaara! Apa aku tak salah dengar!?" tanya Yifan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Stt! Yifan, duduk." seru Yuu malu sendiri atas tanggapan Yifan.
Yifan kembali duduk.
"AtHaara, kenapa kau ingin bertemu dengan nya lagi?? Apa kau tahu? Bahkan kau sudah terbebas darinya, kenapa kau membuka peluang lagi untuknya??" tanya Yuu.
Haara mendorong sepucuk surat di atas meja tepat di depan Yifan dan Yuu.
"Apa ini?" tanya Yifan.
"Ini surat dari Zen yang di titipkan oleh salah satu guru pembimbing kemarin untukku." seru Haara.
Yuu pun mengambil surat itu dan membacanya, Yifan pun turut ikut membaca isi tulisan dalam surat itu.
"Aku tak bisa izin ke Yoan saat ini, Yoan bilang ponselnya tak ia aktifkan hingga lusa nanti, ia mematikan ponselnya kemarin siang." seru Haara.
"Yoan bilang jika aku membutuhkan apa-apa atau pergi kemana-mana untuk jangan sungkan minta tolong pada kalian berdua." tambah Haara menjelaskan.
Yuu memberikan suratnya pada Yifan yang belum selesai membacanya.
"Jadi kau akan tetap ingin bertemu dengannya?" tanya Yuu.
Haara mengangguk,
__ADS_1
"Aku tak ingin ia kembali hadir dalam hidupku, aku ingin dia melupakanku dan kembali belajar mencintai istrinya." sahut Haara pelan.
Yifan dan Yuu saling menatap.
"Aku yakin jika dengan kalian, Yoan akan mengizinkan, meski pasti aku dan ia akan berdebat jika dia mengetahuinya." seru Haara lagi.
"Kami akan menemanimu, tapi jangan jam 7 malam." seru Yuu.
"Eh??"
"Aku akan menyelesaikan tugasku dengan cepat, tidak terlalu banyak juga, bagaimana dengan mu kak Yuu??" tanya Yifan.
"Aku juga, baiklah, jam 8 saja bagaimana?" tanya Yuu.
"Tunggu, jadi kalian berdua mau menemaniku??" tak percaya Haara.
"Iya, kak Yoan sebelumnya juga kirim pesan kepadaku kemarin siang tentang ia akan mematikan ponselnya hingga lusa karena ia harus fokus, dia menitipkan mu padakku dan Yifan." seru Yuu menjelaskan.
"Ah! Aku juga dapat pesan itu dari kak Yoan." seru Yifan.
Haara terharu mendengar nya, ia sungguh senang Yoan yang sangat menjaganya meski dari jauh dan juga ia merasa beruntung memilik dua adik ipar yang sangat baik dan sangat berguna untuk menjaganya.
"Terima kasih kak Yuu, kak Yifan!" seru Haara terkekeh.
Yuu dan Yifan yang sedang bicara sontak langsung menatap Haara tak percaya.
"Kak?? Kau memanggil kami dengan embel-embel kak??" tanya Yifan tak menyangka.
Haara mengangguk.
"Baiknya punya dua adik ipar~ senang deh!" seru Haara menatap Yuu dan Yifan dengan wajah yang terlihat menggemaskan.
Yifan dan Yuu yang melihatnya menahan tawanya.
"Pfffttt!! whahahaha!!"
Haara yang melihat respon mereka pun cemberut kesal.
"Kak Yuu, apa dia sungguh kakak ipar kita??" tanya Yifan menepuk-nepuk pundak Yuu.
"Sulit ku akui, tapi bocah di depan kita ini sungguh kakak ipar kita!" kekeh Yuu.
"Apasih?? Kenapa sih denganku?? Apa ucapanku semenggelikan itu untuk di dengar??" heran Haara.
"Ucapan mu tak aneh, tapi wajahmu yang buat kami tertawa." seru Yifan.
"Kau tahu lucu? Itulah wajah yang kau tunjukkan pada kami tadi, itu membuat kami merinding." seru Yuu mengusap-usap kedua siku tangannya.
Haara yang mendengarnya tersenyum paksa.
"Yayaya, aku tahu aku lucu dan menggemaskan, karena Yoan selalu bilang seperti itu padaku." seru Haara sombong.
tawa Yifan dan Yuu langsung terhenti.
"dasar buciiin!!" seru Yuu dan Yifan bersamaan.
●•●•●•●•●
Malam hari kemudian.
Haara kini tengah menunggu Yuu dan Yifan di minimarket yang di seberang jalan utama terdapat lestoran Jepang yang Zen katakan padanya di dalam surat.
"Hahh~ mereka lama juga." seru Haara menghela nafasnya kasar.
Haara melihat banyak orang lalu lalang, memang ia tahu tempat ini.
Haara mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria berbadan gemuk yang terlihat panik membuat orang-orang menatapnya aneh.
"Lho lho lho! Dia kan si futoi(gendut), si Mikki??" terkejut Haara berdiri tiba-tiba.
Haara tanpa fikir panjang menghampiri pria gemuk itu yang benams Mikki itu.
"Mikki-kun??" panggil Haara.
Pria itu yang ngos-ngosan pun menatap Haara.
" ... AtHaara-chan!??" terkejut Mikki.
Mikki adalah teman SMP Haara sekaligus sepupunya Zen, pria itu pindah ke Indonesia saat kelas 8.
"Wah! Beruntung kamu datang! Tolong! Tolong bujuk Zen pulang ya, ku mohon!" seru Mikki memohon pada Haara.
"Ha??"
"Dia menyangka kau tak datang, jadi dia minum alkohol bayak sekali, ia tak mau pulang sampai kau datang menjemputnya, itu katanya." jelas Mikki ngos-ngosan.
"Ta-tapi ..."
"Ah! Taksi!!" teriak Mikki memberhentikan taksi.
Haara terus melihat sekeliling berharap Yuu dan Yifan datang segera.
"Ayo, bantu aku bujuk Zen!" seru Mikki menarik tangan Haara masuk ke dalam lestoran Jepang itu.
Haara hanya pasrah tak bisa melawan.
saat di dalam ia melihat Zen yang sudah tak sadarkan diri.
"Bantu aku bujuk dia pulang ke apartemen, ku mohon~" mohon Mikki.
Haara melihat keluar lestoran, ia lagi lagi tak mendapati Yuu dan Yifan.
"AtHaara chan??"
"Ba-baiklah." pasrah Haara linglung.
Mikki tersenyum sumrigah.
Haara melangkah mendekati Zen.
"Zen." panggil Haara.
"Zen ini ... aku, AtHaara." seru Haara ragu, ia merasa di bingungkan saat ini, apa tindakannya ini benar atau salah.
Zen yang mendengarnya pun menduduki dirinya tegak, ia menatap Haara dengan mata sayu nya.
"Wah~ AtHaara datang di mimpi ku~ akhirnya kau datang~ aku senang sekali." seru Zen tertawa kecil, pria itu benar-benar mabuk berat.
"Kau mabuk, lebih baik kau menurut dan pulang ke apartemen." seru Haara datar.
Zen mengangguk cepat, pria itu bangkit berdiri dengan jalan seloyongan.
Haara yang melihat Mikki menatapnya tak percaya pun mengangkat dua jempolnya.
• • •
Mereka kini telah tiba di apartemen yang biasa saja.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa Haara menyentuh tangan pria itu untuk membantu Nikki membawa Zen.
Ceklek!
Bruk!
Nikki dan Haara bernafas lega karena telah berhasil membawa Zen pulang dan ridur di kasur.
"Tubuhnya panas, aku ke apartemenku dulu untuk ambil handuk, sebentar ya." jelas Nikki melangkah pergi terbecir-becir.
"E-eh!"
Haara memijat pelipis nya, ia sungguh tak menyangka akan seperti ini, sungguh di luar dugaan.
Haara pun berniat akan melangkah keluar dari kamar Zen, namun ...
Ceklek!
Deg!
Haara membulatkan matanya terkejut saat mendengar suara pintu terkunci.
"Lho! Mikki??"
Tak!
Gerakan Haara terhenti saat tangannya ditahan.
Sret! Bruk!!
DEG!
Haara membelalakkan matanya, jantungnya berdegup takut saat Zen menariknya hingga dirinya jatuh di atas kasur, pria itu kini sedang menatapnya dengan tatapan mesum.
"Z-Zen! jangan bilang kau ... sial*n kau menjebakku! Lepaskan aku!!" teriak Haara meronta.
"Melepaskan? Sepertinya tak akan ku lepaskan dirimu sampai aku merebut mu dari si Yoan itu." kekeh Zen.
Tubuh Haara bergetar seketika, ia sungguh ketakutan sekali saat ini, bahkan Zen kemungkinan besar akan melakukan hal kurang ajar padanya.
"MIKKI!! Buka pintunya Mikki!!!" teriak Haara.
"Dia tak akan datang, untuk apa meneriaki namanya??"
Haara yang mendengarnya terkejut.
Haara memejamkan matanya saat Zen mencopot kancing baju pria itu sendiri dan kini pria itu bertelanjang dada.
"Zen! Sadarlah Zen!! Kau sudah menikah!! Apa ucapanmu di surat semua nya bohong???" takut Haara mendorong tubuh pria itu.
"Ya, karena aku hanya mencintaimu AtHaara~"
"Tapi aku tidak mencintaimu!!!" bentak Haara.
Zen tertawa mendengarnya.
"Baiklah, seperti nya salah satu caranya adalah memiliki tubuhmu dan secara otomatis kau menjadi milikku~" seru Zen menundukkan kepalanya.
"Hentikan Zen!!! MIKKI!!! BUKA PINTUNYA MIKKI!!!" teriak Haara sekencang-kencangnya.
Grep!
Zen mengunci kedua tangan Haara ke atas.
"Tenanglah sayang, aku akan bermain lembut denganmu." seru Zen mengendus-ngendus harum di leher Haara.
"Brengs*k! Sial*n, dasar bedeb*h gila!! Lepaskan aku!! Dasar tak waras!!" teriak Haara dengan air mata yang tak bisa tertahankan lagi.
Haara kembali meronta kuat saat tangan Zen masuk ke dalam baju Haara menyentuh perut rampingnya.
"Hentikan Zen! Ku mohon hentikan!!!" teriak Haara memohon.
"Wajah yang cantik~ aku suka melihat wajah mu yang ketakutan seperti ini." kekeh Zen.
"Yuu~ Yifan~ tolong aku~" histeris Haara.
'Yoan~' batin Haara.
BRAK!!
Sret!! BUGH!!! Bruk!!!
Tangis Haara terhenti, saat melihat siapa yang menghajar Zen hingga terdorong jatuh di pojokkan kamar.
"PERSET*N!! BEDB*H SIAL*NNNN!!!"
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "Fiuh~ hampir saja, bagaimana nih komentar di part satu ini nih? tulis di komentar ya kakak-kakak🤗"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐