
Hari ini, tanggal 27 Desember tahun 2020.
Tepat 4 hari lagi adalah hari dimana tanggal terakhir di bulan Desember dan tanggal terakhir di tahun 2020.
4 hari telah berlalu pula,
Rasa syok saat itu saat mengetahui jika Jessi adalah tetangganya pun masih terasa di hatinya, benar-benat kebetulan yang buruk.
Dan selaman4 hari belakangan itu juga Haara merasa membatin dalam hatinya.
Bagaimana tidak?
Hampir setiap hari ia mendapati Yoan yang terus mendapat pengaduan dari pria itu karena Jessi ingin mengajak suaminya itu pergi keluar untuk jalan-jalan, alasan nya karena hanya Yoan saja yang ia kenal di apartemen itu.
Tak hanya itu, alasan maut dari wanita yang Haara sebut 'mbak' itu, ada saja alasan si mbak Jessi itu yang ingin mengajak Yoan pergi keluar, hal itu membuat Haara kesal sekali karena Jessi terus membuat Yoan terus mengeluh padanya.
Yoan selalu mengeluh setiap harinya pada Haara dan ia berharap sekali agar Haara memberikan peringatan pada Jessi.
Haara pun bertindak, ia tak bisa diam saja, ia pun menemui Jessi, alhasil wanita itu kini sudah tak lagi datang untuk mengajak Yoan pergi sudah 2 hari belakangan ini.
"Besok paman ingin aku cek hasil hiasan dinding di lobi dan walpapper di dinding, kamu ikut ya?" seru Yoan yang sedang duduk dilantai dengan pinggung di sandarkan di kaki sofa.
Haara yang sedang mengeringkan rambut Yoan dengan hairdryer pun tersenyum tipis.
"Baiklah, aku merasa senang kau berinisiatif mengajakku keluar, kau tahu? Aku sangat bosan sekali, apalagi saat aku mendiamimu, itu benar-benar bosaaan sekali~" sahut Haara.
"Aku terima kau mendiamiku saat itu, memang aku yang salah." seru Yoan.
Haara terdiam mendengarnya.
"Aku seperti itu karena juga tak suka." seru Yoan.
Haara tak menyahut.
"Kau tahu arti dari ucapan tak sukaku?" tanya Yoan menduduki dirinya di sebelah Haara.
"Hmm, entahlah~ aku tak pandai menjelaskan." sahut Haara ragu.
"Artinya aku cemburu." jawab Yoan.
Haara kembali terdiam.
"Entahlah aku tak paham diriku yang sekarang. sekarang aku merasa diriku ini bukanlah diriku yang dulu, aku merasa diriku sekarang sangat sering merasa takut." seru Yoan mengambil Hairdryer ditangan Haara dan mematikannya.
"Diriku sekarang benar-benar terlihat seperti seorang pecundang, namun aku tak masalah terlihat menjadi seorang pecundang."
"Aku kini sedang membela diriku yang pecundang ini dimana yang terus-terusan merasa takut kehilanganmu dengan berlaku posesif padamu."
Posesif? Haara baru bisa mengartikan perlakuan pria itu padanya, pria itu sungguh terlihat semakin posesif padanya.
"Aku akan terus berlaku posesif padamu sampai rasa takutku padamu itu menghilang." senyum tipis Yoan melamun.
"Lakukan sesukamu, aku tak akan melarangnya." seru Haara.
Yoan memutar tubuhnya dan mendongakkan kepalanya menatap Haara yang fokus menatap keluar jendela.
"Namun aku berharap sikap posesifmu itu tak menjadi musuhmu nanti, dalam artian sikap posesif mu yang membuatku malah merasa risih padamu." seru Haara menatap Yoan serius.
Yoan terkejut mendengar ucapan Haara.
Dengan perlahan Yoan mengangguk paham.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Keesokan harinya.
Haara menghela nafasnya kasar, ia memijat pelipisnya pening, rasanya ia ingin pulang ke Indonesia.
Ia merasa tak kuat untuk beberapa hari ke depan terus bertemu Jessi setiap harinya dan mengajak Yoan bicara terus-menerus sampai membuat Haara kesal.
Matanya menelusuri setiap sudut di parkiran apartemen.
Ya, kini dirinya berada di parkiran apartemen.
'Fikiranku kembali lagi pada si mbak Jessi! Menyebalkan!' batin Haara.
la sunggu masih tak percaya sekali, jika si mbak Jessi itu tinggal di sebelahnya! Tetangganya!
Kebetulan yang benar-benar sial tanpa ia sadari.
Haara terkejut saat Yoan yang tiba-tiba memakaikan sesuatu di kepalanya.
"Eh?! Helm??" terkejut Haara.
Yoan terkekeh.
"Iya, kau harus memakainya." sahut Yoan.
"Kenapa pakai helm??" bingung Haara.
"Karena kita akan naik motor." seru Yoan memakai helm nya sendiri.
"Na-naik motor??! Kamu mau mengendarai motor??!" terkejut Haara.
Yoan mengangguk.
"Tunggu tunggu! Ka-kamu bisa mengendarai motor??" tak percaya Haara.
"Tentu aku bisa, sudah lama sekali aku tak mengendarai motor, jadi aku meminta karyawan paman untuk menyewakan motor untukku." jelas Yoan.
Haara ternganga mendengarnya.
"Kenapa sampai seterkejut itu? hm?" tanya Yoan terkekeh.
"A-aku tak menyangka kau bisa mengendarai motor, aku baru tahu." sahut Haara melongo.
Yoan tertawa menengarnya.
"Sekarang sudah tahu iyakan? Ayo berangkat." seru Yoan tertawa kecil.
"Ee~ iya." sahut Haara.
Yoan naik ke atas motor sport yang ia sewakan itu dan menghidupkan mesinnya.
__ADS_1
"Bisa naiknya kan?" tanya Yoan.
"Mmm~ bisa." sahut Haara naik ke atas motor itu.
Jujur saja Haara merasa takut sekali, kursi yang ia duduki tentu lebih tinggi dari Yoan, ia bingung harus bagaimana.
"Yoan jangan kencang-kencang ya? Aku takut." seru Haara.
"Yoan menarik kedua tangan Haara yang berada di pundaknya dan melingkarkan tangan gadis itu untuk melingkar di perutnya.
"Jika pegangan seperti tadi kau bisa jatuh, kalau seperti ini tidak akan jatuh." seru Yoan mengusap kedua punggung tangan Haara.
Benar saja Haara merasa tak semengerikan tadi, ia memeluk Yoan erat.
"Sudah siap?" tanya Yoan.
"Iya Yoan." sahut Haara.
Yoan pun secara perlahan melajukan motornya meninggakan parkiran di apartemen.
●•●•●•●•●
Haara tersenyum senang saat melihat pemandangan kota Guangzhou yang sangat indah, ia sama sekali tak terlintas kefikiran akan naik motor bersama suaminya itu, ia mengira jika Yoan itu tak bisa mengendarai motor.
Lalu lalang kendaraan dari arah bersamaan dan arah berlawanan terus meramaikan jalanan yang sedang Yoan dan Haara lalui saat ini.
Secara perlahan motor pun berhenti.
Haara melihat sekitar, mobil pun ikut berhenti, ternyata lampu merah.
Haara bernafas lega karena ia bisa membenarkan helm nya yang kebesaran itu.
"Kenapa helm nya?" tanya Yoan.
"Ha???" tak dengar Haara.
"Helm kamu kenapa?" tanya Yoan lagi.
"Yoan aku tak bisa dengar kamu ngomong apa???" seru Haara meninggikan suaranya.
Yoan membuka kaca helm nya dan menatap Haara di belakangnya, pria itu membuka kaca helm gadisnya itu.
"Kamu terlihat tak nyaman dari tadi dengan helm yang kau pakai kenapa dengan helm nya?" tanya Yoan.
"Ahh~ baru terdengar hehe, helm nya kebesaran Yoan~" rengek Haara.
Yoan yang mendengarnya tertawa.
"Helm nya kebawa angin tadi, susah payah sekali aku menahan helm nya~" rengek Haara masih mencoba membenarkan helm nya.
Yoan tertawa lepas mendengarnya, sungguh ucapan gadis itu dan di tambah dengan nada bicaranya membuat Yoan tertawa dan merasa sangat gemas sekali.
"Kenapa gak bilang tadi~" seru Yoan menahan tawa nya.
"Aku mau ngomong juga susah, aku lagi sibuk nahan helm aku Yoan, aku takut helm nya copot terus terbang~" sahut Haara merengek.
"Astaga~ kenapa ucapan dan nada bicara mu itu membuatku gemas sekali, AtHaara~" seru Yoan benar-benar merasa gemas sekali.
Yoan menggenggam erat kedua tangan gadis itu erat.
"Aku akan lebih pelan-pelan mengendarainya ya? Biar kamu tak perlu takut helm mu terbang ya?" seru Yoan tertawa kecil.
"Yoan lampunya sudah berubah warna nya." seru Haara menepuk-nepuk pundak pria itu.
Yoan yang juga melihat perubahan warna lampu rambu lalu lintas pun bersiap-siap.
●•●•●•●•●
Yoan mematikkan mesin motornya dan menstandarkan motornya.
Yoan membuka helm nya dan menyimpannya di atas tangki bensin motor itu.
Yoan melirik Haara yang sudah turun dan kini berdiri disampingnya,
Terlihat gadisnya itu kesulitan membuka helm nya pun menarik lembut tangan gadis itu dan membukakan strap helm gadisnya itu.
"Haahh~ cape~" hela nafas Haara setelah helm nya terbuka.
"Cape? Cape kenapa?" tanya Yoan turun dari motornya.
"Cape pegangin helm." sahut Haara menghela nafasnya lelah.
Yoan terkekeh, ia merapihkan rambut gadis itu yang berantakan.
"Aku beli minum dulu di seberang, kamu tunggu di sini saja ya?" seru Yoan.
"Beliin es krim ya?"
"Es krim?"
Haara mengangguk.
"Baiklah, tunggu disini ya." seru Yoan mengusap-usap rambut Haara.
"Ya, jangan lama-lama, aku takut sendirian." seru Haaea melihat sekelilingnya.
"Iya, kalau ada apa-apa lari saja ke dalam gedung, ada banyak orang di dalam." seru Yoan.
"Baiklah."
Yoan tersenyum tipis dan melangkah pergi.
Menunggu selama 5 menit lebih akhirnya Yoan pun kembali.
Haara tersenyum sumrigah saat mendapati Yoan sudah kembali.
"Duduk disana saja, ayo." seru Yoan menarik tangan Haara.
• • •
"Katanya mau diskusi lagi sama paman, kenaoa kita tak masuk?" tanya Haara memakan es krim nya.
"Paman belum datang karena sedang ada rapat sekarang, mungkin ia akan telat kesini." seru Yoan meminum air botol nya.
Haara mengangguk-angguk paham.
Haara melirik Yoan yang menatap dirinya.
"Kenapa menatapku?" tanya Haara.
__ADS_1
"Suka melihatmu makan es krim." senyum Yoan mengelap cairan es krim di sudut bibir Haara.
Haara menjilat bibirnya sendiri dan membersihkan cairan es krim di sudut bibirnya lagi.
"Sedang menggodaku, nona??" tanya Yoan.
"Menggoda apa?" tanya Haara kembali memakan es krim nya.
"Menjilat bibirmu sendiri." sahut Yoan.
Haara menatap Yoan sinis dan duduk memebelakangi Yoan.
"Hey? Kenapa membelakangiku?" kekeh Yoan.
"Kau itu berbahaya!" sahut Haara memakan es krim nya.
Yoan tertawa kecil mendengarnya.
"Hey, kamu tidak sopan membelakangi suamimu sendiri." seru Yoan.
"Nanti dulu, aku habiskan es krim nya dulu." seru Haara fokus menghabiskan es krim nya.
Yoan benar-benar merasa gemas dengan gadis itu, ia merasa gadis itu terus-terus bersikap sangat menggemaskan untuknya.
Yoan menatap Haara yang bangkit berdiri dan melangkah membuang stik dan bungkus es krim di tempat sampah.
Haara menatap Yoan ragu-ragu, Yoan yang melihatnya mengerutkan keningnya.
"ada apa?" tanya Yoan bingung.
"Yoan." panggil Haara ragu.
"ya?"
"Minta minum." seru Haara malu.
"Minta minum??" bingung Yoan dengan ucapan gadis itu.
"Aku haus, minta air botolmu, boleh??" tanya Haara ragu.
Yoan yang mendengarnya terkekeh.
"Tentu saja boleh, ini." seru Yoan menyodorkan air botol nya.
"Terima kasih~" senyum Haara meminum air botol pria itu tanpa ragu.
"Sudah gak asing lagi sama air botol bekas aku?" tanya Yoan penasaran.
Haara menggeleng cepat.
Yoan yang mendapat respon gelengan dari gadisnya itu tersenyum, ia merasa senang sekarang.
Namun seketika senyum pria itu luntur, ia teringat sesuatu dan harus di tanyakan pada gadis nya itu.
"AtHaara." panggil Yoan.
"Hm?"
Yoan terdiam, ia merasa ragu untuk bicara.
"Ada apa?" tanya Haara bingung.
"Nanti petang, aku ada acara reuni dengan taman SMA-ku." seru Yoan.
Haara terdiam sejenak.
"Tadi sebelum kau keluar dari apartemen, Jessi menemuiku, dan Jessi mengatakan jika dirinya itu bilang kepada teman-teman alumni bahwa ia ingin membuat acara reuni dan menyambutku yang datang ke China." jelas Yoan.
"..."
"Nanti malam kami akan bertemu di sebuah lestoran, kamu ikut ya?" seru Yoan.
"Ha? Ikut??"
"Iya, aku tak mungkin meninggalkan mu sendiri di apartemen."
Haara kembali terdiam sejenak.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja sendirian di apartemen." seru Haara mencoba santai.
"Tapi .."
"Masa iya aku ikut kamu ke acara reuni mu, aku tak mau ganggu, dan juga aku pasti tak akan paham apa yang kalian bicarakan." sela Haara tersenyum.
"AtHaara~"
"Tidak apa-apa Yoan, kamu pergilah ke acara reuni mu, mereka itu mengharapkan kau datang lho. Masa iya nanti kau itu sibuk bicara denganku?" seru Haara.
Yoan menghela nafasnya pelan.
"Lalu? Jika Jessi pergi bersamaku, bagaimana tanggapanmu?" seru Yoan serius.
Haara terkejut mendengarnya.
"Apa kau mengizinkanku memboncengnya naik motor bersamaku?" tanya Yoan lagi serius.
...•...
...•...
...Author : "hayolooo Haara gimana pendapatmu??😯 kira-kira Haara ngelarang Yoan ga ya?🤔"...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋...
...Hai, kakak-kakak author👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
__ADS_1
...See you tomorrow😇...