My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Mimpi Buruk


__ADS_3

Hari ini pulang lebih cepat, semua pun bergegas pulang untuk mempersiapkan persiapan besok berkemah.


"Enaknya pulang jam segini~" senyum Alka,


"mendadak pulang jam segini itu sangatlah membahagiakan" sahut Riza,


"Oh iya Ra? Esok bagaimana? Ikut?"


Haara menunduk,


"Yoan tak mengizinkanku" sahut Haara


"Yahh, tak seru jika kau tak ikut dong" sedih Alka,


"Pendaftaran hari ini terakhir lho, kau yakin??" tanya Riza


"Aku tak bisa membantahnya, dia bilang jika tak wajib tak usah ikut saja" sahut Haara,


Riza dan Alka mengangguk paham,


"Huwaa~!! Tapi aku ingin ikut!!~" rengek Haara berjongkok,


"Kau sudah membujuknya?" tanya Riza,


"Sudah~, tapi .."


Ucapannya terhenti karena ia teringat kejadian ia dan Yoan saat dikamar pria itu mereka ..


"Akan ku coba lagi" seru Haara mantap, ia memainkan ponselnya,


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Alka,


"Menelfonnya" sahut Haara mulai menelfon,


Riza dan Alka memerhatikkan Haara serius,


Yoan:


" ada apa?"


Haara:


" Yoan, mm boleh bicara?"


Yoan:


" bicara tinggal bicara, itu bukan tujuanmu menelfonku?"


Haara:


"Ihh, aku itu sedang basa basi tahu!"


Yoan:


"Hm, ada apa?"


Haara:


"Anu, aku .. Boleh ikut berkemah tidak?"


Yoan:


(Menghela nafasnya)


Haara:


"Aku sangat ingin ikut, kumohon izinkan aku ya~" (mohonnya)


Yoan:


"Tidak"


Haara:


"Huwaa~! Yoan~!" (merengek)


Yoan:


"Kau berani menentang ucapan suamimu?"


Haara:


"Tidak, aku bukannya menantang, tapi aku sangat ingin berkemah, aku sangat menyukai pemandangan alam" (sedih)


Yoan:


" ... "


Haara:


"Kali ini saja aku menentang, selanjutnya aku akan menuruti ucapanmu, ya ya ya??" ( mohonnya)


Yoan:


" ... "

__ADS_1


Haara:


"Hm baiklah jika tak mengizinkanku" ( ucapnya pelan)


Yoan:


"Aku izinkan"


Haara:


(Terkejut)"sungguh??!"


Yoan:


"Hmm"


Haara:


"Huwaa!! Terima kasih!! Aku akan mendaftarkan diri sekarang!!"


Yoan:


"Ya, hari ini aku pulang lebih awal sekali, aku ingin kau langsung pulang"


Haara:


"Baik!! Ya sudah ku tutup!~"


Haara mengakhiri panggilannya,


"Bagaimana?" -Alka,


"Ia mengizinkanku!!"


"Sungguh, yesss!!" senang Alka memeluk Haara dan Riza,


• • •


Haara bersenandung saat berjalan dengan Alka dan Riza, saat ini ia merasa sangat senang sekali karena mendapat izin dari Yoan tentunya,


"senang sekali nih" seru Alka terkekeh melihat Haara yang mengembangkan senyumnya,


"tentu saja, karena aku di izini ikut, kalian tahu sendiri, ini acara berkemah kita di kelas 12, tahun besok kita bukan anak SMA lagi lho~" jelas Haara merangkul kedua temannya,


"wah, iya~ sedihnya aku~" sahut Alka,


"beruntung berarti kau ikut Haara, oh iya bagaimana kalau lain waktu kita bikin acara berkemah?" usul Riza,


"setuju!!! boleh boleh boleh!!!" antusias Haara melepas rangkulan,


Riza tersenyum dan mengangguk.


"Bagaimana kita pergi ke mall? Ada barang yang ingin ku beli" ajak Alka Menghentikkan langkahnya saat di depan gerbang sekolah


"Aku juga ada barang yang ingin ku beli" sahut Riza,


"Mm aku tak ikut ya" sahut Haara,


"Lho? kenapa?" - Alka


"Dia bilang pulang lebih awal, aku langsung pulang" sahut Haara,


"Istri baik" seru Riza pelan


"Hey Riza~" malu Haara,


Alka dan Riza terkekeh,


"Pulang naik bus?" tanya Riza,


"Tidak, aku naik taksi, aku sudah memesannya tadi" sahut Haara,


"Biasanya malas menunggu taksi?? Inginnya langsung pulang saja~" ledek Alka,


"Maunya seperti itu, tapi Yoan melarangku naik bus lagi~"


"Wahh istri yang penurut" bisik Alka pada Riza, mereka terkekeh,


"Mulai deh mulai, itu taksi yang ku pesan sudah datang, aku duluan ya" pamit Haara pergi


"Besok jangan telat" seru Riza,


"Oke!!"


●•●•●•●•●


Lalu lalang kendaraan sore hari membuat Haara tersenyum senang.


Entah kenapa ia sangat senang sekali saat ini, mungkin karena ia mendapatkan izin dari pria itu dan juga ..


Haara memejamkan matanya rapat rapat dan menggeleng cepat,


Wajahnya terasa panas saat mengingat kejadian tadi pagi,


Ia jadi merasa malu saat mengingatnya, ia merasa malu jika bertemu dengan pria itu nanti di penthouse.

__ADS_1


• • •


Haara menghela nafasnya saat melihat isi dompetnya yang makin menipis, ia mengambil beberapa lembar dan membayarnya pada supir taksi.


Haara menutup pintu mobil taksi itu dan mobil taksi itu melaju pergi,


"Uangku makin menipis saja, jika naik bus pasti akan hemat uangku" keluh Haara melangkah masuk ke dalam apartemen.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Ruangan gelap dan pengap sangat terasa saat ini


Matanya terbuka lebar sambil menatap sekelilingnya, minim cahaya berwarna jingga yang terpancar dari sinar matahari,


Ia bisa mengartikkan jika hari menjelang petang, hari akan gelap dan tak akan ada cahaya yang menerangi ruangan yang ia tempati saat ini,


Rasa perih di sekujur tubuh dan juga rasa sakit yang dapat ia rasakan tak ada hal lain selain mengeluh,


Clek! BRAK!!


Matanya membulat saat melihat seseorang yang datang sambil membawa balok kayu


Tubuhnya gemetar hebat saat itu juga, dengan rasa sangat takut ia merangkak mundur saat pria itu melangkah mendekatinya,


"Jangan ku mohon jangan lagi~" mohonnya pada pria itu,


"Apa kau sedang memohon?" tanya pria itu tertawa,


"To tolong bebaskan aku, aku .. aku tidak membunuhnya, itu bukan salahku, itu keinginannya~ percayalah padaku~"


Sebuah tamparan keras dan menyakitkan di berikan pada nya beberapa kali hingga membuat sudut bibirnya berdarah,


"Ayolah~ kenapa kau selalu membela dirimu?~, aku tidak tersentuh sedikitpun~" seru pria itu menarik rambutnya yang memanjang


"Kau telah merebut kebahagiaanku~ jadi biarkan aku bersenang senang memukul mu hingga kau mati"


Nafasnya tersegal segal mendengarnya, air matanya menetes saat itu juga,


"Laki laki tidak boleh menangis~" seru pria itu terkekeh,


"Kenapa kau tak kunjung mati saja? Apa kau merasa senang aku menyiksamu bocah bodoh? Agar impas, nyawa dibalas dengan nyawa!"


"Bukan! bukan aku pembunuhnya!! aku bukan pembunuh!!" sahut nya dengan gelagat aneh,


Terdengar suara tertawa dari pria itu,


"To tolong! To tolong aku siapapun ku mohon tolong aku, tolong lepaskan aku~" tangisnya memegang kepalanya ketakutan,


"Melepaskanmu? Lalu kau akan bahagia? Jangan berfikir bodoh! Kau tidak patut bahagia! Apalagi bahagia dengan seorang wanita yang kau cintai, setelah membunuh gadis yang ku cintai, tak ada salahnya bukan aku membunuh gadis yang kau cintai juga??" seringai pria itu


Matanya membulat, ia menggeleng kuat dengan wajah menyedihkan,


"apa kau tak takut jika wanitamu akan mati ditanganku? Aku akan merenggut semua kebahagiaanmu"


"AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU!!"


Pria itu menatapnya emosi,


"Ha? Sudah berani membentakku, cih! MATI SAJA KAU!!" teriak pria itu mengangkat balok kayu nya siap untuk memukul nya, ia memejamkan matanya


"YOAN!!"


• • •


• •



Yoan membuka matanya, matanya membulat sempurna, nafas yang tak beraturan dan sudah di banjiri keringat dapat ia rasakan,


Yoan menduduki dirinya sambil menutup matanya dan tertunduk, nafasnya masih belum stabil,


"Yoan???" khawatir Haara mencoba menatap Yoan


Yoan terdiam sejenak saat mendengar namanya dilanggil, perlahan ia menatap gadis itu, siapa lagi kalau bukan istrinya Haara, gadis itu yang duduk di depannya saat ini.


Haara dapat melihat tubuh pria itu bergetar hebat, nafas yang terengah engah, dan tatapan pria itu, pria itu sedang ketakutan.


"Yoan?~ Ada apa??~" risau Haara panik bulan main,


Tak ada jawaban dari pria itu, namun secara perlahan, tatapan ketakutan yang Yoan pancarkan berubah menjadi tatapan yang sangat sendu.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...

__ADS_1


...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...


__ADS_2