
Suara kode PIN pintu pun terdengar, pintu pun terbuka, Haara dan Yoan pun masuk.
Haara menduduki dirinya di sofa di ruang santai, ia menghela nafasnya berat,
Ia menatap Yoan yang duduk di sebelahnya sambil membawa segelas air putih dan obat yang dokter resep kan,
"Mau makan lagi tidak?" tanya Yoan menatap Haara,
"Tidak, aku kenyang"
"Ya sudah sekarang minum obat" seru Yoan mengambil obat itu dalam plastik,
"Aku tidak suka!"
"Semua orang tidak suka minum obat" sahut Yoan
"O-obat itu pahit! Tidak manis!"
"Kau ini sudah besar, mana mungkin ingin minum obat dosis anak anak yang memiliki varian rasa" seru Yoan menatap Haara malas,
"Ini minum obatnya" seru Yoan menyodorkan obat,
"Aku tidak mau minum obat intinya!" tolak Haara,
Yoan menghela nafasnya,
"Minum"
"Tidak!"
"Minum obat nya Haara" sabar Yoan
"Tidak Yoan tidak!!" tolak Haara,
"Mau dapat hukuman dariku??" tanya Yoan menatap Haara tajam,
Haara diam seketika,
"Dapat hukuman atau minum obat?" ancam Yoan,
"Padahal aku sedang sakit, apa kau tega menghukumku?" cemberut Haara,
"Tidak perduli, pilih mana?" tanya Yoan menuntut,
Haara mengambil obat di telapak tangan Yoan dan memakannya,
"Pa .. Hitt" rengek Haara,
Yoan menyodorkan segelas air menyuruh Haara untuk minum, Haara pun meminum air nya
"Wlee~ pahit~!!"
"Sekarang istirahat lah, tidur di kamar" seru Yoan,
Haara mengangguk dan melangkah pergi ke lantai atas,
●•●•●•●•●
Hari akan menjelang malam, jam telah menunjukkan jam 19:12, Haara membuka matanya perlahan, ia menududuki dirinya,
Sebuah handuk jatuh dari keningnya,
"Kompresan .. Apa Yoan yang mengompresku?" tanya Haara menahan senyumnya
"Su sudah jam segini??! Perasaan tadi masih siang! Ya ampun~" seru Haara turun dari tempat tidurnya,
Haara menutup pintunya ia pun melangkah turun ke lantai bawah.
Suara perbincangan terdengar dilantai bawah penthousenya membuat Haara mengerutkan keningnya bingung,
Ia mengintip ditangga, ia mendapati Yoan yang sedang berbincang dengan seorang wanita, ia sedikit terkejut saat melihat gadis itu tersenyum pada Yoan, begitu juga Yoan yang tersenyum tipis menanggapinya,
"Siapa dia?"
Wanita itu terdengar akan pamit pulang, wanita itu berdiri dan melangkah pergi diikuti Yoan dari belakang.
• • •
Haara melangkah mendekati Yoan,
"Tadi siapa?" tanya Haara,
Yoan memutar tubuhnya yang tak tahu menahu keberadaan gadis itu,
"Ah, karyawanku"
"Ngapain dia kesini??"
"Mengantar pekerjaanku yang tertunda di kantor tadi" seru Yoan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya,
Yoan melangkah melewati Haara namun gadis itu mengekori pria itu,
"Itu apa?" tanya Haara terfokus pada pappebag yang pria itu angkat,
"Bubur, tadi aku menyuruh karyawanku untuk membeli bubur sekalian" sahut Yoan,
Haara ber 'oh' panjang, ia mengikuti Yoan yang melangkah ke arah dapur,
Langkah Haara terhenti saat Yoan didepannya menghentikkan langkahnya,
"Kenapa mengikutiku?" tanya Yoan membalikkan tubuhnya,
Haara tak menyahut, ia juga bingung kenapa mengikuti pria itu,
"Duduk di kursi makan sana, biar aku yang memindahkannya ke mangkuk" seru Yoan,
Haara mengangguk dan mengikuti ucapan pria itu.
• • •
Haara memakan buburnya perlahan, rasanya makanan yang ia makan pun tidak lah enak rasanya, sangatlah pahit,
Ia menghela nafasnya sambil mencuri curi pandang ke arah Yoan yang di depannya beberapa kali, entah kenapa ia ingin terus menatap wajah pria itu.
"Berhenti menatapku" seru Yoan menatap Haara sekilas
Haara dengan cepat menunduk,
__ADS_1
"A ano .." -Haara,
Yoan menatap Haara yang tak kunjung bicara,
"Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Yoan,
"Itu .. Seharusnya kau pergi bekerja saja setelah membawa ku ke dokter" seru Haara menunduk
"Sudah jam segini, apa kau akan menyuruhku ke kantor?" tanya Yoan santai,
"Eh bukan seperti itu, tapi aku merasa tak enak kau bolos ke kantor karena menjemputku dan merawatku, lebih baik kau ke kantor, pasti kerjaanmu menumpuk" jelas Haara tak enak,
"Aku bukan orang seperti itu" sahut Yoan memakan buburnya,
Haara menatap Yoan,
"Mana mungkin aku meninggalkan mu bekerja saat kau butuh seseorang untuk merawatmu" tambah pria itu memiringkan kepalanya saat menatap Haara
Deg!!
Haara terkejut atas ucapan Yoan,
Yoan terkekeh,
"Ada apa dengan mu? Apa ucapanku sangat mengejutkan mu?" tanya Yoan,
Haara menggeleng cepat.
●•●•●•●•●
Haara meminum air nya, dan akan bangkit berdiri,
Ia terkejut saat Yoan mengambil mangkuk nya,
"E e eh?"
"Aku yang cuci, kau minum obat sana" seru Yoan pergi,
Haara terdiam sejenak,
"Ah iya, tunggu aku mencuci piring saja, biar aku sendiri yang mengawasi mu benar benar minum obat" seru Yoan membalikkan tubuhnya,
"Aku tak suka obat yang pahit" sahut Haara menunduk,
Haara merasa Yoan melangkah mendekatinya,
"Buka mulutmu" seru Yoan,
Haara menatap Yoan bingung, pria itu menjulurkan permen itu didepan mulut Haara,
Perlahan Haara membuka mulutnya dengan wajah polos, Yoan pun memasukkan permen itu ke mulut Haara
Dapat ia rasakan jari pria itu menyentuh bibirnya
"Per permen?" tanya Haara gugup
"Iya, makan permen sebelum minum obat agar tak pahit nanti, menunggu kau menghabiskan permennya aku cuci piring dulu" seru Yoan pergi,
Degup jantung Haara makin tak kharuan, ini seperti bukan dirinya, dia tak bisa lagi mengolok ngolok pria itu seperti biasanya,
Haara melangkah dan menduduki dirinya di sofa ruang santai, ia menatap punggung pria itu yang fokus mencuci piring
Ia memegang dadanya, memeras bajunya,
ia menjadi teringat perbincangannya dengan Alka kemarin malam
●Flashback On●
"Alka"
"Ya?"
"Tidak jadi"
"Ha? Kenapa?"
"Tidak jadi Alka"
"Kamu ini, Kau buat aku penasaran Haara, ada apa?"
"Mm, apa aku bisa jatuh cinta lagi ya?" tanya Haara,
Alka menatap Haara tersenyum,
"Pastilah! Tapi aku ingin kau jatuh cintalah pada seseorang yang lebih dulu mencintaimu" sahut Alka semangat,
"Kau tahu sendiri aku tidak seperti itu, saat aku menyukai seseorang dulu, cinta ku bertepuk sebelah tangan" sahut Haara memeluk kedua kakinya,
"Maksudku, aku membahas tuan Yoan tahu, siapa lagi coba"
Haara menatap Alka, sahabatnya benar, ingin mengharapkan siapa lagi selain pria itu,
"Dia tidak akan menyukaiku tahu, begitu juga denganku"
"Jangan bilang seperti itu, aku maklumi untuk sekarang, tapi aku yakin lambat laun pasti kalian saling menyukai, lagipula jika kau menyukai tuan Yoan duluan pun kau tak akan merasa cinta bertepuk sebelah tangan bukan? Bahkan kau sudah memiliki dirinya, sudah sah lagi" jelas Alka pelan,
"Kau pun tak perlu takut tuan Yoan menyukai gadis lain, bahkan ia sadar akan status nya yang sudah menikah" tambah Alka,
"ia hanya belum memiliki perasaan padamu, dan hal yang harus kau lakukan adalah kau hanya berusaha membuatnya mencintaimu bukan?" tanya Alka,
Haara tertegun mendengar penjelasan sahabatnya itu, tapi entah kenapa ia merasa takut untuk menyukai seseorang, terutama untuk menyukai sosok pria misterius seperti Yoan, ia selalu berusaha menolak pemikirannya tentang ia menyukai Yoan,
"Aku merasa ragu jika Yoan bisa jatuh cinta" sahut Haara cuek,
"Bisalah, dia itu manusia tahu"
"Aku tahu, manusia batu es" sahut Haara,
"Wahahaha berdosa sekali kau mengata ngatainya" tawa Alka,
"Aku berbicara sesuai fakta"
"Eh eh, apa kau akan berniat mencintainya sekarang Haara??" anya Alka penasaran,
"Mencintainya? Bahkan kata kata itu lebih ekstrem dari kata menyukai"
"Baiklah aku ganti, apa kau sudah menyimpan niat akan menyukainya?"
__ADS_1
Haara terdiam,
"Wah seperti nya sudah ada niat nih" kekeh Alka,
"Aku tidak tahu" sahut Haara
"Tidak tahu? Kok tidak tahu, iya dong jawabnya" tawa Alka menggoda Haara,
"Aku tidak tahu~" malu Haara, ia benar benar malu sekali saat Alka menggodanya,
"Oh iya, tuan Yoan perhatian bgt lho sama kamu tadi saat akan berangkat"
"Biasa saja" malu Haara
"Di beri pinjam jaket plus topi juga, tidak sekalian sepatu dan celananya?" tanya Haara polos,
"Ih Alka, apaan sih, berlebihan sekali deh ucapanmu~" malu Haara,
"Eh tapi serius lho, tuan Yoan perhatian sekali lho, dari sebelum kalian menikah ia sangat perhatian sekali, mulai dari mengajarimu mengerjakkan tugas, menjemputmu, ah pasti masih banyak hal yang belum aku dan Riza ketahui nih"
"Kau benar benar ingin tahu sekali ya" ledek Haara
"Wah, seperti nya ada nih! Apa saja? Coba ceritakan"
Haara gelagapan,
"Jangan jangan .. Kiss?" bisik Alka,
"Tidak pernah!, dia selalu meledekku dan menjahiliku, aku benci sekali!" kesal Haara,
"Meledek? Menjahilimu? aku tak menyangka tuan Yoan seperti itu ternyata" kekeh Alka,
"Dia selalu seperti itu padaku, membuatku kesal" sahut Haara cemberut,
Alka hanya tertawa tanpa menanggapi apapun,
"Aku jadi teringat saat dimana keributan dibuat oleh si Daniel itu" seru Alka,
Haara menunduk,
"Tuan Yoan benar benar sampai memukulnya habis habisan, aku sempat takut jika tuan Yoan membunuhnya lho, tapi karena kau memeluknya, ia langsung berhenti memukulinya, kau tahu? Itu sangatlah romantis" jelas Alka terkekeh
●Flashback Off ●
ucapan Alka benar benar terngiang di benaknya, bahkan tadi pagi saat akan ikut acara menelusuri hutan dan dirinya pingsan, pria itu langsung datang ke puncak untuk menjemputnya,
bahkan pria itu pernah mengancam jika dirinya kenapa kenapa pria itu akan memberikan hukuman padanya,
nyatanya ia paham, ancaman itu semata mata agar dia bisa menjaga dirinya saat jauh dari pria itu.
Suara air mengalir tak lagi terdengar,
Dengan cepat Haara membuat dirinya terlihat santai,
Yoan melangkah mendekati Haara sambil membawa segelas air putih,
"Permennya sudah habis?" tanya Yoan,
Haara yang mendengarnya mengunyah permen itu,
"Sudah" sahut Haara membuang pandangannya,
Haara dapat melihat Yoan yang membukakan obat dari bungkus obat itu satu persatu,
"Ini, minum" seru Yoan menyodorkan,
Haara pun mengambil obat itu dan memasukkan obat itu ke mulutnya, ia mengambil gelas yang di sodorkan Yoan dan meminumnya,
Ia merasa obat yang berada di mulutnya tak sepahit tadi siang ia minum,
Yoan mengerutkan keningnya, mencoba menatap Haara yang dari tadi menunduk,
"Kau kenapa? Masih pusing??" tanya Yoan mencoba menatap Haara,
Haara menggeleng, ia mencoba untuk menghindari tatapan pria itu,
"Lalu? Kenapa kau terus menunduk?" tanya Yoan bingung, ia masih mencoba menatap Haara
"Ti tidak, a aku baik baik saja" sahut Haara kaku, ia menutup wajahnya dengan tangan kirinya,
"Jika tidak apa apa coba tegakkan kepalamu, dan tatap aku" seru Yoan,
"Ke kenapa harus menatapmu?" gugup Haara yang tangan kirinya senantiasa menutup wajahnya
Tak!
Haara terkejut saat Yoan menarik tangan kirinya yang emnutupi wajahnya dengan tangan kiri pria itu, ia menatap gelang yang ia pakai saat ini dengan gelang yang sama di pakai pria itu,
Haara membulatkan matanya saat tatapan mereka bertemu, jarak mereka begitu dekat,
Yoan menurunkan tangan gadis itu dan menempelkan telapak tangannya di kening gadis itu,
"Membuatku takut saja, ku kira demammu naik" hela nafas Yoan mengacak acak rambut Haara,
Suara bel pintu berbunyi, membuat Yoan bangkit berdiri dan pergi ke pintu penthouse mereka,
Haara menatap Yoan yang melangkah menjauh, ia merapihkan rambutnya yang pria itu acak acak tadi,
Ia menepuk kedua pipinya,
"Oh tidak, aku telah menyukainya!" seru Haara dengan tatapan kosong.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
...dan komentarnya 💭😊...
__ADS_1
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...