My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Tidak Suka Terlalu Bertele Tele


__ADS_3

Yoan memparkirkan mobilnya setelah dari rumah sakit, ia memparkir mobilnya diparkiran bawah tanah apartemen miliknya.


Haara terdiam sejenak, bagaimana ia akan jalan?


Saat dirumah sakit tadi, ia bersikeras tak ingin di gendong oleh Yoan, rumah sakit yang ramai benar benar membuatnya malu jika harus di gendong, dan Yoan tak ada pilihan lain untuk mencari kursi roda untuknya.


Namun sekarang tak ada kursi roda, bagaimana ia jalan?


Haara menatap pintu mobil terbuka, Haara menatap Yoan yang menatapnya dengan tatapan malas.


"Tak ada kursi roda di apartemen, jangan sampai aku mencari troli barang untuk membawamu" seru Yoan malas,


"Mm, aku .. Akan jalan" sahut Haara mencoba turun,


Yoan hanya diam menatap Haara yang kesusahan dengan tatapan datar,


Bruk!


Haara meringis, namun berakhir membelalakan matanya,


Ia jatuh dan berakhir memeluk perut pria di depannya!


Dengan gerakan lambat, Haara menatap Yoan yang lebih tinggi dari nya,


Yoan menatap Haara yang lebih pendek darinya dengan tatapan datarnya,


"Eh!ma maaf!" seru Haara dengan cepat mundur,


Suara terbentur terdengar,


Haara memegang kepalanya dan menatap terkejut tangan Yoan yang menahan kepalanya tadi, pria itu baru saja melindungi kepalanya agar tak terbentur atap mobil.


Yoan meringis sambil mengusap usap tangannya yang terbentur tadi,


"Aduh! sakit ya? maaf maaf maaf~" ringis Haara merampas tangan Yoan dan mengusap tangan pria itu,


"Bisa jangan ceroboh tidak?"


Haara melepas tangan Yoan perlahan,


"Maaf~" sahut Haara pelan,


Haara melangkah minggir saat Yoan akan menutup pintu mobil nya


"Jangan sok kuat" seru Yoan,


"Jangan memaksakan diri dan jangan sok kuat, bukankah kau sendiri yang mengajariku untuk tidak memaksakan diri dan sok kuat?" tanya Yoan,


Haara menatap Yoan,


Ia ingat ucapan yang pria itu maksud, ucapan H-1 mereka sebelum menikah, ia memarahi pria itu untuk tidak memaksakan diri dan sok kuat.


"Aku tidak memaksakan diri dan sok kuat" sahut Haara


"Lalu?"


"Aku .. Aku malu jika harus di gendong" sahut Haara menunduk ia menahan malu,


"Apa kau ingin aku membopongmu?"


"Ah tidak tidak tidak! itu terlalu berlebihan" sahut Haara cepat,


"Aku tak suka membuang buang waktu untuk berdebat hal seperti ini denganmu" kesal Yoan,


Haara kebingungan,


"Mau ku gendong atau ku bopong?" tanya Yoan tak sabaran,


"Mm anu itu .."


"Ku hitung sampai tiga, jika tak jawab ku tinggal"


"Sebentar ih~aku .." panik Haara


"Satu .."


"Yoan jangan me .."


"Dua .."


"E eh tunggu du .."


"Tiga! ku tinggal" sahut Yoan pergi meninggalkan Haara


"Yo Yoan!! tunggu dulu Yoan!!" panggil Haara kualahan,


Tak ada sahutan dari pria itu,


"HUWAAA~~!!! SUNGGUH KEJAM KAU YOAN MENINGGALKAN KU DALAM KEADAAN SULIT BERJALAN SEPERTI INI!!! HUWAA ~ !!" teriak Haara menutup wajahnya pura pura menangis,


Suara langkah kaki terdengar mendekatinya, ia berhasil membuat Yoan kembali.


Betapa terkejutnya ia, tatapannya membulat sempurna

__ADS_1


Yoan membopongnya,


"Yo Yoan, a aku tidak memilih untuk di bopong! Yoan! turunkan aku!" panik Haara saat Yoan mulai melangkah menuju pintu masuk apartemen,


Tak ada sahutan dari pria itu, nyalinya menciut saat Yoan sekilas menatapnya tajam.


Haara menutup wajahnya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yoan,


Semua orang mau karyawan atau tamu menatap mereka tanpa berkedip sedikit pun, seperti pemandangan langka, Yoan melangkah menuju lift.


"Tempelkan kartunya" seru Yoan mengacungkan card nya,


Haara mengambil card itu di tangan pria itu, dan menempelkan pada sensor yang terdapat di lift,


Yoan pun melangkah mundur saat pintu lift akan tertutup.


Untuk naik ke lantai 21 seperti memakan waktu berjam jam bagi Haara, sangat lama.


Haara menahan nafasnya, nafasnya sesak, posisi yang meresahkan jantungnya.


Sungguh lama mereka tiba di lantai 21, benar benar membuat nya tak bisa bernafas lega.


Haara melirik keatas untuk menatap pria itu sebentar,


Pelipis pria itu berdarah dan juga ada lebam biru di sudut bibirnya,


"Kenapa kau tak mau di obati di rumah sakit tadi?" tanya Haara,


"Nanti juga sembuh sendiri" sahut Yoan,


"Jika di obati akan cepat sembuh, memang akan kering sendiri luka itu, tapi jika infeksi bagaimana?"


"Ucapanmu terlalu berlebihan" sahut Yoan melangkah ke depan pintu Penthousenya,


"Aku serius, bahkan lukamu .. "


"Tempelkan kartunya" sela Yoan menatap Haara,


Haara menuruti, suara pintu terbuka terdengar,


"Bahkan lukamu itu goresannya dalam lho ... "


Yoan pun mendorong pintu Penthousenya dengan kakinya dan melangkah masuk,


Yoan berdiri didepan sofa sambil menatap Haara yang berbicara panjang lebar,


" ... jika tidak dibersihkan nanti infeksi, jika sudah infeksi nanti ..- " Ucapannya terhenti saat ia menyadari jika Yoan sedang menatapnya.


"Ee .. eh, sudah sampai ya, sekarang bisa kau turunkan .. -"


Belum selseai Haara bicara, Yoan menurunkan Haara disofa,


"Kau dengar tidak penjelasan ku tadi?" tanya Haara cepat sebelum Yoan melangkah menjauh,


Yoan hanya menyahut dengan deheman,


"Cih, dasar!" seru Haara pelan,


Ia teringat sesuatu, dengan cepat ia mengambil jas sekolahnya dan merogoh saku jas nya,


Ia menghela nafasnya kasar,


"Ponselku~" serunya lemas,


Yoan duduk disebelah Haara, mengambil ponsel gadis itu dan memberikannya sebuah kotak p3k,


"E eh! ponselku .. -, lho? kenapa kau memberiku kotak p3k??"


"Obati lukaku, aku tak tahu harus mengobatinya dengan obat yang mana"


●•●•●•●•●


Yifan mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan terdengar ucapan untuk mempersilahkan ia masuk,


"Paman? ada apa memanggilku?" tanya Yifan menghampiri Billy yang duduk di sofa,


"Duduklah" persilahkan Billy, Yifan pun menduduki dirinya di sofa seberang hadapan Billy.


"Paman mendengar dari wali kelas AtHaara, jika ia tadi di culik, apa benar?"


"wah secepat itu? hm, Iya paman"


"Lalu bagaimana? ia sudah ditemukan?"


"Sudah, kak Yoan menyelamatkannya, sekarang kak Yoan membawa Haara kerumah sakit karena Haara terluka" jelas Yifan,


"Terluka??"


"Ya, karena Haara mencoba melindungi dirinya, pria itu juga melukai Haara, karena pria itu ingin memperkosa Haara"


"Apa?! lalu apa pria itu sudah dilaporkan ke polisi??" terkejut Billy


"Bahkan pria itu dihajar habis habisan. pria itu sudah babak belur ulah kak Yoan sendiri" kekeh Yifan,

__ADS_1


"Aku maklumi jika Yoan menghajar pria itu habis habisan" setuju Billy,


"Tapi .. Pria itu hampir saja mati jika tidak Haara hentikan tadi"


"hahh, Beruntung pria itu tidak mati, jika tidak Yoan pasti akan dalam masalah" sahut Billy serius,


"Sebelumnya kak Ammar bercerita saat kami sedang menunggu kedatangan polisi, jika kak Yoan itu benar benar seperti kehilangan kesadaran saat menghajar pria itu, kak Ammar meyakinkan jika kak Yoan tersulut emosi karena teringat masa lalu nya juga" jelas Yifan,


"Apa ia masih belum sembuh dari traumanya?" tanya Billy,


"Sepertinya belum, aku juga melihat kak Yoan meringis memegang kepalanya, dan ia bilang juga penyebabnya karena ia hilang kendali, itu yang kudengar dari ucapan kak Yoan" jelas Yifan,


"Sepertinya memang tak bisa secepat itu Yoan bisa sembuh dari traumanya, aku khawatir pada nya, karena lambat laun mereka akan dipertemukan"


"Maksud paman?"


●•●•●•●•●


Haara mengambil kapas dan membasahi dengan alkohol,


Haara mulai membersihkan pelipis pria itu sebelum di beri obat luka.


Tatapan Yoan fokus pada ponsel gadis itu, Yoan meringis kecil saat Haara mengusap pelan luka nya,


"Kau mengobatiku dengan apa? kenapa rasanya dingin?" tanya Yoan melirik ke gadis disebelahnya sambil meringis.


"Aku membersihkan dulu luka mu dengan alkohol, baru aku beri obat khusus untuk luka" jelas Haara menatap Yoan sekilas,


Yoan tak menyahut lagi,


Kulit putih, alis tebal terukir tegas dan bulu mata yang sangat bagus, rasanya ia insecure dengan pria di hadapannya ini.


Haara mengambil obat luka dan mengusap obat itu diluka agar rata,


"Ah, hsstt~ perih perih!" ringis Yoan mengipas ngipas lukanya dengan tangannya,


"Ih tunggu dulu, belum rata Yoan~"


Yoan menutupi lukanya saat Haara mencoba untuk mengobatinya pelipisnya,


Haara menarik baju bagian pundak bawah Yoan, karena Yoan beraba aba ingin kabur.


"Ehey! mau kemana?! aku belum selesai mengobatimu, tuan!!" seru Haara


"Obat itu lebih menyakitkan daripada alkohol, aku tak mau diobati" tolak Yoan,


"Baru aku akan meratakannya, jika perih berarti lukamu dalam, aduh~ kenapa kau menolak tadi saat akan di obati sih?" tanya Haara bingung.


"Jangan mengoceh, cepat obati"sahut Yoan menurunkan tangannya dari pelipisnya,


Haara mencoba duduk mendekati Yoan,


"Lebih baik di obati dengan dokter tadi, aduh jadi aku yang ngeri" ringis Haara,


"Aku tidak suka dengan dokternya" sahut Yoan datar,


Haara paham maksud dari ketidak sukaan pria itu,


Kejadian dimana dokter yang mengobati Haara saat itu terus mencuri curi pandang dan tersenyum pada Yoan,


"Mungkin karena ia melihat lukamu juga, setelah mengobatiku ia mempersilahkan kamu untuk di obati selanjutnya kan?" tanya Haara mulai meratakan obatnya.


"Aku mengetahui maksud dari tatapannya" sahut Yoan,


"Seharusnya senang dong jika dokter itu salah satu dari fans mu" seru Haara asal,


"Lalu? jika kau diposisi ku kau mau diobati dengannya??" tanya Yoan tajam,


Haara mengangguk,


"Aku menghargainya" sahut Haara santai,


"Ha?"


"Karena ..aku tak enak, maka dari itu aku menghargainya, kau tahu? ucapanmu saat menolak untuk di obati dokter itu agak .."


"Berisik! kenapa diungkit terus? apa kau tak suka jika aku memintamu yang mengobati lukaku sendiri?" sahut Yoan tajam,


Haara memplester luka Yoan,


"Bukan seperti itu, aku hanya .. "


Belum selesai Haara bicara, Yoan bangkit dan melangkah meninggalkan Haara.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...


Hai Readers dan Author Author keren dan hebat😍 terima kasih sudah membaca ceritaku😇 jangan lupa Like, Vote, Rate dan juga komentarnya ya kakak🤗❤

__ADS_1


__ADS_2