
4 bulan telah berlalu ~
Tepat di hari Selasa terakhir di bulan Juni usia kandungan Haara akan menginjak bulan ke empat.
Dan juga terlihat perut Haara yang terlihat jelas lebih membuncit saat ini.
Tak butuh seorang perawat atau seorang pembantu, Yoan tak membutuhkan itu semua untuk menjaga Haara.
Selagi dirinya sangat mampu, ia berfikir akan menjaga dan merawat Haara sendiri, ia rasa itu jauh lebih baik.
seiring berjalannya waktu, Yoan terlihat semakin protektif dengan apa saja yang Haara lakukan.
mengenai pekerjaannya, Yoan lebih memilih untuk mengurus pekerjaan kantornya untuk di kerjakan di penthouse, itu akan membuat dirinya bisa menjaga Haara dan mengawasi Haara dengan mata kepalanya sendiri.
namun, hanya saja jika ada rapat atau apapun, Yoan dengan terpaksa akan pergi ke kantor.
sebelum ia akan pergi ke kantor, ia akan meminta seseorang untuk menjaga Haara, mau itu minta tolong dengan, Yifan, Yuu, Hanabi, mama nya atau mama mertua nya sekalipun.
Ia sungguh sangat mengutamakan sekali Haara.
• • •
hari telah menjelang malam.
Riza dan Alka sudah pulang 20 menit yang lalu setelah ia mendapat pesan jika Yoan dalam perjalanan pulang.
Haara menatap dirinya di pantulan cermin, tubuhnya terlihat sangat berisi kali ini.
'Kandunganku akan menginjak bulan ke empat, namun tubuhku terlihat sangat berisi, bagaimana jika usia kandunganku sudah menginjak bulan ke delapan?' batin Haara.
'Apa Yoan akan masih mencintaiku jika tubuhku akan lebih berisi lagi?' batin Haara lagi berfikir sensitif.
ceklek!
Haara tersenyum saat Yoan dipantulan cermin, pria itu baru pulang dari kantor.
Yoan memeluk Haara dari belakang sambil mengusap-usap perut buncit Haara dan bergelayut manja di pundak Haara.
Hal itu membuat Haara terkekeh melihat tingkah manja Yoan.
"Papa pulang sayang~" seru Yoan pada baby kecil di dalam perut Haara.
"selamat datang papa~" sahut Haara menirukan suara anak kecil.
Yoan yang mendengarnya terkekeh.
"Aku tak mendapati kedua temanmu, mereka sudah pulang?" tanya Yoan.
"Mereka harus pulang karena hari akan menjelang malam." sahut Haara mengelus-elus rambut Yoan yang bergelayut manja di pundaknya.
"Lalu kau sendirian??"
"Yoan~ mereka pulang belum lama, sepertinya ... 20 menit yang lalu mereka pulang terus kau datang, aku baik-baik saja." kekeh Haara.
"Syukurlah." tenang Yoan.
"Yoan, aku mau makan pizza." seru Haara menatap Yoan di cermin.
"Pizza apa?" tanya Yoan lembut.
"Pizza dengan keju mozzarella aku mau itu, beli dua ya! Oke?!" antusias Haara.
"Baiklah, aku beli dua." sahut Yoan mengambil ponselnya di saku jas nya dan dengan lihai pria itu mulai memesan di ponselnya.
Haara menatap layar ponsel Yoan yang tepat di depan wajahnya, terlihat tangan pria itu dengan lihai menekan setiap tulisan di layar nya.
"Aku mau rujak!" seru Haara.
"Rujak? Apa itu?" tanya Yoan bingung.
"Biar aku yang pesan." seru Haara mengambil ponsel Yoan dari tangan pria itu.
"Delivery memang apapun ada, malam-malam makan rujak dengan sambal gula merah di pakaikan buah asem, lalu di makan dengan buah mangga! Huwaaa~ pasti enak!" gumam Haara.
"Sambal gula merah? Berarti tidak pedas, kan?" tanya Yoan masih dengan posisi yang sama.
"Manis asam, aku suka sekali!" sahut Haara.
Yoan mengangguk paham, ia jadi penasaran dengan makanan yang di sebut rujak itu.
"Yoan aku mau es krim dan jus alpukat nya juga ya? Boleh tidak?" tanya Haara.
"Boleh, pesan semaumu." sahut Yoan.
"Sungguh?? Baiklah!" senang Haara.
"aku akan pergi mandi."
Yoan melepaskan pelukannya pada Haara perlahan.
Pria itu akan pergi mandi.
__ADS_1
●•●•●•●•●
Yoan menutup pintu kamar mandinya setelah selesai mandi.
Ia tak mendapati Haara dikamar.
"Kemana dia?" bingung Yoan melangkah keluar kamarnya.
Pria itu melangkah cepat untuk turun tangga dan kini ia tiba di lantai dasar.
Dapat dilihat Haara yang sedang fokus menatap ke arah luar jendela.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Yoan menghampiri Haara.
Gadis itu menatap Yoan, ia hanya melemparkan senyuman pada Yoan.
"Tak apa-apa Yoan." sahut Haara pelan.
"Sejak tadi aku pulang, wajahmu terlihat murung, ada apa? Cerita padaku."
Drrt! Drrt!
Haara menatap ponsel Yoan di tangannya, ia tersenyum cerah saat mengetahui jika pesanannya sudah tiba di lantai dasar.
"Aku yang akan ambil di bawah, kamu disini." seru Yoan tanpa di minta.
Pria itu pun melangkah pergi keluar.
Haara menghela nafasnya sambil tersenyum tipis.
"Dia begitu peka sekali, sepertinya aku tak pernah bisa menyembunyikan apapun darinya, namun ... apa ia tahu aku sedih karena memikirkan apa?" sedih Haara bertanya pada dirinya sendiri.
●•●•●•●•●
• • •
Haara dengan hati senang memakan pizza nya, sesekali kakinya menghentak-hentak karena senang.
"Enaaak~" seru Haara.
Haara melirik Yoan yang menghampirinya duduk di sebelahnya.
"Yoan, ayo makan bersama! Makan apa saja boleh! Ayo!" seru Haara antusias.
Yoan mengangguk, pria itu mengusap saus di sudut bibir Haara.
"Makan pelan-pelan, sampai mengotori wajahmu." nasihat Yoan.
Yoan mengerutkan keningnya saat terfokus pada satu cup sedang yang isinya terdapat makanan yang aneh menurutnya.
Pria itu mengambilnya dan mencium bau nya, ia tak bisa menjelaskan bagaimana bau nya.
Dengan perlahan Yoan menusuk satu potongan buah dan memakannya.
Seperti sambaran petir dalam mulutnya, Yoan gelagapan dan langsung menyimpan cup itu.
"Hahhh~~ uhuk uhuk!! Huuhaahh!!" gelagapan Yoan.
"Yoan?? Kamu kenapa??" panik Haara.
Yoan tak menjawab pria itu mengambil satu minuman milik Haara untuk meminumnya.
"Yoan! Jangan!" panik Haara mengambil minuman yang Yoan pegang.
"AtHaara~ pedas AtHaara~" rengek Yoan dengan wajah yang sangat memerah dan air mata yang berlinang menahan pedas.
"Ini es kopi, jangan di minum!" sahut Haara mengambil jus alpukat nya dan memeberikannya pada Yoan.
Pria itu menelan salivanya menatap minuman kopi yang ia pegang, hampir saja ia meminumnya, jika telat sedikit saja dan ia meminumnya meski satu teguk, ia tak tahu keadaannya bagaimana sekarang.
Yoan langsung meminum jus alpukat yang Haara berikan, namun nihil rasa pedas nya tak hilang.
"Kenapa .. pedasnya tak hilang~" rengek Yoan masih merasa pedas.
Haara yang panik melihat wajah Yoan semakin memerah pun dengan cepat melangkah ke dapur mengambil air hangat.
"Kamu makan apa sih??" tanya Haara menduduki dirinya di sebelah Yoan.
Yoan mengambil air hangat di tangan Haara dan meminumnya perlahan.
Haara mengikuti arah tunjuk pria itu, hal itu membuat Haara ber'oh' panjang.
"Ah~ rujak~ masa sih pedas?" seru Haara menusuk satu potongan buah dan memakannya.
"hak pedas Yoan, kamunya juga! sudah tahu tak suka dan tak bisa makan pedas, dimakan saja makanan yang belum kau tahu apa itu." seru Haara mengusap air mata Yoan yang mengalir.
"Mana ku tahu itu pedas, padahal aku sudah cium bau nya, baunya tak pedas, jadi aku memakannya." sahut Yoan tidak kepedasan seperti tadi.
"Tapi enak iyakan~?" tanya Haara.
"Tidak enak! Kamu, jangan makan itu rujak! Pedas! Jika kau sakit perut bagaimana??" tanya Yoan.
__ADS_1
"Ngga pedas Yoan~ kamu nya saja yang payah makan makanan pedas." sahut Haara kembali memakan rujaknya.
"AtHaara dengar aku tidak??"
"Yoan~ aku sedang mengidam mau makan rujak, bahkan rujak itu adalah makanan umum untuk wanita hamil." jelas Haara.
"Tak percaya aku, kau itu suka makan makanan pedas, jangan membodohiku." sahut Yoan.
"Serius, tanya kak Anna, jika perlu saat nanti aku kontrol ke rumah sakit, kau tanya setiap wanita hamil, ucapanku pasti benar!" sahut Haara kesal.
"Ngapain harus aku tanya setiap wanita hamil? lebih baik aku tanya Vey saja selaku ia doktermu." sahut Yoan santai.
"iya juga~ sudahlah, kamu makan pizza saja, ini tak pedas." seru Haara.
●•●•●•●•●
Haara memerhatikan Yoan yang fokus membereskan sampah bekas pizza, minuman dan yang lainnya.
"Yoan, biar ku ..."
"Kamu langsung pergi ke kamar saja, biar aku yang membereskannya." sela Yoan.
Haara perlahan mengangguk dan melangkah pergi.
Ia telah tiba di lantai atas, ia membuka pintu kamarnya dan melangkah ke arah jendela, ia kembali merenung.
Ia mengelus-elus perutnya sayang.
'Seperti tak bisa di pungkiri, setiap malam pasti fikiran sensitif selalu meracuni otakku.' batin Haara.
'Yoan tahu tidak ya?' batin nya lagi.
"Lagi dan lagi, apa yang sedang kau fikirkan?"
Haara yang terkejut mengusap-usap dadanya.
"Yoan, ngagetin deh~"
"Maaf, kamu sedang memikirkan apa?"
"Tidak ada Yoan, aku ... hanya sedang memerhatikan suasana kota di malam hari saja." senyum Haara.
"Kau sedang berbohong padaku, hey bisa kau katakan apa yang sedang mengganggu fikiranmu itu padaku? Jangan mencoba menyembunyikan apapun dariku."
Haara terkekeh.
"Sepertinya aku tidak pernah bisa menyembunyikan apapun darimu ya? Selalu saja ketahuan dengan mudah." kekeh Haara.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."kata Xi Cha juga Yoan itu payah gak bisa makanan pedas😆 Yoan juga hampir keminum kopi, hampir saja😭...
...tapi ... kira-kira Haara mikirin apa ya?🤔"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐