
Haara menutup pintu kamar mandi nya sambil mengeringkan rambutnya, kini bajunya telah terganti menjadi baju tidur.
Ia menduduki dirinya di tempat tidurnya sambil bersenandung pelan,
Tok tok tok!!
Terdengar suara ketukan di pintu kamar nya, membuat kegiatannya terhenti, tanpa berfikir panjang, ia pun melangkah membuka pintu kamarnya,
"Ada apa?" tanya Haara bingung,
Yoan menyodorkan sebuah papperbag kecil ke hadapan wajah gadis itu,
Haara yang terlihat bingung pun perlahan mengambil papperbag itu,
"Ini .. Apa?" tanya Haara mengambil papperbag itu
"lihat sendiri" sahut Yoan, Haara pun mengambil sebuah kotak di dalam papperbag itu,
Haara ternganga melihat kotak itu,
"I ini, untukku??" tanya Haara polos,
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Yoan menatap Haara,
"tu tunggu bukan begitu i ini kau belikkan untukku??" tanya Haara lagi terkejut
"Hm"
Haara membulatkan matanya sambil menutup mulutnya tak percaya,
"Su sungguh??!"
"Hahh, iya~",
"Kyaaa!!!~" teriak Haara lari ke dalam kamarnya dan menduduki dirinya di kasurnya,
Dengan anstusias dan semangat Haara membuka box ponsel itu,
Yoan melangkah masuk kedalam kamar gadis itu, ia berdiri tepat di hadapan gadis itu,
"Ya ampun! Ini sungguhan!" seru Haara mengambil ponsel di dalam box itu,
Ia benar benar tak percaya dengan ponsel yang ia pegang, itu adalah ponsel yang sangat sekali ingin ia beli dengan uang tabungannya, namun tak pernah tergapai karena ia selalu membeli suatu barang yang tak diperlukkan setelahnya.
"Mm, ponsel ini terlalu mahal, a aku tidak apa apa bertukar ponsel denganmu kok, sungguh" seru Haara menatap Yoan tak enak,
Yoan merogoh ponselnya yang berada disaku celananya dan mengacungkan ponsel itu,
"Bahkan ponsel mu dan ponselku sama jenis nya" seru Yoan,
Haara mengerjapkan matanya beberapa kali, ia benar benar tak menyadari jika pria itu juga memakai ponsel yang di minati oleh banyak orang,
"Mm, ini sungguh untukku?" tanya Haara lagi tak percaya,
"Berapa kali lagi kau akan bertanya? Aku katakan untuk terakhir kali nya untuk pertanyaan mu yang satu ini, iya itu untukmu, aku membelikannya untukmu" jelas Yoan sabar,
"Mm, ini terlalu mahal bagiku"
"Tidak untukku, jika kau menolak, kau benar benar membuatku kecewa" sahut Yoan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya,
"Ah baik baik, aku akan menerimanya" sahut Haara cepat,
Yoan membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi,
"Yoan" panggil Haara melangkah mendekati pria itu,
Yoan menghentikkan langkahnya,
Haara mengenggam ponsel di tangannya erat,
Yoan membalikkan tubuhnya saat tak ada perkataan yang terucap dari gadis itu, ia menatap Haara datar
"Ada apa?" tanya Yoan,
"Aku .. Hanya ingin mengucapkan, terima kasih" seru Haara,
Yoan menyahut dengan deheman,
"Aku ... Akan bayar separuh uang tabunganku kepadamu" seru Haara cepat
Yoan menghela nafasnya sabar,
"Simpan uangmu, aku tak memintamu untuk membayar"
"Tapi kau membeli ponsel ini menggunakkan uangmu, aku tak enak jika .."
__ADS_1
"Bisa tidak jangan merasa tak enak padaku?" frustasi Yoan,
"A aku .."
"Sekarang ini uangku uangmu juga" seru Yoan,
"Aku selalu menunggumu meminta padaku, tapi aku mendapati kau meminta aku membelikkan ponsel, padahal ponsel itu adalah benda yang sangat lah penting" jelas Yoan jujur,
Haara tertegun mendengar ucapan Yoan,
"Aku .. Hanya sungkan memintanya, terasa aneh saja aku meminta" sahut Haara menggaruk tengkuknya
"jangan sungkan meminta apapun padaku, mintalah apa yang kau mau mulai sekarang, paham?" seru Yoan serius,
Haara mengangguk semangat,
Yoan mendecih mendengarnya,
"Oh iya!" seru Haara membuat Yoan kembali menatap Haara,
"Di hari Jum'at, di sekolahku mengadakan acara perkemahan" jelas Haara mengusap usap lengan kanannya,
"Apa boleh aku ikut?" tanya Haara menatap Yoan ragu,
Yoan tertegun mendengarnya, terasa aneh tapi nyata, jika gadis di hadapannya ini sedang meminta izin pada dirinya.
"Memangnya diharuskan ikut? Kelas 12 seharusnya fokus untuk belajar untuk latihan latihan soal ujian, bukan?" seru Yoan datar,
"Tidak wajib sih, tapi aku ingin ikut" sahut Haara pelan, ia menundukkan kepalanya
Yoan menatap Haara yang tertunduk,
"Jika tidak wajib, tak usah ikut"
Sontak Haara menatap Yoan terkejut,
"Ahaa~ aku ingin ikut!~" rengek Haara tanpa disadari
"Aku bilang tidak ya tidak" sahut Yoan pergi meninggalkan gadis itu,
"Ahaa~ Yoan~" rengek Haara mengejar Yoan,
Yoan menghentikan langkahnya, Haara menarik bajunya.
"Kumohon~ aku sudah janji akan ikut dengan Alka dan Riza~" seru Haara memohon,
Haara mendengus kesal,
"Dasar jahat!" seru Haara,
Yoan memutar tubuhnya dan menyudutkan gadis itu ke dinding,
"Katakan sekali lagi" seru Yoan menyeringai,
"Kau jahat!" sahut Haara gugup,
"Begitukah? Baru saja aku ingin mengizinkanmu, tapi seperti nya aku sakit hati dengan ucapanmu nona" seru Yoan masuk kedalam kamarnya,
"Tu tunggu dulu!!" cegah Haara menghalangi jalan Yoan,
"Apa lagi?"
"A aku minta maaf atas ucapanku" seru Haara tegas,
"Tidak ku maafkan" sahut Yoan melangkah melewati Haara,
"Ahaa~ aku mohon~aku minta maaf dan izinkan aku ikut berkemah~" seru Haara kembali menjaga jalan Yoan, ia sedang memohon saat ini,
"Kau ingin mendapat izinku, nona?"
"I .. Ya" sahut Haara ragu, ia merasa ada yang aneh dari tatapan pria itu,
Yoan menatap Haara dekat sambil memegang dagu Haara,
Haara membelalakkan matanya dengan tindakan Yoan, pria itu menyeringai,
"Apa yang akan kau lakukan nona? Jika aku mengizinkan mu?" tanya Yoan,
"Dasar mesum!!" seru Haara melarikan diri,
Tak!
Yoan menarik tangan gadis itu,
"Apa kau bilang?" tuntut Yoan
__ADS_1
"Kau . Mesum!" sahut Haara menekankan kalimatnya,
Yoan terkekeh mendengarnya,
"Tadi kau mengatai ku jahat, baru saja aku mencontohkan menjadi seorang pria jahat padamu tadi, dan kau kembali mengataiku, 'dasar mesum' Haara" seru Yoan,
"Apa kau juga ingin aku berubah menjadi pria mesum, nona?" seringai Yoan,
Haara membelalakkan matanya terkejut,
"Yo Yoan! A aku bercanda, oke?" takut Haara mencoba melepaskan genggaman Yoan,
"Ah, sepertinya aku tak bisa menganggap itu sebuah candaan" sahut Yoan menaikkan sebelah alisnya,
"Sepertinya kau tak memiliki rasa ragu dan takut saat masuk kedalam kamarku ya" seru Yoan tersenyum,
Haara gelagapan saat itu juga, fikirannya kalang kabut saat itu juga,
Ia melihat sekelilingnya. Benar saja, ia tak sadar jika dirinya sudah masuk kedalam kamar pria itu,
"A aku tidak tahu jika aku sudah masuk ke dalam kamar mu" gelagap Haara,
"Begitukah? Apa kau sedang beralasan" senyum Yoan menggoda,
Deg!
Jantung Haara berdegup kencang saat melihat senyum menggoda pria itu,
Wajahnya terasa panas sekali, dengan cepat ia menutup wajahnya,
"Aku serius~ i itu karena kau tak mengizinkan ku ikut acara perkemahan itu, jadi aku tak sadar masuk kedalam kamarmu~, tolong jangan macam macam padaku~ aku masih anak sekolah, izinkan aku keluar ku mohon~" seru Haara dengan nada memohon,
"izinkan kamu keluar apa izinkan kamu ikut berkemah? pikuh salah satu" seringai Yoan
"huwaaa~ jangan menakutiku!! aku takut!!" histeris Haara,
Yoan tertawa saat itu juga,
Perlahan tangan Haara turun dari wajahnya, menatap pria itu yang entah kenapa tertawa,
"Ternyata menggodamu itu adalah sebuah hiburan sekali bagiku" tawa Yoan,
Haara ternganga mendengarnya,
"Ap apa??!"
"Apa kau setakut itu tadi" kekeh Yoan,
Haara mengerjapkan matanya tak percaya,
"Tentu aku ketakutan! Nyatanya aku tak pernah percaya dengan ucapan seorang pria, saat kau berjanji padaku untuk tidak macam macam padaku, aku tidak sepenuhnya mempercayai ucapanmu!"
Yoan menjilat bibirnya yang kering,
"Hahh~ kau benar, jangan mempercayai diriku"
"Eh?"
Yoan memijat pelipisnya,
"Aku ingin tidur, bisakah kau kembali ke kamar mu?" seru Yoan melepaskan tangan Haara
"Ah mm iya, baiklah" sahut Haara pergi,
• • •
Haara membaringkan dirinya, fikirannya larut dengan ucapan pria itu tadi
'Jangan mempercayai diriku'
"Padahal aku hanya bercanda saja, apa dia marah?" tanya Haara pada dirinya sendiri,
Ia melirik ke meja nakasnya, ia mangambil ponsel barunya,
"Padahal aku tak minta, ia berinisiatif membelikan ponsel baru untukku" hela nafas Haara,
"Apa jangan jangan ia marah karena aku memaksanya untuk mengizinkanku ikut berkemah ya? huwaa~" rengeknya,
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏