
"Kenapa tak cerita padaku saja?" tanya Haara
"Masalahku sulit untuk kau pahami, kau tak akan mengerti mengenai .. Pekerjaanku"
"Setidaknya dengan cerita fikiranmu tak begitu terbebani, dan juga siapa tahu aku bisa memberimu ide atau sesuatu yang membantu" sahut Haara serius,
Yoan mengangguk sambil terkekeh
"Jika kau tak bisa memberikan solusi padaku, apa yang akan kau lakukan?" tanya Yoan
"Pasti bisa, waktu itu saja aku pernah membantumu mengurut kan halaman isi dokumenmu, dan juga membantumu mengetik pekerjaanmu di laptop" sahut Haara yakin
"Ya ya ya, aku tahu itu, baiklah aku akan cerita padamu" seru Yoan menyerah,
"Apapun?" tanya Haara memastikan,
"Ya, apapun itu" kekeh Yoan,
Haara yang mendengarnya senang,
"Apa kau selalu ingin tahu seperti ini? Seperti mengetahui masalah orang lain?" tanya Yoan penasaran,
"Tidak juga, mengetahui urusan orang lain tidaklah penting" sahut Haara,
"Lalu? Kau ingin mengetahui urusan ku, apa itu penting?" tanya Yoan lagi mengangkat sebelah alisnya,
"Penting" sahut Haara
"Kenapa penting?" tanya Yoan menatap Haara serius,
"Mm karena .. " gantung Haara
Yoan menatap Haara serius,
Haara memajukkan tubuhnya, Yoan yang senantiasa masih menatap Haara mengerutkan keningnya bingung
"Kau suamiku" bisik Haara dan kembali duduk
Yoan yang mendengarnya tak bisa berkata kata,
"Karena aku belum mengenalmu sepenuhnya, baru bertemu sudah ditunangkan saja, bahkan aku tak tahu kau orang yang seperti apa, apakah kau orangnya seperti ini, atau seperti itu, jadi itu menjadi dorongan tersendiri untukku untuk mencaritahu tentangmu" jelas Haara
"Lalu?" tanya Yoan menyeringai,
"Lalu .. Apa?" tanya Haara bingung
"Apa aku sesuai apa yang kau fikirkan?"
"Tidak" sahut Haara polos,
"Lantas, apa yang kau fikirkan dulu mengenaiku?" tanya Yoan penasaran,
"Kau .. Seperti pria yang lainnya, saat pertama bertemu denganmu bahkan kau mentertawaiku saat bicara menggunakkan bahasa Inggris, itu sangat memalukkan mengetahui kau bisa berbahasa Indonesia" jelas Haara cemberut,
Yoan yang mengingat kejadian saat itu pun tertawa
"Tuh kan, kau menertawakanku!"
"Karena kau bodoh sekali saat itu, jika tak bisa menggunakan bahasa Inggris kenapa harus bicara bahasa Inggris?" kekeh Yoan,
"Karena wajahmu itu bukan wajah orang orang Indonesia pada umumnya tahu! Aku tak akan mengajakmu bicara jika hamburger kesukaanku tertukar denganmu!" sahut Haara kesal,
"Iya, aku mengira itu hamburger pesananku, karena hanya ada aku disana" jelas Yoan
Haara mendengus pelan.
●•●•●•●•●
Hari telah menjelang malam, jam telah menunjukkan jam 7 malam, mereka baru selesai makan
"Yoan, kamu keluar duluan saja, aku mau cuci tangan dulu" seru Haara,
Yoan mengangguk,
"Aku akan bayar, aku akan tunggu diparkiran" sahut Yoan
Haara pun mengangguk dan melangkah pergi.
• • •
Haara keluar dari toilet di lestoran itu, lestoran yang ramai membuatnya sedikit terkejut, pasalnya tadi tidaklah seramai tadi
Ia melangkah keluar dari lestoran.
Hembusan angin malam berhembus dingin, udara malam sangatlah menyegarkan,
"Katanya menunggu diluar, kemana ya Yoan?" tanyanya pada diri sendiri sambil menatap sekitar,
Tatapannya terfokus pada Yoan yang sedang jongkok di samping jalan parkiran,
__ADS_1
"Sedang apa ia?" tanya Haara pada dirinya melangkah menghampiri Yoan.
Haara tersenyum saat melihat Yoan yang sedang bermain dengan seekor kucing disana
Haara pun jongkok disamping Yoan,
"Kau menyukai kucing ya?" tanya Haara lembut,
Yoan melirik Haara sekilas,
Yoan mengangguk sambil tersenyum melihat tingkah kucing itu,
"Kenapa tak memelihara kucing saja jika kau menyukainya?" tanya Haara,
"Itu merepotkan" sahut Yoan melihat kucing itu pergi,
Yoan bangkit berdiri,
"Jika kau menyukai nya kau juga harus siap direpotkan untuk memberinya makan, perawatan dan semacamnya" sahut Haara juga ikut berdiri,
"Aku tak merasa direpotkan akan hal itu" sahut Yoan
"Lalu? Kau merasa direpotkan akan apa?" bingung Haara
"Repot jika aku memiliki sikap terlalu perduli dan ingin memiliki, aku tak ingin kehilangan atau ditinggalkan pergi setelah aku sudah sangat menyukainya, itu akan merepotkan diriku sendiri, aku benci itu" sahut Yoan
Haara terdiam tak menyahut,
"Lebih baik aku tidak perduli sama sekali dan tak memiliki keinginan untuk memiliki, daripada ujungnya harus kehilangan" tambah Yoan,
'Apa yang dimaksud ucapannya itu adalah .. Irene?' batin Haara.
●•●•●•●•●
Suara pintu Penthouse terbuka, Haara memberikan jalan pada karyawan yang mengantarkan koper nya dan koper milik Yoan,
Haara mengucapkan terima kasih pada karyawan itu sebelum pergi.
"Biar ku bawakan" seru Yoan membawa koper milik Haara ke lantai atas
'Entah aku harus bahagia atau sedih saat ini, perasaanku tak menentu' batin Haara mengekori Yoan.
Yoan menyimpan koper Haara didalam kamar gadis itu,
"Kau kenapa?" tanya Yoan melihat wajah gadis itu terlihat lesu,
Yoan mengangguk paham,
"Langsung tidur, besok sekolah, jangan sampai kau kesiangan" peringat Yoan,
Haara mengangguk,
Yoan melangkah keluar dan menutup pintu kamar Haara, seketika itu pula senyum Haara memudar,
"Apa ia masih menyukai Irene ya?".
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Hari telah menjelang pagi, Haara pun telah siap memakai seragamnya dan juga moodnya yang sangat baik pagi ini, ia bersenandung saat keluar dari kamarnya.
Ia melangkah turun ke lantai dasar penthouse nya,
Haara mengambil roti dan mengoleskan selai coklat di roti yang ia pegang,
Ia tersenyum saat melihat Yoan yang turun tangga dan melangkah menghampirinya,
Yoan menduduki dirinya di kursi bar tepat di sebelah Haara,
"Ini" seru Haara menyodorkan dua tumpukkan roti selai coklat kacang kesukaan pria itu,
Yoan menatap roti yang gadis
itu sodorkan dan Haara bergantian
"Ini selai kacang dan selai coklat" ucap Haara yang paham tatapan pria itu,
Yoan mengambil roti itu dan memakannya,
Haara pun membuat coklat panas untuk pria itu dan untuk dirinya,
Haara meletakkan secangkir coklat panas didepan pria itu,
__ADS_1
"Esok aku tak bisa menjemputmu" seru Yoan,
"Kau lembur?" tanya Haara duduk di kursi bar samping pria itu,
"Aku ingin menemui dokter Wang" sahut Yoan,
Haara yang mendengarnya sedikit terkejut,
"Apa kau masih mimpi buruk mengenai traumamu?" tanya Haara panik,
"Tidak, aku hanya harus konsultasi saja, jadwal nya sampai jam empat sore, namun ia menyempatkan waktu untukku" jelas Yoan,
Haara bernafas lega mendengarnya,
"Sudah belakangan ini aku tidak bermimpi lagi, aku merasa lega saat menyadarinya" seru Yoan bercerita,
"Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya, semoga dengan hal ini dokter Wang memberi kabar baik tentang traumamu akan sembuh" sahut Haara senang mendengarnya
Yoan tersenyum menatap Haara yang terlihat senang itu.
●•●•●•●•●
Yoan menghentikkan mobilnya didepan gerbang sekolah istrinya, banyak siswa yang melirik ke mobilnya, hal itu membuat Yoan heran,
"Kenapa mereka?" gumam Yoan
"Mungkin mereka terkejut melihat kau mengantarku ke sekolah lagi" sahut Haara,
Yoan menatap Haara disebelahnya heran,
"Mereka berfikir jika aku sudah putus denganmu, karena selama lima hari waktu itu kau tak mengantarku lagi ke sekolah" jelas Haara,
Yoan yang mendengarnya menghela nafasnya kasar,
"Ya sudah aku turun, berhati hatilah di jalan" peringat Haara,
Yoan mengangguk, dan Haara pun turun dari mobil
Suara klakson mobil Yoan berbunyi, Haara melambaikan tangannya dan juga tersenyum manis melihat kepergian mobil Yoan.
"AtHaara!!~" panggil seseorang,
"Vika?"
"Wah, sudah lama baru melihatmu diantar lagi sama cowok mu, banyak yang mengira kau sudah putus lho"
"Putus?? Ah menggelikan sekali, bahkan kami akan bertunangan mana mungkin kami putus" tawa Haara,
"Benar juga sih, lalu apa kalian bertengkar kemarin - kemarin itu?" tanya Vika menggandeng Haara saat berjalan,
"Tidak, ia pergi ke Jepang" sahut Haara
Vika mengangguk angguk paham,
"Oleh oleh apa yang kau dapat dari dia??"
Haara terdiam sejenak saat mendengarnya,
"Oleh .. Oleh?"
"Iya, oleh oleh dari Jepang, pasti dia membelikan mu oleh oleh padamu dong"
"Mm, hadiahnya ada dirumah" sahut Haara
"Wah apa itu?"
"Mm boneka"
"Uu lucu deh, sewaktu waktu jika kau merindukkan nya tinggal peluk saja bonekanya, iya tidak?" goda Vika
Haara yang mendengarnya tertawa kaku, pasalnya dia tak mendapat hadiah apapun dari pria itu.
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤