
Hari-hari yang cukup melelahkan sekali.
Kini liburan telah menginjak hari ketiga dan saat ini waktu perjalanan untuk pulang.
Berusaha untuk terlihat baik-baik saja itu sangat melelahkan.
Tubuh yang sangat lemas dan sebagainya kini dapat dirasakan ditubuh Haara yang hanya bisa menghabiskan waktu tidur dan tidur saat perjalanan pulang.
Setiap pagi beruntung selalu ada acara yang di buat-buat di luar penginapan, hingga saat rutinitas muntah di pagi Haara tidak di ketahui siapapun.
Perjalanan pulang tidaklah memakan waktu tiga sampai lima jam, melainkan hingga tiga belas jam lebih, utama sekali menaiki kereta dan kembali ke lingkungan sekolah menaiki bus.
"Dia terlihat semakin kelelahan sekali, coba cek Haara sakit tidak." khawatir Riza.
Alka dengan perlahan meletakkan punggung tangannya di kening Haara, suhu tubuhnya normal.
"Suhu tubuhnya normal kok." sahut Alka bingung.
"Kalian ... Sedang apa?" tanya Haara dengan suara pelan sekali.
"Kamu baik-baik saja?? Kau terlihat kelelahan sekali, kau sakit??" tanya Alka.
"Aku kelelahan saja kok, tak usah khawatir." sahut Haara memejamkan matanya.
"Tapi kelelahanmu seperti tak biasa, kau sungguh baik-baik saja??" khawatir Riza.
"Aku baik Riza~ Alka~ tak perlu khawatir ya?" senyum Haara.
"Syukurlah." tenang Riza.
Haara melihat keluar jendela bus, ia menduduki dirinya tegak dengan tiba-tiba.
"Lho?? Baru tadi kita turun dari kereta! Sekarang sudah hampir sampai??!" terkejut Haara.
"Kau tidur lelap sekali tadi, kau pasti tak sadar." sahut Riza.
Haara dengan cepat mengecek ponselnya.
"Aduh~ belum hubungi mama atau papa untuk jemput! Bagaimana ini~" panik Haara.
"Ikut dengan aku atau Alka saja ya pulangnya, aku di jemput Rafa sepupuku." seru Riza.
"Hahh~ baiklah, aku ikut kamu." lega Haara.
Haara menatap layar ponselnya.
Tidak ada notifikasi dari pria itu.
Seminggu sebelum ia pergi ke Bali, tidak ada kabar dari pria itu, dan kini selama ia di Bali dan sampai kembali ke Jakarta tak ada kabar juga dari pria itu.
Ia sedikit kesal namun berusaha untuk memahaminya meski terasa sulit, ia sungguh sangat merindukan sekali pria itu.
"Katanya sudah beli ponsel, tapi dia tak menghubungiku sama sekali! Meneyebalkan!" kesal Haara.
●•●•●•●•●
Bus pun telah berhenti tepat di area parkiran sekolah.
Semua siswa dan siswi pun berhamburan turun mengambil koper mereka masing-masing di bagasi bus dan pulang.
Haara memijat pelipis nya, ia menatap Yifan yang membantunya mengeluarkan koper di dalam bagasi bus.
"Riza, Haara akan pulang denganku, aku di jemput kak Yuu, kau di jemput siapa? apa mau bareng sama kami?" tanya Yifan pada Riza.
"tidak, aku di jemput sama Rafa, aku lagi tunggu Rafa kesini, Alka di jemput kak Aldo?" tanya Riza.
"Iya, ia juga akan jemput kesini juga, aku disuruh tunggu di sini." sahut Alka.
"Yifan, Itu Yuu." seru Haara melihat Yuu melangkah mendekat.
"Yo! Kak Yuu!" panggil Yifan.
"Wah! Ramai sekali, aku kira aku akan kesasar." seru Yuu melihat sekeliling.
"Bodoh jika kau kesasar." oceh Yifan.
"Sial kau!" kesal Yuu menendang bokong Yifan.
Haara, Riza, Alka yang melihat pertengkaran Yuu dan Yifan tertkekeh melihat tingkah mereka.
"Rafa! kak Aldo!" panggil Alka.
"Akhirnya ketemu." seru Aldo.
"Sesulit itukah mencari kami?" tanya Riza.
"Disini ramai sekali dan minim cahaya, kami kesulitan mencari kalian." sahut Rafa.
"Hey Haara, lama tak jumpa." seru Aldo pada Haara.
"Ahaha! Iya kak Aldo lama tak jumpa, Rafa juga." senyum Haara.
"Hehe iya, bagaimana kabar mu?" tanya Rafa.
"Baik kok Raf, bagaimana denganmu?" tanya Haara.
"Baik juga." sahut Haara.
__ADS_1
"Raf, langsung pulang, kan? Gak jadi ke rumah teman mu bawa Riza kan?" tanya Yifan.
"Iya langsung pulang, sudah malam, aku akan pergi besok saja." sahut Rafa.
"Oh oke, ayo balik!" seru Yifan pada Yuu.
"Sebentar." sahut Yuu fokus pada ponselnya.
"Haara, akhirnya masih belum pulang~" seru Diana yang entah sejak kapan datang mendekat.
Semua nya pun menatap Diana dan Vika yang menghampiri Haara.
"Iya belum Vik, ada apa?" tanya Haara bingung.
"Charger mu ini, aku lupa, maaf ya." tak enak Vika.
"Eh? Iya gapapa, aku juga lupa." kekeh Haara.
"Ya sudah kami duluan ya?" seru Vika mencuri-curi pandang pada Yuu.
"Iya, berhati-hatilah, sampai jumpa lagi." sahut Haara.
"Hehe iya, Diana, ayo~" seru Vika menarik Diana yang fokus menatap Yuu.
"E-eh iya, bye bye AtHaara." senyum Diana.
Yifan menatap Yuu yang seperti orang kehilangan seseorang, sesekali Yuu menatap sekeliling, menatap keramaian.
"Ngapain sih?? Nunggu kak Hanabi?" tanya Haara menatap Yuu yang fokus pada keramaian
"Bukan, nunggu dia." sahut Yuu tersenyum pada seseorang itu.
Haara mengikuti arah pandang Yuu,
Deg!
Seketika mata Haara membelalak.
"Oh my god!" terkejut Alka.
"Rafa nonton drama dulu, sebentar ya." seru Riza.
"Drama?" bingung Rafa.
Haara menutup mulutnya tak menyangka, air matanya pun kini telah keluar dari pelupuk matanya dan membanjiri wajah cantik gadis itu.
Dengan setelan celana jeans hitam dan baju lengan pendek berwarna hitam dan topi berwarna merah, Haara dapat mengenali siapa pria itu.
Terlihat seseorang itu membuka topinya dan menampilkan rambut pirang coklat alami seseorang itu.
Tangis Haara semakin pecah saat melihat jelas wajah dan seseorang yang sangat ia rindukan kini berada di hadapannya yang kurang lebih empat meter di tempat ia berdiri saat ini.
"Yoan~" isak Haara.
Dengan perlahan Haara melangkah dan berlari menghampiri Yoan.
Grep!!!
Haara memeluk Yoan erat.
"Hey~ ada banyak yang nontonin lho~" tawa kecil Yoan mencoba menatap wajah Haara yang bersembunyi di dada bidang nya.
"Tak perduli!! hiks hiks!!" tangis Haara.
Yoan tak bisa menahan rasa gemas nya, ia membalas memeluk Haara sambil mencium pucuk rambut Haara sayang.
"Yoan! kau jahat! Kau jahat tak mengabariku! Padahal sudah beli ponsel baru! Nyebelin!!" seru Haara memukul dada bidang Yoan.
"Ahahah! Maafin aku ya? Ponsel baru ku belum aku sentuh sama sekali, aku benar-benar sedang fokus membereskan semuanya dan kembali secepatnya ke Indonesia, untuk segera bertemu denganmu." jelas Yoan mengusap air mata Haara.
"Hiks hiks, aku rindu sekali padamu~" tangis Haara memeluk Yoan lebih erat.
"Aku jauh lebih merindukanmu." sahut Yoan.
"Hoi! Hoi! Jadi tontonan hoi!" seru Yifan menghampiri Haara dan Yoan.
"Sampai tak tahu tempat kalian." seru Yuu melihat orang-orang di sekeliling yang terbawa suasana.
Haara perlahan melepaskan pelukkannya pada Yoan, ia melihat sekeliling, ia benar-benar di pertontonkan.
"A-Alka dan Riza sudah pulang?" tanya Haara gugup.
"Sudah, mereka bilang mereka duluan dan titip salam padamu." sahut Yuu.
"Ahh~" salah tingkah Haara.
Srtt!
Haara mendongak menatap Yoan yang kembali menariknya ke dalam pelukan pria itu, pria itu mengelus-elus rambut Haara sayang.
"Aku akan traktir kalian makan, kalian mau?" tanya Yoan pada Yuu dan Yifan.
"Sungguh?? Wah! Tentu mau!" sumrigah Yuu.
"Hm, Yuu kau duluan keluar saja, sepertinya mobilmu sulit keluar." seru Yoan.
"Let's go! Kak Yuu, kau parkir mobil di mana memangnya??" tanya Yifan.
__ADS_1
"Di pojok."
"Pojok mana?"
"Ada di pojok dekat tembok, aku akan menunggu di luar gerbang." seru Yuu pada Yoan dan melangkah pergi.
"Hm."
"Jangan lama-lama, kami tunggu di luar gerbang oke." ucap Yifan mengejar Yuu dengan koper yang ia bawa.
• • •
Yoan menunduk menatap Haara yang senantiasa menatapnya.
Yoan mengedipkan sebelah matanya, hal itu sontak membuat Haara tak kuat menatap pria itu, ia tersipu malu.
"Kenapa nunduk? Katanya rindu sama aku? Tatap aku lagi saja, aku tak keberatan jika kau yang menatapku." goda Yoan.
"Ngga mau! malu." sahut Haara menahan senyumnya.
Pria itu terkekeh saat melihat tingkah Haara di pelukannya yang malu-malu.
"Kita makan dulu ya? Kau pasti lapar." seru Yoan lembut.
Haara mengangguk.
Yoan memakaikan topi miliknya pada Haara.
"Kau mau makan apa?" tanya Yoan membungkukkan tubuhnya untuk menatap wajah Haara.
"Aku ingin ... Pizza!" antusias Haara.
"Baiklah! Kita makan pizza." sahut Yoan mengambil koper yang Haara pegang, ia menggenggam tangan Haara erat dan melangkah pergi.
Senyuman Haara tak sedikit pun luntur saar ini, seakan rasa lelahnya tadi telah hilang sepenuhnya, ia sungguh sangat senang sekali malam ini.
Haara pun dengan inisiatif merangkul tangan Yoan, bersandar di tangan Yoan yang ia rangkul.
"lelah ya?" tanya Yoan.
"tadinya, tapi saat tahu kau kasih kejutan kepulanganmu lelahku hilang." senyum Haara.
"sungguh tak lelah?" tanya Yoan.
"iya tak lelah, sungguh!" sahut Haara serius.
Yoan menghentikan langkahnya, ia membisikkan sesuatu pada Haara.
"berarti sepulang makan, malam ini juga tak masalah ya?" bisik Yoan.
"maksudnya?" tak paham Haara.
"bersenang-senang denganmu malam ini, kita melepas rindu satu sama lain, bagaimana? aku tak terima penolakan~" bisik Yoan dengan suara baritonnya.
Haara yang mendengarnya mengerjapkan matanya beberapa kali.
glek!
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."suprise!!! Yoan come back!😻 gimana pendapatnya di part ini nih? tulis di komentar ya😉"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐