
Yoan membuka pintu apartemennya, ia mempersilahkan Haara masuk terlebih dahulu.
Haara kini telah di perbolehkan keluar dari rumah sakit dan kini mereka telah kembali ke apartemen di saat hari akan menjelang siang.
Haara menatap Yoan yang tak kunjung masuk.
"Kamu kenapa diam saja di depan pintu?" tanya Haara.
"Aku .. harus mengantar motor kepada pihak penyewa, kamu .. tak apa jika ku tinggal sendiri?" tanya Yoan ragu.
Haara terdiam sejenak, ia pun tersenyum dan mengangguk pada pria itu.
"Aku tak apa-apa kok, pergilah." senyum tulus Haara pada Yoan.
Yoan mencium kening Haara sebelum pergi, namun langkah nya tertahan dengan Haara yang menahan tangannya.
"Tunggu dulu." seru Haara.
Yoan mengalihkan pandangannya menatap tangan Haara yang menarik resleting jaket hoodie nya hingga ke atas.
"Diluar dingin, jangan ngebut-ngebut ya? Jalanan pasti licin, pelan-pelan saja, yang penting selamat." seru Haara mengingatkan.
Yoan merasa tersentuh dengan perhatian Haara padanya.
Yoan mengangguk,
"Terima kasih ya, akan ku ingat pesanmu." seru Yoan lembut.
Haara tersenyum, ia menatap Yoan yang melangkah menjauh darinya.
Ia menutup pintu nya dan menghela nafasnya dari mulut.
Haara merasa lega dengan sikap Yoan yang tak menampakkan pria itu sedang marah padanya.
"tak apa, yang penting bisa merayakannya malam tahun baru bersama Yoan dimana pun berada." senyum Haara mencoba pasrah, ia rela impiannya tak bisa terlaksana.
"Lebih baik aku mengemas barang-barangku untuk besok ke bandara." senyum Haara melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Langkah nya terhenti saat melihat 3 kantong plastik pembalut yang pria itu beli malam itu.
"Ahhh~ stok satu tahun, tapi ... apa aku juga akan membawanya terbang ke Indonesia?" tatapan kosong Haara.
• • •
Memakan waktu setengah jam, akhirnya ia telah selesai mengemas baju-bajunya dan juga ikut mengemas puluhan pack pembalutnya dalam kopernya.
"Sayang jika di tinggal disini, lumayan buat oleh-oleh." seru Haara tersenyum sambil menepuk-nepuk kopernya.
Gadis itu teringat sesuatu, ia merogoh saku jaketnya.
Ia membuka lockscreen ponsel nya, ia mengerutkan keningnya bingung.
"Lho? Inikan ponselnya Yoan, ponselku ... aduhh~ jangan-jangan ponselku dengannya tertukar lagi?" hela nafas Haara kasar.
"Oh iya, ponsel ku dengannya itu memiliki type dan merek yang sama, pantas saja aku dan Yoan tak menyadari jika ponsel ku dengannya tertukar~" ingatnya.
"Aduhh~ padahal sudah janjian mau video call an bersama tadi, apa Yoan mengangkat video call dari mereka ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Suara pintu terbuka terdengar, sontak Haara melangkah keluar dari kamar.
Benar saja itu adalah Yoan.
"Ponselmu dan ponselku tertukar ternyata, aku baru menyadarinya saat ada panggilan masuk dari temanmu." seru Yoan menyodorkan ponsel milik Haara.
"Kau mengangkat video call dari mereka?" to the point Haara.
Yoan membuka jaketnya yang basah itu dan melampirkannya di kepala sofa.
"Mereka sangat berisik, spam sekali! jadi aku mengangkatnya." seru Yoan memeluk Haara erat dan menyembunyikan kepalanya di pundak Haara.
"Eh? Tubuh kamu dingin sekali Yoan." seru Haara mencoba memegang tangan pria itu yang memeluknya erat.
"Salju kembali turun tadi, saat aku berangkat salju tak di sangka turun lebat." sahut Yoan dengan suara beratnya.
"Baju mu basah, mandi dengan air hangat sana, nanti masuk angin." khawatir Haara.
"Sebentar~ tubuhmu hangat sekali~" sahut Yoan pelan.
Haara terkekeh menanggapi sikap manja suaminya itu padanya.
"Baiklah, hanya sebentar saja." kekeh Haara mengusap-usap rambut Yoan yang masih memeluknya.
Drrt!! Drrt!! Drrt!!
Haara mengangkat ponselnya dan menatap layar ponselnya menampilkan Alka dan Riza menelfonnya untuk bergabung dalam video call.
"Yoan, sudah ku beri waktu sebentar, searang pergi mandi air hangat sana, aku ingin angkat video call dari mereka dulu ya." seru Haara lembut.
Pria itu perlahan melepaskan pelukannya.
Terdengar pria itu menghela nafasnya kasar.
"Kami sudah janjian akan ber video call bersama, maka dari itu mereka terus memberi spam padaku untuk mengangkat video call dari mereka." jelas Haara berinisiatif menjelaskan
Yoan menatap Haara dengan ekspresi merajuk.
"Kenapa hm?" tanya Haara menahan gemas pada Yoan.
"Mereka menganggu kenyamananku sekali, menyebalkan sekali." sahut Yoan melangkah meninggalkan Haara.
Haara mengangkat undangan video call nya dari Alka dan Riza.
Haara tertawa kecil menanggapi ucapan Yoan yang merajuk padanya.
"Diangkat juga." seru Alka di panggilan video call.
"Gabung ke dalam video call langsung ketawa katawa gitu, sedang mengeprank kami ya kamu ga angkat-angkat undangan video call dari kami ya??" tanya Riza curiga.
"Ah! Tidak, aku menertawai Yoan yang menggerutu karena kalian." tawa Haara menduduki dirinya di sofa.
__ADS_1
"Menggerutu karena kami?? Kenapa??" tanya Alka.
"Karena kalian benar-benar spam sekali katanya, menganggu kenyamanan nya." tawa Haara lagi.
"Aduh~ kami merasa tak enak, tapi siapa suruh ia membawa ponselmu coba." sahut Riza.
"Ponsel kami tak sengaja tertukar." sahut Haara.
"Ahh~ hey, kau kapan pulang? Aku ingin pergi libuaran bersamamu dan Riza ke pantai sebelum masuk sekolah lho~" rengek Alka.
"Ke pantai?" tanya Haara.
"Ya, aku dan Alka punya recana seperti itu, aku juga akan mengajak Yifan dan Rizal juga." jelas Riza.
"Apa ini tema nya berpasang-pasangan??" tanya Haara terkekeh.
"Bisa dibilang seperti itu."-Riza.
"Hey! Tidak! Masa iya aku sama Rizal?? No no no!" tolak keras Alka.
"Ah masa? Berarti aku juga ajak kak Yoan ikut dong??" tanya Haara menggoda Alka.
"Ihh! Ngga ngga, ya sudah batal saja ajak Rizal nya! Ajak sepupu kak Yoan saja, siapa tuh namanya? Ah! Ajak kak Yuu saja biar pasangannya denganku!" bersikeras Alka.
"Tidak boleh, kak Yuu sudah punya tunangan." sahut Haara cepat.
"Ha??"-Riza.
"Serius??"-Alka.
"Ya, saat kami di Jepang, ia bertemu dengan tunangannya, tunangannya orang Jepang! Aku lupa namanya, jadi tak boleh ya~ Zhao Cheng Yuu sudah sold out!" tawa Haara,
"Mamam tuh~" ledek Riza.
"Huwaa~ sold out! Padahal aku mau daftar jadi adik iparmu juga Haara, masa Riza saja? Itu tak adil untukku~" histeris Alka.
"Nanti biar aku tanya Yoan saja, apa ia memiliki sepupu lain selain dua anak itu atau tidak ya~" kekeh Haara.
"Tidak ada, semua sudah sold out."
Haara menatap ke belakangnya, Yoan kini sudah selesai mandi, pria itu kini memakai baju hitam oversize dan celana levis cream pendek selutut,
"Tuh! Langsung di jawab sama orangnya." tawa Haara mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya yang di tunjukkan pada Yoan sekilas.
"Kak Yoan itu? Kasep pisan euy~" seru Alka ternganga.
Haara dan Riza yang mendengar kalimat bahasa sunda sahabatnya itu tertawa geli.
"Ya ampun Alka~ gak berani puji langsung kamu ya??" tawa Riza geli.
"Whahahaha!!!! Apa apa Alka?? Ganteng?? Iya dong ganteng! Suami siapa dulu dong, suami AtHaara gitu lho~" tawa Haara sambil menyombongkan diri.
Yoan yang mendengarnya langsung mengalihkan fokus nya pada Haara, ia menghentikan gerakan mengaduk coklat panasnya.
"Wooooww~ serius nih AtHaara? Kemarin kemarin kamu malu-malu sewaktu kami godain, sekarang gak perlu di godain pun sudah nmengakui nya sendiri ya~" takjub Riza.
"Haara!!! Wah parah ini anak! Aku bicara pakai bahasa Sunda biar tak terlalu malu memuji kak Yoan! Kenapa malah di artikan apa arti ucapanku sih~" malu Alka.
Riza dan Haara tertawa geli mendengarnya.
"Seumur-umur lho Za! Aku baru lihat Alka malu, whahaha!!!" tertawa Haara geli,
"Benar! Kau punya malu ternyata!"" tawa Riza meledek Alka.
"Wah, kenapa berbalik aku yang di bully seperti ini? huh!" kesal Alka.
Pandangan Haara tak sengaja menangkap Yoan yang menatapnya dengan tatapan menggodanya.
Haara merapatkan biburnya untuk menahan malu pada pria itu.
Terlihat Yoan menaikkan sebelah alisnya membuat pertahanan Haara ambruk.
Haara menutup mulutnya menahan malu nya.
"Wihh~ sekarang sudah bisa langsung bangga banggain mas suami di depan mas suamimu langsung ya~ biasanya berani nya memujinya di depan aku dan Alka saja nih." goda Riza.
"Stt! Itu rahasia! Jangan bongkar rahasia ku dong~" malu Haara.
"Memuji? Memuji apa?" tanya Yoan.
Haara menatap Yoan yang membawa dua cangkir coklat panas melangkah mendekatinya.
"Nah benar tuh! Katanya ..." -Alka.
"Stt! Alka! Jangan! Jangan bilang kau mau balas dendam padaku karena tadi aku membocorkan arti kalimat bahasa sunda mu tadi padaku dengan membocorkan rahasiaku??!" panik Haara.
Yoan menunjukkan smirk nya sambil menatap Haara dalam.
"Huwaa! Kenapa pembicaraannya jadi melenceng begini sih!!?" panik Haara karena di tatap Yoan yang menuntut penjelasan.
"Ya kamu yang mulai~" tawa kemenangan Alka karena telah membalikkan keadaan.
"Enak saja! Kamu yang mulai Alka, kamu yang bilang kak Yoan kasep pisan, ya aku jawab dong artinya itu kak Yoan ganteng banget~" sahut Haara cepat.
Yoan memiringkan kepalanya untuk menatap Haara yang mencoba menghindari tatapannya.
"Ih Yoan~ ngapain sih ih~" malu Haara menutup wajahnya.
"Pantas saja telingaku suka berdengung, ternyata kau membicarakanku di belakang ya? Hm?" tanya Yoan menggoda Haara.
"Ngga sengaja Yoaaan~ habis mereka nanya-nanya!!" kualahan Haara.
"Hey hey hey! Enak saja asal nuduh!" tak terima Riza.
"Iya! Jangan bohong dong! Jujur dong Haara, padahal kamu yang selalu mulai untuk membicarakan kak Yoan, bilang kak Yoan tampan banget setiap hari nya lah, buat hati kamu dag dig dug saat melihat kak Yoan dan ..."- Alka.
"Stop Alkaaaaaaa!!" panik Haara.
"Aduh bucin bucin!! Haara bucin!!!" ledek Riza.
__ADS_1
Yoan yang mendengar perdebatan antara 2 lawan 1 itu tertawa geli.
Melihat tingkah Haara yang terciduk di depannya itu benar-benar merasa gemas sekali dengan gadis nya itu.
"Bagaimana rasanya?? Setelah mendapat pernyataan cinta dari mas pacar mbak Haara??" seru Riza.
"Wah, kau pun cerita juga pada mereka? Mengagumkan." takjub Yoan.
"Bukan .. huwaa!! Tolong bekerja samalah padaku~ nanti tak ku kasih oleh-oleh nih ya!" ancam Haara benar-benar buntu harus menjelaskan apa pada Yoan.
"Masa gitu itu ya?? Ga adil ga seru, huuu." tak terima Riza.
"Iya, harus bawa oleh-oleh nya dong, oleh-oleh pulang honey moon nya aku dan Riza nantikan lho." seru Alka blak blakkan.
Haara tertohok mendengarnya.
"Alka! Mulutmu minta di sumpel kaus kaki basah nih ya?!" Kesal Haara.
"Kenapa? Memang ada yang salah dengan ucapan Alka, Ra? Kau sendiri yang bilang kalau kalian pergi ke China itu untuk bulan madu kaaan??" tanya Riza ikut mengerjai Haara.
"Wah! Pendusta kalian berdua! Kapan aku bilang seperti itu hoi!!" panik Haara.
Haara melirik Yoan di sampingnya yang pura-pura tak mendengar, pria itu fokus pada secangkir coklat panasnya.
"Stt! Stt! Stt! Please jangan jadi pendusta huwaaa~" rengek Haara kualahan.
"kak Yoan, kau disana?" tanya Alka.
Haara dengan ragu mengarahkan layar ponselnya pada Yoan untuk bergabung dengannya.
"Ada apa?" tanya Yoan cuek.
"Kak Yoan, ingatlah! Haara itu masih anak SMA lho! Kami tahu kak Yoan itu sudah cukup umurnya buat jadi papa, tapi inget Haara masih anak SMA lho, buat baby nya di tunda dulu sampai Haara lulus dulu ya!" seru Alka blak blakan.
"Uhuk uhuk!!!"
Yoan yang mendengarnya terbatuk-batuk, ia tersedak saat menyeruput coklat panasnya.
"Alkaaa~ Ya ampun Yoan!" panik Haara menyimpan ponselnya sembarang tempat.
Riza dan Alka tertawa geli karena telah berhasil menggoda sepasang suami istri itu.
"Uhuk! Uhuk!! Uhuk!!!"
"Sebentar sebentar! Aku ambil air putih ya!" panik Haara mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Yoan.
"Minum dulu, pelan pelan." panik Haara.
Yoan meminum segelas air putih yang di berikan Haara.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" anya Haara khawatir.
Yoan mengangguk.
"Kaliaaan! Mulut kalian minta di sempel kaus kaki basah sungguhan nih ya! Kak Yoan sampai tersedak lho, Awas saja aku balas kalian!" kesal Haara mengambil ponselnya untuk kembali ke dalam video call.
"Ya ampun? Keselek beneran?? Kak Yoan maaf kak, kami cuma buat lelucon saja, sungguh!" seru Alka panik.
"Maaf ya kak Yoan, kamu sih Alka~" sahut Riza merasa bersalah.
Yoan memejamkan matanya.
"Kalian berdua~" seru Yoan menahan emosi nya.
"Kayanya aku di panggil mama deh, aku tutup ya video call an nya bye bye!!" seru Riza mengakhiri panggilan.
"Aku juga ya! Bye bye!!" seru Alka juga mengakhiri panggilan.
Haara menatap Yoan ragu.
'Lelucon? Cih, lelucon anak SMA yang menggelikan.' batin Yoan.
Yoan perlahan menatap Haara di sebelahnya.
"Seorang .. Papa ya?" seru Yoan menatap Haara.
Haara yang melihat tatapan Yoan pun merinding bukan main.
Glek!
...•...
...•...
...Author : " waduh Alka minta di sumpel beneran nih mulutnya😆 hayoo Yoan mau ngapain tuh Haara sampe merinding😆"...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋 Hai, kakak-kakak author hebat!👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa:...
...-Like...
...-Vote...
...-Rate 5 star...
...- komentarnya juga ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
__ADS_1