
Juan diam tak bisa berkata-kata, dia terdiam seketika.
"Perlu papa ketahui, banyak sekali pria yang menginginkan AtHaara, itu membuatku sangat takut sekali, sangat takut kehilangan putri kedua papa, aku tak mau itu terjadi padaku."
"Dan dengan amarah, rasa cemburu, dan rasa takut, aku melakukan hal itu pada Haara." jujur Yoan, Yoan mengepalkan tangannya kuat.
"Aku lakukan itu karena aku ingin buktikan dan meyakinkan diriku sendiri bahwa AtHaara adalah milikku, hanya milikku seorang, tak boleh ada pria yang mencoba merebut AtHaara dariku, tidak akan ku biarkan itu terjadi!" seru Yoan serius.
"Jadi pah, kenapa aku tak boleh menyentuh AtHaara sedangkan AtHaara adalah istriku? Bahkan tanpa paksaan, AtHaara memberikan dirinya padaku?" tanya Yoan.
Juan memejamkan matanya.
"AtHaara, kenapa kau mempercayai jika Yoan mencintaimu dan juga kenapa kau memberikan izin Yoan menyentuhmu?" tanya Juan.
"Karena aku mencintai Yoan, papa! Dan aku sangat percaya Yoan mencintaiku melebihi apapun! Maka dari itu ... Aku memberikan izin Yoan menyentuhku sesukanya." sahut Haara tersenyum tipis.
Juan terdiam sejenak, ia kini memahami nya.
"Dan bagaimana denganmu Yoan? Papa tak mau kau mengkhianati cinta yang telah di berikan putri keduaku padamu, bahkan juga aku ingin anak kalian tercipta karena kalian saling mencintai." tanya Juan membuka matanya menatap Yoan tajam.
"Aku sangat mencintai AtHaara melebihi AtHaara mencintaiku, pah."
Stephannie yang mendengarnya tersentuh dengan ucapan Yoan, begitu juga yang lain tanpa terkecuali Juan.
"Aku juga sangat mencintai calon bayi yang berada di dalam perut AtHaara, aku mencintai calon anak kami." senyum Yoan pada Haara.
Haara sungguh sangat terharu mendengar ucapan Yoan, ia sungguh ingin memeluk pria itu sekarang karena saking bahagia nya.
"Dia sungguh menuruni sikap ku Stephannie." seru Tao Ming bangga.
Stephannie terkekeh menyetujui ucapan suaminya itu.
Anna merangkul Ammar ikut terharu mendengar ucapan Yoan.
"Aku terharu mendengarnya, aku tak menyangka anak itu bisa mengatakan kalimat semengharukan itu, aku ingin sekali memukul tengkuknya." seru Anna.
"Memukul tengkuknya? Apa itu tak terlalu sadis untuk memuji ucapannya?" tanya Ammar bergidik ngeri.
"Memuji nya? Cih! Aku itu ingin memukul tengkuknya karena ia berani membuat adikku yang polos kini sudah tahu hal semacam itu!" kesal Anna mengepalkan tangannya.
"Ah, ayolah~ kasihanilah Yoan, dia itu pria dewasa lho." kasihan Ammar.
"Hey bibi paman, jangan bising." seru Yuu.
"Berisik kau!" omel Anna.
Lain sisi, Juan tersenyum tipis dengan tiba-tiba Juan memeluk Yoan sambil menepuk-nepuk pundak Yoan.
"Papa sangat senang mendengar jawabanmu Yoan menantuku, papa hanya mengetes mu saja, tak disangka jawabannya sungguh sangat memuaskan papa sekali." seru Juan senang.
Perlahan Yoan merasa lega, ia membalas pelukan papa mertua nya erat.
"Aku hanya mengutarakan kenyataannya pah." sahut Yoan.
"Papa ucapkan selamat untuk kalian berdua, selalu berikan cinta pada istrimu dan anakmu, mengerti?" tanya Juan mengakhiri pelukkannya.
"Aku mengerti papa, itu pasti." sahut Yoan lembut.
"Lucy, kita akan mendapat dua cucu! Tao Ming, Stephannie, kita mendapatkan cucu!" tawa bahagia Juan.
Seketika ketegangan pun sirna.
Semua pun bahagia telah mendengar berita kehamilan Haara.
"hahh~ berarti jika kau sangat mencintai putri papa, apapun kau bisa kau korbankan, iyakan?" tanya Juan.
Haara mengerutkan keningnya bingung.
"Korbankan apa pah?" tanya Haara.
Yoan menelan saliva berat, ia hampir melupakan hal penting yang satu ini.
Juan terkekeh.
Puk!
Juan menepuk pundak Yoan yang tegang.
"Kenapa tegang begitu Yoan? Sesuai perjanjian lho." goda Juan.
Haara menatap Yoan yang gelagat nya berubah aneh.
"Yoan di sunat pakai gunting rumput ya pah!?" antusias Anna berdiri tiba-tiba membuat Ammar terkejut.
__ADS_1
"Seratus untuk putri papa!" tawa Juan menatap Anna.
Glek!
"Ppfft!!" tahan tawa Yifan, Yuu, Finn dan Ammar bersamaan.
Yoan mematung seketika, tubuhnya menegang seketika.
"Lucy, ambilkan gunting rumput di taman." seru Juan.
CTAZZZ!!
Seperti sebuah dambaran saat mendengarnya, seketika tubuh Yoan merinding mendengarnya.
"Siap papa!" sahut Lucy bangkit berdiri.
Haara menutup mulutnya menahan tawanya, sungguh ekspresi Yoan sungguh sangat mengemaskan saat ketakutan seperti saat ini.
"Ee .. Pah, sungguh tidak lucu pah~" seru Yoan takut.
"Pria sejati tak akan mengingkari janji bukan? Lucy cepatlah ambil." seru Juan.
Haara tak bisa menahan tawa nya, ia pun bangkit berdiri, namun dengan cepat Yoan meletakkan keningnya di pundak Haara.
"AtHaara, tolonglah aku~" rengek Yoan pelan.
Haara tertawa terbahak-bahak saat mendengar Yoan merengek sambil memeluk nya erat.
"Wah! Rekam rekam! Yoan merengek! Perdana sekali! Kau dengar itu Anna??!" antusias Ammar.
"Ayolooo sunat sama papa loh Yoaan~" goda Anna.
Semua orang tertawa melihat tingkah perubahan drastis Yoan seperti serorang anak kecil.
"Papa bercanda Yoan, mana mungkin papa mau sunat kamu, kamu mudah sekali di bohongi seperti anak kecil~" tawa Haara.
Seketika Yoan merutuki kebodohannya yang hanya dapat Haara dengar, Haara sungguh tak bisa berhenti tertawa
"Sudah sudah, tegakkan kepalamu." ucap Haara.
"Ah~ ayolah~" rengek Yoan berbisik.
"Sudah janji padaku tak boleh merengek selain padaku saja, kenapa sekarang kau merengek bahkan menunjukkan wajah menggemaskan mu Yoaan~" gemas Haara.
"Waw, berarti Yoan suka merengek seperti itu padamu AtHaara?? Waw, menakjubkan!" tak menyangka Anna.
"Iya tidak di bahas lagi deh ahahaha!!" tawa Haara.
"Jahatnya kau mempermalukanku." kesal Yoan dengan posisi yang sama.
"Tidak Yoan~ ayo tegakkan kepalamu, papa cuma bercanda tadi~" tawa Haara.
"Aku menyangka ucapan papa sungguhan~" seru Yoan menegakkan kepalanya menatap Haara.
"Papa hanya bercanda Yoan, papa tak sangka kamu menganggapnya serius~" tawa Juan.
Yoan menggaruk tengkuknya malu.
'Bodohnya kamu Yoan, memalukkan!' rutuk Yoan memaki dirinya.
Yoan menatap Yuu, Yifan yang tertawa terbahak-bahak, sedangkan Finn yang menahan tawa nya.
"Sudah tak apa, tak apa Yuu dan Yifan menertawaimu, jangan terlalu seram nanti gantengnya hilang." seru Haara terkekeh.
"Aku ingin pulang ke penthouse rasanya." bisik Yoan merajuk.
"Nanti dulu dong, sebentar lagi ya? Aku rindu sama mama dan papa mu lho~" seru Haara menyisirkan rambut Yoan dengan jari-jari tangannya.
Yoan hanya menghela nafasnya pelan, pria itu tak bisa membantahnya.
"Hahh~ mama tak sangka adikmu selucu itu Finn~ sudahlah, Mama dan mama Lucy akan masak untuk makan siang, Anna dan Haara tunggu saja ya, kalian tak boleh lelah." senyum Stephannie.
"Tapi mah ..."-Anna.
"Tidak apa-apa~" sahut Lucy.
"Aku juga mau bantu ..." ucapan Haara terhenti saat Yoan menahan tangannya.
"Sepertinya Yoan tak izinkan, dia pasti masih malu, sudah tak apa Haara, tak boleh lelah."kekeh Lucy melangkah pergi.
"Bibi! Aku ikut bantu ya!" seru Yifan.
"Ikut bantu?"-Stephannie.
__ADS_1
"Iya, kak Yuu juga mau ikut bantu." sahut Yifan.
"A-aku?!" terkejut Yuu menunjuk dirinya sendiri.
"Iya ayo, nanti kena sambaran dari kak Yoan, kau mau, ayo!" bisik Yifan menarik Yuu.
Dan mereka pun kini sibuk berbincang membuat kelompok.
Tao Ming dan Juan pun berbincang bersama keluar, lalu Anna, Ammar, dan Finn pun berbincang bersama pula, hanya menyisakan Haara dan Yoan, mereka berdua terdiam.
"Duduk dulu yuk." ajak Haara, namun tak ada sahutan dari pria itu.
"..."
"Yoan~" panggil Haara.
"Kau ikut menertawaiku tadi." seru Yoan pelan, pria itu merajuk.
"Hey, ayolah, masa marah sih?" kekeh Haara.
Yoan menatap Haara sambil menyipitkan matanya.
"Tak sopan menertawakan suamimu lho." sahut Yoan.
"Ihh, itu karena kau lucu, masa iya aku diam saja~"
"..."
"Jangan marah dong~ ya ya ya?" bujuk Haara mencoba menatap Yoan.
"Apa kau tahu bagaimana takutnya aku tadi saat papa mu bilang akan sunat aku dengan gunting rumput? Itu sangat ..."-Yoan.
"Menakutkan, iyakan?" kekeh Haara.
"Ya! Dan juga, apa kau tahu apa bayanganku? Aku akan masuk ke rumah sakit! Wah! Bayangan yang sungguh kejam!" tak habis fikir Yoan memijat pelipis nya.
"Hey, bercanda saja hey, masa iya papa serius mau potong 'anu' mu." malu Haara saat akan membahas hal ini.
"Aku suka sekali jika membahas hal seperti ini, namun aku jadi terus teringat kepolosanku yang tertipu daya oleh candaan papamu, memalukan! sudah jangan di bahas, itu membuatku merinding." seru Yoan menghela nafasnya kasar.
Haara mencubit kedua pipi Yoan gemas.
"Baiklah~ tak akan aku bahas lagi~ gemasnya~"-Haara.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."Keluarga Martin suka banget kayanya godain Yoan, sampe Yoan benar-benar ketakutan di sunat pake gunting rumput tuh, whahah😆 bagaimana pendapat di part kali ini nih? tulis di komentar ya😇"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐