My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sebuah Alasan dan Sebuah Maaf


__ADS_3

Haara menghela nafasnya, ia sudah merapihkan bajunya tinggal memasukkan nya ke dalam koper.


Haara menengok ke belakangnya, ia melihat Yoan yang masuk ke dalam kamar, pria itu terlihat sedang mencari sesuatu.


"Apa yang sedang kau cari Yoan?" tanya Haara,


"Tadi kau yang merapihkan kamarku, kau melihat ponselku?" tanya Yoan,


"ponsel? ah aku simpan di meja" sahut Haara menunjuk meja,


Yoan yang mendengarnya langsung mencarinya,


"Ada tidak?" tanya Haara fokus menyusun baju di kopernya,


"Ada"


Haara menengok lagi, pria itu tengah duduk dikasur sambil memainkan ponselnya,


Haara terkagum kagum melihat Yoan dengan rambut coklat nya,


Rambut pria itu terlihat sudah tak basah lagi, warna rambut pria itu terlihat lebih terang sekarang,


Ia merasa sikap Yoan telah berubah seperti semula, tidak seperti sebelum pria itu pergi ke Jepang, mendiaminya selama 3 hari dan tak memberi kabar apa apa padanya


"Hari Sabtu kau kemana dengan Yuu?" tanya Yoan tiba tiba,


Haara diam sejenak,


"Mengantarnya ke toko buku, ia mau beli buku materi kuliahnya"jelas Haara,


"Dia tak cerita apa apa padamu?" tanya Yoan menengok ke belakang untuk menatap Haara,


"bercerita cerita" sahut Haara,


"Apa yang ia ceritakan padamu?" tanya Yoan cepat dengan wajah serius


Hal itu membuat Haara mengerutkan keningnya bingung,


"Cerita tentang suasana kuliah di Indonesia dan bertanya tentang beberapa bahasa gaul" jawab Haara


Yoan yang mendengarnya wajahnya kembali tenang,


"Kenapa kau terlihat sangat serius sekali? Memangnya cerita apa yang kau maksud?" tanya Haara mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang aneh,


Yoan menggeleng, ia pun bangkit dan melangkah pergi


Haara larut dalam fikirannya


Secara tiba tiba itu menutup mulutnya dengan wajah ternganga,


"Apa jangan jangan, ia teringat hari anniversary yang akan tiba 2 hari lagi?? Lalu Yoan sendiri bercerita pada Yuu, lalu Yoan takut Yuu membocorkannya padaku?? Apa jangan jangan saat Yuu diam melamun habis bertanya denganku saat itu karena ini?" fikir Haara panjang


"Aduhh masa iya sih? Ah kalau fikiranku benar, senang sekali aku" cekikikan Haara dalam diam.


●•●•●•●•●


Hari akan menjelang malam, Stephannie menyuruh agar mereka pulang sehabis makan malam, namun Yoan menolak, ia mengatakan jika ia dan Haara akan makan di luar.


setelah pamit pada Stephannie dan Tao Ming, Yoan melajukan mobilnya pergi.


"Kau ingin makan apa?" tanya Yoan melirik Haara sebentar


"Kamu mau nya apa? Jika kau bertanya padaku pasti kau tak akan setuju" sahut Haara menatap Yoan,


"Sekali saja jangan makan makanan pedas, lagi pula makanan pedas juga tidak sehat untuk pencernaanmu" nasihat Yoan,


"Baiklah, aku .. Mau .. Hànbǎobāo(Hamburger)" sahut Haara antusias


Yoan yang mendengarnya tertawa kecil,


Haara sedikit tak menyangka jika hanya mengucapkan 'Hànbǎobāo' bisa membuat pria itu tertawa, walau hanya tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa? Apa pengucapanku salah?" tanya Haara serius,


"tidak, tapi penuturanmu sedikit lucu saja" sahut Yoan terkekeh,


Haara mengerjapkan beberapa kali, 'lucu?' ia tak bisa mengartikan ucapan itu, apa pria itu sedang memujinya?

__ADS_1


"Hmm, benarkah? Aku rasa penuturanku sama saja" malu Haara,


"Belajar banyak banyak saja cara mengucapkan bahasa mandarin" sahut Yoan


"Baiklah, kau jadi guruku ya? Ajarkan aku oke?"


"Kenapa aku?"


"Karena kau orang China asli, kau ajari aku" seru Haara menatap Yoan dengan mata berbinar,


Yoan yang melihatnya kembali tertawa kecil,


"Apa kau sedang memohon padaku AtHaara?" tanya Yoan tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum,


Yoan memparkir mobilnya di lestoran hamburger, ia mematikan mobilnya dan turun meninggalkan Haara didalam mobil


Haara yang melihat Yoan turun pun ikut turun dan melangkah ke arah Yoan,


"Yoan~ ajari aku ya?" seru Haara dengan wajah memohon dan matanya yang membulat,


"Belajar pelajaran yang ada disekolah saja, aku tak mau jadi guru bahasa mu juga" sahut Yoan menatap Haara,


Haara memanyunkan bibirnya dengan mata masih membulat berbinar,


"Yoan~ apa kau tahu? Aku sangat malu jika bertemu saudara saudaramu yang dari China~" rengek Haara,


Yoan mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menatap sekitar banyak yang terkekeh melihat tingkah Haara dan memuji istrinya ini sangatlah menggemaskan,


"aku hanya diam saja, dan kadang tersenyum jika mereka tertawa, aku tak paham apa yang saudara saudara mu bicarakan, bahkan aku tak bisa mengartikan senyumku itu untuk apa~" rengek Haara menjelaskan,


Yoan dapat melihat gadis itu masih memanyunkan bibirnya dengan mata memohon


Yoan menjulurkan tangannya ke kening gadis itu,


Haara yang menyadarinya hanya memejamkan matanya takut,


Srett!!


Haara membelalakan matanya,


Yoan mengacak acak rambut Haara,


Haara menatap Yoan dengan tubuhnya yang mematung,


Yoan memiringkan kepalanya menatap Haara yang mematung,


"Kenapa?" tanya Yoan bingung,


Tak lama Haara tersenyum sangat manis,


"Mohon bimbingannya pak guru!" senyum Haara,


Yoan yang melihatnya tersenyum,


"Nanti ramai, ayo" ajak Yoan,


Haara mengangguk sangat semangat dan melangkah bersebelahan dengan Yoan,


Jantungnya benar benar sangat berbunga bunga sekali saat ini, ia sangat senang sekali dengan perlakuan pria itu sangatlah manis padanya.


●•●•●•●•●


Haara menduduki dirinya setelah dirinya memesan makanan, ia menatap Yoan yang fokus pada ponselnya sambil melamun,


"Yoan?" panggil Haara melambaikan tangannya di depan wajah Yoan,


Lamunannya buyar, ia pun menatap Haara di depannya,


"Ya? Kau mengatakan apa?" linglung Yoan


"Aku tak mengatakan apapun" sahut Haara


"ah benarkah? ah aku tak sadar"


"Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya Haara,


Yoan menggeleng

__ADS_1


"Sejak kapan kau kembali?" tanya Yoan yang bingung melihat gadis itu sudah ada didepannya


"Baru saja"


Yoan membenarkan topinya dan menatap keluar jendela


"Yoan" panggil Haara lagi, Yoan yang terpanggil menatap Haara,


"Janji jangan marah" seru Haara takut,


"Marah? Marah kenapa?" tanya Yoan bingung


"Aku ingin bertanya padamu tapi janji setelah ini jangan marah padaku" cemberut Haara ragu,


Yoan mengangguk,


"Katakan saja" sahut Yoan menatap Haara serius,


"Sebelum kau ke Jepang, selama tiga hari kau mendiamiku secara tiba tiba, kenapa kamu mendiamiku saat itu? Apa aku berbuat salah padamu?" tanya Haara takut,


Yoan yang mendengarnya terdiam,


"Aku benar benar bingung tiba tiba saja kau mendiamiku tanpa sebab, jujur itu membuatku kefikiran sekali, aku selalu berfikir keras apa aku berbuat salah padamu? Jika aku berbuat salah, bisakah kau memberitahuku langsung? Aku akan menerimanya daripada harus di diami" jelas Haara menunduk,


Haara dapat mendengar pria itu menghela nafasnya berat,


Yoan benar benar tak menyangka jika istrinya sangat kefikiran dengan perubahan sikapnya saat itu,


"Dan juga kau tak mengabariku saat kau berada di Jepang, kau tiba di Jepang saja kau tak mengabariku, apa kau tahu? Aku sangat khawatir sekali dengan keadaanmu Yoan" seru Haara pelan dan sangat sedih


Haara merasa jika dirinya telah mengatakan semua hal yang sangat ingin ia tanyakan pada pria itu,


Ia selalu mempertimbangkannya untuk bertanya hal ini pada Yoan apa tidak, ia takut pria itu kembali mendiaminya,


"Aku minta maaf" seru Yoan


Haara perlahan menatap Yoan,


"Aku .. Ada masalah saat itu, urusan pekerjaan, aku tak tahu jika sikapku saat itu cuek padamu dan membuatmu berfikir jika kau berbuat salah padaku" sahut Yoan menatap Haara lembut


Haara mengepalkan tangannya kuat,


"Dan juga .. Saat di Jepang, aku .. Benar benar sibuk, Saat baru tiba di Jepang aku langsung menyelesaikan tugasku, aku benar benar tak punya waktu untuk mengecek ponselku" jelas Yoan serius,


Haara menunduk, perlahan rasa penasarannya pun hilang, semua telah terjawab langsung oleh pria itu, ia bernafas lega mendengarnya


"Maafin aku ya?" seru Yoan mencoba menatap Haara yang tertunduk,


Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan, pria itu terlihat serius,


Haara tersenyum tulus pada Yoan, ini pertama kalinya Yoan meminta maaf seperti tadi,


Haara mengangguk,


"Tidak apa apa, aku sekarang lega telah mendengar penjelasannya langsung darimu" sahut Haara tersenyum tulus


Yoan tersenyum hambar saat melihat Haara tersenyum sangat tulus.


'maafkan aku Haara ' batin Yoan merasa bersalah akan kebenaran sebenarnya.


...•...


...•...


...BERSAMBUNG...


...•...


terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍


jangan lupa di :


Like👍


tambah ke favorit❤


Rate⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤


__ADS_2