My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sepupu yang Baik


__ADS_3

Haara baru selesai mandi ia membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.


Ucapan Yoan terngiang di benaknya,


Pria itu benar, jika kabur pun, pasti pernikahannya akan tertunda.


Ia mengartikan bahwa mau bagaimana pun Haara akan tetap dijodohkan oleh Yoan, ia pun mengartikan jika Yoan memang ditakdirkan olehnya.


Haara merasa wajahnya panas saat ini, ucapan pria itu sukses membuat jantungnya berdegup kencang tadi hingga sekarang.


Menyadari ucapan pria itu akan ke China di hari Kamis nanti,membuat dirinya merasa tidak tenang, ia merasa dirinya mulai tergantung pada Yoan.


"Seperti seorang stalker, aku merasa takut esok kesekolah." serunya lesu,


Yoan mengatakan padanya untuk mengandalkan sepupu pria itu, Yifan~


Sepertinya ia harus meminta persetujuan dengan Riza kekasih Yifan sendiri.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Keesokan harinya ...


"Lho mama? kak Anna sudah berangkat??" panik Haara,


"Ah iya, kak Anna harus berangkat cepat cepat tadi jam 6 pagi, ia tak membawa mobil melainkan berangkat bersama kak Ammar~" seru Lucy sang mamanya.


"Lalu .. Aku berangkat bagaimana??"


"Sebelum mama ke butik, mama antar kamu, sarapan dulu ayo." sahut Lucy lembut.


• • •


Haara duduk di kursinya, upacara kenaikan bendera dihari senin sudah berakhir, semua siswa-siswi diberi waktu untuk membeli minum dan beristirahat selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.


Mulai hari ini ia tak bebas, kekhawatirannya semakin menjadi jika ia kemana-mana sendiri, apalagi jika bepergian naik bus, ia takut hal seperti kemarin kejadian lagi.


Padahal ia ingin ke toko buku untuk membeli kamus bahasa Inggrisnya, karena pelajaran bahasa Inggris diwajibkan untuk mempunyai kamus bahasa Inggris masing masing, bahkan ia tak memilikinya.


"Minta antar siapa ya? toko buku lumayan jauh lagi dari sini, jika minta antar Alka atau Riza kasihan mereka pulangnya berlawanan arah dan lebih jauh." gumam Haara.


"Ka, pelajaran bahasa Inggris hari apa?" tanya Haara.


"Hari Rabu."


"Sudah punya kamus?"


"Aku pinjam punya kak Aldo." sahut Alka.


Haara menghela nafasnya.


"Riza sudah ada kamus?"tanya Haara beralih.


"Aku memiliki kamus, jadi tak perlu beli."


"Hahh, aku harus beli sepertinya." malas Haara.


"Jika aku punya dua aku pinjamkan, tapi aku tak memilikinya." sahut Riza,


"Kamu jangan ke toko buku sendirian, apalagi sepulang sekolah oke!" ingat Alka,


"Hm,iya."


"Mau di antar beli kamus?" tanya Riza,


"Aku harus menyelesaikan mengetik pekerjaan kak Anna, karena nanti malam ia akan merevisinya dan esok ia meng print nya, lagi pula kalian berdua eskul bukan?" tanya Haara.


"Iya juga, Besok bagaimana?" tanya Alka,


"Esok aku tak masuk sekolah~" seru Riza,


"Kenapa Za? kau sakit??"tanya Haara.


"Tidak, besok ada paman dan bibiku datang kerumah, dan beberapa keluarga jauh datang kerumah." jelas Riza.


"Ya sudah tak apa, esok aku antar ya Ra." seru Alka,


"Berlawanan arah ke rumahmu loh, bahkan dari rumahku toko buku lebih dekat, pasti kau akan tiba dirumah malam~"

__ADS_1


"Tapi masa mau sendiri?"


"Nanti minta antar mama ku." sahut Haara.


Semua siswa pun duduk dikursi masing masing,karena pelajaran akan segera dimulai.


"Baiklah kumpulkan buku tugas kalian." seru guru.


Semua siswa pun mengumpulkan buku mereka masing-masing kedepan,


"tugas Fisika yang ibu berikan terdapat 5 soal,jadi untuk menambah nilai +, yang beruntung ada 5 orang yang akan dipanggil kedepan untuk menjelaskan jawabannya."


Semua siswa pun tegang, bagi mereka ini bukan suatu keberuntungan, melainkan sebuah bencana besar.


"Jika tidak bisa menjelaskan kedepan, nilai tugasnya akan dibagikan 2, contohnya kalian mendapat nilai 80 lalu nilai 80 akan dibagi 2, maka kalian akan mendapat nilai 40." jelas guru lagi.


Sebuah keluhan terdengar dari semua siswa.


"Akan ibu sebutkan siapa saja yang akan maju kedepan yang pertama .."


Semua siswa menunduk dan bedo'a agar mereka tidak terpanggil,


"Soal terakhir .. AtHaara Martin. baiklah, yang mendapat soal nomor satu maju kedepan."


Sontak matanya membulat saat mendengar namanya dipanggil, Haara melirik ke arah Alka yang duduk di seberangnya, Alka mengisyarat kan untuk 'semangat.'


"Hari sabtu kemarin, kau minta tuan Yoan mengajarimu, kan? pasti bisa, iyakan?" bisik Riza dibelakangnya.


"Bagaimana kau tahu???" terkejut Haara menengok kebelakang.


"Yifan memberitahuku, sekarang coba kau ingat ingat hal yang dijelaskan tuan Yoan sabtu kemarin, semangat!" bisik Riza terkekeh.


Jantungnya berdegup kencang, Haara mencoba mengingat penjelasan Yoan sabtu lalu, ia berdoa agar penjelasannya tidak salah.


Waktu terus berlalu, mendapat soal terakhir membuat gelisahnya semakin menjadi jadi, Haara meremas tangannya yang panas dingin.


"Baik, soal nomor 5."


Haara berdiri dan melangkah maju kedepan,


"Bu, boleh saya melihat sebentar saja buku tugas saya, saya ingin mengingatnya." seru Haara pelan.


"Baiklah,ini."


Haara mencoba fokus mengingat urutan dan hasil hasilnya, merasa jika sudah ingat, ia mengembalikan bukunya kepada guru.


Jawaban yang hampir memenuhi sebagian papan tulis akhirnya ia menyelesaikannya dan mendapatkan jawabannya.


Semua siswa bertepuk tangan salut kepada Haara, karena apa?soal yang ia dapat lebih banyak jawabannya daripada siswa yang mendapatkan soal sebelumnya.


"Penjelasanmu sungguh mudah dimengerti dan sangat lancar AtHaara, ibu salut kau bisa menjelaskannya."


"Terima kasih bu, saya hanya mengikuti penjelasan seseorang yang mengajarkan saya." seru Haara tanpa sadar, Alka dan Riza yang mendengarnya berdehem dehem berkode.


"Baguslah, semoga kedepannya kau juga dapat memahami pembelajaran, tugasmu semua benar, jadi nilai + nya akan ibu tambahkan sewaktu-waktu jika ada nilai mu yang kurang." jelas guru.


"Baik bu, terima kasih."


"Ya sudah silahkan duduk."


Lagi lagi ia mendapatkan tepuk tangan dari teman sekelasnya.


"Ehem ehem, kenapa tak sebut saja sekalian namanya." sindir Alka,


"Stt, apaan sih Ka." malu Haara,


"Ehem, malu-malu nih" dehem Riza,


"Kalian senang sekali menggodaku, stt!!"


●•●•●•●•●


"Ini uangnya bi, terima kasih!" seru Haara membayar baksonya tadi.


"Ayo." ajak Alka,


"Yifan!!" panggil Riza tiba-tiba,


Haara dan Alka mengikuti arah pandang Riza, mata nya tertuju pada Yifan yang sedang bercanda dengan teman-temannya, dapat dilihat pria itu izin kepada teman-temannya dan menghampiri Riza.


"Kenapa Za?"


"Ikut aku sebentar, kalian berdua juga ikut." ajak Riza menarik Yifan.

__ADS_1


• • •


" ... , jadi aku ingin besok kamu antar Haara ke toko buku buat beli kamus." jelas Riza,


"Eh Za??" terkejut Haara yang baru memahami maksud sahabatnya.


"Kenapa? minta antar Yifan saja." seru Riza menatap Haara.


"Iya minta antar saja sama Yifan." tambah Alka sependapat.


"Memangnya tak apa Za?" ragu Haara,


"Kenapa nanyanya ragu seperti itu? ya tidak apa-apa lah." kekeh Riza,


"Mau diantar esok apa sekarang?" tanya Yifan kepada Haara.


"Sekarang aku tak bisa, esok saja, kau sungguh mau mengantarku?" tanya Haara memastikan.


"Calon kakak ipar, calon suamimu itu meminta bantuan ku untuk menjaga mu, kenapa jadi sungkan? jika kau kenapa-kenapa, aku pasti kena masalah dengan calon suamimu." jelas Yifan terkekeh.


"Ia minta bantuanmu?serius??" binar Alka.


Yifan mengangguk,


"Kemarin malam ia menelfonku, jika mulai Senin ini sampai 10 hari kedepan kak Yoan minta agar aku menjaga calon kakak iparku." jelas Yifan.


"Sepupu yang baik!" salut Riza.


"Ah aku baru ingat, apa kau yang menceritakan jika aku mendapat bunga dan surat dilokerku padanya??!"


"Mm iya~" sahut Yifan enteng.


"Ahh, mengenai pengaduanku kepada kak Yoan, apa kalian bertengkar? sampai kak Yoan menyuruhku menjagamu?" ledek Yifan,


"Tidak! dia yang cerita sendiri padaku!"


"Ehem, sepertinya calon suamimu cemburu~" goda Riza,


"Aduhh, mulai deh~"


"Lalu jika bukan bertengkar, kenapa?bahkan kak Yoan bisa menjaga mu sendiri kenapa harus minta bantuanku??"tanya Yifan menuntut,


"Karena hari kamis nanti ia akan ke China."


"Ha? ke China? ngapain?? ah jangan bilang dia minggat tak ingin menikah denganmu." tuduh Yifan,


"Ih apaan sih! ya ngga lah!"


"Ohoo, ada yang marah~" goda Alka,


"Alka~"


"Dia ada pekerjaan disana selama seminggu lebih!" sahut Haara kesal.


"Dia tak hadir ke acara pernikahan kak Anna dan kak Ammar minggu depan?" tanya Riza,


"Datang, ia akan pulang lalu pergi lagi." jelas Haara.


"Lalu? bukannya pernikahan kalian 2 minggu lagi?" tanya Yifan,


"..."


"Wah,semakin yakin aku jika kak Yoan minggat!"seru Yifan,


"terserah dia mau minggat atau tidak, pastinya aku akan tetap dijodohkan olehnya!"


"Whoho, nama kalian memang sudah tertulis di buku takdir ternyata." salut Alka,


"Tertulis dibuku takdir kepala keluarga Zhao." sahut Yifan terkekeh.


"Ya sudah berarti kau esok diantar Yifan, tak perlu sungkan dengan anak ini, lagi pula ia itu kan calon adik iparmu~"


"Aku tahu, untuk apa sungkan dengannya!"


"Uuu~ kemarin masih ngelak, sekarang sudah mengakui Yifan~uhuuu." ledek Alka menyenggol Haara membuatnya sedikit tak seimbang.


"Akhirnya aku diakui." seru Yifan mengangguk-angguk.


Haara hanya menghela nafas sabar atas ucapan tiga orang didepannya saat ini.


...•...


...•...

__ADS_1


...{Bersambung}...


...•...


__ADS_2