My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Kemurkaan Haara


__ADS_3

Haara mencuri-curi pandang ke arah Yoan yang duduk disebelahnnya.


Dapat dilihat Yoan yang mematung dengan mata membulat.


Tubuh pria itu lemas seketika.


"Ppfft!!" tahan tawa Ammar, Yifan, dan Yuu.


Tak!


Yuu menatap Hanabi yang memukul pundaknya.


"Stt! Tak boleh tertawa, ingatlah ancaman papaku juga padamu!" seru Hanabi tajam.


Seketika tawa Yuu luntur.


"A-aku ingat kok." tawa miris Yuu.


'Ya ampun papa! Jika Yoan menunjukkan sikap seperti ini, papa pasti curiga! Tangannya sampai gemetar begitu~' batin Haara khawatir.


"Papa punya ahli menyunat, kah?" tanya Ammar berbisik namun masih bisa di dengar.


"Entahlah, dia ahli dalam memotong, memotong rumput pakai gunting rumput." sahut Anna.


"Gunting rumput? Kak Anna masa iya sunat pakai gunting rumput? habis yang ada." tanya Yifan cekikikkan.


Hal itu membuat Yifan, Yuu, Anna, Ammar serta Hanabi cekikikkan mendengarnya


tawa mereka terhenti saat melihat Yoan menatap mereka dengan tatapan kilat, tatapan maut mengancam mereka tak akan baik-baik saja setelahnya.


Yoan merasa ternistakan.


"Ma-maaf kak Yoan, hanya bercanda, jangan di anggap serius." takut Yifan.


Yoan yang mendengarnya mengalihkan pandangannya.


"Hm? Ada apa dengan kalian berdua? Yoan? Ada apa denganmu?" tanya Juan curiga.


"Jangan-jangan ..."-Tao Ming ikut curiga.


"Ahahahah!! Yoan, keterkejutanmu sungguh tak wajar, lagipula aku yakin Yoan tak begitu kok, dia tak pernah begitu juga kok papa mama." seru Haara menggenggam tangan Yoan yang gemetar erat.


Yoan menatap Haara, Haara pun langsung mengisyarakan agar Yoan ikut berakting di depan keempat orang tua mereka.


"A-ah! iya, aku sungguh terkejut sekali, hal itu membuatku semakin tak berani berfikir jauh-jauh." saru Yoan kikuk.


"Kenapa tingkah kalian aneh? Dan juga, sikapmu mencurigakan sekali, Yoan." curiga Juan.


"Mm~ tadi kamu sudah minum obatnya kan? Kamu merasa pusing lagi??" tanya Haara menatap Yoan pura-pura khawatir.


"Obat? Kamu sakit Yoan?" tanya Stephannie.


'Bahkan dirinya lah yang sedang sakit demam.' batin Yoan.


"Mm~ iya mama, sehabis pulang dari luar kota, aku tak bisa tidur nyenyak, saat aku pulang aku terserang demam." dusta Yoan.


"Sekarang sudah baikkan??" tanya Lucy.


"Masih sedikit pusing saja." sahut Yoan memijat pelipisnya.


"Aduh, kemarilah biar aku pijat." seru Haara memijat pelipis Yoan.


"Terima kasih." senyum Yoan.


Haara mengangguk, dapat dilihat Yoan mencoba menahan tawanya saat menunduk.


Akting mereka pun membuat semuanya pun percaya tanpa mencurigai sedikit pun kebohongan mereka.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Hari telah menjelang malam.


Mereka baru saja merayakan kemenangan mereka bersama-sama.


Namun, Haara merasa ada yang aneh dan tak turut ikut menikmati suasana baik di rumah tadi.


Ia merasa Yoan hanya diam dan tersenyum hambar saat di ajak bicara


Kini mereka berada di dalam perjalanan pulang.


Haara mencuri-curi pandang untuk menatap Yoan yang kini sedang fokus mengemudi.


Pria itu kini masih diam tak bicara.


Haara kini merasa serba salah, ia ingin mengajak bicara pria itu, namun ia tak berani.


'Apa dia kefikiran dengan ucapan papa tadi ya?' batin Haara kembali mencuri-curi pandang.


Haara hanya berani mencuri-curi pandang saja pada pria itu, ia tak perah bisa mendorong keinginannya untuk mengajak pria itu bicara, melihat raut pria itu yang datar saja membuat nyalinya ciut.


"Ahh~ bingungnya aku~" gumam Haara pelan.


Haara menghela nafasnya pelan dan perlahan kembali mencuri pandang ke arah Yoan.


"Astaga Yoan?!" terkejut Haara yang merasa jantungnya hampir loncat.


Bagaimana tidak? Wajah pria itu kini ada di sebelah wajahnya, pria itu menatapnya lekat.


"Jantungku~" keluh Haara mengusap-usap dadanya, ia menyandarkan dirinya di pintu mobil.


"Aku memanggilmu sejak tadi, tapi kau tak mendengarnya, kau terlalu fokus dengan isi fikiranmu." seru Yoan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Memanggilku??" tanya Haara.


"Ya, setelah mencuri-curi pandang padaku lalu kau melamun dan menggerutu, apa yang kau fikirkan?" tanya Yoan menaikkan sebelah alisnya.


"E-eh??" Haara mematung.


"Kenapa? Kau terus mencuri-curi pandang menatapku? Apa seingin itukah kau ingin terus menatapku?" tanya Yoan memiringkan kepalanya.


"Si-siapa yang mencuri-curi pandang denganmu?! Ti-tidak!" dusta Haara mengelak.


Haara kembali melirik Yoan karena pria itu tak menyahut.


Dapat dilihat Yoan sedang menatap Haara sambil sunyum-senyum.


"Tuh kan, lirik-lirik ke aku lagi." seru Yoan.


"Ihh, nggaaa~ ak-aku ngelirik karena kamu diam saja dari tadi!" gugup Haara membuang wajahnya.


"Kamu ini, sudah terciduk masih saja mengelak." sahut Yoan menghela nafasnya.


Haara tak bisa mengelak lagi, ia merasa jika terus mengelak itu akan terus mempermalukan dirinya.


"Aku tak masalah jika aku di tatap diam-diam seperti tadi olehmu, aku sangat menyukainya." seru Yoan menatap ke depan.


Haara yang mendengarnya tersipu malu, jujur saja ucapan Yoan itu juga berlaku padanya, ia pun sangat suka jika Yoan terus-terusan menatapnya pada waktu tertentu.


"Kalau di lirik-lirik wanita lain, bagaimana?" tanya Haara.


"Aku tanya saja padamu, bagaimana rasanya aku di lirik-lirik oleh wanita lain?" tanya Yoan balik.


"Aku tak suka!" sahut Haara cemberut.


Yoan yang mendengarnya terkekeh.


"Dulu aku tak suka di lirik-lirik wanita lain, tapi sekarang aku menyukainya." sahut Yoan menatap Haara.


Haara yang mendengarnya menduduki dirinya tegak, ia tak menyangka jika Yoan menjawabnya seperti itu.


"Kok suka sih!?" tak terima Haara.


Yoan tertawa kecil melihat reaksi Haara.


"Aku suka karena di cemburuin sama kamu, aku suka lihat kamu cemburu sama wanita-wanita itu yang sedang lirik-lirik aku." jelas Yoan tertawa kecil.


Haara yang mendengarnya memukul pundak Yoan.


"Aw, kok mukul aku sih~" tawa Yoan.


"Kamu ini! Suka sekali buat aku kesal! Nyebelin!" pura-pura merajuk Haara berniat membuka pintu.


Namun siapa sangka pintu nya di kunci oleh Yoan.


"Yoan, buka gak??"


"Cium dulu." seru Yoan menunjuk pipi nya.


"Cium dulu nanti di bukain pintunya." seru Yoan lagi.


"Ngga mau! Aku lagi kesal sama kamu!"


"Kesal kenapa sih? Sudah ku bilang aku suka karena aku di cemburuin sama kamu lho~" kekeh Yoan.


"Senang gitu lihat aku cemburu?? Lalu apa kau akan senang juga saat aku murka saat cemburu?! Murkaku itu aku akan menyuruhmu tidur di sofa!" greget Haara.


Seketika senyum Yoan luntur.


"Apa kau tega lihat aku tidur tak nyaman dan kakiku menggantung saat tidur di sofa?" tanya Yoan serius.


"Siapa suruh punya tubuh tinggi! Kaki yang panjang! Menyebalkan!" sahut Haara.


"Kenapa jadi salahin kakiku? Sofa itu untuk tempat duduk, bukan tempat untuk tidur, kau kejam jika menyuruhku tidur di sofa." timpal Yoan.


Kini perdebebatan mereka semakin menjadi dengan hanya membahas hal sepele.


"Lalu apa kau tega aku tak bisa tidur semalaman karena tak ada kamu yang bisa aku peluk? dan juga aku kedinginan di ruang tengah? Wah~ mengecewakan." merajuk Yoan.


"Ti-tinggal bawa guling dan selimut!" sahut Haara merasa tak enak.


"..."


"Mmm~ kau marah?" tanya Haara.


"Ya, aku marah." sahut Yoan datar.


"Makannya jangan macam-macam, aku tak akan menyuruhmu tidur di sofa jika kau tak membuatku kesal." seru Haara.


"..."


"Kau sungguh marah??" tanya Haara tak menyangka.


"Iya aku marah." sahut Yoan menatap Haara tajam.


"Wajahmu, seram sekali, a-aku minta maaf jika seperti itu, maafin aku ya?"


"Cium dulu." seru Yoan menunjuk pipinya lagi.


"Cium??"


"Ya, cium dulu, nanti aku maafin." seru Yoan.


Haara terkekeh dan ...


Cup!


"Mmmmuah! Sudah." malu Haara saat mencium pipi Yoan lama.


Yoan tak bisa menahan senyum nya, ia tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ayo turun." ajak Haara.


"Bibirku?"


"H-ha?"


"Ayo cium bibirku juga."


"I-ini parkiran Yoan, lihatlah, ada orang." khawatir Haara.


"Aku tahu ini parkiran, cium sebentar saja, ayo." tuntut Yoan.


Ceklek!


"Hahh~ pintunya terbuka, kamu lenvah Yoaan, wleee~" ledek Haara kabur.


"Hey! AtHaara!"


●•●•●•●•●


• • •


Suara pintu tertutup terdengar Haara melangkah ke dapur.


Ia mengambil es krim loli nya dan memakannya.


Hap!


Mata Haara membulat saat melihat Yoan memakan es krim nya hingga tersisa setengah.


"Huwaa!! Yoaaaannn!!!" histeris Haara menghentak-hentakkan kakinya.


Yoan yang menahan dingin es krim di mulutnya tak bisa menhan tawa nya.


"Huwaa!! Es krim ku yang sisa satu di kulkas~" rengek Haara histeris.


Haara berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di tumpukkan tangannya.


"Ahahahaha!! Hukumanmu karena berani kabur tadi!" tawa Yoan terbahak-bahak.


"Kau kan tahu! Ini itu es krim ini selalu habis di toko-toko karena enak! Ini es krim stok terakhir ku! Kenapa kau memakannya Yoaaan?!!" marah Haara.


Yoan menghentikan tawa nya saat melihat ekspresi Haara yang sangat marah padanya.


Haara yang kesal memakan es krim nya habis dan melangkah pergi ke lantai atas.


"AtHaara maafin aku ya?" seru Yoan mengejar Haara, ia sedang mencoba membujuk.


Haara tak menggubris nya, ia bahkan bertingkah tak mau sedikit pun disentuh oleh Yoan.


"AtHaara ..."


"Diam sampai situ!" seru Haara menyuruh Yoan berhenti di depan pintu kamar.


Hal itu otomatis membuat Yoan berhenti.


"Untuk malam ini, kamu tidur di sofa!!" murka Haara.


CTAZZZ!!!


Brak!


Haara membanting pintunya menggantikan suara petir dalam hatinya.


Seketika tubuh Yoan melemah mendengarnya, seperti ada sebuah sambaran petir di hatinya.


"Tidur ... di sofa?" lamun Yoan.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author: "gunting rumput serta dapat amukan Haara dan berakhir tidur di sofa, nasib~ nasib~😆😭"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2