
Sebelum lanjut ke part selanjutnya author ingin mengucapkan ...
...Selamat Hari Raya Idul Fitri...
...1 syawal 1442H🙏...
...minal aidzin walfaidzin...
...mohon maaf lahir dan batin😇...
semoga kita masih bisa di pertemukan di bulan suci Ramadhan di tahun depan dan bisa merayakan hari raya Idul Fitri lagi😇
...amin amin amin🙏...
oke lanjut!
Happy Reading😍
__________________________________________
• • •
• •
•
Haara merintih kesakitan karena dibawah sana Yoan terus memaksakan milik pria itu masuk ke dalam miliknya
"Yoan sakit Yoan hentikaaan!!!" histeris Haara.
Namun pria itu tak menghiraukannya.
Haara benar-benar tak mengenal sosok Yoan sekarang, bahkan pria itu tak akan tega melihat dirinya menangis, namun sekarang sangat berbeda.
"ARGHH!!" teriak Haara.
Berakhir sudah~ keperawanan gadis itu pun telah hilang karena pria itu, Yoan tersenyum senang saat itu juga.
Nafas Haara naik turun saat Yoan mulai beraksi lagi.
Haara berhenti memberontak, tubuhnya melemah seketika.
Haara masih senantiasa memejamkan matannya, ia mulai merasakan gerakan dari Yoan di bawah sana.
Gadis itu berfikir percuma memberontak jika hal utama yang ia lindungi pun telah di ambil oleh suaminya sendiri.
Ia hanya pasrah, pasrah Yoan yang menerkam dan menikmati tubuhnya, ia berfikir itu tak akan masalah, cepat lambat hal seperti ini akan terjadi.
Bahkan hal inilah yang dari awal Yoan idamkan darinya, ia tak akan buat Yoan marah lagi padanya jika ini satu-satu nya cara.
Dan jika ini satu satunya cara membuat Yoan percaya jika dia mencintai Yoan dari hati, ia akan memberikannya.
Meski ia akan terancam hamil sebelum lulus sekolah.
Haara mencengkram seprei di atas kepalanya sangat kuat, dan ...
Bruk!
Tubuh Yoan ambruk di atas tubuhnya, tenaga mereka telah terkuras habis.
Haara meneteskan air matanya.
fikirannya kalang kabut, ia belum siap mengandung.
Cup!
Pria itu kini mencium bibir nya sangat memaksa.
Tubuh Haara merinding saat lidah pria itu menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Dengan gerak perlahan Yoan membuka ikat pinggang yang mengikat tangan Haara.
Ciuman panas mereka berakhir.
Haara tak berani membuka matanya, ia tak ingin melihat kenyataan.
"Minum."
Haara membuka matanya menatap Yoan di atasnya.
Haara menatap obat yang di sodorkan Yoan.
"Itu obat apa Yoan~" tanya Haara lemah.
"Obat pencegah kehamilan, cepat minum." seru Yoan datar.
Haara dengan tangan gemetar mengambil obat itu.
"Minum dua pil itu bersamaan." seru Yoan lagi mengambil air di nakas nya yang kebetulan dapat ia gapai.
Yoan menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua.
Haara memasukkan dua pil itu kedalam mulutnya, ia mengambil air yang di sodorkan Yoan hingga habis.
"Cih! Baju sial*n ini telah di sentuh olehnya!" seru Yoan menatap baju Haara.
Srrkkk!!!
Haara menatap Yoan yang merobek bajunya dan lapisan baju dalam nya.
"Berhenti melawan?" tanya Yoan membuka semua pakaian Haara yang sobek dan membuangnya di lantai, kini mereka berdua tak tertutup sehelai benang pun, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
Haara membuang wajahnya sambil mengangguk.
"Marah denganku?" tanya Yoan menatap Haara datar.
Haara menggeleng.
"Kenapa membuang wajah? Tak suka melihatku? Benci melihatku??" tanya Yoan lagi dengan nada penuh penekanan.
Haara menatap wajah Yoan didepannya yang berjarak 10 cm dari wajahnya.
"Ngga Yoan." sahut Haara pelan.
Dapat Haara rasa Yoan menarik dagunya, Haara menatap mata coklat Yoan yang menatap nya tajam.
"Jangan bohong! katakan jika kau membenciku karena aku telah memperkosamu!" seru Yoan tajam.
Haara tak berani menatap Yoan, ia tak kuat menatap tatapan tajam Yoan.
"Tatap aku, aku tak suka lawan bicaraku membuang pandangannya saat aku sedang bicara."
__ADS_1
"Tatapanmu, aku takut." sahut Haara ketakutan.
"Jika seperti itu jawab pertanyaanku."
"Aku hanya tak menyangka padamu melakukan hal ini padaku, dan juga aku tak menyangka kau membentakku dan kasar padaku." seru Haara meneteskan air matanya.
Yoan hanya diam menatap Haara yang menangis.
"Maafkan aku Yoan, aku sangat labil sekali Yoan, maaf telah membuatmu kerepotan karena tindakan bodohku."
"Ya, kau merepotkan dan kau bodoh!" sahut Yoan cepat.
Haara yang mendengarnya sedih.
"Maafkan aku, maaf telah membuat Yoan marah, hatiku sakit saat Yoan marah padaku~ saat itu aku sangat membutuhkan pelukan dan ucapan untuk menenangkanku, ta-tapi semua nya di luar dugaanku, kau tak suka aku menyentuhmu~" jelas Haara mengeluarkan semua rasa yang ia rasakan saat ini.
"Karena aku marah padamu, sangat marah sekali! Aku sungguh muak dengan fikiran labilmu!" sahut Yoan dengan nada menekankan.
Hati Haara mencelos mendengarnya,
menyakitkan!
"Kau memang sangat bahaya untuk kaum pria dan kau juga selalu mencoba masuk ke dalam bahaya itu, apa tak ada hal yang kau takutkan??" tanya Yoan tak habis fikir.
"Aku hanya takut sama Yoan~" isak Haara.
"Takut denganku? Tapi kau selalu mencoba membuatku marah! apa sungguh kau takut denganku?!"
"Aku tak sadar Yoan~ tolong maafkan aku~" histeris Haara.
Yoan menghela nafasnya gusar.
"Ce-cepat atau lambat hal ini akan terjadi di antara kita, aku kesal padamu karena memaksaku yang belum siap sama sekali! Aku takut aku hamil Yoan~" histeris Haara.
"Jadi kau marah denganku ya~" miris Yoan.
"Awalnya aku marah! Tapi semua sudah terjadi, kini aku berfikir, mungkin ini adalah satu-satunya cara ku yaitu pasrah saat kau memperkosaku, untuk membuktikan jika diriku itu sungguh mencintaimu! Hingga aku berikan juga tubuhku padamu~" isak Haara.
Yoan hanya diam menatap Haara yang menangis.
"Aku tak mau Yoan benci sama aku, tolong jangan benci aku, aku tak mau Yoan~ aku sungguh mencintaimu, aku sangat mencintaimu, percayalah padaku~" seru Haara menunjukkan wajah takut.
Cup!
Yoan dengan gerak cepat meraup habis bibir Haara lagi.
Haara terdiam sejenak, lalu ia pun membalasnya, namun itu tak berangsur lama.
"Tidur, sudah malam." seru Yoan menidurkan dirinya.
"Yoan~ jawab dulu~ jangan cueki aku~" mohon Haara.
Yoan tak bergeming.
Haara kembali menangis melihat respon Yoan yang mendiaminya.
"Yo .. an~ jangan mendiamiku, aku tak mau kamu diami aku~" isak Haara mengguncang tubuh Yoan yang tidur membelakanginya.
"Tidur AtHaara." seru Yoan.
"Ngga mau~ aku tak mau Yoan seperti ini padaku~" isak Haara menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Beri aku ketenangan, beri aku waktu, sekarang tidur." seru Yoan.
Drrrtt!! Drrrtt!!
Mata Haara terfokus pada ponsel nya di kakinya.
Haara dengan cepat mengambilnya, ia mengangkat telfon itu dengan duduk membelakangi Yoan.
Haara:
"ha-hallo kak~" (terisak)
Anna:
"AtHaara, apa Yoan melukaimu??"
"Loudspeaker."
Haara menatap Yoan yang sudah terduduk di belakangnya.
"Ha?!
"Loudspeaker." seru Yoan menekankan kalimatnya.
Haara pun menurutinya.
Anna:
"AtHaara, hallo?"
AtHaara:
"Hallo kak~"
Anna:
"Kamu tak apa-apa kan?? Yoan menyakitimu??" (nada panik)
AtHaara:
"Aku baik-baik saja kak~"
Anna:
"Jangan bohong, jangan bohong sama kakak! Jujur sama kakak, apa jangan-jangan Yoan sedang mengawasimu sekarang??"
AtHaara:
"Yo-Yoan memang ada di sampingku, tapi sungguh Yoan tak melukaiku, aku baik-baik saja kak~" (sesenggukan)
Anna:
"Hahh~ kakak akan percaya denganmu, kakak hanya berpesan padamu, kamu harus sabar menghadapi Yoan, jelaskan semuanya padanya, kakak yakin kamu menemui Zen ada alasannya, kakak tahu kamu."
AtHaara:
"I-iya kak, terima kasih telah mengkhawatirkan ku.
Anna:
__ADS_1
"Aku adalah kakakmu, mungkin kakak tak berhak ikut campur urusan rumah tanggamu dengan Yoan, tapi kakak masih mempermasalahkan kepolosanmu yang belum mengenal dunia rumah tangga itu bagaimana."
AtHaara:
"Iya kakak, aku merasa senang kakak sangat perhatian sekali padaku, terima kasih kak Anna."
Anna:
"Ya sudah, sekarang kemarahan Yoan sudah mereda kan?"
AtHaara:
"Sudah kak."
Anna:
"Ya sudah, sekarang kamu tidur, tenangkan dirimu."
AtHaara:
"Kak."
Anna:
"Ya?"
Haara:
"Tolong jangan beritahu mama dan papa kalau aku dan Yoan bertengkar."
Anna:
"Kakak dari awal tak berniat seperti itu, ya sudah istirahat."
Haara:
"Baik kakak, selamat malam.
Anna:
"Selamat malam."
Haara menyimpan ponselnya di samping bantalnya.
Ia tak berani menatap Yoan yang masih duduk di sampingnya.
"kenapa kau berbohong?" tanya Yoan.
"ku rasa kakak tak perlu tahu, aku harus menyelesaikan sendiri kesalahanku padamu." sahut Haara tertunduk.
"Tidur."-Yoan.
Haara yang mendengarnya menurut.
Air matanya entah keberapa kalinya menetes dalam diam.
"Menangis lagi?" tanya Yoan tajam.
"Ngga Yoan." sahut Haara dengan cepat mengusap air matanya.
"Tidur."
"A-aku tak bisa tidur Yoan."
"Kenapa tak bisa tidur?"
"aku merasa takut."
"Takut kenapa?" tanya Yoan datar.
"tanpa ku inginkan ingatan saat Zen tadi yang hampir memperkosaku terngiang di benakku, aku takut." seru Haara mengusap air matanya yang terus keluar.
Yoan menatap Haara yang terus berusaha mengusap air matanya yang terus keluar.
"Hiks! Hiks!" isak Haara menahan tangis nya.
"Kemarilah."
Haara menengok ke arah Yoan yang tiduran di sampingnya.
"Tidur di pelukanku."
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: " disini Haara tak marah sama Yoan, tapi ayoan yang masih marah dengan Haara, gimana pendapatnya nih kakak-kakak??😇 tulis di komentar ya😇"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐