My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sakit?


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"AtHaara, ikut tidak? Mama dan papa mau antar kakak ke dokter kandungan." seru Anna mengetuk pintu.


Tak ada sahutan, gadis itu masih terlelap.


Ceklek!


"Hahh~ masih tidur, kamu ini, setelah ujian selalu mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktumu untuk tidur." kesal Anna.


Bagaimana tidak Anna tak kesal? Hari telah berlalu selama sepuluh hari setelah makan-makan di lestoran hamburger bersama untuk merayakan akhir ujian sekolah, Haara hanya menghabiskan waktu makan, mandi, dan tidur yang lebih banyak, itu membuat Anna jengah.


"Tidak, aku tak ikut, aku merasa tak enak badan." seru Haara menduduki dirinya perlahan dambil memukul-mukul pinggang bawahnya.


"Kamu sakit??"


"Kurang olahraga saja sepertinya, tubuhku sakit semua." keluh Haara.


"Tidur lagi saja sana, tubuhmu pun merasa kesal pada mu karena selalu tiduran setiap saat." gerutu Anna melangkah keluar.


"Beruntung masih pagi, pergilah lari pagi, dan olahraga di pekarangan rumah saja sana, kau pasti tak mau kedua bodyguard mu membuntutimu lari ke taman kota, bukan?" seru Anna menutup pintu kamar Haara.


Haara bangkit berdiri dan meringis sakit pada pinggang bawahnya.


"Tubuhku sakit semua, ahh~ seperti nya tubuhku bukan kurang istirahat, melainkan kurang olahraga." keluh Haara masuk ke dalam kamar mandi, namun langkahnya terhe nti saat melihat kalender di kamarnya.


"Sudah tanggal 28 ternyata, sepertinya aku akan datang bulan."


●•●•●•●•●


Haara turun dari anak tangga terakhir dan melihat ke kanan kirinya.


"Mereka seperti nya sudah pergi ke rumah sakit." seru Haara.


"Laparnya~" keluh nya membuka tudung saji disana dan mendapati ada dua buah ikan goreng di balik tudung saji.


"Bau nya amis sekali, mama masak ikan apasih ini?" gumam Haara mengambil nasi dan duduk di meja makan.


Haara dengan ragu memakan nasi dengan lauk ikan itu dengan perlahan.


Ia menyendokkan nasinya lagi dan memakannya, namun Haara dengan cepat lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut nya.


"hoeeekk!!"


"Sakit lambung! Apa karena aku tidak makan dan telat makan kemarin-kemarin? Ugh! Jika mama, papa dan kak Anna tahu, aku pasti akan di paksa ke dokter! Aku benci rumah sakit!" keluh Haara.


"Hoekkk!!!" muntah Haara lagi.


Haara mencengkram perutnya kuat karena rasanya perutnya benar-benar mual sekali.


"Aku harus minum obat, jika tidak! ketahuan aku! kalau aku sakit!" seru Haara melangkah ke kotak p3k.


• • •


Haara dengan tubuh terasa lemasnya menduduki dirinya di tepi kasur.


Ia mengehela nafasnya kasar dan mulai menidurkan dirinya, ia mencengkram perutnya yang kini terasa kram entah kenapa.


"Sakit lambung tak mungkin sampai mengalami kram perut dan sakit pinggang, apa aku harus pergi berobat?" bingung Haara.


Haara menggeleng cepat.


"Tidak! Nanti aku takut diam-diam ada yang lapor ke Yoan dan membuat fokus Yoan hilang, aku tak akan biarkan itu terjadi!" seru Haara bersikeras.


"Aku paling benci jika akan datang bulan harus mengalami sakit seperti ini! Sakit lambung dan rasa sakit penyambutan datang bulan bercampur menjadi satu, benar-benar menyebalkan!" kesal Haara.


Drrt!!


Senyumnya mengembang saat melihat notifikasi dari Yoan.


"Sepertinya ia luang, hehe." senang Haara dengan cepat membalas pesan Yoan


●•●•●•●•●


• • •

__ADS_1


• •



Hari telah berlalu dan kini telah menginjak awal bulan April.


Keadaan Haara semakin memburuk kali ini, bahkan Lucy, Juan dan Anna masih tak tahu menahu mengenai keadaan Haara yanh memburuk.


Ia tinggal di rumah sendiri karena Lucy, Juan, dan Anna tentunya mereka bekerja, dan hanya ada ia sendiri di rumah.


Rasa mual nya terus saja menghantui setiap paginya, ia merasa hal ini tak wajar untuk di bilang sakit, bahkan sudah beberapa hari berlalu, bahkan ini hampir satu minggu ia mengalami mual seperti saat ini.


"Uhuk uhuk! Hooeeekk!!" muntah Haara di wastafel sambil mencengkram perutnya.


Kaki nya terasa lemas, ia melangkah perlahan ke kasur nya.


Fikiran Haara pun mulai negatif saat ini.


Ia telat datang bulan, ia selalu mual di pagi hari, sensitif mencium bau, dan juga sering mengalami keram dan sakit pinggang.


Ia takut jika dirinya hamil.


"Jika aku pergi ke dokter sendiri, dan jika ketakutanku benar, aku tak mau ada orang lain yang tahu." seru Haara ketakutan.


"Apa bodyguard yang Yoan pekerjakan mengawasi rumah ya?" bingung Haara mencoba melihat keluar jendela.


"Sepertinya aku harus beli testpack sendiri tanpa di ketahui siapapun." seru Haara mencengkram bajunya takut.


Haara menghidupkan layar ponselnya, tak ada notifikasi apapun dari pria itu, terakhir ia bertukar pesan dengan pria itu satu minggu yang lalu.


Haara:


"Semangat Yoan, aku hanya ingin bilang, aku sangat merindukanmu~"


Haara menyimpan ponselnya di atas nakas nya, pandangannya teralihkan pada cermin yang menampilkan wajah pucat nya, wajahnya sangatlah pucat.


"Yoan pasti akan khawatir melihat keadaanku sekarang, hahh~"


"Apa aku harus membeli testpack?" gumamnya.


●•●•●•●•●


Dengan pakaian rapat dan kacamata dan masker, Haara menaiki tangga untuk melewati dinding belakang rumahnya, dengan gerak perlahan dan menahan berat, ia menarik tangga besi itu keseberang dinding dan ia pun berhasil keluar dari pekaranagan rumahnya.


"Seperti nya aku jago jika jadi mata-mata mwueheheh~" kekeh nya.


Dengan cepat Haara lari keluar komplek perumahannya.


Disinilah ia sekarang, di sebuah Apotek yang sepi.


Ia dengan ragu masuk ke dalam apotek itu.


"Permisi." seru Haara.


"Iya? Cari obat apa?" sahut salah satu pekerja wanita di sana yang melayani Haara.


"Aku disuruh kakak aku untuk beli itu ... apa namanya ya? Yang untuk tes kehamilan itu." dusta Haara dalam hati ia meminta maaf pada Anna.


"Ah~ testpack."


"Nah iya sepertinya itu, kakakku memintaku membelinya, aku tidak paham apa namanya." kekeh Haara menahan malu.


"Untuk kakaknya ya? hahah, adiknya yang masih sekolah jadi di suruh beli ya hehe, sebentar ya." seru karyawan itu.


"Terima kasih."


Tak menunggu lama, akhirnya karyawan itu datang.


"Terima kasih~" seru Haara pergi.


●•●•●•●•●


Haara dengan ragu masuk ke dalam kamar mandi dengan tangan gemetar memegang testpack yang ia beli itu.


Nafasnya tersegal-segal ketakutan.

__ADS_1


Haara mengusap wajahnya gusar, ia mencerminkan dirinya, wajahnya terlihat kacau sekali.


"Pasti aku berlebihan, ketakutanku pasti terlalu berlebihan, ahaha~" ketawa miris Haara menertawakan dirinya di pantulan cermin.


"Kamu sudah minum pil pencegah kehamilan, tak mungkin kamu hamil, ahaha!" tawanya lagi mencoba berfikur positif.


Dengan mengumpulkan keberanian Haara mulai menggunakan kegunaan testpack itu.


• • •


Haara menduduki dirinya di tepi kamar sambil menutup garis yang terdapat di testpack itu.


Jantungnya berdegup kencang rasa ingin melihat namun ia takut melihat hasilnya.


"Kumohon~ jadikan ini sebuah ketakutan semata, ku mohon~" mohon Haara.


Perlahan dan perlahan garis merah pun terlihat, namun ia menghentikan gerak jarinya.


Fikirannya sudah menjelajah kemana saja, ia khawatir.


Sungguh tubuh nya bergetar hebat.


Dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia kembali mencoba menggeser jari yang menutupi garis merah di testpack itu.


Dan ...


Nafasnya seketika terhenti, jantungnya pun seakan berhenti berdetak sebentar.


Tubuhnya mematung saat itu juga.


Tanpa sadar air matanya menetes, entah itu adalah air mata ketakutan atau air mata kelegaan yang menggambarkan perasaannya.


"jadi benar~" senyum Haara yang sulit di artikan.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."kira-kira hasilnya apa ya?🤔"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2