
"Kemana cincinmu?" tanya Haara datar
Yoan tersentak, ia menarik tangannya dari genggaman gadis iu
"Kemana cincinmu Yoan?" tanya Haara menuntut, Haara merasa curiga pada pria itu
"Ada, ada di tas ku" sahut Yoan gugup
"Kenapa di copot? Bahkan aku sendiri tak pernah mencopot cincinku" seru Haara menunjukkan tangan kiri nya.
"Aku lupa memakainya setelah aku mencuci tanganku" sahut Yoan
'Jangan sampai ketakutanku terjadi Yoan' batin Haara
"Pakai cincinnya, terlihat tidak adil hanya aku yang memakainya, jika kau tak memakainya, aku akan mencopotnya" seru Haara datar dan meninggalkan Yoan pergi.
'Kenapa aku bisa lupa memakainya lagi' batin Yoan.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Haara melirik Yoan yang fokus mengemudi disampingnya, jujur saja ia mencuri curi pandang ke jari pria itu
'Sudah ia pakai apa belum ya cincinnya?' batin Haara resah
Haara terkejut, ia membulatkan matanya saat pria itu menunjukkan tangan kiri nya tepat di depan wajah gadis itu
"Tak perlu mencuri curi pandang seperti itu, aku sudah memakainya" seru Yoan fokus mengemudi
Haara mengerjapkan mata nya beberapa kali
"Ba baguslah" sahut Haara gugup, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela,
"Marah denganku?" tanya Yoan
"Tidak"
"Benarkah? Kau terlihat kesal" sahut Yoan
"Tidak Yoan" sahut Haara
"Ahh bahkan aku tidak paham dengan seorang remaja berumur 18 tahun jika sedang marah"
"Aku sudah bilang aku tidak sedang marah tuan!" sahut Haara protes
Yoan terkekeh,
"Kemarin nenek menelfonku, ia menitip salam padamu" seru Yoan
"Sungguh?? Ahh aku merindukannya" sahut Haara senang
Haara melirik Yoan yang menunjukan wajah murung
"Ada apa?" tanya Haara
"Nenek belakangan ini dikabarkan sedang sakit, ia dirawat di rumah sakit" sahut Yoan
Haara yang mendengarnya menegakkan tubuhnya menatap Yoan
"Sa sakit??! Sakit apa??"
"Nenek terkena stroke, nenek memiliki penyakit jantung" sahut Yoan sedih
Haara menutup mulutnya terkejut
"Nenek pasti akan baik baik saja, kamu jangan sedih ya" seru Haara menatap Yoan prihatin
"Aku ingin sekali mengunjunginya ke Jepang, tapi aku benar benar tak bisa meninggalkan pekerjaanku" seru Yoan lemah
"Aku paham sekali perasaanmu, begitu juga diriku merasakan hal yang sama seperti mu, meski kau tak bisa mengunjunginya, kau bisa menelfonnya atau meng video call nenek, dan buat nenek semangat dan ceria" seru Haara menyemangati pria itu
Yoan melirik Haara disebelahnya, tak lama pria itu terkekeh
"Ko kok malah ketawa??" kesal Haara
"Lagi lagi aku di nasihati oleh seorang bocah SMA" tawa Yoan
"Jika aku bocah, kau apa? Dasar om om!" cela Haara marah
"Om? Bahkan teman temanmu menyangka jika aku anak kuliahan" ledek Yoan
"Itu karena wajahmu yang banyak menipu orang, huh!" sahut Haara kesal
Yoan terkekeh mendengarnya.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Satu minggu telah berlalu,
Hubungan Haara dan Yoan kini terbilang makin dekat pantas diakui,
Dan ada satu hal yang mengejutkan,
Yaitu dimana ada hal yang sedikit mengecewakan
Haara memutuskan untuk ..
kembali menyukai Zhao Yoan Ti En
Ia menekankan tekad, jika ia akan berjuang untuk bisa menggantikan posisi Irene di hati Yoan, ia yakin itu, karena melihat perubahan pria itu membuatnya yakin dia bisa.
Ia akan merubah kepedulian dan perhatian pria itu padanya menjadi kepedulian dan perhatian karena juga memiliki perasaan yang sama seperti nya.
Hari ini ia akan pergi keluar dengan Bastian ke pasar malam dekat dengan rumah mama dan papa Haara sendiri,
Yoan akan pulang malam hari ini, jadi ia leluasa akan pergi ke pasar malam bersama Bastian.
"Ini" seru Bastian memberikan harum manis pada Haara,
Mata Haara berbinar, ia mengambil permen kapas yang besar itu dan memakannya,
"Bagaimana? Enak?" tanya Bastian
"Eeennnaaaaakk!!" antusias Haara
__ADS_1
"Ya sudah mau kemana lagi?" tanya Bastian lembut
"Mm aku ingin beli es stoberi, makan permen kapas ini membuatku haus"
"Stoberi?" tanya Bastian,
"Iya, es stoberi"
"Ahh, kenapa stoberi? Aku tidak menyukainya" sahut Bastian
"Payah, apa alasannya karena masam?"
"Jika mau beli, beli sana" usir Bastian
"Kau tunggu disini, aku beli" seru Haara beranjak berdiri
"Hahh, tidak usah, aku saja, kau tunggu sini, jika tersasar aku malas mencarimu" sahut Bastian pergi
"Jika aku tersasar, aku akan pulang meninggalkan mu disini, cih!" kesal Haara kembali memakan permen kapasnya.
• • •
"Ini" sodor Bastian duduk disamping Haara,
"Terima kasih!" senang Haara meminum es stoberinya,
"Hm"
"Kakak tak beli apa apa?" tanya Haara,
Bastian menggeleng,
"Kalau seperti itu, kakak mau permen kapas ini?" tanya Haara menyodorkan permen kapasnya
"Tidak, makan saja" tolak Bastian
"Baiklah" sahut Haara kembali memakan permen kapasnya
"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Bastian
"Minta temani saja olehmu, aku takut jika pergi sendiri, lagi pula ini tempat yang perlu kau ketahui lokasinya" sahut Haara
"Memangnya kau tak bertanya aku sibuk atau tidak?" tanya Bastian
"Eh? Apa kau sedang sibuk??" tanya Haara terkejut
"Baru bertanya" hela nafas Bastian
"Eh, kak Bastian, kau sedang sibuk?? Kenapa kamu tak menolak saat aku ajak kesini??" panik Haara
"Aku tak sibuk, tenanglah" kekeh Bastian
"Cih, membuatku takut saja" protes Haara
"Kecuali mulai besok hingga tanggal 17 November jangan menelfonku untuk mengajak bertemu" seru Bastian
"Hm? Kenapa?"
"Aku akan mengunjungi adikku, ponselku tidak akan aktif"
"Ah, baiklah, kakak harus mentraktirku permen kapas setelah kembali, oke?" senyum Haara berbinar
"Hahh, baiklah akan ku traktir" decih Bastian sambil tersenyum
"Hahh, asal kau memberiku rekomendasi game action yang seru padaku lagi"
"Tenang saja, kakak bisa bertanya tentang novel action dan game action padaku saja, aku tahu semua" sombong Haara
Bastian terkekeh
"Sudah jam 7 lewat, kau pesan taksi sana" seru Bastian melihat jam tangannya
"Sungguh!? Eh? Kok ponselku mati?? ponselku habis baterai lagi!" kesal Haara mengecek ponselnya
"Hahh, pakai ponselku" seru Bastian memainkan ponselnya
"Terima kasih kak, nanti aku yang bayar saja" seru Haara
"Kau yang pesan lewat ponselku, aku tidak paham" sahut Bastian menyodorkan ponselnya
"Tak paham?? Hahh, sepertinya kakak harus ku ajari mengenai memesan taksi, sewaktu waktu jika butuh, kakak sudah bisa memesannya" sahut Haara mengambil ponsel Bastian
"Lihat ini, aku akan jelaskan" seru Haara
Bastian menatap ponselnya yang Haara pegang dengan tatapan serius
Kedekatan mereka bukan hal semata karena kebetulan lagi
Mereka memutuskan akan menjadi teman saling membantu, Haara yang selalu meminta saran pada Bastian dan menemaninya kemanapun gadis itu pergi selagi Yoan sibuk,
Sedangkan Bastian yang selalu meminta di ajarkan mengenai hal hal yang belum ia pahami saat di Indonesia, dan meminta gadis itu memberitahunya tempat tempat yang menarik, tak hanya itu Bastian akan bertanya rekomendasi game dan juga novel novel pada gadis serba tahu itu.
Mereka memiliki tujuan masing masing dan itulah yang membuat mereka lebih dekat.
"Sudah paham?" tanya Haara
"Ahh, iya iya, aku hanya ada beberapa tempat yang ku tahu, itu juga kau yang memberitahuku" sahut Bastian
"Akan aku beritahu banyak tempat sekembali kau" seru Haara
"Baiklah, kau catat saja, tak sia sia aku mengandalkan mu, aku jadi tak perlu meminta bantuan orang lain untuk mengenalkan ku lokasi lokasi di salah satu kota di Indoensia ini" kekeh Bastian
"Aku gitu loh~" kekeh Haara,
"Ah iya" seru Bastian merogoh saku hoodie nya
"Hm?"
Bastian menunjukkan jam tangan pada gadis itu
"Jam tangan .. Untukku?" tnaya Haara menunjuk dirinya sendiri
Bastian mengangguk
"Wah, bagus sekali! Tapi .. Hari ini bukan hari ulang tahunku lho" kekeh Haara
"Aku tidak perduli kapan kau berulang tahun, aku beri jam ini sebagai ucapan terima kasihku saja padamu" seru Bastian nyeletuk
"Jahat sekali ucapanmu!" kesal Haara memakai jam tangannya
"Ukurannya sangat pas denganku, terima kasih kak Bastian" senyum Haara
Bastian mengangguk sambil tersenyum,
"Itu taksi pesananmu" seru Bastian
__ADS_1
"Oh iya"
Haara mengerutkan keningnya saat Bastian melangkah mendekati mobil taksi itu parkir, Haara pun mengikuti Bastian
"Saya ingin anda antar gadis ini ke rumahnya dengan selamat, jangan macam macam dengannya" seru Bastian membuat Haara tertohok
"Kak Bastian~" malu Haara
"Langsung pulang, jangan kemana mana lagi" seru Bastian santai
"Tunggu dulu, kakak tak ikut pulang?"sant
"Aku akan jalan jalan di sekitar sini, lagi pula aku sudah tahu cara memesan taksi" sahut Bastian
"Ah baiklah, aku duluan ya kak" seru Haara pamit
Bastian mengangguk, Haara pun masuk ke dalam taksi dan taksi itu melaju pergi,
"Gadis aneh" seru Bastian tersenyum, ia pun melangkah pergi.
●•●•●•●•●
Suara pintu terbuka terdengar, Haara pun langsung masuk dan menutup pintu penthouse nya kembali,
Haara melangkah masuk, ia merasa lelah karena mencari tukang martabak di sekitar gedung apartemennya
"Darimana kau?"
Haara sontak terkejut saat dirinya mendapati Yoan yang berada di ruang tamu
'mati aku!' batin Haara menelan ludahnya
"Ee eh sejak kapan kamu pulang??" tanya balik Haara
"Aku pulang kapan tak penting, aku bertanya padamu, darimana saja kau jam segini baru pulang?" tanya Yoan dengan tatapan tajam
"Aku .. Ke taman kota yang dekat dengan rumah mama papa ku, kebetulan di sana ada pasar malam" jelas Haara
"Sendiri?" tanya Yoan
"Dengan .. Kak Bastian" sahut Haara
Yoan menghela nafasnya sabar
"Malam malam dengan pria lain, apa kau tahu itu berbahaya?" frustasi Yoan
"Dia itu kak Bastian, pria baik, dia yang menolongku saat aku hampir .."
"Tak perlu dijelaskan lagi, aku tahu" sela Yoan
"Aku beli martabak, kau mau?" tanya Haara mencoba mencairkan suasana
"Jangan mengalihkan pembicaraan nona, suamimu sedang memberimu peringatan" seru Yoan bangkit dari duduk nya dan melangkah mrndrkati Haara
Haara memundurkan langkahnya hingga dirinya menubruk dinding
"Ma maaf"
"Kenapa kau tak angkat telfon dariku? Apa gunanya aku memberimu ponsel jika itu tak kau pergunakan dengan baik?" tanya Yoan mengurung Haara
"Ponselku habis baterai" sahut Haara cepat
"Lalu kau pulang naik bus?"
"Tidak kok, aku naik taksi" sahut Haara gugup
"Naik taksi? Sedangkan ponselmu habis baterai" seru Yoan menaikkan sebelah alis nya
"Aku dipinjami ponselnya kak Bastian untuk memesan taksi" sahut Haara
Yoan menyipitkan matanya
Haara dengan cepat mengambil ponselnya di saku jas sekolahnya
"Lihat, ponselku kehabisan baterai, sungguh!" seru Haara meyakinkan pria itu dengan menunjukkan ponsel nya
"Selama aku selalu lembur, apa kau selalu pulang malam?"
Haara terdiam, Yoan mengartikan jawabannya 'iya'
"Dengan nya?" tanya Yoan lagi menyipitkan matanya
Haara mengangguk takut
"Jauhi dia"
Haara terkejut mendengarnya
"Kenapa?? Bahkan dia .."
"Dia tak baik! Jika dia baik, kenapa membiarkan mu selalu pulang malam!" marah Yoan
Haara diam, ia tak bisa menimpali ucapan pria itu
"Kau boleh pergi dengan temanmu, tapi temanmu yang aku kenal, tidak dengan temanmu yang aku kenal" seru Yoan pelan
"Jika kak Bastian aku kenalkan padamu boleh?" tanya Haara takut
"Sebaik apa ia dimatamu?" tanya Yoan datar.
•••VISUAL BASTIAN WANG!!•••
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤
__ADS_1