
Haara menduduki dirinya di kasur, ia mengehela nafasnya berat.
"Yuu terlihat sangat aneh tadi, setelah bertanya tanya tentang bulan apalah, tanggal berapakah, dia langsung diam bahkan melamun, setelah aku tanya tidak apa apa, huft!" kesal Haara menidurkan dirinya,
"Hahh, aku merindukannya!!" seru Haara mengamuk,
"Menyebalkan sekali kau ini Yoan! Kenapa kau tak memberiku kabar sama sekali! Sudah 5 hari! Bahkan kau mendiami ku sebelumnya selama 3 hari! Sungguh sangat sulit memahami dirinya!!" rengek Haara,
"Sebal sebal sebal!!"
"Tunggu!" seru nya menduduki dirinya,
"Tanggal berapa sekarang??" tanya nya mengecek ponselnya,
"Sekarang tanggal .. Se sepuluh Oktober??!" terkejut Haara,
"Ti tiga hari lagi tanggal tiga belas! Be berarti .." gantungnya dengan tatapan kosong,
"sudaj satu bulan pernikahanku dengan Yoan!".
●•●•●•●•●
• • •
Langit yang cerah dipagi hari yang cerahnya menembus kedalam kamar, Haara mengerutkan keningnya dan perlahan membuka matanya, kecerahan langit dipagi hari itu sukses membangunkan gadis itu.
"Ngh!!~" erang Haara merenggangkan tubuhnya,
Jam menunjukkan jam 6:09,
"Aduh! Aku kan mau jogging!" serunya langsung bergegas ke kamar mandi.
Memakan waktu selama 15 menit Haara keluar dari kamar mandi dengan baju trainning dan handuk kecil di lehernya, ia mengikat rambutnya dan mulai melangkah keluar.
Langkahnya terhenti pada sofa yang ada di ruang santai di lantai dua rumah mertua nya itu,
Perlahan ia melangkahkan kakinya ke ruang santai itu,
Ia menutup mulutnya,
"Ya ampun Yoan" seru Haara terbelalak,
Pria itu, ya~ Yoan. Pria itu tertidur sangat pulas di sofa yang berada diruang santai saat ini,
"Dia sudah pulang?? Tapi kapan?" serunya dengan suara sangat pelan,
"Kenapa ia tidur disini? Kenapa tidak .. Oh iya, kamarnya itu kan aku tempati" serunya bergumam,
Haara menjongkokkan dirinya disamping wajah pria itu,
Ia menatap dalam wajah pria yang tengah tertidur itu
Wajah lelah yang terlukis diwajah tegas pria itu, wajah dan tubuh pria ini lah yang sudah 5 hari lamanya tak ia lihat, ia sangat merindukkan pria yang tengah tertidur pulas di depannya ini.
"Yoan~" panggil Haara lembut,
"Yoan~ bangunlah" seru Haara lagi menepuk nepuk pundak pria itu,
"Yoan Yoan Yoan" panggil Haara lagi mengguncang tubuh pria itu,
"Hmm~" dehem pria itu,
"Bangun dulu, pindah tidur dikamar sana" sahut Haara
Yoan bukannya bangun yang ada memiringkan tubuhnya membelakangi Haara,
"Nanti lehermu sakit lho, tidurlah di kasur sana" seru Haara lagi,
Yoan perlahan menduduki dirinya sambil memegang keningnya,
Haara menduduki dirinya di sofa yang Yoan tiduri itu,
"Lho, Yoan? Kapan kamu pulang??" bingung Stephannie yang tiba di lantai dua,
Yoan tak menyahut, pria itu kembali tertidur dalam keadaan duduk
"Hey, mama bertanya kapan kamu pulang?" tanya Haara mengguncang tubuh pria itu,
"Jam .. 4 pagi" sahut pria itu dengan suara khas bangun tidurnya,
"Sarapan dulu baru lanjut tidur ya?" seru Stephannie,
Yoan menggeleng,
"Kamu bujuk Yoan ya Haara, dia agak susah dibujuk, mama lupa sedang menghidupkan kompor" panik Stephannie pergi,
"Iya mama" sahut Haara,
Haara menatap Yoan yang kembali tertidur dalam keadaan duduk
__ADS_1
"Hey Yoan bangun"
"Hmm~" dehem Yoan,
"Sarapan dulu baru tidur" seru Haara,
"Aku sudah makan"
"Kapan? Itu Kemarin" sahut Haara,
"aku masak mi instan sebelum tidur" sahut Yoan pelan,
"Berarti kau sudah sarapan?"
Yoan turun dari sofa dan melangkah pergi,
"Sudah" sahut Yoan,
Haara mengejar Yoan,
"Eh aku mau keluar ya" seru Haara,
Yoan menatap Haara dengan wajah bantalnya
"Mau kemana siang siang seperti ini?" tanya Yoan dengan suara beratnya,
"siang? ini masih pagi tahu, bahkan baru saja aku mengajakmu sarapan, jika sarapan itu untuk pagi tahu" protes Haara
Yoan menutup wajahnya sambil menguap
"iya kau mau kemana pagi pagi?" tanya Yoan lagi
Haara tersenyum,
'apa ia tak mendiami ku lagi ya? syukurlah~' batin Haara
ia sangat suka melihat wajah polos pria itu yang baru bangun tidur,
"Jogging" sahut Haara mengangkat handuk kecil di lehernya,
"Dengan siapa?"
"Sendiri"
"Tidak ku izinkan" sahut Yoan melangkah masuk ke dalam kamar
"Lho kenapa??"
"Kau tak pandai menjaga diri" sahut Yoan menidurkan dirinya di kasur,
"Aku janji akan jaga diri, izinkan aku ya?" bujuk Haara ,
"Jogging di halaman rumah saja sana" sahut Yoan yang memejamkan matanya,
"Hahh baiklah" sahut Haara melangkah keluar kamar,
"Hey tutup pintunya" seru Yoan
"Iya tuan, saya akan menutupnya" sahut Haara tajam.
●•●•●•●•●
Haara menduduki dirinya di tangga depan rumah, ia baru saja selesai lari pagi
"Jam berapa sih ya? Ponselku tertinggal di kamar Yoan lagi~ huhh~" hela nafas Haara lelah,
Haara bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah,
"Minum~ huu lelah" rengek Haara melangkah ke dapur,
"Sudah selesai joggingnya?" tanya Tao Ming terkekeh melihat Haara yang merengek,
"Ah ahahah, iya sudah papa" sahut Haara malu,
"Duduk sini sayang, makan semangka bersama sini" ajak Stephannie,
"Semangka? Wah!" senang Haara berlari kecil menghampiri Stephannie dan Tao Ming,
Haara mengambil semangka di atas meja dan memakannya,
"Enaaakk~" senang Haara,
Stephamnie yang melihatnya merasa gemas, ia pun mencubit pipi Haara gemas,
"Gemas sekali deh mama sama kamu~" seru Stephannie tersenyum,
"Ah mama~" malu Haara,
"Mm Yoan belum bangun ya ma? Pa?" tanya Haara,
__ADS_1
"Belum, anak itu jika pulang tengah malam atau hari akan menjelang pagi, anak itu akan di bangunkan saat akan makan siang, itu juga harus dipaksa untuk makan siang, sehabis itu anak itu kembali tidur dan bangun bangun sore bahkan malam" jelas Stephannie
"Lho? Tengah malam? Sampai menjelang pagi??"
"Yoan suka sekali kerja lembur, anak itu benar benar sangat tidak suka meremehkan pekerjaan" sahut Tao Ming
Haara ber oh panjang,
"Ahh, aku mau mandi~" seru Haara pelan,
"Lho, ya sudah jika mau mandi ,kenapa kamu terlihat bingung?" tanya Tao Ming,
"Mm .. Di kamar ada Yoan" sahut Haara malu,
"Kamu malu ya?" goda Stephannie
Haara mengangguk,
"Yoan itu tidak mudah bangun jika di bangunkan kok sayang" seru Stephannie,
Haara yang mendengarnya pun ragu,
"Apa mau mandi dikamar mandi mama dan papa?" tanya Stephannie,
"Ah, tidak usah mama, aku .." ragu Haara,
"Kenapa sayang?" tanya Stephannie,
"Aku mandi di kamar mandi di kamar Yoan saja, tapi mama temani aku ya?" tanya Haara ragu,
"Ah baiklah, ayo mama antar" kekeh Stephannie mengiring Haara.
• • •
Haara membuka pintu kamar Yoan perlahan,
Kamar yang penuh dengan pencahayaan dari matahari,
"Kenapa ia membuka jendelanya? Apa ia tidak silau?" gumam Haara,
"Yoan takut kegelapan" jawab Stephannie
Haara menatap Stephannie,
"Karena .. traumanya?" tanya Haara
Stephannie mengangguk
"Mama tunggu di balkon ya" seru Stephannie yang akan ke balkon kamar Yoan,
Haara mengangguk,
Haara dapat melihat pria itu tidur menghadap dimana koper nya berada, dengan ragu Haara melangkah kesamping kamar untuk mengambil pakaian gantinya,
Selimut yang membungkus tubuh pria itu rapat,
Haara tersenyum saat melihatnya,
"kenapa dia tidur seperti apapun tetap terlihat tampan sih?" seru Haara pelan, ia senyum senyum sendiri
Haara melirik Stephannie di balkon, lalu ia alihkan cepat pada Yoan lagi
Haara menyingkirkan rambut Yoan yang hampir menutupi rambut pria itu, lalu mengusap rambut pria itu,
"tidur yang nyenyak pangeranku~" seru Haara pelan,
Haara ingin teriak saat ini juga, hati nya berdebar sangat kencang sekali,
ia mengusap dadanya sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
...Hai, readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
...dan komentarnya 💭😊...
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...
__ADS_1